Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Thinking


__ADS_3

Di salah satu sudut istana...


Rain berjalan cepat dari arah selatan istana kerajaan ini. Ia lantas pergi, berniat mengambil kudanya. Ia ingin mencari Ara sendiri. Rain sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, ia sangat mencemaskan sang gadis.


"Rain!"


Belum sampai di pertengahan jalan, Rain bertemu dengan Star, sepupunya. Mereka lantas berbincang mengenai prihal hilangnya sang gadis.


"Rain, aku menemukan sesuatu petunjuk mengenai hilangnya Ara." Star mengawali.


"Cepat katakan saja. Aku tidak punya banyak waktu untuk berbicara denganmu," sahut Rain seraya terus berjalan.


"Kau akan pergi?" tanya Star padanya.


"Ya, aku akan mencari Ara sendiri."


"Rain, kau sudah gila?!" Star terkejut. "Bagaimana jika paman tahu kau keluar istana tanpa seizinnya?" Star tampak khawatir.


Rain diam. Ia seperti menyadari sesuatu.


"Jadi kau mendengar percakapan kami?" selidik Rain.


"Ya, aku mendengarnya. Aku harap kau bersedia menuruti permintaan paman, Rain."


"Aku tidak bisa, Star! Aku tidak bisa terus-terusan di istana sedang aku tidak tahu di mana Ara sekarang!" Rain emosi.


"Kau bisa beristirahat sejenak untuk tenangkan pikiranmu, Rain." Star membujuknya.


"Tidak! Tidak bisa! Aku tidak bisa beristirahat sebelum aku menemukan kepastian akan kabarnya. Hubungan kami sudah terlalu jauh, aku tidak bisa tenang jika hanya berdiam diri saja!"


"Rain—"


"Tolong mengerti aku. Dia adalah gadis pertama dalam hidupku. Kau pasti mengerti."


Rain menatap sepupunya dengan pandangan berkecamuk, antara marah dan sedih yang menjadi satu. Star pun tertegun melihat kemarahan itu.


Akhirnya putra bungsu kerajaan ini menunjukkan sisi lain dirinya di depanku. Sebegitu besarkah perasaannya kepada gadis itu? Seumur hidup baru kali ini aku melihatnya seperti ini.


"Baiklah-baiklah. Aku akan menemanimu keluar istana. Jadi kita punya alasan." Star akhirnya ikut membantu.


"Kau serius?"


"Ya, aku serius. Jika memang paman harus marah, maka aku juga akan terkena amarahnya." Star menenangkan.


"Terima kasih. Aku berutang padamu." Emosi Rain akhirnya mereda.

__ADS_1


"Tak usah kau pusingkan hal itu. Kita saudara. Jika orang lain saja bisa saling membantu, apalagi kita." Star tersenyum kepada Rain.


"Tapi ... aku khawatir bayimu membutuhkanmu." Rain tampak keberatan.


"Tak apa, ada ibunya. Kita berangkat sekarang, Rain." Star menepuk pundak Rain.


Mereka segera bergegas mengambil kuda. Rain berniat mencari petunjuk mengenai keberadaan sang gadis. Ia bersama Star keluar istana dengan mengunggangi kudanya masing-masing. Keduanya menyusuri sepanjang jalan istana-ibu kota. Mereka ingin menemukan kepastian.


Di waktu yang bersamaan, di vila Zu...


Ara sudah tersadar dari pingsannya. Ia pun lekas beranjak dari tidur. Perlahan ia melangkahkan kaki menuju teras luar kamar. Ia ingin menghirup udara pagi ini.


Aduh, kepalaku pusing sekali. Perutku pun tidak enak. Sebenarnya apa yang terjadi? Sepertinya aku tidak memakan yang aneh-aneh sebelumnya.


Ara bingung dengan keadaannya. Pikirannya tiba-tiba tidak dapat fokus. Ia lalu duduk di kursi teras luar kamarnya. Dan tak lama sang pangeran Asia datang.


"Nona?"


Zu masuk ke dalam kamar dengan membawakan buah-buahan. Ia sengaja membawa buah-buah itu karena tahu jika Ara sedang tidak bisa menyantap nasi. Pikirannya tertuju pada suatu keadaan yang tidak ingin ia ketahui kebenarannya.


Zu tidak melihat Ara di kasurnya, ia lantas menuju teras luar kamar. Dan benar saja ia menemukan gadis itu tengah memegangi kepalanya.


"Nona, aku bawakan buah-buahan untukmu." Zu meletakkan buah-buah itu ke atas meja, di samping sang gadis.


