
Esok harinya...
Pagi ini aku terjaga dari tidurku. Kulihat jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Entah mengapa, aku gelisah sekali. Aku pun mencoba bangun dari kasur. Namun, sesuatu mengagetkanku.
Pangeran?!!
Kulihat putra mahkota kerajaan ini sedang tertidur lelap di sisi kanan kasurku. Dia mengenakan piyama ungu lengkap dengan rompi tidurnya yang berwarna biru. Dan tiba-tiba saja jantungku berdegup keras saat mencoba melihat gaun tidurku.
Hah ... untung saja masih tertutup.
Aku khawatir, benar-benar khawatir jika Zu melakukan sesuatu padaku di saat aku tertidur. Semalam sehabis mengobrol serius dengannya, aku langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri di atas kasur. Namun ternyata, aku malah terlelap hingga gelisah mengganggu mimpi indahku.
Kenapa dia bisa tidur di sini, ya? Apa jangan-jangan selama ini dia tidur di sini? Astaga ....
Kupegang kepalaku, merasa cemas jika aku memang benar tidur bersamanya di setiap malam, tanpa kusadari. Tapi seingatku selalu mengunci pintu kamar sebelum tidur. Lalu bagaimana dia bisa masuk?
"Hmmm."
Kudengar Zu bergumam seraya membalikkan badannya menghadapku. Dan kulihat wajahnya itu manis sekali. Wajahnya tampan, bibirnya merah merekah, alisnya pun tebal, membuatku gemas sendiri.
"Ara, kau sudah bangun?"
Eh?! Dia menyadariku sudah bangun?
Aku terkejut saat dia berbicara seperti itu. Suaranya terdengar berat dan serak, mungkin dia baru terjaga juga, sama sepertiku.
"Pangeran, kau ini sedang bermimpi, ya?" tanyaku seraya menggerakkan tangan di depan wajahnya.
"Jika ini mimpi, maka aku tidak ingin terbangun," jawabnya.
Ehhhh?!!
Aku jadi bertambah bingung. Bisa ya dia tidur sambil berbicara seperti itu? Atau memang ini salah satu keahliannya, berbicara saat tidur?
"Sudahlah, aku keluar dulu."
Aku pun bergegas meninggalkannya seraya menggulung rambutku ini. Tapi ternyata, Zu mengejarku.
"Kau mau ke mana, Sayang?" katanya yang kini menahanku.
"Pangeran, bukannya tadi ...?" Aku jadi bingung kala melihatnya sudah berdiri di hadapanku.
"Aku memang tidur dan sekarang sudah bangun," katanya sambil menahan gagang pintu agar aku tidak keluar.
"Pangeran, kenapa kau tidur di sini?!" tanyaku yang tiba-tiba teringat ulahnya.
"Lho, ini kamarku. Apa aku harus meminta izin untuk tidur di kamarku sendiri?" tanyanya.
"Tapi, Pangeran. Aku kan sedang tidur di sini." kataku sambil bertolak pinggang di hadapannya, menahan kesal.
"Em ... bagaimana, ya?" Dia seperti berpikir.
"Ya, sudah. Aku cari kamar lain saja." Aku memegang gagang pintu.
"Eh, tidak boleh." Dia mencegahku.
__ADS_1
"Tidak boleh?"
"He-em." Dia mengangguk.
"Pangeran, kau menyebalkan!" gerutuku yang memaksa keluar kamar.
Aku tidak peduli dia mau marah atau tidak. Kuhempaskan saja tangannya dari gagang pintu kamar ini. Dan aku pun bergegas keluar. Kupikir Zu akan mengejarku, namun ternyata tidak.
Entah mengapa aku merasa dia kadang menjadi Rain, kadang menjadi Cloud. Dasar orang aneh.
Aku menggerutu sendiri di dalam hati sambil menuju dapur kecil yang ada di sudut ruangan. Aku pun mengambil air untuk diminum.
"Kau ingin berolahraga bersamaku?" tanyanya tiba-tiba.
"Pangeran?! Lepaskan aku!"
Hampir saja aku tersedak air minum. Dia tiba-tiba sudah berada di belakangku lalu memelukku begitu saja, tanpa pamit terlebih dahulu. Dan kini kedua tangannya melingkar di perutku.
Kok aku merasa ada yang aneh, ya?
Aku merasa ada sesuatu yang menyundul pantatku. Akupun berpikir sejenak...
