Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Honey...


__ADS_3

Cloud tidak ingin berbasa-basi dengan para menteri di ruang pengasingan ini. Ia hanya sebatas memberikan gambaran dari apa yang telah ia dapatkan.


"Hari ini aku akan mengadakan rapat tertutup dengan kalian dan juga para pejabat istana terdahulu. Aku harap ada keterbukaan di rapat nanti. Karena kalau tidak, kalian hanya akan merugikan diri sendiri," tutur Cloud lagi.


"Pangeran Cloud, apakah Angkasa tidak bisa memberikan keringanan kepada kami selain dibebastugaskan? Sungguh kami masih ingin bekerja di istana." Salah satu menteri mengajukan banding padanya.


"Aku kurang tahu mengenai hal itu. Aku hanya diperintahkan ayah untuk merapikan dan membereskan administrasi negeri ini. Keputusan tetap berada di tangan ayahku. Aku tidak mempunyai kekuasaan untuk menjatuhkan hukuman. Lagipula apapun hukuman yang akan diberikan, sesuai dengan perbuatan kalian. Ayahku adalah sosok raja yang bijak. Kalian tidak perlu mencemaskannya." Cloud meyakinkan.


Para menteri menelan ludahnya sendiri. Tentunya jika mereka mendapatkan hukuman berat, tidak mungkin membiarkan yang lainnya enak-enakan. Pastinya akan menyeret yang lainnya juga.


"Persiapkan diri kalian sebelum rapat. Rapat akan dimulai petang nanti. Sekalian kita makan malam bersama." Cloud beranjak pergi.


Cloud bersikap baik di hadapan para menteri Aksara. Ia menunjukkan kewibawaannya sebagai calon raja Angkasa. Ia pun kembali melihat-lihat bagian istana lainnya. Ia ingin mengecek sendiri bagaimana kondisi istana itu.


Cloud akan memulai rapat dengan para menteri dan pejabat terdahulu setelah mengantongi hasil final administrasi negeri ini. Setelah rapat, ia akan kembali ke Angkasa. Yang mana diperkirakan besok pagi baru sampai di istana penuh cinta tersebut. Cloud akan segera menemui calon pengantinnya.


Ara, kemungkinan aku akan tiba saat matahari terbit. Tunggu kepulanganku, ya. Cloud berkata dalam hati.


Sang pangeran lalu makan siang bersama para pasukan khususnya. Setelahnya ia pun kembali bekerja. Si sulung ternyata bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaan. Taksiran tiga hari akhirnya bisa dipersingkat menjadi dua hari. Dialah pangeran cinta pertama Ara, Cloud Sky.


Sore hari di Angkasa...


Rain baru saja terbangun setelah berdiskusi dengan ayahnya. Selepas melakukan latihan militer, ia segera berbincang bersama sang ayah sampai pertengahan siang. Yang mana setelahnya ia tertidur dan belum sempat menemui Ara.


Ia beranjak bangun, berniat mencari gadisnya. Ia pun segera keluar kamar dan mencari Ara. Tapi sayang, sang gadis tidak berada di kediamannya.


"Di mana dia, ya?"


Rain pun bergegas mandi. Sedari pagi ia belum melihat senyum manis sang gadis pujaan hati. Ia pun lekas-lekas membersihkan diri agar tubuhnya segar kembali.


Sementara itu di dapur istana...


"Wah, sudah jadi. Mari dicicipi."

__ADS_1


Ara baru saja selesai membuat kue dari bahan baku ubi ungu. Sesampainya di istana, ia segera ke dapur lalu membuat cemilan besar. Banyak kue bola dihasilkannya dari ubi ungu pemberian Rich. Dan kini para koki dan pelayan istana sedang mencicipi hasil kue buatannya.


"Enak sekali, Nona." Salah satu pelayan memujinya.


"Pantas saja kedua pangeran tergila-gila. Nona Ara serba bisa. Bisa memasak, pintar membuat kue, bisa menari, bernyanyi, dan banyak lagi." Pelayan lain ikut memujinya.


"Kalian bisa saja. Tanpa kalian juga aku tidak bisa apa-apa. Tidak mungkin aku melakukannya seorang diri." Ara tersenyum kepada semua yang hadir di dapur istana.


