
Pagi hari aku terbangun seperti biasa dan mulai melanjutkan aktivitasku. Hari ini aku mengenakan kebaya rancanganku sendiri yang berwarna merah muda dengan kain batik terang sebagai bawahannya.
Kulihat diriku di depan cermin besar sambil mengenakan sepatu berhak tinggi. Tubuhku terlihat begitu sempurna nan anggun saat mengenakan kebaya ini. Polesan make-up yang manis, menambah kesan kecantikan alami seorang perempuan. Aku begitu bahagia karena kini kelima kebayaku sudah jadi.
Aku keluar kamar menuju ruang kerja Cloud. Berniat untuk memperlihatkan hasil rancanganku. Para pelayan istana tampak memperhatikan penampilanku hari ini. Di sepanjang perjalanan menuju ruang kerjanya, banyak dari mereka yang memuji kecantikanku.
...
Sesampainya di depan pintu ruangan Cloud, aku mengetuk pintu dua kali. Dan Cloudpun mempersilakanku untuk masuk. Aku segera masuk ke dalam ruangan. Namun ternyata, ada Rain yang tengah berbincang bersama Cloud.
Rain...
Rain melihatku, akupun berusaha tersenyum kepadanya. Namun, hari ini kami tampak begitu kaku. Rain segera undur diri dari ruangan dan dia berjalan melewatiku begitu saja. Rasanya hati ini kembali terlarut dalam duka.
"Ara, kau tampak cantik sekali."
Cloud memujiku. Dia memujiku sebelum Rain benar-benar keluar dari dalam ruangan. Setelah itu barulah kudengar pintunya ditutup dari luar. Aku tahu Rain pasti sakit sekali mendengarnya.
"Cloud. Ini kebaya pertamaku."
Aku mencoba memposisikan diri agar bersikap biasa saja di hadapan Cloud. Sepertinya Cloud belum mengetahui apa yang sedang terjadi antara aku dan Rain.
"Jadi bagaimana kelanjutan acara nanti, Ara?"
Cloud menanyakan rencanaku ke depannya untuk acara peragaan busana kebaya nanti. Akupun menarik napas dalam sebelum mulai menjelaskannya.
Rain, maafkan aku...
Kulupakan Rain sejenak lalu mulai bekerja kembali. Kujelaskan kepada Cloud tentang rencana peragaan busana nanti.
Cukup lama kami berbincang, akhirnya Cloud mempercayakan semuanya padaku. Aku pun tidak ingin mengecewakannya. Aku segera mencari orang yang berkompeten untuk mendukung acara peragaan busana nanti.
Ditemani Mbok Asri, aku meminta izin kepada Bibi Rum untuk bertemu dengan semua pelayan perempuan yang usianya tidak jauh berbeda denganku.
...
Setelah mengumpulkan semuanya, terpilih dua puluh orang pelayan perempuan untuk menjadi model rancangan busana kebayaku. Mereka terlihat muda dengan tubuh yang mumpuni untuk menjadi peraga busana nanti.
Model sudah kudapat. Kemudian kulangkahkan kaki menuju ruang tata rias kerajaan untuk meminta bantuan memoles model-modelku nantinya.
__ADS_1
Aku lalu bertemu Paman Mark yang mengepalai para penata rias di kerajaan ini. Kujelaskan kepadanya akan tema yang kuusung nanti. Paman Mark dengan senang hati mau membantuku.
"Hah, sepertinya aku harus istirahat sejenak."
Baru menjalankan dua pekerjaan saja rasanya tubuh ini sudah lelah sekali. Aku kini duduk beristirahat di gazebo istana sambil meneruskan rancangan busanaku. Aku kembali fokus untuk menyelesaikannya.
Rencananya, ada tiga puluh kebaya yang akan kami jual kepada para pembesar negeri lain. Tentunya dengan sistem lelang yang menghasilkan keuntungan sangat besar untuk kami.
Pekerjaanku masih banyak. Setidaknya aku harus menyiapkan segala sesuatunya dengan baik dari jauh-jauh hari. Model dan penata rias sudah kudapat. Dan hari ini aku harus menyelesaikan setidaknya tiga rancangan kebayaku.
Kepalaku dipenuhi dengan imajinasi yang luar biasa. Kutuangkan segera dalam coretan pensilku. Kugambar dengan sesempurna mungkin kebaya-kebayaku. Tak lupa kusertakan penjelasan mengenai pernak-pernik yang harus ditambahkan untuk menambah kesan mewah di kebayaku.
