Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
The Purple Light


__ADS_3

Esok harinya, H-21 pernikahan...


Aku terbangun pada pukul lima pagi. Dan kusadari saat ingin beranjak bangun, Zu tengah memelukku dari belakang. Dia masih tertidur di sampingku.


"Pangeran ...."


Aku membangunkannya dengan suara yang pelan, khawatir jika dia masih mengantuk. Aku tidak tahu jam berapa dia sampai di rumah. Tapi sepertinya, dia sangat kelelahan hari ini.


Dia bersungguh-sungguh untuk segera menikahiku. Apakah patut bagiku meragukan perasaannya?


Jujur saja sejak perkataan Shu semalam, aku jadi berpikir ulang mengenai rencana pernikahan ini. Aku takut jika apa yang Shu katakan adalah benar, jika perasaan Zu hanya sementara untukku. Terlebih pernikahan bukanlah sesuatu yang main-main, aku tidak ingin hanya menjadi tempat persinggahan sesaat.


Mungkin aku harus mencari cara untuk meyakinkan hati ini.


Kulepas tangannya yang memegang perutku. Aku lalu beranjak dari kasur, mengambil sandal sambil menggulung rambutku ini. Kutinggalkan dirinya yang masih terlelap di kamar.


"Hah ...."


Kurentangkan kedua tangan lalu menuju kamar mandi untuk membasuh wajah. Dan entah mengapa, aku seperti digerakkan untuk bermeditasi sebentar.


"Udara pagi memang amat baik. Kucoba saja bermeditasi, mungkin ada sesuatu yang kudapatkan."


Kulangkahkan kaki menuju teras luas kamar dan kulihat bintang fajar masih terang di angkasa. Aku lalu duduk menyilangkan kedua kaki sambil mengambil napas panjang. Kuletakkan kedua tangan di atas lutut lalu mulai menyatu dengan alam. Aku mulai berselancar ria di alam bawah sadarku.


Beberapa menit kemudian...


Aku mencoba mengikuti alam yang menuntun. Tak lama, aku melihat istana kedua pangeranku. Dan segera saja kufokuskan menuju kamar Cloud.


Cloud ....


Aku akhirnya bisa melihat Cloud. Kini dia baru saja keluar dari kamar mandinya. Dan aku sendiri berada di depan pintu kamarnya. Lantas saja aku segera mendekat ke arahnya.


"Cloud, aku merindukanmu!"


Aku mencoba memeluknya, tapi pelukan ini tertembus. Aku hanya bisa melihat, namun tidak mampu menyentuh. Dan sepertinya Cloud menyadari kehadiranku. Dia melihat ke sekeliling walau hanya sebentar. Dia kemudian membuka lemari pakaiannya lalu mengambil jubah kerajaannya itu.


Biasanya aku yang membantu memakaikannya.


Entah mengapa tiba-tiba aku merasa sedih sekali. Kenangan indah itu tidak mungkin bisa kulupakan begitu saja. Terlebih aku dan Cloud telah mengenal cukup lama. Mungkin hampir setahun waktu dunia ini.

__ADS_1


"Cloud, aku di Asia. Aku bingung. Zu ingin menikahiku. Tapi hatiku belum yakin padanya. Apa yang harus aku lakukan Cloud?" tanyaku padanya.


Cloud berhenti sejenak dari memakai jubahnya. Dia lagi-lagi melihat ke sekeliling. Mungkin benar jika dia menyadari kehadiranku.


Lama-lama aku bisa seperti hantu kalau begini.


Tak ingin membuatnya ketakutan. Aku segera keluar dari ruangan, menuju halaman belakang istana. Dan kulihat Rain sedang bekerja keras melatih pasukannya.


Hah, dia itu.


Entah mengapa saat melihatnya, aku jadi ingin tertawa. Banyak sekali kenangan lucu telah tercipta di antara kami. Aku jadi ingin mencubit perutnya lagi.


"Hei, Pangeran mesum! Aku di sini. Bisakah kau menyadariku?" tanyaku sedikit berteriak ke arahnya.


Tiba-tiba saja Rain berhenti dari melatih pasukannya. Dia pun melihat ke arahku yang sedang berdiri di dekat pintu belakang istana. Tapi, dia hanya terus melihat, tidak mendekatiku.


Apa dia menyadari kehadiranku?


