
Petang baru saja terlewati, dan kini malam sudah mulai datang. Sang pangeran sulung kerajaan Angkasa baru tiba di kediaman Ara. Iapun lekas-lekas masuk ke dalam rumah dengan menggunakan kunci cadangannya.
"Sayang, aku pulang."
Dialah Cloud yang pulang ke rumah dengan wajah kusam karena memikirkan ucapan sang ayah. Ia segera mencari di mana keberadaan gadisnya dengan tak lupa mengunci pintu rumah terlebih dahulu.
"Mungkin dia sedang di kamar."
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban apalagi sambutan, Cloud bergegas menuju kamar yang tidak jauh dari ruang tamu. Dan benar saja, ternyata sang gadis pujaan tengah tertidur di sisi kiri kasurnya. Ara tertidur mengenakan gaun tidurnya yang berwarna biru muda dan tanpa lengan.
Ara memang lebih menyukai gaun tidur tanpa lengan karena merasa lebih lega bernapas. Sayangnya, gaun tidurnya itu membuat sang pangeran harus menormalkan detak jantungnya. Bagian bahunya terbuka sehingga memperlihatkan sedikit bukit ranumnya. Yang mana membuat Cloud segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya. Sang pangeran tiba-tiba merasa kepanasan sendiri.
Beberapa menit kemudian...
Seusai mandi, Cloud segera mengambil sweter krim lengan panjang dan juga celana dasar abu-abunya. Ia kenakan sebelum ikut merebahkan diri di atas kasur. Tak lupa parfum khasnya ia semprotkan agar Ara menyadari jika dirinya ada di rumah. Harum semerbak dari parfumnya pun membuat sang gadis terbangun perlahan.
"Cloud ... kaukah itu?"
Ara terbangun sambil mengucek matanya. Cloud yang sedang bercermin segera membalikkan badannya ke Ara.
"Aku sudah pulang, Sayang." Cloud tersenyum kepada gadisnya.
"Hm ... dari tadi aku menunggumu pulang sampai ketiduran, Cloud." Ara beranjak bangun lalu menyandarkan punggungnya di kepala kasur.
Cloud berjalan mendekati. "Maaf, Sayang. Ada urusan mendadak tadi." Cloud duduk di dekat gadisnya.
"He-em, baiklah." Ara pun mengangguk.
Cloud memperhatikan gadisnya. Tanpa Ara sadari gaunnya itu sedikit turun di bagian tengah, yang mana membuat belahan bukit ranum itu terlihat jelas di kedua mata Cloud.
Sayang, apa kau sengaja melakukannya? Cloud menelan ludahnya.
"Kau sudah makan, Cloud? Aku siapkan, ya." Ara beranjak bangun.
"Tunggu." Cloud menahannya.
"Hm?" Ara tampak bingung.
"Sayang, gaun tidurmu ini terbuka. Apa kau sengaja memakainya?" tanya Cloud sambil terus memperhatikan gadisnya.
"Hah? Tidak. Aku memang lebih suka yang seperti ini agar tidak terasa panas." Ara menjelaskan.
"Tapi kau tahu, aku yang melihatnya jadi panas sendiri." Cloud tampak gelisah.
__ADS_1
"Ish, dasar! Kau ini." Ara beranjak melewati Cloud.
"Sayang." Cloud menahan lagi saat parfum Ara tercium dan membuat tubuhnya semakin gelisah.
"Iya? Aku ingin menyiapkan makan malam. Tunggu, ya." Ara tersenyum lalu memakai sandalnya.
"Sayang." Lagi-lagi Cloud menahan, ia menarik Ara lalu mendudukkan di atas pangkuannya.
"Cloud?" Ara tambah bingung dengan pangerannya.
"Ara ... aku ... ingin," katanya yang sontak membuat Ara memutar tubuhnya.
"Cloud, tadi siang sudah terlalu banyak." Ara memperingatkan.
"Tapi ... aku ingin lagi." Cloud memelas bak bayi.
"Ish, kau ini. Sudah, ah!" Ara mencoba melepaskan diri.
Entah mengapa hasrat sang pangeran semakin menjadi saat melihat punggung indah gadisnya. Dikecupnya lembut punggung Ara dari belakang sambil menahan tubuh sang gadis agar tidak pergi. Sontak hal itu membuat tubuh Ara menggeliat sendiri.
"Cloud, sudah. Ish!" Ara mencoba melepaskan diri.
Cloud seakan tidak peduli, ia terus menciumi punggung gadisnya dari belakang. Sang gadis pun kegelian. Tapi semakin ia mencoba melawan, Cloud semakin kuat menahannya.
Suara Ara terdengar lembut di pendengaran Cloud. Sang pangeran malah semakin bersemangat untuk menyalurkan keinginannya malam ini. Ia pun mulai menurunkan tali gaun tidur Ara.
"Sayang, hentikan!"
