
Perjalanan pulang...
Waktu sudah memasuki sore hari. Sepasang insan ini memutuskan untuk segera kembali ke istana. Namun, keduanya tampak berdiaman sedari tadi. Ara yang memalingkan wajahnya dari Cloud, dan Cloud yang duduk di sisi kanan sang gadis sambil terus berpikir. Hingga sampai di pertengahan jalan pun sang gadis masih diam saja, membuat putra sulung kerajaan Angkasa ini gundah gulana sendiri.
"Kau sudah melihat semuanya, Ara. Sampai kapan kau akan terus diam seperti ini?" Cloud menoleh ke Ara, namun Ara masih mendiamkannya.
"Ara, bicaralah. Aku jadi bingung harus bagaimana jika kau diam seperti ini." Cloud mendekat ke gadisnya.
Perasaan bersalah menyelimuti hati sang pangeran setelah apa yang terjadi di air terjun tadi. Cloud tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran gadisnya setelah kejadian itu. Sang gadis hanya diam dan meminta segera kembali.
"Ara ...." Cloud kembali menegur gadisnya.
"Cloud, aku ...." Akhirnya Ara mau bicara.
"Ara, tolong jangan diam. Setelah apa yang kita lakukan tadi seharusnya kau lebih memanjakan aku. Tolong Ara, aku benar-benar membutuhkanmu. Tidak hanya untuk sekarang tapi selamanya." Cloud cemas sendiri.
Ara mengembuskan napasnya. "Cloud, kau tahu hal yang tadi kau lakukan itu amat berisiko?" tanya Ara kepada Cloud.
"Jadi kau takut jika ada yang melihatnya?" Cloud balik bertanya.
"Cloud, di sana tempat terbuka. Dan kau memperlihatkan semuanya padaku. Apa kau tidak takut malu jika ada yang melihatnya?" tanya Ara dengan suara lembutnya yang khas.
"Ara, aku ...."
"Hah, ya sudah. Semua sudah terjadi. Aku hanya tak habis pikir jika kau akan seberani itu." Ara memalingkan pandangannya kembali.
"Sayang, aku sangat mencintaimu. Katakanlah jika tadi aku menemui jalan buntu." Cloud membela diri.
"Jalan buntu?" Ara kembali berbalik menghadapnya.
"Ya. Dan juga ... terbawa suasana. Maafkan aku." Cloud menyandarkan wajahnya di pundak Ara.
"Iya-iya, baiklah. Aku maafkan." Ara mengusap pipi Cloud.
"Terima kasih, Sayang." Cloud tersenyum gembul di hadapan Ara.
"Dasar." Ara pun tersenyum melihatnya.
Sang pangeran akhirnya bisa bernapas lega karena ternyata Ara tidak marah kepadanya, melainkan khawatir atas ulahnya tadi.
"Aku menyayangimu, Ara."
Cloud memeluk Ara dari samping. Sifat manjanya mulai keluar dan membuat Ara tidak ketulungan.
Kalian ini memang tidak ada bedanya. Sang gadis menggerutu sendiri.
__ADS_1
Cloud menunjukkan sisi lain dari dirinya. Ia tidak malu-malu lagi menunjukkan sifat manjanya. Ara pun karena sudah terbiasa menghadapinya, menerimanya begitu saja. Dan akhirnya, mereka meneruskan perjalanan pulang ke istana sebelum petang tiba.
Sementara di Asia...
Zu menerima laporan dari pasukan khusus yang ia kirim ke Angkasa. Sebuah kabar baik ia terima jika pelabuhan Angkasa telah kembali dibuka. Ia lalu segera membalas pesan tersebut dan meminta kepada pasukan khususnya agar segera mencari keberadaan Ara.
"Kakak."
Shu, sang adik masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia datang dengan wajah masam sehingga membuat Zu merasa semakin lelah. Seharian ia telah bekerja dan kini melihat raut wajah adiknya yang masam. Sang calon raja Asia inipun mengembuskan napasnya kuat-kuat.
"Ada apa?" tanya Zu kepada adiknya.
Sang adik lalu duduk di kursi yang ada di depan meja kerja kakaknya. Ia menyandarkan punggung sambil menguap panjang.
"Cepat katakan, Shu! Jangan menghabiskan waktuku!" Zu segera merapikan dokumen yang ada di atas meja kerjanya.