"Pangeran Zu, terima kasih." Ara tersenyum kecil setelah menyadari kedatangannya.


"Em, aku merasa lebih baik sekarang," jawab Ara.


Wajah Ara terlihat pucat, meyakinkan Zu dengan kesimpulannya sendiri, jika gadis itu memang benar tengah mengandung. Ia lantas duduk di samping Ara dengan meja teras yang memisahkan. Entah mengapa saat itu ada keinginan untuk menanyakan hal yang sebenarnya. Tapi, Zu khawatir jika Ara akan marah kepadanya.


"Pangeran."


"Ya, Nona?"


"Apakah kau mempunyai jahe?" tanya Ara kemudian.


"Jahe?"


"Ya, benar. Sejenis umbi-umbian yang rasanya sedikit pedas," kata Ara lagi.


"Em, sebentar. Aku akan mencarinya." Zu bergegas pergi.


"Pangeran, aku akan menemani." Ara merasa tak enak hati jika Zu mencarinya sendiri.


"Kau istirahat saja, Nona. Aku bisa mencarinya sendiri," jawab Zu seraya tersenyum. Ia bergegas pergi dari hadapan Ara, padahal baru saja duduk.

__ADS_1


Pangeran, kau begitu baik padaku. Entah bagaimana aku harus berterima kasih padamu.


Zu lalu meninggalkan Ara. Ia mencari yang Ara butuhkan.


Beberapa saat kemudian...


Zu kembali datang dengan membawa sesuatu di tangannya. Ia terlihat kelelahan sehabis mencari, dahinya berkeringat.


"Nona, aku tidak tahu yang namanya jahe. Aku hanya menemukan ini." Zu menyerahkan apa yang ia temukan.


"Gingseng?" Ara tercengang.


"Iya, Nona. Tak ada jahe yang dimaksud," kata Zu lagi.


Seketika Ara merasa terharu dengan sikap Zu. Pangeran itu memperlakukan dirinya seperti pelayan pribadi Ara. Ara pun lantas beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati Zu.


"Nona?" Zu melihat Ara mendekat.


"Pangeran ...,"


Keduanya kini saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Dan karena tinggi Ara hanya sebatas dagu Zu, sang gadis harus menaikkan pandangan untuk melihat sang pangeran lebih jelas.


"Nona ...."


Zu pun menatap Ara yang kini terdiam di hadapannya. Entah mengapa tiba-tiba muncul suatu rasa yang tidak bisa ia ungkapkan, saat melihat sang gadis dengan jarak yang lebih dekat seperti ini. Ara pun lantas memeluknya.


Nona?!


Zu terperanjat saat Ara memeluk tubuhnya. Kedua tangan gadis itu melingkar di tubuhnya.


Apakah ini mimpi?


Zu terheran sendiri, tak percaya jika Ara akan melakukannya. Ia lantas mengangkat satu per satu tangannya, membiarkan kedua tangan Ara melingkar di pinggangnya.


"Terima kasih sudah menolongku," kata sang gadis seraya menahan tangis.


Akhirnya Ara mengucapkan sepatah kata yang membuat hati Zu terenyuh. Ia merasa jika Ara bersungguh-sungguh dalam mengucapkannya.


Nona, kau tidak perlu mengucapkan kata itu padaku. Sungguh kau sudah tahu apa maksud hatiku ini.


Perlahan Zu membalas pelukan sang gadis. Tangan kirinya mengusap pelan kepala Ara, sedang tangan kanannya memegang tubuh gadis itu. Zu merasa nyaman sekali saat berada sedekat ini. Ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.


Ara membiarkan dirinya dalam pelukan Zu. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk mengucapkan rasa terima kasihnya itu. Ia hanya mencoba mengikuti arus kehidupan yang tak mampu untuk dilawannya. Ara mulai tersadar jika kini yang ada di hadapannya adalah Zu, bukan Rain ataupun Cloud.


Bukannya aku tidak tahu maksudmu, Pangeran. Hanya saja aku belum bisa secepat itu melupakan semuanya. Aku mencintai kedua pangeranku. Aku tidak bisa membohongi hati ini. Namun, di sisi lain aku sangat berterima kasih padamu karena telah menyelamatkanku, dari dinginnya ruang bawah tanah yang membuat tubuhku membeku. Semoga ke depannya kita bisa menjalin pertemanan ini dengan baik.

__ADS_1


Ara masih menganggap Zu sebagai temannya. Namun sayangnya, Zu tidak beranggapan seperti itu. Pelukan Ara menurutnya menjadi bukti jika sang gadis mulai membuka hati untuknya. Dan Zu meyakini hal itu.


__ADS_2