Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Quality Time


__ADS_3

Rambut kubiarkan tergerai karena masih basah. Dua tahun berlalu semenjak kepulanganku ke dunia ini, rambut hitam alamiku kini sudah sepinggang. Aku memang sengaja memanjangkannya agar terlihat lebih anggun dan feminim.


Akupun melangkahkan kaki menuju ruang TV yang berada di samping kamarku. Kulihat Adit bersama Anggi sedang belajar bersama Rain. Rain tampak mengasuh kedua adikku dengan baik. Aku jadi senang melihatnya.


Pemuda berkaus putih dan celana gunung hitam itu menoleh ke arahku. Dia tampak terkejut saat melihat rambut panjangku yang lurus dan tipis.


"Ara?"


"Iya. Kalian sedang apa?" tanyaku lembut.


Aku berjalan mendekati ketiganya lalu mulai duduk di samping kiri Rain. Sedang Rain masih tidak henti-hentinya memandangiku.


"Kau cantik," bisiknya di telinga kananku yang sontak membuatku tersipu.


Selama kedatangannya ke sini, aku belum merasakan aura-aura mesumnya. Sepertinya dia benar-benar menjaga sikap saat berada di dunia ini.


...


Setelah belajar, aku mengajak ketiganya untuk bermain monopoli bersama sambil beristirahat sebentar. Bersamaan dengan itu, dering ponselku berbunyi. Kebetulan ponsel kuletakkan di kamar yang pintunya terbuka.


Nada dering All That I Need milik Boyzone, membuatku beranjak bangun. Aku lalu masuk ke dalam kamar dan mengangkat telepon itu.


"Halo?"


"Ara, sedang apa?" Suara dari seberang.


"Aku sedang bermain dengan adik-adikku. Kenapa, Baim?" tanyaku.


Telepon itu memang dari Baim. Aku sangat jarang mengekspos nomor ke siapapun. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui nomor WhatsApp-ku ini.


"Sudah selesai naskahnya?"


"Astaga! Aku lupa, Baim!" seruku yang teringat dengan naskah yang belum kulanjutkan.


"Hadeh, segera kerjakan, Ara. Besok siang Bu Nita menunggu naskah itu."


"Eh, benarkah?"


"Iya. Untung saja aku ingatkan."


"Terima kasih, Baim. Tanpamu, aku mungkin lupa."


"Ya, sudah. Kutunggu besok di kampus. Aku juga mau menghadap dosen pembimbing."


"Siap! Sampai nanti, Baim."


Wajahku semringah. Untung saja diingatkan oleh Baim tentang naskah itu. Kalau tidak, pasti berlari sprint besok.


Sejenak aku menghela napas sambil meletakkan kembali ponselku ke atas meja. Aku lalu berbalik berniat untuk keluar dari kamar. Namun, kulihat Rain sedang menyilangkan kedua tangan di dada sambil menyandar di sisi pintu. Dia seperti mendengar percakapanku tadi.


"Rain?"


"Siapa dia, Ara?"


Wajah Rain tiba-tiba berubah masam. Dia sepertinya cemburu karena mendengar percakapanku tadi.


"Tadi itu Baim yang menelepon, teman kampusku." Aku menjelaskan kepadanya.


"Benar?"


"Iya." Aku mengangguk.

__ADS_1


"Besok aku ikut ke kampus."


"Eh?!"


"Pokoknya aku ikut. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu dariku."


"Rain ...."


Dia tidak menggubrisku. Rain segera saja berlalu dan kembali menemui kedua adikku. Rasanya melihat dia cemburu seperti ini, membuat kepalaku terasa pusing. Padahal Baim memang temanku. Tapi, ya sudahlah. Kuturuti saja keinginannya.


...


Setelah bermain dengan kedua adikku, aku segera menyelesaikan naskah sayembara. Pintu kamar sengaja kututup agar tidak ada yang mengganggu. Namun, hal itu sepertinya percuma saja.


Rain datang ke kamarku lalu merebahkan diri di atas kasur. Ponselku pun ikut dipegang olehnya. Sepertinya Adit sudah mengajari Rain untuk bermain ponsel atau mungkin semalam ada hal yang diceritakan Adit tentangku.


"Kak Ara, ayam bakarnya sudah datang."


Adit memberi tahuku jika pesanan sudah datang. Untuk makan siang, aku memang sengaja memesan melalui aplikasi online. Karena kebetulan, persediaan lauk pauk dan sayur mayur belum sempat terbeli. Biasanya sih aku yang membelinya, tapi karena terlalu fokus menyelesaikan skripsi, akhirnya tugas bulananku terlantar.


"Iya, Dit. Makan saja duluan sama Anggi," kataku.


"Kak Rain tidak makan?" tanya Adit kepada Rain yang sedang melihat-lihat isi ponselku.


"Kak Rain sedang jadi satpam, Dit," gerutuku sambil terus mengetik naskah di laptop.


"Baiklah. Jagain Kak Ara ya, Kak Rain." Adit berpesan.


Rain lalu beranjak bangun dan mendekati Adit. "Tenang saja, akan kujaga calon permaisuriku ini.