"Kak, kau tahu jika Jasmine sakit?" tanya Shu kemudian.
"Sakit?"
"Ya, dia sakit. Nenek juga sudah pulang dari Negeri Bunga."
"Lalu?"
"Jasmine meminta kepada nenek agar membujukmu untuk menemuinya." Shu mengungkapkan.
"Hei, jangan begitu. Aku pikir dia amat menyukaimu. Seharusnya kau beruntung disukai gadis sepertinya." Shu membujuk.
"Jika kau menyukainya, kau saja yang menjenguknya. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku lalu ke Angkasa."
"Hah?!" Shu terkejut seketika.
"Aku harus menjemput calon istriku," kata Zu lagi.
"Maksudmu Ara?" Shu tak percaya.
"Ya, dia. Siapa lagi?"
"Kakak."
"Apa?"
"Bukannya dia juga disukai oleh kedua pangeran negeri itu, ya?" tanya Shu sambil terus menemani kakaknya merapikan dokumen.
"Aku tidak peduli. Meskipun seluruh pangeran di bumi ini menyukainya, aku tidak peduli."
__ADS_1
"Hei, kau ini egois sekali," ketus Shu.
"Kau tidak mengerti bagaimana perasaanku padanya jika kau belum pernah merasakan jatuh cinta." Zu balik menceramahi adiknya.
"Tapi Kak, kau harus rasional. Bagaimana jika dia tidak menyukaimu?" tanya Shu yang sontak membuat Zu menghentikan aktivitasnya.
Zu menelan ludahnya saat sang adik berkata-kata seperti itu. Tiba-tiba rasa khawatir dan ketakutan muncul di benaknya. Ia takut jika apa yang dikatakan oleh Shu benar adanya.
Apa iya Ara tidak menyukaiku? Selama ini kami sudah begitu dekat dan bahkan aku sampai berani memperlihatkan semua padanya. Apa benar dia tidak menyukaiku? Jika tidak menyukaiku, kenapa dia menerima setiap kelembutanku?
Zu bertanya-tanya sendiri dalam hati.
"Hei, Kak! Kau kenapa?" tanya Shu yang ternyata sedari tadi mengajak kakaknya mengobrol tapi didiamkan saja.
"Tidak. Tidak apa-apa. Mungkin aku hanya rindu padanya." Zu beranjak pergi.
"Hei, tunggu!" Shu pun menahannya.
"Apa lagi?" Zu menoleh ke arah Shu.
"Kau tidak ingin menjenguk Jasmine?" tanya Shu lagi.
"Tidak. Kau saja. Aku tidak ingin dia berharap lebih padaku. Bagiku cukup hanya Ara saja." Zu berlalu pergi dari hadapan adiknya.
"Hah ... dia benar-benar sudah gila." Shu tak habis pikir dengan kakaknya sendiri.
"Terkadang cinta itu memang membutakan, ya? Untung saja aku belum sempat merasakan yang namanya jatuh cinta. Jika itu terjadi, maka kemungkinan aku akan sama gilanya seperti dia." Shu mengejek kakaknya, tersenyum sinis sendiri.
Zu menunggu kabar selanjutnya dari pasukan khusus yang ia kirim ke Angkasa. Seandainya memang benar Ara ada di sana, ia akan berangkat secepatnya untuk menjemput sang gadis. Zu tidak ingin berlama-lama memendam kerinduannya.
Namun, jika benar Ara ada di Angkasa dan Zu menjemputnya, apakah Ara mau kembali ke Asia bersama Zu? Lalu bagaimana dengan kedua pangeran Angkasa sendiri?
Cinta memang kadang tak ada logika. Hanya ingin dapat memiliki sepenuh jiwa dan raganya. Tapi mampukah kekuatan cinta mengalahkan segalanya?
Ara ... aku rindu sekali padamu. Pulanglah, Sayang. Jangan biarkan aku tidur sendirian. Yang aku butuhkan hanyalah dirimu. Ya, hanya kamu, Gadisku ....
Zu berjalan menuruni anak tangga istana. Ia berniat untuk segera kembali ke kediamannya, beristirahat sejenak dari lelahnya aktivitas kerajaan. Sedang Shu, ia berniat menjenguk Jasmine yang sedang sakit. Bukan karena rasa suka pria kepada wanita, tapi karena mewakilkan kakaknya. Terlebih neneknya sendiri yang sudah meminta.
...
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
__ADS_1
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...