Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
So Beautiful


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, di istana Asia...


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dan kini calon raja Asia tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia dibantu beberapa menteri terkait agar pekerjaannya itu cepat selesai.


"Pangeran Zu, pihak Negeri Bunga akan mengakhiri festival musim semi seminggu lagi. Apakah pihak Asia akan melanjutkannya?" tanya salah seorang menteri kepadanya.


"Aku masih mengejar serah terima jabatan ini. Mungkin lain waktu saja." Zu menjawab cepat.


"Tapi, Pangeran. Festival musim semi hanya diadakan setahun sekali. Dan waktunya hanya sekitar dua minggu. Kita bisa memanfaatkan momen ini untuk menambah uang kas negeri. Mungkin Pangeran berminat menambah pemasukan Asia." Menteri lain ikut memberikan saran.


Seketika itu juga Zu teringat dengan Ara. Ia mempertimbangkan masukan dari menterinya, tapi ia juga tidak ingin membuat Ara menunggu lebih lama.


"Em, baiklah. Nanti akan kubicarakan lagi. Sementara bantu aku untuk menyelesaikan pekerjaan ini," pintu Zu kepada menteri-menterinya.


"Baik, Pangeran." Para menteri itu mengiyakan.


Zu sedikit ragu untuk menggelar acara festival musim semi tahun ini. Pikirannya bercabang ke mana-mana. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Ara akibat diadakannya festival nanti.


Mungkin ada baiknya jika hal ini langsung kubicarakan dengannya.


Zu berniat membahas hal ini bersama Ara, gadis yang kini telah memiliki hatinya. Namun, bukan hanya hatinya saja yang mampu dimiliki sang gadis. Tapi jiwa dan raganya pun ikut tertarik oleh magnet kuat gadis itu.


Sementara di kamar raja...


"Yang Mulia, ini ramuannya."


Ara kini sedang membantu proses penyembuhan penyakit raja. Ia menyediakan ramuan yang dibuatnya sendiri untuk diminum raja. Shu pun tampak mendampingi Ara, sesuai dengan yang Zu pinta. Tapi, lagi-lagi sang pangeran berwajah jutek kepada gadis ini.


"Pangeran Shu, obat Yang Mulia akan habis esok hari. Ada baiknya jika kita membelinya sekarang, sebagai persediaan kemudian hari." Ara meminta dengan sopan kepada Shu.


Shu tampak enggan menanggapi gadis itu. Tapi demi sang ayah, mau tak mau ia menanggapinya.


"Kau sudah tahu jalan ke pasar, bukan? Pergilah sendiri, aku ingin menjaga Ayah di sini," cetus Shu yang malas.


Sontak perkataan Shu membuat raja tidak enak hati. "Putraku, kau tidak boleh seperti itu. Dewi adalah tamu kehormatan istana, dan sebentar lagi dia akan menjadi wanita istimewa di kerajaan ini. Temanilah dia, kakakmu masih sibuk dengan urusan pekerjaan." Sang ayah membujuk putranya.


"Tapi, Yah. Aku paling malas menemani orang berbelanja. Apa tidak menyuruh pelayan saja untuk menemaninya? Kenapa harus aku?" keluh Shu.


"Shu, kakakmu sendiri yang meminta untuk menemani Dewi. Mungkin dia hanya percaya padamu. Lagipula apa susahnya menemani berbelanja sebentar?" tanya raja lagi.

__ADS_1


Ara merasa tidak enak hati atas percakapan yang terjadi. Ia lantas mengambil sikap terbaiknya.


"Yang Mulia, maaf. Saya bisa sendiri pergi ke pasar. Saya juga sudah tahu jalannya. Jadi tidak apa jika Pangeran Shu ingin menemani Yang Mulia di sini." Ara tersenyum kepada raja.


Tiba-tiba saja roman wajah Shu berubah. Tidak lagi memasang wajah juteknya. Ia merasa heran dengan sikap Ara itu.


Jelas-jelas aku menyakitinya, tapi kenapa dia malah membelaku?


Shu merasa terketuk dengan sikap Ara. Ia tidak menyangka jika Ara akan membelanya, padahal ia telah menyakiti gadis itu. Gadis itu pun berpamitan setelah membantu raja meminum ramuannya. Dan Shu hanya bisa melihati kepergian gadis itu.


"Lihat, Shu. Gadis itu sangat baik, tapi kau masih saja bersikap dingin padanya. Tak inginkah kau mengenal gadis itu lebih jauh? Mungkin ada sesuatu yang bisa kau pelajari darinya." Raja menasehati putranya.


Shu pun terdiam mendengar penuturan ayahnya.


"Aku berharap waktu bahagia itu akan segera datang dan aku sempat melihatnya. Sekarang, temanilah calon kakak iparmu." Raja melanjutkan.


