Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Stop My Big Baby!


__ADS_3

Awal siang di Angkasa...


Aku baru saja selesai mempercantik diri di rumah kecantikan istana. Dan kini sedang menyisir rambut di depan cermin besar yang ada di sini. Aku juga mengenakan gaun biru yang dulu. Ternyata gaun ini masih disimpan dengan baik oleh Cloud.


"Kalau begini kan terlihat cantik dan menenangkan."


Selepas menyisir rambut, segera kukenakan sepatu hak tinggi berwarna biru muda. Hampir selaras dengan warna gaunku. Tak lupa kusemprotkan parfum ke seluruh tubuh agar menambah rasa percaya diri. Dan kini aku siap untuk melanjutkan hari bersama kedua pangeranku. Namun...


"Nona Ara! Nona!" Seorang prajurit mendatangiku dengan histeris.


"Ada apa, Prajurit?!" tanyaku yang ikut histeris.


"Nona, cepat ke halaman depan istana! Ini gawat!"


Prajurit bertombak itu datang terengah-engah. Sepertinya dia habis berlari kencang untuk sampai ke sini. Aku pun tiba-tiba panik sendiri mendengar nada bicaranya.


"Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" tanyaku segera.


"Nona, pangeran Rain dan pangeran Cloud bertikai di depan istana. Mereka sama-sama mencabut pedangnya. Nona, cepatlah ke sana. Hanya Nona yang bisa menghentikan pertikaian ini."


"Apa?!!"


Seketika detak jantungku berpacu cepat saat mendengar kabar yang disampaikan oleh prajurit ini. Dengan segera aku mengikutinya menuju halaman depan istana. Namun entah mengapa, langkah kakiku terasa berat sekali.


Ya Tuhan, ada apa sebenarnya?


Aku pun mencoba berjalan lebih cepat. Tapi semakin cepat melangkah, magnet bumi terasa semakin kuat menarik tubuhku. Dan akhirnya kuputuskan untuk melepas sepatu hak tinggi ini, lalu segera berlari menuju halaman depan istana.


"Di mana mereka?" tanyaku kepada prajurit yang berlari bersamaku, kami terburu-buru.


Kususuri koridor demi koridor istana, lalu akhirnya sampai juga di sisi utara istana ini. Kulihat banyak penghuni istana sudah mengerubung di teras depan. Ramai sekali.


"Itu mereka, Nona!" Prajurit menunjuk ke arah dekat gazebo.


"Astaga!"


Hampir saja jantungku copot ketika melihat kedua bayi besar itu saling mencabut pedangnya. Kulihat ke balkon teras lantai tiga, ternyata ada raja dan ratu yang sedang melihat kedua putranya. Tapi anehnya, tidak ada yang memisahkan kedua pangeranku.


"Kau pikir hanya dirimu yang tidak setuju dengan keputusan ini?! Aku juga begitu!"


Kudengar Rain berteriak kencang dari kejauhan. Aku segera mencari cara untuk memisahkan mereka.


Haduh ... kenapa sih harus seperti ini? Bagaimana caraku memisahkan mereka?


Kuputar otak dengan cepat, mencari cara agar dapat memisahkan sebelum semuanya terlambat. Tapi ... keadaan semakin genting.


"Kau harus tahu jika aku yang membawa Ara ke istana! Kau menikungku, Rain!" Kudengar Cloud juga berseru.

__ADS_1


Ya ampun, apa yang harus aku lakukan? Aku semakin panik.


"Baiklah kita selesaikan saja hari ini. Siapa yang lebih pantas untuk menikahinya!" Rain terlihat emosi.


"Baik, aku juga tidak keberatan." Cloud membalasnya.


Keduanya mulai mengarahkan pedangnya. Rain memutar-mutar pedangnya, sedang Cloud tetap tenang melihat gerak-gerik adiknya. Pedang mereka pun akhirnya bertemu.


