
Menjelang petang di istana Angkasa...
Zu tampak sedang mengenakan jubahnya. Sang adik, Shu lantas mendekati kakaknya itu.
"Malam ini adalah malam terakhir makan malam kita di istana Angkasa, Kak. Apakah kau senang?" tanya Shu kepada kakaknya itu.
Zu diam saja.
"Akhirnya tugas kerajaan ini selesai juga. Aku ingin segera kembali ke istana lalu bermain-main dengan singaku." Shu tampak senang.
Zu masih tidak menanggapi kata-kata adiknya itu. Ia terus saja merapikan diri hingga siap menuju halaman depan istana untuk makan malam bersama.
"Hem, sepertinya Kakakku tidak senang jika tugas kerajaan ini berakhir. Apa karena gadis itu, ya?" tebak Shu dengan polosnya.
"Diamlah, Shu! Aku sedang tidak ingin banyak bicara hari ini." Zu akhirnya menanggapi.
Shu tampak heran dengan sikap kakaknya.
"Kakak-kakak, aku heran padamu. Bisa-bisanya kau tertarik pada gadis itu. Dia kan hanya—"
"Shu, tutup mulutmu! Dia bukanlah gadis biasa. Air jahe yang kau minum tadi pagi itupun, dia yang membuatnya."
"Ap-apa?!" Shu terkejut.
"Itu adalah resep darinya. Masih belum jelas juga?" tanya Zu kepada adiknya.
"Ja-jadi—"
"Jangan menilai seseorang dari pekerjaannya semata. Dia mungkin hanya seorang pekerja di istana ini, tapi kemampuannya bisa melebihi putri kerajaan sekalipun."
Shu terdiam. Ia menundukkan wajahnya.
"Belajarlah untuk membuka hatimu. Kau akan tahu betapa indahnya saat jatuh cinta."
Zu lantas meninggalkan Shu. Ia keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju halaman depan istana. Sedang sang adik, tampak terperanjat dengan perkataan kakaknya itu.
Aku jadi penasaran, apa hebatnya gadis itu? Bisa-bisanya dia membuat kakakku seperti ini. Jangan-jangan dia mempunyai kemampuan sihir?
Shu segera mengejar kakaknya. Ia tidak ingin ketinggalan untuk makan malam bersama. Di sepanjang koridor itu ia merenungi kata-kata kakaknya. Hingga akhirnya, tiba di halaman depan istana, ia lantas mencoba melakukan apa yang disarankan oleh Zu. Membuka hatinya.
Sementara itu...
Ara tengah bersiap-siap untuk melakukan pertunjukan pembukaan. Ia akan menari di bait terakhir lagu All That I Need malam ini. Kini ia sedang didandani oleh penata rias istana. Ia mengenakan gaun panjang berdasar jatuh yang berwarna pink. Berbeda dengan penari lainnya yang mengenakan gaun berwarna biru lembut.
"Rambutnya dibiarkan tergerai saja, Nona?" tanya penata riasnya.
"Iya, Paman. Tapi mungkin diberi simpul saja agar tidak acak-acakan," jawab Ara kemudian.
"Oke, baiklah. Saya mengerti, Nona."
Rambut Ara dibuatkan simpul kecil agar tidak acak-acakan saat menari. Simpul itu dibuat di bagian kanan dan kiri rambutnya lalu digabungkan. Pihak tata rias istana bekerja semaksimal mungkin untuk acara ini.
Lain Ara, lain juga dengan kedua pangeran. Baik Rain maupun Cloud sedang berdiskusi dengan ayahnya. Mereka tampak membicarakan sesuatu perihal pertunjukan busana ini.
"Lakukan seperti yang Ayah harapkan." Sky berpesan kepada kedua putranya.
"Baik, Yah." Cloud dan Rain menjawab bersamaan.
Moon tak lama datang lalu menghampiri ketiganya yang sedang berada di ruang kerja suaminya itu. Wajahnya tampak muram, entah mengapa.
__ADS_1
"Ibu?"
"Rain, Cloud."
"Ibu kenapa?" tanya Rain yang melihat wajah ibunya muram.
Moon lalu duduk di kursi yang tak jauh dari ketiganya. Ia lantas mengeluarkan unek-unek dari dalam hatinya itu.
"Ibu tidak apa-apa, Rain. Hanya saja mungkin sedikit lelah," jawab Moon lemas.
Lelah? Cloud tampak mencurigai perkataan ibunya.
"Malam ini akan menjadi malam panjang untuk Ibu. Pertunjukan busana tentunya akan banyak menyita waktu." Moon melanjutkan.
"Ibu, ini demi kestabilan keuangan kerajaan. Harusnya Ibu senang jika hal ini akan membuat sebuah kemajuan di negeri kita." Cloud menyela.
