
Tiga puluh menit kemudian, di vila Zu...
Aku sudah selesai mandi dan kini sedang bermake-up. Sengaja kugulung rambutku sedikit ke kanan agar terlihat lebih imut. Dan akhirnya, sanggulku pun jadi dengan sempurna.
Sepertinya aku harus mulai memahami pangeran Asia itu. Aku sudah besar, seharusnya bisa lebih peka tanpa harus dipinta.
"Gaun ini indah sekali."
Selesai bermake-up, kulihat ada gaun berwarna merah yang cocok untuk dipakai makan malam bersamanya. Gaunnya panjang, namun bagian bahunya terbuka.
Apa tidak apa-apa jika aku mengenakan gaun ini?
Aku berpikir, khawatir Zu akan berpikiran yang tidak-tidak jika aku menggenakan gaun ini. Tapi, perkataannya kembali terngiang di benakku. Dia bilang gaun yang menurutku cantik dipakai untuk makan malam bersamanya. Ya, sudah. Akhirnya kupakai saja gaun ini. Gaun yang seperti bunga mawar dengan dasar jatuh.
Sengaja kusemprotkan parfum ke seluruh tubuh agar lebih percaya diri di hadapannya. Ya, maklum saja yang kuhadapi bukanlah pria biasa, tapi seorang pangeran. Jadi aku harus bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Dia mempunyai segalanya, sedang aku?
Aku siap.
Setelah berdandan secantik mungkin, kulangkahkan kaki ke luar kamar. Kuturuni satu per satu anak tangga menuju lantai satu vila ini. Tapi, tiba-tiba langkah kakiku terhenti saat melihatnya sedang memainkan piano.
Dia bisa bermain piano?
Alunan indah kudengar hingga menyentuh hati dan perasaan ini. Aku tahu benar lagu apa yang dia mainkan itu. Rasanya hatiku berbunga-bunga dalam sekejap.
...
Orang bijak berkata, hanya orang bodoh yang suka tergesa.
Tapi aku tak bisa berhenti jatuh cinta padamu.
Haruskah aku tinggal, akankah jadi dosa?
Jika aku tak bisa berhenti jatuh cinta padamu?
Seperti air yang mengalir, pasti ke laut.
Kasih, begitulah adanya.
Ada hal-hal yang memang telah digariskan...
Raih tanganku.
__ADS_1
Raih juga seluruh hidupku.
Karena aku tak bisa berhenti jatuh cinta padamu...
...
Alunan lagu itu akhirnya terhenti. Sedang aku masih terkesima dengan apa yang dia lantunkan. Aku merasa jika lagu itu untukku. Dan seketika itu juga aku tersenyum-senyum sendiri. Hatiku tersentuh dengan lagu yang dia lantunkan.
Ya Tuhan, jagalah hatiku ini.
"Nona?"
Dia lantas berdiri, melihatku masih berada di pertengahan anak tangga. Dia tampak terkejut melihat penampilanku malam ini. Aku bisa melihat dari pancaran matanya, jika dia mengagumiku.
Zu lantas berjalan mendekat, menyambutku. Dia mengulurkan tangannya dan aku pun menerimanya seraya tersenyum. Kami lalu berjalan bersama menuruni anak tangga ini.
"Nona, kau cantik sekali," katanya memuji.
"Benarkah?" Aku pun tersipu malu, pipiku merona merah dibuatnya.
"Rasanya ...." Dia mempererat pegangan tangannya padaku.
Pangeran ....
Aku hanya tersenyum, tak banyak yang bisa kutanggapi dari perkataannya. Aku masih mencoba membuka hati ini tanpa harus melupakan semuanya. Aku masih Ara yang dulu, masih menyayangi kedua pangeranku. Tapi, aku juga berpikir logis jika yang ada di hadapanku adalah Zu, bukan Rain ataupun Cloud.
"Pangeran, kita mau ke mana?" tanyaku yang heran saat dia membawaku keluar dari vila.
"Kita ke samping," jawabnya, lagi-lagi dengan senyuman manisnya itu.
Aku dibawanya ke samping vila ini, tempat di mana bisa memandangi pantai dengan terbuka. Dan tak kusangka ternyata dia mempersiapkan sesuatu untukku.
"Pangeran, ini?!"
Segera kulepas tanganku dari pegangan tangannya, sesaat setelah melihat apa yang terhampar indah di depan mataku. Kulihat banyak lentera dan lilin merah yang menerangi. Aku merasa jika suasana malam ini begitu romantis. Dia pun tersenyum seraya menundukkan kepala.