"Rain!"


"Ya, ya. Aku diam saja." Rain lalu keluar dari dalam kamar.


"Ponselku, Rain!" seruku mengingatkan.


"Biar aku saja yang pegang," katanya seraya menjauh.


Huh! Rain ini menyebalkan! Kupikir dia sudah berubah total, tahunya...


Aku memijat dahiku sendiri kala melihat tingkah Rain. Kuteguk segelas kopi robusta untuk menahan rasa kantuk yang menerjang. Kucoba untuk menyelesaikan naskah sayembaraku ini secepat mungkin.


Dasar Rain ....


Aku lalu meneruskan pekerjaanku sedang kedua adikku makan siang bersama Rain. Kudengar Adit merayu Rain untuk makan siang bersama. Entahlah apa yang terjadi dengan keduanya dalam waktu semalam, Adit kini sudah sangat akrab dengan pria menyebalkan itu.


Aku jadi ingat saat berada di pelukannya. Dia sama sekali tidak mau melepas tubuhku ini. Mungkin dia sangat rindu kepadaku, sebagaimana aku pun merindukan dirinya.


Selepas makan siang di desa kemarin...


"Rain."


"Hm?"


"Nanti jaga sikapmu saat berada di sini, ya. Jangan tunjukkan sikap mesummu itu pada orang lain."


"Tenang, Ara. Aku tahu ini bukan duniaku. Aku tidak mungkin sembarangan menunjukkan sisi asliku kepada yang lain."


"Janji?"


"Iya, aku janji."

__ADS_1


Rain masih mendekapku dengan erat. Dia kemudian mengecup kepalaku. Kurasakan kehangatan yang mengalir darinya dan juga rasa nyaman kala bersamanya. Setelah sekian lama kami tidak bertemu, akhirnya takdir mempertemukan kami kembali.


"Ara."


"Iya."


"Jika nanti ada yang bertanya tentangku—"


"Bilang saja jika datang dari luar negeri. Jangan katakan yang sebenarnya dari mana kau berasal. Aku khawatir hal itu akan menimbulkan tanda tanya besar bagi orang-orang di sini."


"Lalu?"


"Katakan saja jika seorang prajurit atau panglima militer. Jangan katakan jika kau adalah seorang pangeran. Tutupi semua hal-hal yang berkaitan dengan duniamu, ya?" pesanku.


"Siap laksanakan perintah, Nyonya."


"Rain?!"


Aku melepaskan diri dari pelukannya saat mendengar kata-kata itu. Kulihat Rain menatapku erat. Dia kemudian tersenyum lalu memegang kedua lenganku. Perlahan-lahan wajahnya mendekati wajahku ini. Dia sedikit menunduk untuk meraih sesuatu.


"Rain ...."


Kuhentikan aksinya itu dengan meletakkan jari telunjukku di bibirnya.


"Aku belum siap," kataku pelan.


Aku tahu Rain menginginkan hal itu. Dia ingin mencium bibirku ini. Tapi sungguh, aku belum siap melakukannya. Aku belum menetapkan hati. Aku masih bimbang di antara Rain atau Cloud. Lagipula aku tidak ingin menyerahkan ciuman pertama ini pada sembarang orang.


"Baiklah. Aku akan menunggu sampai kau siap."


Rain memaklumi. Jari jemarinya lalu merapikan poni rambutku kemudian mengecup keningku ini.


Rain, maafkan aku, bisikku dalam hati.


"Nanti jika sudah siap, berilah tanda kepadaku. Jangan diam saja. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya."


Aku mengangguk lalu segera memeluknya. Rasanya tidak ingin kehilangan dia lagi. Namun, kata sayang itu sepertinya masih tersendat di tenggorokanku. Aku masih belum dapat mengucapkannya.


"Rain, aku lupa!" kataku yang teringat sesuatu.


"Lupa apa, Ara?"


Rain tampak terkejut saat aku berseru. Dia melepas pelukannya sambil memasang wajah panik.


"Rain, aku harus menyapu rumah sebelum kembali. Kau tunggu sini, ya." Aku lalu bergegas masuk ke dalam rumah.


"Ara, tunggu!" serunya.


"Kenapa, Rain?" Aku lalu menoleh ke arahnya.


"Apa yang bisa kubantu?"


"Kau mau membantuku?" tanyaku, Rain mengangguk.


"Hem, baiklah. Bantu menyapu halaman depan rumah saja. Biar aku yang di dalam rumah. Terima kasih, ya."


Aku tersenyum kepadanya lalu segera masuk ke dalam rumah. Sejenak kulihat dirinya yang sedang mencari sapu lidi. Tak lama, Rain pun menemukannya dan dia segera menyapu halaman depan rumahku.


Rain, aku merasa beruntung sekali saat ini, batinku berbisik syahdu.


Kubiarkan dia menyapu halaman rumah sementara aku menyapu bagian dalam. Kubersihkan debu yang menempel selama rumah ini ditinggal. Tentunya sambil menikmati kebahagiaan yang menyelimuti hati karena kedatangan Rain ke duniaku.

__ADS_1


__ADS_2