"Apa?! Calon kakak ipar?!!" Sontak Shu terkejut.


"Benar, Nak. Gadis itu adalah calon kakak iparmu. Kakakmu sendiri yang sudah mengenalkannya kepada Ayah."


"Apa?!!" Shu semakin terkejut.


Astaga! Sebenarnya apa yang telah dia lakukan sehingga membuat kakakku mau menikahinya? Ini benar-benar aneh.


Pikiran Shu diselimuti sesuatu hal yang rumit. Ia berpikiran macam-macam tentang Ara. Ia merasa jika Ara menjadi kekhawatiran terbesarnya saat ini.


Mungkin aku harus bicara empat mata padanya. Ya, secepatnya. Sebelum semua semakin menggila.


Shu berniat menemui Ara dan membicarakan hal ini secara empat mata. Sebuah pembicaraan yang menolak keputusan sang kakak.


Dua jam kemudian...


Waktu terus berlalu dan kini tiba bagi Ara dan Zu untuk makan siang bersama. Gadis itu tampak sedang menunggu sang pangeran merapikan meja kerjanya. Sedang Zu sendiri tidak henti-hentinya memandangi sang gadis yang sedang melihat-lihat peta wilayah kekuasaan negeri ini.


Dia memang cantik, manis, imut dan juga lucu. Terlebih perkataannya tadi pagi, membuatku semakin ingin memilikinya.


Ara, jika benar kau masih perawan. Maka izinkan aku secepatnya untuk menikahimu dan menjadi pria teristimewa di malam pertama kita.


Zu tersenyum-senyum sendiri saat mengingat hal yang diucapkan Ara tadi pagi. Ia semakin tidak sabar untuk menikahi sang gadis. Gadis yang kini membuatnya tidak karuan di sepanjang malam.

__ADS_1


"Pangeran, jadi negeri ini bertetangga dengan Negeri Bunga, ya?" tanya Ara sambil terus memperhatikan peta negeri ini.


"Hem, iya. Negeri Bunga adalah negeri kecil yang ada di selatan Asia. Di sana berbagai macam bunga ada," tukas Zu.


"Benarkah?" Ara tak percaya.


"Ya, negeri itu memiliki kualitas bunga yang bagus, sehingga kami juga mengimpor berbagai macam bunga dari sana." Zu menuturkan.


"Tapi, apakah hanya sebatas bunga saja komoditas ekspornya?" tanya Ara lagi.


Zu segera mendekati Ara setelah selesai merapikan meja kerjanya. Ia duduk di sisi kanan sang gadis, dekat sekali.


"Tidak, mereka mempunyai bidang pendapatan lain. Namun, yang terkenal dari negerinya memang jenis bunga-bunganya." Zu merangkul Ara.


"Pangeran, ini jam kerja istana." Ara pun tampak risih saat Zu merangkulnya.


"Jadi jika bukan jam kerja istana, boleh?" Zu bertanya dengan tatapan nakal.


"Pangeran, ih!" Ara pun mencubit perut Zu.


"Aw! Sakit, Sayang." Zu memegangi perutnya yang terkena cubitan Ara.


"Biar saja! Habisnya aku serius, sedangkan dirimu tidak." Ara membela diri.


Sontak saja hal itu membuat Zu gemas bukan main. Ia lantas mencubit kedua pipi sang gadis.


"Kau ini, tetaplah seperti ini. Jangan berubah lagi, ya. Awas saja kalau sampai berubah seperti awal. Aku akan menghukummu." Zu menarik pipi Ara dengan gemasnya.


"Aduh!" Ara pun memegangi pipinya.


Kini keduanya tampak memperdekat jarak. Baik Ara maupun Zu sudah mulai tidak menjaga jarak lagi. Dan memang hal inilah yang Zu harapkan sedari awal. Ia ingin Ara terus-terusan bersikap seperti ini kepadanya.


Terima kasih, Dewi. Akhirnya kau mau menerimaku. Aku berjanji akan secepatnya menikahimu. Aku seorang pria, dan aku memegang ucapanku.


Zu mengusap-usap kepala gadisnya. Ia pun mengajak Ara untuk makan siang bersama. Tampak Ara yang menanggapinya dengan segera, karena perutnya itu memang sudah keroncongan.


Kenapa aku akhir-akhir ini selalu merasa lapar, ya? Aku jadi kepikiran dengan ucapan Zu tadi pagi. Sepertinya aku memang harus memeriksakan perutku ini. Tapi, aku takut jika hal itu benar terjadi. Aduh ... bagaimana ini?!!


Ara pusing sendiri memikirkannya. Ia ingin memeriksakan kesehatan, tapi ia juga takut mendengar hasil diagnosa penyakitnya. Ia harap-harap cemas dengan keadaan rahimnya sendiri, khawatir sesuatu tidak diinginkan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2