Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Fighting


__ADS_3

Kuamati dan kucoba melihat celah agar dapat menyelamatkan Bibi Rum terlebih dahulu.


Busur panah?!


Kulihat ada busur panah yang tergantung di dinding beserta anak panahnya di sudut ruangan, berada tak jauh dari tempatku bersembunyi. Aku kemudian mengambilnya lalu mencoba memanah penyusup yang menyandera Bibi Rum.


Ini tidak boleh meleset!


Kutarik napas dalam-dalam dan mencoba menyatu dengan alam. Kubangkitkan alam bawah sadarku jika aku adalah seorang pemanah yang handal. Kuarahkan anak panah itu ke arah penyusup yang menyandera Bibi Rum.


Kena!


Anak panahku tepat mengenai penyusup yang menawan Bibi Rum. Hal ini membangkitkan semangat bertarungku. Aku lalu mengarahkan anak panah ke penyusup yang lain.


Kena!


Satu per satu penyusup istana bertumbangan. Mereka terlihat kocar-kacir dan berusaha menyelamatkan diri. Di saat itulah aku diam-diam mengambil pedang milik salah satu prajurit karena anak panahku sudah habis.


Aku segera berjalan cepat mendekati Bibi Rum lalu menyuruhnya lari untuk meminta bantuan. Selama bibi Rum melarikan diri, aku menjaganya bersamaan dengan para prajurit yang mulai melawan para penyusup itu.


"Rain, tangkap pedangmu!"


Aku kemudian mengambil pedang Rain yang tergeletak di lantai lalu melemparkan ke arahnya. Rain dengan sigap menyambut lemparanku. Dia kini ikut bertarung melawan para penyusup.


"Ara! Awas!"


Kulihat Rain berusaha melindungiku dari serangan para penyusup. Aku pun tidak ingin tinggal diam, aku melawannya. Kupraktikkan baik-baik apa yang telah Rain ajarkan kepadaku.


"Ara, kau terlalu nekat," katanya, saat aku berada di belakang badannya.


Kupompa terus alam bawah sadarku sehingga keberanian itu muncul melampaui batasannya. Kulawan semua penyusup di istana ini.


"Sialan!"


Kami bertarung hingga semua penyusup di hadapan kami tidak bersisa. Kulihat para prajurit banyak yang bertumbangan karena melawan penyusup-penyusup itu. Sepertinya mereka sudah sangat terlatih untuk menjadi seorang penjahat.


Beberapa saat kemudian...


Setelah merasa aman, aku mencoba menolong para prajurit yang terluka. Aku pun membuang pedang tanpa ada rasa curiga. Namun ternyata, masih ada seorang penyusup yang mengincar Rain. Rain tidak menyadari jika di belakangnya ada salah satu penyusup yang tengah membawa pot bunga untuk dilemparkan kepadanya.


"Rain! Di belakangmu!"


Rain tidak dapat bergerak cepat, kulihat bahunya terkena sabetan pedang karena berusaha melindungiku tadi. Akupun segera berlari untuk melindungi Rain.

__ADS_1


"Rain!"


"Ara!"


Tiba-tiba saja rasa pedih membakar kepalaku. Darah segar pun keluar dari mulutku. Kepalaku terasa sangat sakit sekali. Pandangan mataku seketika menjadi kabur.


Aku mencoba berbalik dan melihat penyusup terakhir yang lari. Namun, aku tak mampu mengendalikan tubuhku lebih lama lagi. Aku seperti akan terjatuh.


"Ara!"


Rain yang terjatuh karena kudorong agar tidak terkena pot bunga itu segera bangkit dan berlari untuk menopang tubuhku.


"Ara!!!"


Rain berteriak memanggilku. Dia meletakkanku ke dalam dekapannya.


"Rain ...."


Kuusap pelan pipinya dengan tangan penuh darah yang keluar dari mulutku. Aku mulai kehilangan kesadaran.


"Keparat!"


Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, aku mendengar Rain berteriak kencang lalu tak lama terdengar suara jerit kesakitan seseorang. Sepertinya, suara penyusup terakhir yang berhasil Rain tumbangkan. Setelahnya, aku pun tidak ingat apa-apa lagi...


Aku kini dapat melihat tubuhku yang sedang diobati para tabib istana. Aku tidak tahu sedang berada di mana. Namun tubuhku itu ... tidak dapat kusentuh.


Apakah aku sudah tiada?


