
Pagi hari datang. Suasana kerajaan kembali seperti sedia kala. Para pelayan menjalankan tugasnya. Seluruh penghuni istana kembali ke aktivitasnya masing-masing.
Di sebuah ruangan besar yang berada di lantai dua gedung istana, terlihat seorang pemuda berjubah putih sedang sibuk dengan banyak map yang menumpuk di atas meja kerjanya. Ia tampak menandatangani beberapa map di pagi hari yang cerah ini.
Ruangannya sangat luas. Bercat putih dan berlantai marmer cokelat. Di dalam ruangannya juga terdapat dua lemari besar yang berisi banyak dokumen. Sedang dinding ruangannya terlukis daerah kekuasaan negeri dari timur ke barat. Ia sangat mencintai pekerjaannya.
"Masuk!"
Sesaat terdengar suara ketukan pintu dari luar. Pemuda yang bernama Cloud itu kemudian mempersilakan masuk seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.
"Kakak."
"Rain, kau sudah kembali?"
Ternyata sang adik lah yang datang. Mengenakan jubah merah kerajaan dengan postur tubuh yang nyaris sempurna. Wajahnya tampak berbinar-binar pagi hari ini.
"Kau tampak sibuk."
"Hm, ya. Seperti biasanya," jawab Cloud singkat.
Cloud adalah pangeran sulung di kerajaan ini, sebuah negeri bernama Angkasa dan terletak jauh dari dunia gadis pemilik nama yang sama dengan pohon di bukit surga.
"Bagaimana, kau berhasil membawa Ara kembali?" tanya Cloud sambil terus menandatangani satu per satu map yang ia baca.
"Ara masih mempunyai urusan di dunianya. Jadi aku kembali sendiri," jawab Rain seraya menarik kursi lalu duduk di depan sang kakak.
"Mungkin memang belum waktunya." Cloud berbicara sendiri.
"Bagaimana rancangan busana Ara, apakah sudah selesai?" tanya Rain kemudian.
"Kedua puluh rancangan busananya telah selesai dibuat dan disimpan dengan baik. Tapi kita masih belum bisa melakukan pertunjukan busana sebelum dia datang."
"Berarti persediaan kas kerajaan semakin menipis?" tanya Rain lagi.
"Kurasa begitu. Semenjak Negeri Aksara mengajak berperang, aku fokus menyejahterakan prajurit negeri ini. Menteri Pertahanan juga merekrut banyak prajurit untuk menjaga keamanan negeri. Kau sendiri apa sudah siap?" Cloud balik bertanya.
"Jika memang aku diharuskan turun ke medan perang, maka akan kulaksanakan tugasku. Namun, apa hal itu membuat kedua negeri diuntungkan?" tanya Rain kembali.
Cloud menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia merebahkan punggung di kursinya. Terlihat kelelahan pikiran yang terpancar dari wajah tampannya itu.
"Ada hal yang membuatku berat untuk melanjutkan diplomasi dengan Negeri Aksara, Rain," kata Cloud.
"Apa itu, Kak?" tanya Rain antusias.
Cloud menghela napasnya.
"Negeri Aksara membatalkan perang jika kita mau menikahi putrinya."
"Hah?! Maksudnya?"
__ADS_1
"Raja Hell menginginkan salah satu dari kita menikahi putrinya."
"Ap-apa?! Diplomasi macam apa itu?!" Rain terkejut.
"Entahlah. Aku pikir ini strategi mereka untuk menghancurkan Angkasa dari dalam."
"Hm, ya. Aku juga berpikir seperti itu. Aksara terlalu memaksakan kehendak. Padahal mereka hanya negeri kecil yang pendapatannya belum banyak," sergah Rain.
"Rain, kita tidak bisa melihat suatu negeri dari luas tidaknya wilayah negeri tersebut. Tapi kita harus melihat betapa banyak sekutunya. Sungguh aku tidak ingin peperangan ini terjadi." Cloud berharap.
"Aku juga, Kak. Semoga saja hal ini tidak terjadi."
Kedua kakak-beradik itu kompak menolak tindakan Negeri Aksara yang begitu memaksakan kehendaknya. Rain tidak ingin peperangan ini terjadi bukan karena takut mati. Namun, ia memikirkan seorang gadis yang sedang menunggunya. Siapa lagi kalau bukan Ara. Sedang Cloud, menolak diplomasi karena di hatinya hanya mencintai Ara. Ia tidak mungkin menikahi putri Negeri Aksara tersebut. Ara benar-benar memikat kedua hati pangeran Negeri Angkasa ini.
"Baiklah. Aku ke belakang istana dulu." Rain berpamitan.
"Rain, tunggu!" Cloud beranjak berdiri dari duduknya.