Rasanya ingin sekali menghambur ke pelukannya. Menikmati aroma keringat tubuhnya. Tapi namanya juga putra mahkota, aroma tubuhnya pasti akan selalu terjaga. Sekalipun dia seorang tentara.


"Rain, Zu ingin menikahiku. Bagaimana menurutmu?" tanyaku padanya.


Entah mengapa, Rain bergegas mendekat ke arahku. Sontak aku terkejut melihatnya. Semakin lama, jarak kami semakin dekat. Dan dia pun berhenti tepat di depanku.


Rain? Kau menyadariku?


Aku bisa mendengar detik waktu pada kalung yang dipakainya. Rain mengenakan kalung yang dipakainya saat ke duniaku. Dan kulihat kalung yang kupakai ini juga mengeluarkan cahaya kemerah-merahan.


Rain ... ini ...?


Aku tak percaya dengan apa yang terjadi. Kami seperti terhubung saat ini juga.


"Ara! Kau di mana? Ara!"


Rain memanggilku sambil memutar pandangannya. Sontak saja hal itu membuat para prajuritnya terheran. Dan mungkin mereka menyangka jika panglimanya ini telah gila.


"Rain, aku di sini!" kataku memanggilnya.


Rain tidak menggubris perkataanku. Dia lalu pergi entah ke mana, meninggalkanku sendiri. Dan seketika itu juga aku tersadar dari alam bawah sadarku.

__ADS_1


"Hah!" Aku tersentak saat tersadar kembali.


"Astaga, tadi itu apa benar?" tanyaku sendiri.


Seluruh tubuhku mengeluarkan keringat yang membuatku harus segera mengelapnya. Aku pun beranjak bangun. Namun saat berbalik, kulihat Zu tengah memperhatikanku dari depan pintu kamar.


Gawat! Aku bisa ketahuan!


Tidak tahu apa yang dia pikirkan. Tapi dari sinar matanya dia seperti menyadari sesuatu. Aku pun jadi bingung harus bagaimana.


Aku berjalan saja ke arahnya, pura-pura tidak terjadi apapun. Kutebarkan senyum manisku lalu menyapanya.


"Pangeran, kau sudah bangun?" tanyaku padanya seraya tersenyum.


Zu diam saja, dia masih memperhatikanku. Jantungku pun berdegup kencang tak menentu saat melihat pandangan matanya yang seperti sedang mengintimidasi itu.


"Ara ... sebenarnya ...,"


"Pangeran, kubuatkan teh, ya." Aku bergegas menuju dapur kecil yang ada di sudut ruangan ini.


"Ara!" Zu menahanku, seketika aku terdiam. "Jujurlah padaku. Siapa sebenarnya dirimu?" tanyanya kemudian.


Astaga. Apa jati diriku akan terbongkar? "Pa-pangeran, maksud Pangeran?" Aku pura-pura tidak mengerti.


Zu lalu memegang kedua pipiku. "Sayang, sebentar lagi kita akan menikah. Apakah kau masih ingin menyembunyikan sesuatu dariku?" tanyanya lagi.


"Pangeran ...,"


"Aku punya waktu hari ini. Mari kita berjalan-jalan sejenak," ajaknya.


Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku hanya bisa mengikuti langkah kakinya pergi. Aku diajaknya keluar kamar dengan masih mengenakan gaun tidur ini. Sedang dirinya, masih mengenakan piyama ungunya itu.


Apa yang harus kukatakan jika dia menanyakan asal-usulku? Haruskah aku jujur padanya? Aku bingung sendiri.


Ara khawatir jika Zu akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Ia bingung harus bagaimana menanggapi pertanyaan sang pangeran, sedang Zu tampak penasaran setelah apa yang dilihatnya tadi.


Benarkah apa kata tabib Fu? Aku telah melihatnya sendiri jika dia sedang melakukan sesuatu yang tak biasa. Entah mengapa aku seperti melihat cahaya ungu dalam sekejap. Apakah itu hanya halusinasiku saja?


Zu terheran-heran dengan apa yang dilihatnya. Ia seperti melihat cahaya ungu saat melihat ke luar teras. Ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tabib Fu kepadanya.

__ADS_1


Akankah jati diri sang gadis terbongkar dan diketahui oleh Zu? Dan akankah perasaannya berubah jika mengetahui siapa Ara sebenarnya?


Zu terus saja mengajak Ara menuju taman belakang kediamannya. Sesampainya di sana, ia segera memetik satu buah jeruk untuk sang gadis. Entah apa maksudnya.


__ADS_2