
Aku tahu mau tidak mau harus menghadapi situasi ini. Tapi, aku yakin Tuhan pasti akan memberikan balasan besar jika mampu bersabar atas cobaan yang menimpa. Ya, aku amat meyakini hal itu sekalipun situasinya tidak menyenangkan seperti ini.
Kupejamkan kedua mata, menarik napas dalam lalu memompa alam bawah sadarku, jika aku adalah seorang petarung handal di medan laga. Dan di saat itulah terjadi sesuatu tak terduga padaku.
"Dewi ...."
Entah mengapa aku seperti berpindah dimensi. Tidak ada lagi awan hitam yang mengelilingi, namun awan putih yang ada di sekitaranku. Dan kulihat sosok kakek berjubah putih itu berdiri di hadapanku. Tak jauh, mungkin hanya berjarak sekitar lima meter pandangan.
"Tetua Agung?" Aku menyadari siapa sosok itu.
"Dewi, jangan takut. Kau pasti bisa mengalahkan penyihir itu. Karena kau telah ditakdirkan untuk mengalahkannya."
"Kakek, aku—"
"Fokuslah pada apa yang ada di hadapanmu. Jangan terkecoh." Dia berpesan.
Aku mengangguk, mengerti.
"Aku akan kembali setelah pertarungan ini selesai," katanya lagi.
"Kakek!"
Belum sempat aku bertanya, kakek itu sudah pergi dari pandanganku. Dan kini tempat di mana Tetua Agung berada sudah digantikan oleh wanita gagak hitam itu. Rupanya dia mulai melangkah mendekatiku.
"Mari kita selesaikan ini, Nona." Dia tersenyum sinis padaku.
Kupegang pedang Rain erat-erat sambil memasang aba-aba untuk bertarung. Dia pun mulai maju menyerangku. Wanita gagak itu mengarahkan pedangnya ke arahku, namun segera kutahan. Pedang kami pun akhirnya bertemu.
"Awal yang baik, Nona."
Dia seperti mengejekku. Mungkin sengaja mengecilkan nyaliku agar kalah melawannya. Tapi, hal itu sungguh tidak berarti. Malam ini aku telah ditakdirkan untuk menang melawannya.
"Terima kasih. Tapi bagaimana kalau yang ini?"
Kuputar cepat badanku lalu mengarahkan pedang ini ke arahnya. Diapun kaget, tidak punya persiapan untuk mengelak dari seranganku. Dan akhirnya aku berhasil merontokkan bulu-bulu di sayapnya.
"Sial! Kau berani merontokkan bulu sayapku!"
__ADS_1
Dia bergerak mundur, menghindari serangan pedangku. Aku jadi semakin bersemangat saat melihat bulu-bulu hitam itu rontok dari sayapnya. Namun sepertinya, perjuanganku belum berakhir. Dia mengepakkan sayapnya lalu terbang di hadapanku.
"Kau gadis yang menyebalkan. Tapi apa bisa kau mengalahkanku dengan posisi seperti ini?"
Dia menukik ke arahku, mengarahkan pedangnya dan ingin melukaiku. Namun, dengan cepat aku berputar untuk menghindarinya. Tapi sayang, rambutku terkena sabetan pedangnya.
Rambutku?!!
Aku terkejut saat menyadari rambutku terpotong oleh pedangnya.
"Lihat! Betapa tajam pedangku ini." Dia mengambil potongan rambutku dengan bangga.
Rambutku yang sudah sepinggang ini harus terpotong hingga sampai ke bagian dada. Kini aku tidak lagi mempunyai rambut panjang seperti dulu.
Tak apa, masih bisa kupanjangkan lagi.
Kutarik napas dalam-dalam lalu kembali fokus ke pertarungan. Kulihat wanita gagak itu membuang potongan rambutku ke udara.
"Sekarang aku akan memotong bagian yang lain." Dia mulai bergerak.
"Argh!"
Wanita gagak itu akhirnya terjatuh dan segera saja kuarahkan pedangku ke jantungnya. "Terima ini!"
Kutusuk jantungnya menggunakan ujung pedang ini. Tapi, dalam sekejap tubuhnya berubah menjadi bulu-bulu gagak hitam yang berhamburan. Dan ternyata...
"Sekarang kau tidak bisa lari lagi." Dia ada di belakangku.
Ternyata dia mengelabuiku.