"Pangeran, kau tidak harus melakukan ini untukku."
Aku takjub dan juga terharu dengan hal yang dia lakukan. Kulihat meja makan kami pun terlapis taplak merah dengan hidangan menggiurkan di atasnya. Aku tidak menyangka jika dia telah mempersiapkan semuanya untuk makan malam bersamaku.
"Kau menyukainya?" tanyanya padaku.
__ADS_1
"He-em." Aku hanya bisa mengangguk bahagia.
"Kalau begitu, mari kita makan malam."
Zu lalu mengajakku untuk makan malam bersama. Dia menarikkan kursi untukku. Hidangan yang kulihat pun begitu menggiurkan selera. Berbagai jenis hidangan laut, telah dia sediakan. Aku jadi heran, apakah dia memasaknya sendiri?
"Makan yang banyak, ya." Dia lagi-lagi tersenyum padaku.
Aku mengambil udang tepung menggunakan sumpit lalu mencicipinya segera. Ternyata rasanya begitu gurih dan juga enak. Kucelupkan ke atas saos lalu kumakan perlahan. Dan memang benar-benar lezat terasa.
Aku suka caranya memperlakukanku.
Zu tampak tersenyum seraya terus memandangiku. Dia duduk di depanku dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Tersirat dari wajahnya jika dia sangat bahagia malam ini. Ya, syukurlah jika aku bisa membuatnya bahagia.
Zu merasa seperti bermimpi dapat makan malam bersama Ara dengan jarak yang sedekat ini. Ia tidak henti-hentinya memandangi sang gadis yang tampak sedang menyantap seafood. Ada hasrat dalam dirinya, ingin sekali meraih bibir ranum gadis itu. Tapi Zu takut jika Ara salah prasangka terhadapnya.
Nona, maafkan aku. Ternyata aku jatuh cinta padamu.
Keinginannya untuk memiliki Ara begitu besar. Ego pun mulai menyelimuti hati dan pikirannya. Ia tidak ingin Ara kembali ke Angkasa. Ia khawatir dengan hatinya sendiri begitu ditinggalkan oleh sang gadis.
Mungkin aku sudah gila, Nona. Ya, katakan saja aku gila. Tapi aku tidak bisa berhenti mencintaimu. Aku tidak mengerti mengapa bisa seperti ini. Aku hanya mengikuti arusnya saja. Tak mampu kulawan kehendak hati yang begitu menginginkan dirimu.
Semilir angin pantai benar-benar membuat tubuhnya membutuhkan kehangatan. Ia ingin Ara menemaninya malam ini, tapi ia masih segan untuk memintanya.
"Pangeran, awas salah makan!" canda Ara karena Zu terus-menerus memandanginya.
Zu tertawa mendengar celetukan sang gadis. Tangannya tanpa sadar bergerak ke arah wajah gadis itu.
Pangeran ...?
Seketika Ara terdiam saat Zu ingin menyentuh wajahnya. Namun, Zu segera tersadar dan tidak jadi melakukannya.
Maafkan aku, Nona. Tolong aku agar bisa berhenti mencintaimu.
Pangeran itu segera meneguk air minumnya, ia mencoba menormalkan suasana hati yang menggebu-gebu. Ia menginginkan Ara. Ara sendiri menyadari perubahan suasana di hati Zu. Ia seperti mengerti apa yang Zu inginkan. Lantas saja gadis itu berusaha untuk menghibur hati sang pangeran.
"Habis ini temani aku jalan-jalan, ya?" pinta Ara yang malu-malu.
Sontak Zu terkejut dengan permintaan Ara. Namun, ia menerimanya dengan senang hati. Zu mengangguk, mengiyakan. Dan akhirnya mereka menikmati makan malam bersama ini, ditemani semilir angin pantai dan ombak laut yang berkejaran.
Aku tidak dapat menyesali takdirku. Aku juga tidak dapat kembali ke masa lalu. Andai saja kau bersedia membuka hatimu, maka akan kuberikan segalanya padamu. Jiwaku, ragaku, bahkan nyawaku. Aku bersedia memberikannya, Nona.
__ADS_1
Aku tidak mengerti mengapa bisa segila ini. Ini pertama kalinya bagiku menemukan gadis sepertimu. Kau bukanlah gadis biasa, melainkan seorang Dewi yang turun dari khayangan.
Oh, Ara. Bisakah kau mengerti perasaanku? Sekali saja berikan hatimu, maka akan kuberikan semua yang kau mau.