Aku melihat Cloud datang tergesa-gesa memasuki ruangan, tempat di mana tubuhku diobati. Tapi aku tidak melihat Rain di sini.


"Ara. Apa yang terjadi padamu?"


Cloud mengguncangkan tubuhku. Para tabib istana terlihat berusaha menenangkan Cloud.


"Maafkan kami, Pangeran Cloud. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, pendarahan di otak Nona Ara begitu banyak. Tulang belakangnya pun terkena benturan keras. Sangat kecil kemungkinan dia akan bertahan hidup."


Ap-apa?!!


Aku tidak percaya dengan yang kudengar. Kumundurkan langkah kakiku ke belakang, menjauh dari tubuhku sendiri yang mulai pucat pasi.


"Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Tolong saya, Paman. Berapapun emas yang Anda minta, akan saya berikan. Tapi tolong selamatkan Ara."


Cloud memelas. Kulihat air matanya berlinang, memohon untuk keselamatanku. Aku menangis melihatnya bersikap seperti itu. Kucoba untuk menyentuh tangannya, namun tak bisa. Seperti menyentuh angin.

__ADS_1


"Maafkan kami. Kami permisi."


Para tabib itu kemudian undur diri dari hadapan Cloud. Cloud lalu segera memeluk tubuhku. Kulihat dia menitikkan air matanya, Cloud menangis.


"Apa yang harus kukatakan kepada kedua orang tuamu, Ara. Duniaku serasa runtuh saat ini. Tolong bangunlah."


Cloud memohon, menangis sejadi-jadinya, membuatku yang melihatnya juga ikut menangis. Andai perkataanku dapat terdengar olehnya, aku akan memintanya untuk berhenti menangis.


"Ara, kumohon bangunlah. Ara ...," ucapnya lirih.


Cloud menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia bersandar di pembaringanku. Kulihat Cloud begitu terpukul dengan kejadian ini. Dia tampak memegangi kepalanya.


Tak lama Rain datang, masuk ke dalam ruangan dengan bahu yang terbalut perban putih.


"Ara!"


Rain mendekati tubuhku yang terbaring, dia mencoba untuk menyentuhku.


"Singkirkan tanganmu itu!" Cloud segera berdiri menghempaskan tangan Rain.


"Ini semua salahmu, Rain! Kau tidak becus menjaganya di saat aku tidak ada. Kau tidak pantas dipercaya!"


Cloud mendorong tubuh Rain ke dinding ruangan. Tatapannya penuh amarah. Tangannya mengepal seperti ingin meninju Rain.


"Aku memang salah, Kak. Silakan hukum aku."


Rain tidak melawan. Dia kemudian berlutut di depan kakaknya, memohon maaf.


"Aku tidak peduli denganmu. Aku ingin Ara hidup kembali!" teriak Cloud kepada Rain.


"Ap-apa? Berarti saat ini ...?"


Rain terkejut, roman wajahnya berubah. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Rain mengusap kepalanya lalu memukul dinding ruangan dengan kuat. Kulihat darah mulai menetes dari tangan kanannya yang masih terbalut perban.


"Tidak. Ini tidak mungkin!" Rain terus memukul dinding dengan tangannya.


"Percuma kau menyakiti dirimu sendiri," kata Cloud.


Cloud seakan tidak mampu untuk berjalan. Dia mencoba untuk duduk di kursi yang berada di dekatnya. Sedang Rain, segera keluar dari ruang pengobatan, entah pergi ke mana. Sepertinya dia tidak terima dengan kenyataan ini.


Kulangkahkan kaki mendekati Cloud. Kucoba untuk menenangkan hati dan pikirannya. Kuusap pelan kepalanya lalu kudekatkan diriku, seolah dia bersandar di bahuku. Kupegang tangannya dan kusandarkan kepalaku di kepalanya. Semoga cara ini dapat membuatnya lebih tenang walaupun seluruh tubuh Cloud yang kusentuh itu tertembus.


Aku seperti berada di ruang hampa udara. Tidak bernapas, namun aku dapat melihat semuanya. Mendengar semua percakapan yang terjadi di depanku. Bahkan aku mampu melihat Mbok Asri yang sedang menangis di balik dinding ruangan ini.

__ADS_1


Ingatanku pun masih sempurna, namun aku tidak mampu untuk berinteraksi dengan mereka. Mungkin ini yang dinamakan batas alam kehidupan. Aku mampu melihat dan mendengar, sedang mereka tidak.


__ADS_2