
Kini aku telah tiba di belakang istana. Rain memintaku untuk menaiki kudanya. Namun, aku menolak.
"Ara?" Rain tampak bingung.
"Aku naik kudaku saja," kataku.
"Kudamu?"
"Hem, iya. Kudaku. Sebentar, ya."
Aku menarik napas dalam, memejamkan kedua mata sambil menggabungkan kedua tangan. Aku mencoba memfokuskan pikiran, Law of Attraction kuaktifkan.
Green ... datanglah. Aku membutuhkanmu.
Kubayangkan jika Green mendengar panggilanku ini. Kulihat dia menoleh ke arahku, berbalik, lalu berjalan menujuku. Kubayangkan jika Green melaju ke arahku dengan kecepatan tinggi. Dan terbayang saat itu jika Green tengah menyusuri hutan untuk sampai ke istana.
Aku dapat merasakannya...
Kurasakan pikiranku terhubung dengan semesta. Telingaku dapat mendengar langkah kaki Green yang semakin lama semakin mendekat. Hingga beberapa saat kemudian...
"Ara?!"
Kudengar Rain berseru penuh tanya. Bersamaan dengan itu, kudengar ringkik kuda yang menggema. Aku lalu membuka kedua mata.
"Ini mustahil."
Rain tak percaya dengan yang terjadi. Kuda hijau itu kini telah tiba di gerbang belakang istana, di hadapan kedua matanya.
"Ara, bagaimana bisa kau melakukannya?"
Rain mengusap kepalanya. Ia masih tidak percaya jika aku bisa memanggil kuda ini. Ya, aku merasa jika Green memang diberikan untukku.
Rain kemudian mendekati Green. Dia ingin memastikan jika kuda ini bukanlah delusinya. Green juga tampak duduk setelah aku memberi tanda kepadanya untuk duduk.
"Astaga. Kuda ini sangat susah ditangkap. Tapi kenapa ...?"
Beberapa prajurit yang melihatnya tampak tak percaya dengan kejadian ini, termasuk dua prajurit berkuda yang baru saja datang memenuhi panggilan Rain. Akupun segera menaiki kuda hijauku.
"Ayo, Pangeran! Kita berangkat."
Aku tersenyum ke arah Rain. Bersamaan dengan itu, Green segera berdiri lalu memutar badannya menuju ke arah bukit pohon surga. Rain pun segera menaiki kuda hitamnya, diikuti kedua prajuritnya dan kereta kuda tanpa kusir.
"Ara, ini sulit dipercaya," katanya yang melajukan kuda di samping kiriku.
Aku hanya tersenyum ke arahnya lalu melajukan kuda ini lebih cepat. Kulihat Rain takjub dengan apa yang dilihatnya.
Kereta kuda tanpa kusir ini nantinya akan digunakan untuk membawa buah dan dedaunan pohon tin. Sedang prajurit berkuda, Rain ikut sertakan untuk berjaga-jaga. Kami akhirnya berangkat bersama menuju bukit pohon surga.
Beberapa saat kemudian...
Setibanya di bukit pohon surga, aku segera melaksanakan tugasku. Memohon kepada Tuhan agar makhluk-NYA ini memberikan buah dan juga daunnya. Namun sepertinya, aku tidak bisa mendapatkan banyak. Hanya dua karung saja.
__ADS_1
"Rain, maafkan aku."
Aku sudah meminta sebanyak tiga kali, tapi pohon tin ini hanya sekali menggugurkan daun dan menjatuhkan buahnya. Aku jadi merasa sedih karena tidak dapat memenuhi permintaan Rain. Namun, sepertinya Rain cukup mengerti akan hal ini.
"Tak apa, Ara. Tuhan lebih tahu berapa yang kita butuhkan. Mungkin hanya dua karung untuk sementara waktu. Ini pun sudah cukup banyak."
Rain mengusap kepalaku, dia memberikan semangatnya. Aku jadi lega karena Rain tidak memaksakan kehendaknya.
"Baiklah. Mari kita bawa karung ini!" Rain meminta kepada prajuritnya untuk mengangkat dua karung ini ke dalam kereta.
Dengan segera, kami menuju balai kota untuk menyelesaikan misi hari ini. Aku dan Rain berada di depan, sedang kereta kuda di tengah. Dan dua prajurit berkuda berjaga di belakang. Kami iring-iringan menuju ibu kota kerajaan ini.
Setibanya di balai kota...
Kedua prajurit mengangkat dua karung besar berisi buah dan dedaunan pohon tin, sedang aku bersama Rain segera masuk ke dalam ruang pembuatan ramuan.
"Salam bahagia untuk Pangeran Rain dan Nona Ara."
Ruangan ini cukup besar, mungkin sekitar 4x5 meter dengan banyak jendela di bagian sisi luarnya. Dan juga ada sebuah pintu di salah satu sudut ruangan, yang mana terdapat halaman kecil sebagai tempat untuk merebus ramuan.
