Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Shocked


__ADS_3

Di istana Aksara...


Di waktu bersamaan, Rain masih mengadakan rapat kelanjutan tentang negeri ini. Ia didampingi beberapa pasukan khusus ayahnya saat menghadiri rapat. Sementara pasukan yang lain berjaga di titik jaganya masing-masing. Rain berniat menyelesaikan urusannya hari ini juga.


"Aku rasa bisa mengerti masalah yang terjadi di negeri ini. Tapi sementara waktu aku akan kembali ke Angkasa, membicarakan hal ini kepada ayahku. Jika beliau berminat, Aksara akan bergabung dengan Angkasa. Tapi jika tidak, Aksara akan mendapatkan kebebasan bersyarat." Rain menuturkan kepada pejabat istana Aksara.


"Pangeran Rain, kami sangat berharap penyatuan wilayah ini benar-benar terjadi. Rakyat kami amat membutuhkan pangan yang berkecukupan. Semenjak raja Hell memerintah, keuntungan negeri dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan militer. Kami juga dilarang untuk mengetahui aliran dananya. Tidak ada transparansi dalam anggaran keuangan negeri. Sehingga kami amat berharap Angkasa dapat membantunya."


Seorang pejabat lama menuturkan keinginannya kepada Rain. Yang mana pejabat lain juga sepakat untuk melakukan penyatuan wilayah. Terlebih Angkasa adalah negeri yang subur dan makmur. Mereka yakin tidak akan kelaparan jika negeri ini menyatu dengan Angkasa.


"Aku mengerti. Namun, aku tidak punya keahlian di bidang ini. Mungkin kakakku bisa mencari tahunya. Dia cukup handal mengelola keuangan besar." Rain memuji kakaknya.


"Mohon maaf, Pangeran Rain. Apakah salah satu putra Angkasa tidak berkenan memimpin Aksara? Kami amat membutuhkan pemimpin yang adil. Selama ini kami hanya bisa diam karena raja Hell tidak menerima masukan apapun," tutur pejabat yang lain.


Rain mengembuskan napasnya. "Aku tidak berminat menjadi raja, entah jika itu kakakku. Tapi ayah menginginkan kakakku menjadi raja di Angkasa. Jadi mohon jangan berharap terlalu jauh. Kita selesaikan rapat ini agar aku bisa secepatnya kembali ke negeriku." Rain meminta kepada semua pejabat Aksara menandatangi surat pernyataan perjanjian.


"Baik, Pangeran."


Mau tak mau semua pejabat bergantian menandatangani surat yang Rain buat. Dan akhirnya, rapat pun bisa diselesaikan.


Waktu yang semakin berlalu, membuat Rain ingin segera kembali ke negerinya. Dan akhirnya, menjelang sore rapat pun berakhir. Rain segera meminta pasukannya untuk mengumpulkan rakyat di depan balai istana. Ia ingin mengumumkan sesuatu kepada rakyat Aksara.


...


Lain Rain, lain juga dengan Cloud. Sang kakak tampak sibuk mengurusi laporan pendapatan dari banyak daerah. Ia sampai harus dibantu oleh Menteri Dalam Negerinya karena banyak sekali laporan yang masuk. Sang menteri pun tampak memperhatikan Cloud, yang mana ia menemukan sesuatu di leher sang putra mahkota.


Apakah pangeran Cloud menyadarinya? Apa dia sempat berkaca? Tandanya terlihat jelas sekali. Aku khawatir raja akan melihatnya. Apalagi jika pangeran Rain. Tak bisa kubayangkan keduanya bertengkar.


Sang menteri yang sudah amat dekat dengan Cloud merasa cemas saat melihat tanda yang tercipta di leher sang putra sulung kerajaan Angkasa. Ia amat khawatir terjadi keributan jika Rain sampai melihatnya sendiri. Pastinya akan memikirkan sosok yang sama tentang siapa penyebab tanda di leher Cloud.


"Bagaimana persediaan beras di negeri ini, Tuan Count? Apa masih bisa bertahan sampai akhir musim semi?" tanya Cloud kepada menterinya.


Count lalu menjelaskan persediaan pangan kepada Cloud sambil terus membantu mencatat semua laporan pemasukan daerah. Tanpa sengaja Count memperhatikan leher Cloud yang mana membuat Cloud menyadarinya. Ia lalu tertawa sendiri di hadapan sang menteri.

__ADS_1


"Maaf, ini tidak bisa hilang dengan cepat, Tuan Count. Harap maklum." Cloud tertawa sambil memegangi lehernya.


Count pun ikut tertawa. Keceriaan terjadi di ruang calon raja Angkasa ini. Count amat bahagia jika Cloud juga bahagia. Sudah lama sekali ia tidak melihat sang putra mahkota bisa tertawa sampai seperti ini. Ia turut bahagia dengan kembalinya Ara ke istana. Count berharap pesta pernikahan secepatnya diselenggarakan.