"Hentikan! Hentikaaan!!!" Hampir-hampir saja aku mau pingsan melihatnya.


Ya Tuhan, tolong aku ....


Laju jantungku sudah tidak karuan. Napasku juga terasa sesak. Aku semakin panik. Mereka benar-benar bertarung untuk memperebutkanku. Sedang penghuni istana lain hanya bisa menonton sambil menggigit jari. Tidak ada satupun yang memisahkan mereka. Bahkan raja sendiri hanya melihatnya dari teras atas istana.


Aku harus mencari sesuatu yang lebih panjang dari pedang agar bisa memisahkan mereka dari jarak jauh. Tapi apa ya?


Dalam kepanikan, mataku mencari ke sekeliling arah. Dan kutemukan sebuah benda yang kubutuhkan. Tombak.


"Prajurit, pinjamkan tombakmu!" Aku meminta tombak kepada prajurit tadi.


"Nona, apa yang akan Nona lakukan? Ini sangat berbahaya, Nona." Prajurit itu memperingatkan.


"Aku tidak peduli. Tidak boleh ada yang mati karenaku. Cepat, sini tombaknya!" Aku memaksa meminta tombak itu.


Kulihat dia seperti ragu-ragu memberikan tombaknya. Karena merasa lama, akhirnya kutarik saja tombak yang dia pegang. Kupegang erat-erat tombak ini lalu segera menuju ke arah Rain dan Cloud yang sedang berseteru, tanpa memedulikan lagi dengan keadaan sekitar.


Aku berteriak dari kejauhan sambil membawa tombak untuk memisahkan mereka. Aku seperti prajurit yang amat bersemangat untuk mengalahkan musuh. Atau mungkin seperti emak-emak yang ingin memisahkan pertikaian anaknya. Entahlah, aku hanya fokus agar pertikaian mereka berhenti. Aku terus berlari sambil membawa tombak ini.


"HENTIKAAAAANNN!!!" Aku berlari sekencang mungkin.


Tak tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka. Tiba-tiba keduanya menyadari kehadiranku, melihatku berlari kencang sambil membawa tombak ini. Baik Rain maupun Cloud seketika berhenti bertarung, namun pedang mereka masih beradu.


Ini saatnya!


Di saat itulah kugunakan tombak ini untuk melemparkan pedang mereka. Kudorong sekuat tenaga dari bawah agar pedang mereka bisa terlepas. Akhirnya kedua pedang pun bisa terlepas dan melayang ke udara. Pedang itu kemudian jatuh menancap di atas tanah. Tapi...


Aku kehilangan keseimbangan ....


Mungkin karena terlalu panik, aku tidak memedulikan lagi beratnya tombak besi yang kupegang ini. Tombak ini membuat tubuhku terhuyung tak karuan. Akhirnya akupun jatuh ke belakang bersama tombaknya.


"Aduuuhh!!!" Aku meringis kesakitan karena pantatku terbentur tanah.


"Ar-ara?!" Keduanya pun segera mendekati setelah melihatku jatuh.


"Ara, kau baik-baik saja?" tanya Rain padaku.


"Ara, apa yang kau lakukan?" Cloud juga ikut bertanya.

__ADS_1


Seketika emosiku jadi naik saat mendengar pertanyaan mereka. Bukan lagi naik ke ubun-ubun, melainkan ke angkasa.


"KALIAAAN!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?!!" tanyaku penuh emosi.


"Ar-ara, ka-kami ...." Keduanya terbata.


"MASIH BISA KALIAN BERTANYA APA YANG AKU LAKUKAN DAN APA AKU BAIK-BAIK SAJA?! APA KALIAN TIDAK LIHAT AKU JATUH, HAH?!" tanyaku berapi-api.


"Ar-ara, ma-maafkan kami. Aku bantu berdiri, ya." Cloud memegang lengan kananku.


"Pelan-pelan, Sayang." Rain juga ikut membantuku berdiri, dia memegang lengan kiriku.