Aku terus bekerja dan berusaha semaksimal mungkin. Berharap dengan kesibukan ini membuatku dapat melupakan rasa gundah yang melanda hati.
Beberapa jam kemudian...
Lonceng kerajaan berbunyi, pertanda pergantian penjaga istana dilakukan. Aku masih asik dengan skesta rancanganku tanpa sadar jika sedari tadi Cloud memperhatikanku dari depan.
"Hm, menjelang sore seperti ini mungkin lebih baik berendam di air panas," katanya membuka percakapan.
"Cloud?"
"Kau benar-benar serius mengerjakan tugasmu, Ara."
Cloud memujiku sambil menatap kagum. Wajahnya tampak sangat cerah hari ini. Mungkin suasana hatinya sedang baik. Tidak seperti diriku.
"Apa kau mau berjalan-jalan sebentar ke danau?" tanyanya seraya tersenyum.
"Danau?"
"Hm, iya. Di sekitar sini ada danau. Kalau kau mau, kita bisa pergi ke sana. Di sana banyak angsa yang cantik."
"Angsa, cantik?" tanyaku lagi.
Jujur saja, pikiranku masih berkutat di rancangan kebayaku. Sehingga kurang fokus menanggapinya.
"He-em." Cloud mengangguk, mengiyakan.
Aku lalu berpikir. Entah mengapa ada keraguan yang melanda hati ini sangat ingin menuruti ajakannya. Namun, di lain sisi aku khawatir mengecewakan jika menolak ajakannya kali ini.
__ADS_1
"Bagaimana, Ara?" tanyanya meminta kepastian.
"Hm, aku ...."
Aku bingung harus bagaimana. Aku khawatir Rain akan melihatku dan menambah rasa sakit di hatinya. Hati ini seolah memintaku untuk menjaga perasaan Rain.
"Ara?"
"Em, Cloud. Aku masih harus menyelesaikan rancangan busanaku."
Aku beralasan, berharap Cloud mengerti dan tidak memaksaku untuk menuruti ajakannya.
"Ara, jam kerjamu sudah berakhir sedari tadi. Lagipula aku sedang ada waktu untuk bersamamu. Mengapa kau menolaknya?"
Sontak jantungku seakan berhenti berdetak kala mendengar kata-kata itu. Hatiku diselimuti perasaan tak enak karena sudah mencoba untuk menolak ajakannya.
"Ayolah. Sekalian kita melihat matahari terbenam."
Cloud merapikan lembaran kertas rancangan busanaku. Dia mengambil lalu membawanya sendiri. Aku jadi tidak dapat menolak ajakannya lagi.
"Kemari, Ara!"
Cloud mengulurkan tangannya kepadaku. Aku pun mau tak mau menyambutnya. Dia menggenggam tanganku seraya berjalan menyusuri jalan setapak di taman. Sepertinya Cloud mencoba untuk lebih dekat denganku lagi.
Cloud, aku...
Aku berharap Rain tidak melihat hal ini. Aku khawatir jika dia melihat kami seperti ini. Karena hal ini hanya akan menambah rasa sakit di hatinya.
Di perjalanan...
Aku menaiki kereta kuda bersama Cloud menuju danau yang tak jauh dari istana. Sepanjang perjalanan, Cloud berusaha untuk berkomunikasi denganku. Namun terkadang, aku lalai darinya. Hal itu membuat Cloud berpikir jika aku terlalu menguras pikiran dan tenaga untuk acara peragaan busana nanti.
"Ara ...."
Dia menarik lembut kepalaku agar bersandar di bahunya. Aku pun tak menolaknya. Kusandarkan kepalaku di bahu kirinya sambil mencoba untuk lebih leluasa bercengkrama dengannya.
Cloud menunjukkan perhatian lebihnya padaku. Jari-jemari tangan kirinya mengusap lembut kepalaku sedang tangan kanannya menggenggam erat tangan kananku. Diapun memberatkan kepalanya seraya berusaha mengecup poniku. Aku merasa sedikit nyaman saat diperlakukan seperti ini. Kunikmati saja perjalanan kami menuju danau, dan melupakan sejenak masalah yang sedang terjadi.
"Sebentar lagi kita akan sampai, Ara."
__ADS_1
Cloud tersenyum ke arahku dan aku hanya membalas senyumannya yang manis itu. Sedang di hatiku masih memikirkan Rain.