"Aaaaa! Pangeran, lepaskan aku!!!"
Aku berontak, tidak ingin berlama-lama di posisi ini. Tapi dia malah semakin mempererat pelukannya.
Astaga, ini tidak salah lagi.
"Ara, tolong aku," pintanya lembut.
Seketika hatiku teringat akan seorang pangeran mesum yang berada di Angkasa. Gelagatnya sama persis dengan Rain.
"Ara, aku tidak akan melepaskannya sebelum kau mengiyakan," katanya lagi.
"Pangeran Zu, ini masih pagi. Terlalu pagi." Aku beralasan.
"Apa itu berarti lain waktu boleh?" tanyanya padaku.
Astaga ... Aku jadi bingung sendiri dibuatnya.
"Pangeran!"
Kuhempaskan kedua tangannya yang melingkar di perutku. Aku lalu berbalik menghadapnya. Kulihat dia memalingkan pandangan, seolah tidak melakukan apapun. Dia malah sengaja bersiul di depanku, tanpa merasa berdosa sama sekali.
Dasar!
Kutinggalkan saja dirinya lalu berjalan masuk ke kamar. Tapi, lagi-lagi dia menahanku.
"Pangeran!"
"Ara, temani aku berolahraga. Sebentar saja," katanya lagi.
Aku menoleh, berbalik menghadapnya. Dan kali ini kulihat dia meminta dengan serius.
"Pangeran, hari masih gelap. Apa kau tidak takut?" tanyaku sambil melirik ke arah jendela.
__ADS_1
Dia tidak menjawab, malah mendekatiku. Dia lebih mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Aku lebih takut kehilanganmu daripada menghadapi gelap, Ara."
Zu berbicara dekat sekali. Dia sengaja menempelkan keningnya di keningku, dan hidung kami pun hampir bersentuhan.
"Pangeran ...."
"Tidak ada yang kutakutkan selain kehilangan dirimu. Aku mencintaimu."
Pangeran, kau ini ....
"Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu. Tolong jangan pernah pergi. Dan jadilah tempat berlabuhku." Zu menatapku dalam sekali.
"Pangeran ...."
"Katakan saja apa yang kau inginkan. Sebisa mungkin aku akan memenuhinya. Tapi jangan bilang jika kau ingin kembali ke Angkasa, karena aku tidak mampu untuk memenuhinya," katanya lagi.
Zu mencium keningku. Ciumannya kali ini begitu membuat sekujur tubuhku merinding. Dia mencium keningku lama sekali. Dan entah mengapa, aku merasakan kehangatan yang selama ini kurindukan.
Pangeran ... apakah ini titik awal aku menerimamu?
Aku bingung harus melakukan apa. Aku sudah terlanjur bersamanya. Mungkin tidak apa jika aku menikmati kisahku ini. Aku juga belum tahu pasti, apakah kedua pangeran itu akan menjemputku atau tidak. Ya, sudahlah. Jalani saja.
Zu belum juga menyerah untuk mendapatkan hati Ara sepenuhnya. Ia terus berjuang untuk mengisi penuh ruang yang ada di hati sang gadis. Zu tidak ingin ada nama lain di hati Ara selain namanya. Zu ingin Ara hanya menyayanginya seorang.
Pria ditakdirkan menjadi egois di saat keinginan menguasai hatinya. Mereka tidak lagi peduli dengan aral rintangan yang menghadang. Mereka akan terus berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Dan perjuangan yang tidak mengenal kata lelah itu mampu membuat hati seorang wanita luluh dan tersentuh.
Zu pun melakukannya demi sang gadis. Seorang gadis yang kini ia cintai. Dan gadis itu adalah Ara. Seorang gadis yang ia temui di istana Angkasa. Tempat di mana sejuta cerita dimulai dari sana.
...
Aku tersesat dan sendirian, mencoba untuk terbiasa.
Membuat jalanku menyusuri jalan panjang berliku itu.
Tidak punya alasan, tidak ada rima, seperti sebuah lagu yang kehabisan waktu.
Dan dulu kau ada di sana, berdiri di depan mataku.
Bagaimana bisa aku menjadi orang yang begitu bodoh?
Untuk melepaskan cinta dan melanggar semua peraturan.
Gadis, ketika kau berjalan keluar dari pintu itu.
Meninggalkan sebuah lubang di hatiku.
Dan sekarang aku tahu dengan pasti...
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
__ADS_1
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...