
Beberapa menit kemudian...
Aku berjalan menuju lantai tiga istana dengan dibantu oleh kedua bayi besar ini. Pantatku pun masih terasa sakit sekali. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.
Pelayan di lantai dua tadi berpesan agar kedua pangeran ini menemui raja setelah urusanku selesai dengan keduanya. Aku jadi tidak punya banyak waktu untuk membalas dendam. Ya, aku akan membalas dendam atas apa yang terjadi. Aku ingin keduanya merasakan apa yang kurasakan.
"Rain, kau tunggu di sini. Biar aku dan Cloud yang masuk," kataku kepada Rain sambil melepas pegangan tangannya.
"Maksudnya?" tanya Rain yang bingung.
"Tunggu di depan ruangan sampai aku memanggilmu," kataku lagi.
Kami tiba di depan ruangan yang raja berikan padaku. Namun, si bayi bungsu ini menolak permintaanku.
"Tapi, Ara—"
"Tidak ada tapi!" Aku segera membuka pintu lalu menarik Cloud masuk.
Cloud diam saja. Namun, aku bisa melihat dia tersenyum tipis kepada adiknya, seperti mengejek. Sedang adiknya kuminta untuk menunggu di luar. Aku dan Cloud lalu masuk ke ruangan.
"Ara, apa kau ingin aku pijat? tanya Cloud setelah mengunci pintu ruangan.
"Hm, ya. Pantatku sakit sekali." Aku lalu duduk di sofa panjang.
"Aku ambilkan minyak zaitun, ya?" Cloud tersenyum manis padaku.
"Eh, tidak usah. Kau di sini saja," kataku lagi.
"Baiklah. Lalu apa yang harus aku lakukan?" Dia ikut duduk di sampingku.
"Buka celanamu saja, Cloud," kataku.
"Hah? Apa?!" Seketika dia terkejut.
"Iya, buka celanamu saja," kataku lagi.
Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Tapi kulihat dia menelan ludahnya sendiri. Mungkin dia pikir aku akan memintanya untuk melakukan sesuatu yang aneh-aneh.
"Ara, di depan ada Rain. Kau yakin? Bagaimana jika aku tidak bisa menahan desahan?" Cloud cemas sendiri.
"Sudah, buka saja celanamu. Cepat!" Aku mulai emosi.
"Ba-baiklah, aku buka." Cloud akhirnya menurut.
Dia mulai melepas sabuk pedangnya, sabuk celananya, lalu melepas celana putih panjangnya. Dan kini dia hanya mengenakan celana pendek putih ketatnya saja, namun atasannya masih lengkap.
"Ara, apa aku harus membuka jubahku juga?" tanyanya lagi.
"Tidak perlu. Sekarang tidurlah di atas pangkuanku," kataku yang menunggu.
"Baiklah." Cloud menurut, dia telentang di atas pangkuanku.
"Telungkup saja," pintaku lagi.
"Em, baiklah." Cloud benar-benar menurut padaku.
Setelah dia telungkup di pangkuanku, kini tiba saatnya untuk membalaskan dendam atas apa yang terjadi. Kutiup tangan kananku lalu kugerakkan jemarinya, seraya terus mengumpulkan tenaga.
__ADS_1
"Ara, ini sedikit aneh." Cloud belum juga menyadari apa yang akan kulakukan.
"Kau siap, Cloud?" tanyaku pelan.
"Siap? Siap apanya?" Dia menoleh ke arahku. "Aaaaaa!!!" Seketika itu juga dia berteriak.
"Bagaimana rasanya?" Aku memukuli pantatnya.
"Ara, sakit. Sudahi ini," pintanya yang masih kupukuli.
"Sudahi? Semudah itu kau mengucapkannya!!!" Aku meluapkan kekesalan.
"Ar-ara, ma-maafkan aku. Aaaa!! Sakittt!!"
Aku tidak peduli apa yang Cloud katakan. Terus saja kupukul pantatnya sampai hatiku puas. Aku benar-benar panik melihat mereka bertikai tadi, apalagi sampai mencabut pedang. Tak bisa kubayangkan jika sesuatu terjadi pada mereka.
"Aaaa!!!"
Cloud terus berteriak saat tanganku memukul pantatnya. Kulihat Rain gupek sendiri di luar. Dia mencoba melihat apa yang sedang terjadi dari kaca jendela. Tapi sayang, kaca jendelanya dirancang hanya dari dalam saja yang bisa melihat ke luar. Sedang dari luar tidak bisa melihat ke dalam. Hampir saja aku tertawa melihat Rain menyusuri setiap sisi kaca agar dapat melihatku.