"Hah, Ibu hanya khawatir jika kalian akan semakin tergila-gila kepada gadis itu." Moon berkeluh kesah.
Tergila-gila? Mengapa Ibu bisa berkata seperti itu terhadap Ara? Apa ini yang dimaksud Ayah waktu di balai kota itu? Apa Ibu tidak menyukai Ara?
Rain bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya. Ia menaruh curiga setelah mendengar perkataan ibunya itu.
"Ratu, sebaiknya kau beristirahat. Satu jam lagi acara akan segera dimulai." Sky tampak mengerti arah pembicaraan istrinya.
"Ya, baiklah. Semoga kalian beruntung." Moon lantas meninggalkan ruang kerja suaminya.
Baik Rain maupun Cloud merasa ada yang aneh pada ibunya itu. Cloud sendiri tampak mengingat kembali perihal kabar yang Ara ceritakan padanya.
Apa benar jika ibu telah terhasut perkataan Andelin?
Cloud ingin menanyakan langsung perihal ini kepada ibunya. Namun, pertunjukan busana sebentar lagi akan segera dimulai. Ia sendiri akan mengisi acara nanti, bernyanyi bersama Ara di sesi acara dansa. Sehingga ia tepiskan sejenak keinginannya itu.
Waktu terus berjalan, membuat semua pihak yang terlibat tampak berdebar. Inilah puncak kerja keras mereka. Besarnya harga gaun kebaya tentunya tidak terlepas dari persembahan yang pihak Angkasa berikan kepada para tamu undangan di malam ini.
Makan makan telah selesai dilakukan. Dan kini hidangan penutup sedang disantap oleh para tamu kehormatan istana. Tampak Zu yang diam sedari tadi. Matanya mencari-cari sosok yang bergelayut manja di alam pikirannya, namun ia tidak juga menemukannya.
Terakhir kali aku melihatnya pagi tadi. Dan sampai memasuki awal malam aku belum melihatnya lagi. Kenapa aku ini? Kenapa aku selalu memikirkannya? Senyumnya, kerlipan matanya, selalu terngiang-ngiang di pikiranku.
Zu memegangi kepalanya. Ada rasa rindu yang tiba-tiba menggebu. Ia ingin sekali bertemu dengan gadis itu.
"Kakak, kau baik-baik saja?" Shu tampak khawatir kepada kakaknya.
"Aku baik-baik saja, Shu." Zu menoleh ke adiknya.
"Cepatlah makan, Kak. Acara akan segera dimulai. Tak baik menunda makan." Shu mengingatkan.
Zu lalu melanjutkan santapan hidangan penutupnya. Tak lama berselang, ia pun telah menyelesaikannya.
"Sudah bisa dimulai, Mentri Count?" tanya Mozart kepada Count. Zu melihat musikus asing itu dari kejauhan.
"Baiklah, silakan dimulai." Count pun mengizinkan.
Beberapa saat kemudian, Mozart mulai memainkan alat musiknya. Suara biola mengawali irama lagu ini, diikuti drum lalu piano. Lagu All That I Need dimainkan.
Entah mengapa lagu ini membuat hatiku semakin memikirkannya? Kenapa harus lagu ini? Gesekan biola itu membuat hatiku terasa berdenyut. Aku menginginkannya, aku ingin bertemu dengannya sekarang juga.
Zu lantas beranjak bangun. Ia berjalan masuk ke ruang utama istana sendirian. Seolah terhipnotis dengan alunan irama lagu itu. Zu terbawa perasaannya sendiri.
...
__ADS_1
Aku tersesat dan sendirian, mencoba untuk terbiasa.
Membuat jalanku menyusuri jalan panjang berliku itu.
Tidak punya alasan, tidak ada rima, seperti sebuah lagu yang kehabisan waktu.
Dan dulu kau ada di sana, berdiri di depan mataku.
Bagaimana bisa aku menjadi orang yang begitu bodoh?
Untuk melepaskan cinta dan melanggar semua peraturan.
Gadis, ketika kau berjalan keluar dari pintu itu.
Meninggalkan sebuah lubang di hatiku.
Dan sekarang aku tahu dengan pasti...
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...
Aku sia-sia mencari.
Memainkan sebuah permainan.
Tidak punya orang lain selain diriku yang tersisa untuk disalahkan.
Kau datang ke dalam duniaku.
Bukan permata atau mutiara.
Yang pernah bisa mengganti apa yang telah kau berikan padaku, Gadis.
Sama seperti istana pasir.
Gadis, aku hampir saja membiarkan cinta jatuh dari tanganku.
Dan sama seperti sebuah bunga yang membutuhkan hujan.
Aku akan berdiri di sisimu melewati kegembiraan dan rasa sakit.
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan.
Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.
__ADS_1
Gadis, dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?
Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona.