Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Hurt


__ADS_3

Di depan ruangan...


Sky memulai pembicaraannya dengan Cloud. Keduanya duduk bersampingan dan hanya dipisahkan meja bulat yang kecil, sebagai tempat meletakkan minuman.


"Tadi ayah mengobrol sebentar dengan tabib yang memeriksa Ara, Cloud." Sky mengawali pembicaraannya.


"Lalu bagaimana, Yah?" tanya Cloud yang ingin tahu.


"Tabib itu merasa jika sesuatu telah terjadi pada Ara semalam."


"Maksud Ayah?"


"Tabib itu tidak menemukan sedikitpun sisa tenaga di dalam tubuhnya. Sepertinya Ara amat kelelahan." Sky menuturkan.


"Aku menemukannya dalam posisi tergeletak di lantai teras atap, Yah. Dengan pedang Rain yang jatuh, tidak jauh dari keberadaannya. Dan kulihat potongan rambutnya bertebaran di sekitaran teras." Cloud menuturkan.


"Itu berarti dia telah bertarung semalam."


"Bertarung?" Cloud tak percaya.


"Ya, ayah rasa jika Ara habis bertarung semalam. Entah dengan siapa." Sky mengeluarkan pendapatnya.


"Astaga!" Seketika Cloud terkejut.


"Mungkin saja dia bertarung dengan seseorang yang tidak dapat kita lihat. Bukankah gadis itu dapat melihat hal-hal di luar kemampuan kita?" Sky balik bertanya.


"Ayah benar." Cloud mengiyakan.


"Pengakuan dari tim pemanah menjuru ke suatu hal tak kasat mata dan hanya Ara sendirilah yang bisa merasakannya. Mereka melaporkan jika semalam rasa kantuk menerjang begitu kuat. Dan mereka juga tiba-tiba kehilangan jejak gadis itu." Sky melanjutkan.


"Apakah Ayah percaya jika Ara bertarung dengan seseorang yang mengirimkan sihir kantuk kepada tim pemanah?" tanya Cloud kepada ayahnya.


"Ya. Itu bisa saja terjadi. Nanti setelah ia bangun, tanyakan pelan-pelan padanya. Untuk sementara kita tunggu kabar dari Rain," tutur sang ayah.


"Rain belum memberi kabar, Yah?" tanya Cloud yang cemas.


"Belum. Doakan adikmu agar selamat berserta para pasukannya," pinta Sky kemudian.


Cloud mengangguk. "Tentu Yah."


Walaupun keduanya bersaing untuk mendapatkan hati sang gadis, tetapi tetap saja mereka adalah saudara kandung. Cloud mendoakan Rain agar selamat beserta para pasukan yang sedang menghadang pihak musuh. Ia berharap sang adik dapat segera kembali ke istana. Terlepas dari persaingan yang terjadi di antara keduanya.


Rain, kembalilah membawa kabar gembira untuk negeri ini. Cloud berdoa dalam hati.

__ADS_1


Pagi ini hujan turun semakin lama semakin deras. Seolah mendinginkan keadaan istana yang semalaman diselimuti rasa takut atas kabar penyerangan dari pihak musuh. Rose pun yang masih berdiam diri di dalam kamar tampak kesal menunggu matahari terbit. Ia tidak lagi betah untuk terus menunggu di kamarnya.


Ya ampun, misiku belum berjalan dan kini harus mendekam di kamar hingga sarapan pagi datang. Aku sungguh tidak betah di sini. Rasanya ingin cepat-cepat kembali saja ke negeriku.


Rose yang mempunyai misi mendekati Rain harus merelakan hari-harinya tanpa keberhasilan. Sang putra bungsu kerajaan ini belum juga dapat ia temui di hari-hari terakhirnya di Angkasa. Ia merasa apa yang dilakukannya hanya sia-sia belaka. Rose kehilangan kepercayaan dirinya untuk memikat hati pangeran bungsu kerajaan ini.


Beberapa jam kemudian...


Jam makan siang hampir tiba, namun aktivitas operasional kerajaan masih dihentikan sementara waktu. Sang pangeran pun kini telah terbangun dari tidurnya. Ia terbangun dari sisi kiri Ara yang belum juga tersadarkan.


Sayang, kau belum juga bangun?


Cloud mengusap kepala gadisnya dengan lembut. Sejak pagi ia tertidur di samping gadisnya agar dapat mengetahui jika Ara telah bangun. Tapi, lagi-lagi sang gadis masih tertidur nyenyak dalam mimpi.


"Mungkin lebih baik jika aku membersihkan diri terlebih dahulu."