Kurasakan dingin dari pedangnya mengenai sisi leher kananku. Aku terpojok.
"Kau masih terlalu dini untuk mengalahkanku, Nona. Sihir telah menyebar ke seluruh penjuru istana. Dan tidak lama lagi pasukan musuh akan menyerang istana ini. Apa yang bisa kau lakukan? Sedang pedangku berada di lehermu?" tanyanya sombong.
Aku tahu situasi ini amat tidak memungkinkan untukku bergerak. Karena pergerakan sedikit saja bisa melukai leherku. Aku harus mencari cara lain untuk mengalahkannya.
Tuhan, beri aku petunjuk. Tunjukkanlah jalan yang lurus.
__ADS_1
Hanya doa yang bisa kupanjatkan dalam hati di saat situasi sudah seperti ini. Dan tiba-tiba saja ada seberkas cahaya menyilaukan datang dari langit. Di saat itulah aku bergerak cepat, memutar ke belakang wanita gagak itu. Yang mana kulihat dia tengah memejamkan matanya karena silaunya cahaya.
"Maaf. Kesombongan hanyalah milik Tuhan."
"Ap-apa?!"
Wanita gagak itu terkejut saat menyadari jika aku sudah berada di belakangnya. Dia pun mencoba menoleh, tapi tidak sempat. Segera kutuntaskan tugasku malam ini. Kuarahkan ujung pedang ini ke jantungnya. Dan ... wanita gagak itupun memuntahkan banyak darah.
"Kau ...."
Kutekan pedangku hingga tertembus sampai ke luar jantungnya. Wanita gagak itupun jatuh tersungkur. Segera kutarik pedang ini lalu menjauh darinya. Aku harus tetap memegang pedang untuk berjaga-jaga. Kalau-kalau dia masih mempunyai tipu daya untuk menyerangku. Namun ternyata, dia benar-benar tidak bergerak lagi.
"Hah ... hah ...."
Napasku terengah-engah setelah menyadari jika dirinya telah mati. Namun anehnya, tubuhnya berubah menjadi gagak-gagak hitam yang berterbangan ke angkasa. Bersamaan dengan lenyapnya lingkaran sihir yang dia buat untukku.
Rain ... aku berhasil.
Betapa bahagianya aku karena telah kembali ke dimensi yang sebenarnya. Aku kembali ke istana dengan selamat. Tapi...
"Astaga!"
Kulihat tim pemanah yang berjaga sudah tertidur pulas di titik jaganya masing-masing. Tidak ada satu pun pemanah yang siaga di tempatnya. Seketika itu juga aku menyadari sesuatu.
Jadi penyihir itu melumpuhkan tim pemanah terlebih dahulu agar pasukan yang berjaga di bawah tidak mendapat perlindungan dari atas? Sehingga jika ada pihak musuh menyerang, pasukan yang berjaga di bawah berjuang sendirian. Astaga ... benar-benar licik cara yang digunakannya.
Aku tak habis pikir strategi licik yang digunakan pihak musuh untuk menyerang istana ini. Aku tidak mengerti mengapa mereka sampai tega mengorbankan banyak nyawa untuk mengambil alih kekuasaan negeri lain, sedang mereka sudah mempunyai wilayah kekuasaan sendiri.
Apa hal ini yang dimaksud oleh penyihir itu? Meragukan jika manusia masih mempunyai hati?
Ara telah berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Namun, di saat kembali ke dimensi istana, ia melihat seluruh tim pemanah yang berjaga sudah terlelap dalam tidurnya. Ia pun menyadari jika peran tim pemanah amatlah penting untuk melindungi pasukan yang ada di bawah.
Ara tidak tinggal diam melihatnya. Ia segera melakukan sesuatu untuk menetralkan sihir yang telah menyebar ini. Ia duduk bersila di tengah-tengah teras atap lalu berdoa kepada Tuhannya, meminta pertolongan agar dapat menetralkan sihir yang ada. Bersamaan dengan itu, di lain tempat sang penyihir jatuh dari semedinya lalu memuntahkan banyak darah.
Ternyata ... dialah dewi itu.
Tak lama penyihir itu kehilangan kesadarannya. Ia tidak lagi bisa menyebarkan sihir untuk selama-lamanya. Dan pada akhirnya, kebatilan akan lenyap sampai ke akar-akarnya.
__ADS_1