Menjelang petang di Angkasa...


Cloud ternyata tidak bisa pulang cepat karena sang ayah memanggilnya setelah pekerjaannya selesai. Dan kini sang pangeran sedang duduk di ruang tamu ayahnya. Ia baru saja melaporkan pemasukan dari berbagai daerah hari ini.


"Ayah, apakah aku sudah boleh pulang?" tanya Cloud yang tidak ingin menunda lagi.


"Kau ingin ke mana? Dari tadi seperti terburu-buru. Apa kau mencemaskan sesuatu?" tanya ayahnya sambil mengenakan kaca mata untuk membaca laporan yang Cloud berikan.


"Ara sendirian di rumah, Yah. Dan aku khawatir padanya," jelas Cloud.


"Di rumah?" tanya Sky seraya melihat ke arah putranya.


"Ya, dia sekarang tinggal di rumah yang telah kubangun." Cloud menjelaskan.


"Apa? Maksudmu di perumahan kelas satu itu?" tanya Sky lagi.


Sky pun menutup laporan yang Cloud berikan. "Apakah istana kekurangan tempat tinggal untuknya?" tanya Sky lagi.


Sontak Cloud memijat kepalanya. "Yah, apa Ayah tidak tahu jika ibu telah mengosongkan kamar Ara? Ayah sendiri yang menceritakan padaku tentang penyebab Ara hilang dari istana. Apa Ayah lupa?" tanya Cloud kepada ayahnya.


"Ya, ya, ya. Ayah ingat. Tapi maksud ayah kenapa tidak tinggal di istana saja?" tanya Sky lagi.


"Aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi padanya. Maka dari itu aku memintanya tinggal di rumah baru. Aku tidak ingin ibu menyakitinya, Yah." Cloud berkata jujur.


"Jadi itu alasanmu tidak mau menemui ibumu?" Sky kembali bertanya.


Cloud hanya diam.


"Ibumu sudah sembuh total dari sakitnya, Cloud. Dan dia juga mencarimu. Tapi katanya kau sedang keluar kemarin." Sky kembali melanjutkan membaca laporan dari Cloud.

__ADS_1


"Aku sakit hati calon istriku diperlakukan seperti itu oleh ibu," ungkap Cloud sambil memalingkan pandangannya.


"Cloud, bagaimanapun dia ibumu."


"Aku tahu, Yah. Tapi tidak pantas ibu melakukan hal itu kepada Ara. Apalagi dia calon istriku." Cloud menyesali perbuatan ibunya.


"Ya, ya, baiklah. Tadi siang Rose juga sudah berpamitan. Sepertinya dia kecewa karena pulang dengan tangan hampa." Sky menceritakan.


"Aku tidak terlalu peduli padanya," jawab Cloud segera.


"Apa kau tidak kasihan pada Rose? Baik Rain ataupun dirimu tidak ada yang mengantarkannya pulang." Sky menyelidik.


"Bagiku hanya Ara yang terpenting. Aku tidak peduli dengan gadis lain," tutur Cloud sepenuh hati.


"Hahaha. Kalian ini sama saja. Tidak kau, tidak juga Rain. Sama-sama kerasnya. Baiklah, kalau begitu ayah akan menikahkan kalian sekaligus." Sky mengabarkan.


"Ap-apa?! Maksud Ayah?!" Sontak Cloud terkejut, ia tanpa sadar bangkit dari duduknya.


"Jika salah satu tidak ada yang mau mengalah, ayah akan menikahkan kalian berdua dengan gadis itu."


"Apa?!!" Cloud terkejut bukan main.


"Ayah tidak menerima bantahan. Keputusan ini sudah bulat."


"Astaga! Ini tidak bisa, Yah. Aku tidak terima!" Cloud menolak dengan tegas.


"Ayah sudah membuat keputusan. Jangan membantah orang tua, Cloud." Sky tidak menerima penolakan dari putranya.


Dalam sekejap Cloud hampir kehilangan detak jantungnya. Kabar ini sungguh membuatnya terkejut, karena ternyata sang ayah ingin menikahkan Ara dengannya dan juga dengan Rain. Cloud pun menolaknya mentah-mentah. Tapi sayangnya, titah sang raja tidak ada yang mampu melawan.


Apa aku sedang bermimpi? Tidak, ini tidak mungkin terjadi.


Cloud tidak habis pikir dengan kabar yang diterimanya sore ini. Sang putra mahkota pun bergegas keluar dari ruang tamu ayahnya. Ia ingin menemui Ara segera.

__ADS_1


...


Bagian Kedelapan Tamat


__ADS_2