Keramaian di dapur istana tentunya memicu sang ratu untuk melihat apa yang terjadi. Moon pun melihat sendiri bagaimana sikap Ara kepada semua pelayan dan koki istana. Ia kini menyadari jika sang gadis memang layak untuk menjadi ratu selanjutnya.


Dia memang ramah dan juga pintar. Tidak seperti aku yang menyombongkan. Mungkin memang sudah saatnya mahkota ini kuberikan padanya. Aku berharap kerajaan ayahku bisa semakin maju di bawah kepemimpinannya sebagai seorang ratu.


Moon tertegun melihat keramahan Ara saat berbaur dengan penghuni istana kelas bawah. Iapun beranjak pergi, meninggalkan tempat itu bersama seorang pengawal pribadinya. Ia akhirnya dapat merelakan Ara menjadi ratu Angkasa selanjutnya. Sudut pandangnya berubah setelah sang suami dengan amat sabar memberikan pengertian kepadanya. Hatinya yang keras pun mulai melunak setelah melihat sendiri bagaimana Ara yang sesungguhnya.


Tiga puluh menit kemudian...


Rain mendatangi Ara yang sedang makan kue bersama para pelayan dan koki di dapur. Saat melihat Rain datang, semua pelayan dan koki berdiri lalu membungkukan badannya, memberi hormat kepada Rain.


"Salam bahagia untuk Pangeran Rain."


"Sayang kau di sini?" tanya Rain sambil membenarkan poni Ara.


Sontak saja pemandangan itu membuat para pelayan dan koki tersenyum-senyum sendiri. Rain yang tegas dan berwibawa berubah drastis saat di depan gadisnya.


"He-em. Aku habis membuat kue. Tadi paman Rich memberikan satu karung ubi ungu padaku. Kuolah saja menjadi kue bola salju. Kau mau?" tanya Ara semringah.


Rain pun mengangguk.


Ara segera mengambilkan kue buatannya dari dapur. Ia sengaja membawa banyak untuk dicicipi bersama pangerannya.


"Biar aku saja yang pegang piringnya."


Rain pun menawarkan diri saat melihat Ara membawa piring berisikan kue. Sang pangeran pun mencicipi kue itu di depan Ara.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Ara dengan mata yang berbinar-binar.


"Em, rasanya ... manis sekali. Seperti yang membuatnya." Rain memuji Ara.


Seketika para pelayan dan koki istana tertawa malu sendiri.


"Hei! Siapa suruh kalian tertawa!?!" Sang pangeran pun membentak mereka.


"Rain, jangan begitu."


Ara pun tersenyum kepada para pelayan dan koki istana. Ia tidak enak hati dengan sikap Rain. Sang gadis pun segera membawa pangerannya, pergi jauh-jauh dari depan dapur istana.


"Kau ini galak sekali. Apa tidak bisa lebih ramah?" Ara menepuk jidatnya.


"Maaf, Sayang. Hanya di hadapanmu saja aku tak berdaya. Jika di hadapan orang lain ... jangan tanya." Rain pun tertawa saat menyusuri koridor bersama Ara.


"Ih, dasar!" Ara menepuk pelan lengan Rain.


"Sayang."


"Hm?"


"Ada hal yang ingin kubicarakan padamu," lanjut sang pangeran sambil membawa piring berisi kue buatan Ara.


"Tentang apa?" tanya Ara seraya melihat pangerannya.


"Tentang masa depan kita dan juga negeri ini," jawab Rain segera.


"Sepertinya penting sekali."


"Ya, amat penting. Maka dari itu aku ingin meminta pendapat darimu. Kita ke kediamanku saja, ya? Atau mau temani aku sebentar mengabsen pergantian prajurit jaga?" tanya Rain kepada Ara.


"Boleh." Ara pun mengiyakan.

__ADS_1


Keduanya lalu menuju belakang istana untuk mengabsen pergantian prajurit yang berjaga. Ara menemani Rain sambil mengandeng mesra pangerannya, seolah tidak ingin lepas dari Rain. Rain pun memperhatikan Ara dari sisinya. Entah mengapa wajahnya berubah sendu saat memandangi sang gadis.


__ADS_2