"Sayang-sayang!" Cloud marah saat Rain menyebutku dengan kata sayang.


"Memangnya kenapa?!" Rain menaikkan nada bicaranya, seperti menantang.


Astaga, di saat seperti ini mereka masih sempat-sempatnya bertengkar.


Aku tidak tahu apa yang dipikirkan penghuni istana saat melihat kejadian ini. Pantatku sakit sekali, jadi aku hanya fokus kepada diriku sendiri.


"Sudah! Aku sedang sakit kalian masih sempat-sempatnya bertengkar!" Aku memarahi keduanya tanpa segan.


Seketika keduanya berhenti berseteru saat melihat jiwa emak-emakku keluar. Tak apalah, yang penting mereka bisa berhenti. Ya, walaupun pantatku harus menjadi korbannya.


AWAS KALIAN, YA!!!


Ara merasa hari ini adalah hari yang kurang baik baginya. Di awal siang ia harus melihat kedua pangerannya bertikai dan beradu pedang untuk memperebutkannya. Tak ayal kejadian itu membuatnya panik dan hampir pingsan. Deru napasnya masih terdengar tak beraturan, terlebih pantatnya kini harus menjadi korban akibat memisahkan pertikaian kedua pangerannya. Emosi Ara tidak bisa lagi terbendungkan. Ia akhirnya memarahi kedua pangerannya di depan penghuni istana.


Baik Rain maupun Cloud tidak percaya jika Ara akan datang dan memisahkan pertikaian mereka. Keduanya sama-sama tidak lagi dapat membendung perasaan kesal karena keputusan raja. Mereka masih tidak mau membagi Ara, apapun alasannya. Keduanya tetap mempertahankan ego masing-masing.


Pertikaian itu juga tidak luput dari pandangan sang ayah. Sky bersama Moon melihat kejadian itu dari teras balkon istana. Dan kini keduanya tengah melihat Ara dibantu berjalan oleh kedua putranya, masuk ke dalam istana.


"Kau lihat mereka? Bagaimana bisa aku memilih salah satunya untuk menikahi gadis itu. Keduanya sama-sama bersikeras untuk mempertahankannya." Sky pusing sendiri.


"Hah, aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Cloud dan Rain memang sama gilanya." Moon angkat tangan menghadapi kedua putranya.


"Dan kau lihat sendiri saat gadis itu datang. Bagaimana dia mengatasi kedua putra kita? Apa kau masih ragu akan kemampuannya?" Sky bertanya kepada Moon.


"Entahlah. Aku masih saja merasa khawatir. Tapi semoga ini hanya sebatas perasaanku." Moon memijat dahinya sendiri karena pusing melihat tingkah laku kedua putranya.


"Ya, sudah. Jika kau ingin bicara padanya, bicaralah. Aku juga akan berbicara kepada Rain dan Cloud." Sky merangkul istrinya.


"Ya, baik." Moon mengiyakan perkataan suaminya.


Sky ternyata sengaja tidak memisahkan kedua putranya agar Moon melihat sendiri bagaimana Rain dan Cloud. Dan kini Moon menyadari kegilaan kedua putranya. Ia akhirnya dapat menerima dengan lapang dada keputusan Sky yang akan menikahkan Cloud dan Rain sekaligus. Moon seperti tidak menemui jalan lain.


Maafkan aku, Istriku. Aku terpaksa tidak memisahkan mereka agar kau melihat sendiri betapa besar cinta keduanya kepada Ara. Dan agar kau menyadari jika hanya Ara lah yang mampu mengatasi dan menenangkan keduanya. Maafkan aku yang telah membuatmu panik.

__ADS_1


Sky sendiri berusaha menutupi rasa cemasnya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan jika Rain dan Cloud sampai benar-benar bertarung dan menumpahkan darah. Jauh di dalam lubuk hatinya ia tidak rela jika hal itu sampai terjadi. Sky amat menyayangi kedua putranya.


__ADS_2