Ara seperti menemui jalan buntu saat menyadari apa yang Cloud lakukan. Iapun meminta dengan sebutan mesra kepada pangerannya agar bisa terlepas. Tetapi...
"Ara, aku amat senang kau memanggilku dengan sebutan sayang. Tapi aku tidak suka kau meninggalkanku." Cloud tetap menahan Ara.
"Cloud, kau ini tidak ada puasnya. Di air terjun, di dapur, dan kini menginginkannya lagi. Apa tidak merasa lelah?" Ara kelabakan sendiri menghadapi pangerannya.
Cloud menjatuhkan diri ke kasur bersama Ara. Ia kemudian memutar tubuhnya. Dan kini tubuh sang gadis berada di bawahnya.
"Cloud ...." Napas Ara mulai tidak beraturan karena ulah pangerannya.
"Panggil aku dengan sebutan sayang lagi, Ara," pinta Cloud sambil tersenyum manis kepada gadisnya.
"Sayang ...." Ara pun akhirnya memanggil Cloud dengan sebutan sayang.
"Panggil aku selalu dengan sebutan ini, ya. Bisa, kan?" tanyanya seraya menatap dalam gadisnya.
__ADS_1
"Kau amat menyukainya?" tanya Ara sambil mengatur ulang napasnya.
"He-em. Jika kau memanggilku dengan sebutan sayang, aku merasa menjadi milikmu. Ya, aku milikmu," katanya lagi.
"Cloud ...."
"Tak ada yang lain di hatiku selain dirimu. Izinkan malam ini dan seterusnya aku memilikimu, Ara." Cloud mulai mencium gadisnya.
Cloud ....
Sebuah kecupan akhirnya mendarat di bibir sang gadis. Kecupan lembut yang semakin lama semakin menuntut. Perlahan-lahan hasrat keduanya pun bangkit. Ara tak berdaya menghadapi Cloud.
"Sayang, balaslah aku."
Sang pangeran meminta perlawanan dari gadisnya. Ia terus menciumi bibir ranum Ara tanpa henti. Yang mana membuat tubuh Ara bereaksi. Ia seperti kekurangan pasokan oksigen. Dadanya pun naik-turun dibuat oleh pangerannya.
Cloud ....
Sang gadis akhirnya lemas, tak berdaya menghadapi ulah sang pangeran. Dan akhirnya kedua daging lunak itu bertemu dan saling beradu. Sang pangeran menikmati setiap inchi dari manisnya saliva sang gadis. Momen ini membuat keduanya memejamkan mata. Baik Ara maupun Cloud terhanyut dalam hasrat yang membara.
Ikat aku dengan cintamu, Ara. Aku milikmu, hanya milikmu ....
Cloud mulai menurunkan tali gaun tidur gadisnya. Ia kecupi apa yang ada di sana. Membuat Ara meremas belakang bajunya karena tidak dapat menahan sensasi yang dirasakan.
"Sudah, Sayang. Sudah ...."
Ara meminta berhenti, namun Cloud terus saja bergerilya di atas tubuhnya. Sang gadis mulai kehilangan kendali, ia meremas sprei kasurnya. Sedang Cloud, mabuk dalam permainannya sendiri. Ia melepas satu per satu pakaiannya sambil terus menciumi lekuk indah sang gadis.
Ara ... aku milikmu ....
Hawa panas di tubuhnya tidak dapat tertahan lagi. Sang pangeran akhirnya lupa dengan siapa dirinya. Di hadapan sang gadis ia bukanlah calon seorang raja, melainkan pria yang ingin dicinta sepenuh jiwa dan raga gadisnya. Dan malam ini menjadi saksi atas cinta berpadu hasrat yang membara.
Sementara itu...
Rain sedang dalam perjalanan pulang ke Angkasa. Saat ini ia baru saja tiba di pelabuhan selatan negeri. Kuda-kuda pasukannya pun mulai menuruni kapal, satu per satu. Dan kini tinggal Rain yang turun.
Rain memutuskan untuk segera kembali ke Angkasa setelah urusannya selesai. Ia juga membawa dokumen-dokumen penting milik Aksara untuk diserahkan kepada ayahnya. Sang putra bungsu berhasil menaklukkan negeri itu tanpa kekerasan. Hanya saja ia harus mengeksekusi mati Land untuk mempertanggungjawabkan perbuatan. Termasuk perbuatan membunuh raja Aksara sendiri dengan memberi racun ke dalam kopinya.
Perjalanan pulang kali ini entah mengapa membuat hati Rain cemas tak menentu. Ia pun cepat-cepat menyusul pasukannya dari belakang lalu kembali memimpin barisan di depan. Rain melajukan kudanya dengan cepat menuju istana negeri ini.
Ara, apa kau baik-baik saja? Kenapa perasaanku sungguh tak enak malam ini. Apa terjadi sesuatu padamu?
Rain bertanya-tanya dalam hati. Ia tiba-tiba merasa cemas sendiri.
__ADS_1