
Beberapa saat kemudian...
Selesai makan, aku duduk menyandar di dinding seraya menikmati sejuknya angin siang. Entah mengapa, aku merasa di negeri ini berbeda. Musim salju tidak membatasi cahaya matahari untuk menyinarkan teriknya. Hanya malam saja yang turun salju, untuk pagi hingga sore hari masih seperti biasa.
"Kenyang sekali."
Kupandangi langit biru, kulihat burung-burung berpasangan berterbangan di atas kebun zaitun ini. Mereka tampak bahagia bermain bersama pasangannya. Tidak seperti aku yang duduk sendiri di sini.
"Ara ...."
Tak lama suara itu kudengar. Dia datang lalu duduk di sisi kananku, menyadarkanku dari angan yang datang tanpa diundang.
"Aku mencarimu, ternyata kau ada di sini," katanya.
Aku hanya diam seraya menoleh. Kupandangi wajahnya yang tampan. Sesaat aku merasa takut jika harus kehilangannya.
"Ara, kau baik-baik saja, kan?"
Dia bertanya kembali. Tapi aku masih tidak menjawabnya. Rasanya aku takut. Benar-benar takut kehilangannya.
Kusandarkan kepalaku di bahunya seraya melingkarkan tangan kananku ini di lengan kirinya.
"Rain ... aku khawatir," kataku dengan nada sendu.
"Khawatir karena kedatangan putri itu?" tanyanya seolah mengerti ketakutanku.
Aku mengangguk.
"Apa yang kau khawatirkan, Ara? Semua masih baik-baik saja," tanggapnya.
Rain melihatku, akupun beranjak dari duduk. Berdiri di hadapannya seraya membelakanginya. Dia kemudian mendekatiku.
"Sayang ...." Rain memelukku dari belakang. "Di mataku hanya kaulah yang sempurna. Aku tidak akan berpaling meskipun dia cantik dan memiliki segalanya. Hanya kau seorang yang bertahta di hatiku."
Rain seperti mengerti benar bagaimana perasaanku tanpa perlu kuutarakan terlebih dahulu padanya. Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin. Terlepas dari sifat mesumnya itu, kesetiaannya patut kuacungi jempol.
"Rain ...."
Aku kemudian berbalik menghadapnya, menatapnya lebih dekat lagi. Kuusap wajahnya yang dipenuhi rambut-rambut halus itu. Rain lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.
"Aku menyayangimu," kataku lalu meraih bibirnya.
Kulampiaskan hasratku kepadanya. Kualihkan rasa khawatir ini. Kucium bibirnya dengan lembut. Rain pun membalasnya segera.
Kumohon jangan berpaling ....
Kini kami sudah tidak memandang tempat. Kubiarkan dirinya berbuat sesuka hati. Aku merasa memang telah menjadi miliknya.
Jarak kami pun semakin dekat. Kurasakan hasrat Rain mulai naik. Tangannya perlahan menyusuri punggungku hingga ke tengkuk leherku ini. Rain memijat bibirku dengan bibirnya. Rasanya begitu nikmat sekali. Deru napas kami pun ikut mengiringi ciuman ini.
Mungkin Tuhan memang menakdirkan Rain untukku...
__ADS_1
Entah kapan ciuman ini akan berakhir. Aku hanya terus menikmatinya sampai Rain merasa lelah dengan permainannya sendiri. Aku memasrahkan diri padanya, kepada pangeranku.
Dan burung-burung menjadi saksi cinta.
Perjalanan panjang jua telah dilalui bersama.
Meninggalkan kenangan indah tak terkira.
Terpadu menjadi satu keabadian di dalam kalbu.
Sore harinya...
Aku baru saja selesai mandi. Jam kerjaku juga sudah berakhir. Kini aku hanya mengenakan gaun tidur saja. Aku berniat tidur di awal malam hari ini.
"Semuanya sudah kususun. Tinggal menyerahkan daftar ini kepada Cloud. Tapi, aku tidak berani jika harus menemuinya sekarang. Aku khawatir akan mengganggunya."
Jujur saja hatiku merasa cemas semenjak kedatangan putri itu. Aku jadi sungkan sendiri untuk menemui Cloud. Perkataan ratu selalu terngiang-ngiang di benakku.
"Mungkin aku beristirahat saja sore ini."
Aku menunggu petang, sendiri di dalam kamar. Selepas dari taman dapur bersama Rain, dia berpamitan untuk melanjutkan rutinitas hariannya. Dan berjanji akan segera kembali setelah pekerjaannya itu selesai.
Rain, apa artiku ini bila tanpamu? Kau selalu ada untukku.
Kurebahkan diri di atas kasur, mencoba menenangkan pikiran yang datang mengganggu. Aku sungguh khawatir jika Cloud akan pergi meninggalkanku.
"Cloud, apakah kau akan tetap setia seperti Rain?" tanyaku sendiri.