Cloud bergegas bangun lalu beranjak mandi. Sang pangeran pun meninggalkan gadisnya sendirian di atas kasur yang besar itu. Yang mana tanpa Cloud ketahui, tangan sang gadis bergerak perlahan.


"Rain ...." Sang gadis mengucap pelan nama pangeran bungsu kerajaan ini.


"Rain ...." Nama itu kembali terucap dari bibirnya yang pucat.


Beberapa menit kemudian, Cloud pun keluar dari kamar mandi. Dan ia melihat Ara masih belum terbangun.


Ya Tuhan, dia belum juga bangun dari tidurnya. Apakah dia baik-baik saja?


"Pangeran." Terdengar seseorang mengetuk pintu ruangan dari luar.


"Ya, tunggu." Cloud lalu pergi membukakan pintu.


"Mbok Asri?" Cloud melihat jika Asri lah yang datang.


"Pangeran, ini saya bawakan makan siang untuk Pangeran dan juga nona Ara." Asri mengantarkan hidangan makan siang.


"Terima kasih, Mbok." Cloud menerimanya.


"Pangeran, apakah saya boleh melihat non Ara?" tanya Asri yang ingin melihat langsung keadaan Ara.


"Oh, baik. Silakan." Cloud mempersilakan masuk.


Pelayan senior di istana yang pernah mendampingi Ara ini segera masuk dan duduk di lantai, dekat dengan kasur di mana Ara dibaringkan. Ia melihat secara langsung bagaimana gadis itu terbujur lemah tak berdaya.


Non, bangunlah. Kami semua merindukan non Ara. Rasanya istana ini begitu sunyi tanpa canda tawa nona. Asri berucap dalam hati seraya menatap Ara dalam kesedihan.

__ADS_1


Cloud pun melihat kesedihan terpancar dari wajah pelayan istana itu. Ia turut bersedih karena Ara belum juga terbangun dari tidurnya. Sang pelayan pun akhirnya berpamitan setelah mendoakan kesembuhan untuk Ara.


"Saya permisi, Pangeran. Jika ada keperluan, Pangeran bisa memanggil saya," kata Asri kepada putra sulung kerajaan ini.


"Baik, terima kasih." Cloud menanggapi.


Asri kemudian keluar dari ruangan tempat di mana Ara dirawat. Dan sang pangeran pun kembali menemani gadisnya.


"Ara ... bangunlah," pinta Cloud seraya mengusap pipi Ara.


Cloud merasa sedih karena tidak dapat menjadi seperti yang Ara inginkan. Segala tugas kerajaan membuatnya merasa terhalangi dari kedekatan hubungan ini. Cloud pun kembali meneteskan air matanya. Ia mencium lembut tangan kiri Ara, berharap sang gadis segera tersadarkan.


Sesuatu pun kemudian terjadi. Tangan Ara bergerak perlahan.


"Ara?!"


Seketika Cloud riang saat menyadari tangan Ara bergerak. Ia segera mendekatkan dirinya ke gadis itu.


"Cloud ...." Sang gadis perlahan membuka kedua matanya.


"Ara, ini aku. Kau sudah sadar, Sayang?" Cloud berkaca-kaca, ia mengusap kepala Ara dengan lembut.


"Cloud, di mana Rain?" tanya Ara yang seketika membuat hati Cloud terasa pecah berkeping-keping.


Rain? Dia menanyakan Rain kepadaku?


"Apakah Rain sudah kembali?" tanya Ara pelan sambil menatap Cloud dengan lemah.


Betapa hancur hatinya saat sang gadis menanyakan Rain kepadanya. Padahal sedari tadi ia amat mencemaskan keadaan gadisnya itu.


"Cloud ...." Ara menegur Cloud kembali.


Cloud seperti kehilangan semangat hidupnya. Ia merasa kalah dari sang adik karena ternyata Ara lebih mencemaskan Rain daripada dirinya.


"Rain belum kembali, Ara." Cloud berat untuk menjawabnya.


"Rain ...." Ara beranjak bangun.


"Ara, kau belum pulih sepenuhnya." Cloud menahan Ara agar tidak bangun.


"Tidak, Cloud. Aku baik-baik saja." Ara memaksa untuk bangun.


Dalam kesedihannya Cloud membantu Ara untuk duduk menyandar di kepala kasur. Ia sebisa mungkin menutupi kesedihannya karena sang gadis lebih mementingkan Rain daripada dirinya sendiri.

__ADS_1


Apakah ini pertanda dari berakhirnya kisah cintaku?


Cloud berkecil hati karena tak lagi mendengar kata sayang dari gadisnya. Ia merasa Ara mulai menjaga jarak dari dirinya itu. Terbukti sang gadis tidak lagi menyebutnya dengan mesra.


__ADS_2