"Terima kasih," jawabku seraya tersenyum ke arah mereka.
Para tabib yang sedang mencuci bahan baku ramuan itu segera berdiri, membungkukkan badan saat kami tiba di dalam ruangan. Mereka tampak begitu hormat.
"Bagaimana keadaan hari ini?"
Rain bertanya kepada para tabib. Akupun terdiam mendengarkan.
"Bisakah hari ini selesai?" tanya Rain lagi.
Para tabib itu saling berpandangan kala mendengar pertanyaan Rain.
"Maafkan kami, Pangeran. Kami kekurangan tenaga medis. Di ruang pengobatan hanya ada lima tabib yang mengobati, sedang sisanya berada di ruangan ini."
Aku berempati mendengarnya.
"Aku akan membantu kalian. Kalian bisa membuka ruang pengobatan lain, dan aku yang akan berada di sini." Rain menyahuti.
"Tapi, Pangeran Rain—"
"Ada Ara yang menemaniku. Dia pasti tidak akan diam saja melihat calon suaminya kelelahan seorang sendiri." Rain merangkulku di hadapan para tabib.
"Rain?!"
Dia hanya tersenyum. Aku pun ikut bicara mengenai hal ini.
"Benar apa yang dikatakan oleh Pangeran. Aku akan ikut membantu membuat ramuannya. Kalian tidak perlu khawatir."
"Nona, ramuan yang dibuat itu banyak. Kami khawatir Nona akan—"
"Tidak, aku baik-baik saja. Ada pangeranku di sini. Benar kan, Rain?"
__ADS_1
Aku menoleh ke arah Rain yang berada di sisi kiriku. Mencoba memberi ketenangan kepada para tabib yang mengkhawatirkan keadaan kami.
"Baiklah, Non. Sepertinya Nona sudah mengerti bahan-bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat ramuan. Kami undur diri."
Ketiga tabib itu kemudian berpamitan kepada kami.
"Jangan sungkan jika ingin bertanya ya, Nona. Kami ada di ruang sebelah." Salah satu tabib berpesan lalu membungkukkan badan dan berpamitan.
"Baiklah," sahutku seraya tersenyum.
Setelah para tabib itu keluar dari ruang pembuatan ramuan, aku segera membuka jendela dan pintu belakang ruangan ini.
"Ara."
"Hm?"
"Tinggal kita berdua di sini." Rain mendekatiku.
"Hei! Ini tempat umum, Rain." Aku mengingatkan.
Rain pun tertawa. "Hahahaha. Aku hanya bilang jika kita hanya berdua di sini, Ara. Tidak ingin melakukan apa-apa," katanya.
Sontak saja aku jadi malu sendiri mendengarnya.
"Sudah, mari kita mulai misi kerajaan ini. Apa yang bisa kubantu?" tanyanya membuyarkan lamunanku.
Aku merasa malu dengan pikiranku sendiri. Selalu saja menanggapi kata-katanya itu dengan pikiran yang negatif.
Harus kuakui semenjak dekat dengan Rain, aku semakin penasaran dengan hal itu. Dia selalu saja memancingku dengan kata-kata mesumnya.
Huh, dasar! Aku kesal sendiri jadinya.
Kami akhirnya mulai bekerja. Aku meminta Rain untuk mengambilkan air untuk diisikan ke dalam bak besar. Setelahnya, kami mencuci buah tin dan juga daunnya ini sampai bersih. Rain juga membantuku mengiris buah tin menjadi empat bagian lalu mengemasinya.
"Ara, boleh aku menyicipi buahnya?" tanyanya seraya melihatku.
"Boleh, sedikit saja tapi," jawabku sambil terus mengemasi buah tin ini.
"Kalau menyicipi buahmu juga boleh?" tanyanya yang sontak membuatku terdiam.
"Rain, kau ini selalu saja memancingku!" Aku kesal sendiri.
"Eh, aku tidak memancing. Hanya menginginkannya saja."
Seketika aku tertawa mendengar jawabannya itu. Dia benar-benar bisa menghiburku dengan kata-kata mesumnya, sehingga pekerjaan ini tidak terasa begitu lelah. Dan entah kenapa, aku jadi menyukai caranya.
Kamipun segera menyelesaikan pekerjaan ini sebelum jam makan siang tiba. Setelah pekerjaan ini selesai, aku meminta Rain untuk membantu merebus ramuan. Sehingga bisa kutinggal makan siang sambil menunggu semua bahan baku ramuannya terlarut dalam air.
"Ara, tutup matamu dengan gaun!" Rain memperingatkanku.
Kami memang memasak menggunakan kayu bakar di halaman kecil yang ada di samping ruangan ini. Sedang di dalamnya tinggal mengemasinya saja.
__ADS_1
Kulihat Rain tampak memejamkan matanya saat asap dari kayu bakar itu menerpanya. Dia tanpa sungkan berkotoran denganku, aku jadi semakin mengaguminya. Dialah pangeran kesayanganku, Rain Sky.