Entah bagaimana harus mengungkapkannya, bukan Rain tidak cukup memenuhi hatiku. Namun, aku merasa belum siap jika harus kehilangan Cloud. Apalagi untuk menghadiri pesta pernikahannya. Sungguh, aku tak sanggup.
Beberapa saat kemudian...
"Astaga! Aku ketiduran!"
Mendengarkan lagu All That I Need sampai membuatku tertidur di sore ini. Akupun segera beranjak bangun. Namun, seseorang menahanku.
"Cloud?!" Kulihat Cloud tengah membaringkan diri di sisi kiriku.
"Tetaplah di sini, Ara. Temani aku," katanya.
"Se-sejak kapan kau di sini?" tanyaku terbata.
Dia menoleh ke arahku dengan tangan kiri yang menutupi dahinya. Aku suka penampilannya ini yang selalu menyisir rambut ke belakang. Dia terlihat tampan dan juga bersahaja. Tidak seperti Rain yang ....
"Baru saja. Tiba-tiba kepalaku pusing, maka itu aku ke sini."
"Perlu kupijat?" tanyaku segera.
Cloud mengangguk. Aku lalu menyandarkan diri di kepala kasur. Kubiarkan Cloud merebahkan kepalanya di atas pangkuanku.
"Ara, maaf jika tadi aku tidak dapat menahanmu," katanya seraya terpejam.
__ADS_1
"Iya, tak apa. Aku mengerti karena ini urusan pekerjaan." Aku mulai memijat kepalanya.
"Kau tidak cemburu, kan?" tanyanya yang sontak membuatku teringat dengan perkataan ratu waktu itu.
"Ara ...."
Dia membuka matanya, menatapku lalu mengusap pipi ini. Aku pun menatapnya penuh kasih.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Andelin. Aku hanya menjalankan tugasku. Kau jangan berpikiran yang macam-macam, ya?" pintanya yang seketika membuat hatiku merasa sedikit tenang.
"Aku hanya membutuhkanmu, menginginkanmu. Tak ada yang lain."
Cloud meraih tangan kiriku, mengecupnya lembut. Seolah menyalurkan perasaan dari dalam hatinya.
"Cloud, sejujurnya ... aku cemburu," kataku pelan.
Cloud segera beranjak bangun setelah mendengar ucapanku. Dia bangkit lalu duduk menatapku.
"Katakan sekali lagi, Ara," pintanya.
"Aku ... cemburu," kataku seraya tertunduk.
Seketika Cloud memelukku saat mendengarku mengucapkan kalimat itu. Dia tampak bahagia, senyumnya mengembang di antara bibir manisnya.
"Akhirnya kau mengatakannya juga, Ara."
Cloud memelukku erat. Dia juga mencium kepalaku ini. Sepertinya kalimat sederhana tadi membuat hatinya tersentuh.
"Cloud ...."
Aku pun membalas pelukannya. Tak ingin rasanya hangat tubuhnya ini hilang dalam sekejap. Aku menginginkan Cloud untuk selalu bersamaku. Apa aku salah?
"Ara, sudah lama aku menunggu kata itu. Selama ini kau hanya membalas ungkapan perasaanku dengan sekedarnya saja. Tapi hari ini, kau membuatku merasa begitu berarti."
Cloud ... kau ....
Hangat pelukannya kemudian terlepas dari tubuhku. Kini Cloud menatapku seraya memegang wajahku dengan kedua tangannya. Tangannya terasa begitu lembut saat menyentuh pipi ini.
"Sayang, aku tidak akan berpaling hati meskipun banyak putri berdatangan mendekatiku. Percayalah hati ini." Dia mengarahkan tangan kananku ke dadanya.
"Kau rasakan itu? Hanya ada namamu yang mengalun merdu di detak jantungku. Tak ada yang lain."
Cloud tersenyum, meyakinkanku. Sepertinya aku tidak perlu mencemaskan hal ini lagi. Dia berkata amat serius.
"Cloud, aku meminta bukti jika itu benar," kataku pelan.
"Kau bisa memegang ucapanku, Ara. Aku tak akan berjanji. Tapi jika janjiku bisa menenangkanmu, maka akan aku ucapkan."
Hatiku tersentuh mendengar perkataannya. Aku langsung memeluknya, membenamkan wajah ini di bahu kirinya. Aku begitu menyayangi Cloud.
Cloud juga mengusap-usap punggungku, membelai rambutku. Dia ikut membenamkan wajahnya di pundak kiriku. Dan sesekali dia mencium kepalaku ini. Aku merasa begitu disayang olehnya.
__ADS_1
Hah ... rasanya lega sekali. Kecemasanku kini telah sirna bersama cinta yang kuhirup darinya. Ya, ternyata aku begitu takut kehilangannya. Tak dapat kupungkiri jika aku mencintainya. Mencintai pangeran sulung kerajaan ini.