"Apa sesuatu terjadi padanya?" tanya Cloud.
"Ara?"
"Iya. Dia."
"Oh, dia baik-baik saja, Kak. Kau tenang saja." Rain tersenyum kecil.
Cloud lalu membalas senyuman adiknya. Rain kemudian segera keluar dari ruangan Cloud.
Sebelum membuka pintu, Rain membalikkan badannya ke arah Cloud. Iapun berkata, "Ara telah menerima cintaku. Kami sudah menjalin hubungan resmi," ucap Rain lalu keluar dari ruangan Cloud seraya tersenyum.
Ap-apa?!
Sontak saja hal itu membuat Cloud terkejut. Hatinya seketika terasa seperti teriris pisau yang tajam. Cloud tidak menyangka jika Ara melakukan hal itu, mengkhianati perasaannya. Ia tampak terduduk lemas di depan meja kerjanya.
Ara, apa benar yang dikatakan Rain?
Seketika itu juga Cloud kehilangan semangatnya. Ia menjadi lemah tak berdaya. Hatinya begitu sakit karena tak menyangka akan mendengar berita itu.
"Inikah yang dimaksud Tetua Agung? Inikah resiko itu?" tanyanya pada diri sendiri.
Cloud lalu berjalan menuju jendela ruangannya. Ia kemudian melihat ke arah gazebo istana. Dipandanginya gazebo istana itu dengan wajah sendu, ia teringat akan sosok gadis yang sering berada di sana.
"Ara ... aku mencintaimu," katanya seraya tersenyum menahan pilu.
Cloud menaruh harapan besar kepada Ara. Namun, hari ini ia harus mendengar kabar yang memilukan hatinya. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kabar buruk ini harus diterima olehnya.
Beberapa jam kemudian...
Makan siang tiba. Cloud tidak berniat untuk tetap berada di ruangannya. Ia ingin mencari angin segar di luar.
__ADS_1
Ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju gazebo istana. Terlihat beberapa pelayan membungkukkan badannya saat melihat kedatangan Cloud. Ia berjalan sambil memasukkan tangan kiri ke dalam saku celana, sedang tangan kanannya menyapa para pelayan yang memberi hormat kepadanya.
"Salam bahagia untuk Pangeran Cloud."
"Terima kasih."
Ia begitu bersahaja di mata para pelayan istana. Murah senyum dan juga sangat lembut hatinya. Namun, siapa sangka jika di balik senyumnya itu tersimpan kepiluan yang mendalam. Suasana hatinya kini sedang kurang baik. Namun, Cloud berusaha menutupi kesedihannya itu.
Sesampainya di gazebo istana, beberapa pelayan segera menyajikan hidangan makan siang. Cloud lalu segera menyantap hidangan itu. Ia menikmati makan siangnya sampai dengan selesai. Hingga akhirnya, ia berada sendirian di gazebo istana. Angannya kembali membiaskan masa-masa di mana Ara berada. Di tempat ini, di gazebo istana yang menjadi tempat favorit sang gadis.
Beberapa waktu yang lalu...
"Ara, kau baik-baik saja?" tanya Cloud yang khawatir.
Cloud cemas melihat Ara tersedak makanan saat santap siang bersamanya di gazebo istana.
"He-em." Ara mengangguk.
"Jangan membuatku cemas, Ara."
Cloud tampak khawatir, keningnya berkerut melihat Ara tersedak.
"Cloud, bolehkah aku bertanya?" Gadis itu mengajukan pertanyaan kepadanya.
"Bertanya?"
"Iya. Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu di luar pekerjaan?" tanya Ara memastikan.
"Hm, aku merasa ...."
Cloud tidak meneruskan kata-katanya, membuat Ara menunggu lama.
"Cloud?"
"Ara, sepertinya aku harus kembali ke ruanganku. Tidak apa-apa kan jika aku tinggal?"
"Tapi, Cloud—"
"Aku lupa jika ada urusan yang harus segera kuselesaikan. Lain kali kita akan lebih banyak mengobrol. Tak apa, ya?"
Cloud segera berdiri, ia lalu pergi meninggalkan gadis itu.
...
Tanpa terasa air matanya menetes mengingat kenangan bersama Ara. Cloud menyesal.
"Andai saja saat itu kutanggapi dirimu, mungkin kabar ini tak akan kudengar."
Cloud bersedih. Kristal bening itupun jatuh membasahi pipinya. Ia tidak tahu harus melakukan apa, hatinya terluka.
__ADS_1
Cloud memegang kepalanya sendiri seraya menutupi kedua matanya yang menjatuhkan air mata. Cloud masih tidak percaya akan hal yang didengarnya karena ia benar-benar mencintai Ara.