"Masih ingin mengulanginya?" tanyaku lalu berhenti memukul si sulung.
"Ti-tidak, Ara. Maafkan aku. Aku tidak akan lagi-lagi." Suaranya terdengar lemas.
"Ya sudah. Bangun!" kataku padanya.
Cloud akhirnya beranjak bangun dari pangkuanku. "Aku pakai celananya lagi, ya?" tanyanya yang kujawab dengan anggukan kepala.
"Setelah ini pergilah menemui raja. Jangan lupa suruh Rain masuk ke dalam," kataku seraya menyilangkan kedua tangan sambil terus duduk di sofa.
"Ba-baik." Cloud akhirnya segera memakai kembali celana dan sabuknya.
Ara melakukan pembalasan atas apa yang terjadi. Rasa panik bukan main benar-benar mengguncang pikirannya, saat melihat Rain dan Cloud bertikai di halaman depan istana. Ia tidak menyangka jika keduanya akan sampai seperti ini. Ia pikir keadaan akan baik-baik saja setelah raja mengatakan keputusannya. Namun nyatanya, baik Rain maupun Cloud masih mempertahankan ego masing-masing.
Rain dan Cloud tidak bisa menerima keputusan sang ayah yang akan menikahkan mereka sekaligus. Hal itu amat mustahil bagi keduanya, tidak mungkin seorang gadis mempunyai dua orang suami. Akal pikiran mereka tidak bisa menerimanya dengan mudah. Namun, keputusan raja adalah mutlak. Mau tak mau mereka harus menerimanya.
"Aduh, pantatku." Cloud keluar dari ruangan sambil memegangi pantatnya.
Rain berjalan mendekati. "Apa yang terjadi padamu, Kak? Kenapa kau kesakitan?" tanya Rain yang penasaran.
"Kau masuk saja. Nanti juga tahu sendiri." Cloud segera beranjak pergi.
"Hah?"
Rain merasa bingung. Ia pandangi kakaknya yang pergi lalu kemudian masuk ke dalam ruangan. Yang mana sang gadis telah menunggu.
"Rain ...." Suara Ara terdengar lembut.
"Ara, kak Cloud?"
"Sudah, kemarilah. Jangan lupa tutup dan kunci pintunya, ya." Ara tersenyum manis di hadapan Rain.
"Ba-baiklah." Tanpa ada perasaan curiga, Rain menuruti apa yang Ara pinta.
Rain kemudian menutup pintu lalu menguncinya. Ia berjalan mendekati sang gadis yang sedang duduk menyandar di sofa panjang. Langkah demi langkahnya amat ditunggu oleh Ara.
"Ara?" Rain tampak bingung saat melihat sikap Ara berubah.
__ADS_1
"Sayang." Ara terdengar manja sekali, ia beranjak dari duduk lalu berdiri di hadapan Rain.
"Ara?"
Rain merasa heran saat Ara membelainya. Jari-jari lentik sang gadis menyusuri wajah hingga lehernya. Rain pun geli sendiri.
"Rain, aku menginginkan sesuatu." Ara mulai menyusuri dada Rain dengan jarinya.
"Katakan saja. Sebisa mungkin aku akan memenuhinya." Rain menelan ludah saat jemari Ara bermain-main di dadanya.
"Kau tidak keberatan?" tanya Ara lagi dengan manjanya.
"Tidak, Sayang. Lakukan saja sesukamu."
"Baiklah." Ara pun semakin menjadi-jadi.
Rain amat pasrah saat jari-jemari Ara menyusuri dadanya. Terus ke bawah dan ke bawah lagi.
"Ah ...." Terdengar suara Rain seperti mendesah, namun tertahan.
Jari-jemari Ara kemudian berhenti di perut Rain. Ia melepas sabuk pedang di pinggang Rain sambil terus menatap pangerannya dengan tatapan yang menggairahkan. Rain pun pasrah saat sabuk pedangnya terlepas. Ara juga mulai melepaskan sabuk celananya. Sang pangeran tampak memejamkan kedua matanya sambil menelan ludah berulang kali.
Dia pikir aku akan melakukan sesuatu yang dia inginkan? Rain ... kau salah!
Ara lalu menurunkan celana Rain. Terlihat dada Rain naik-turun menunggu apa yang akan Ara lakukan selanjutnya. Dan akhirnya, celana hitam panjangnya diambil oleh Ara.
"Sayang?" Mata Rain mulai sayu.
"Kemari, tidurlah di atas pangkuanku, Rain." Ara meminta sambil menyandarkan punggung di sofa.
"Tapi kenapa celana yang ini tidak ikut dilepas?" Rain merasa heran.
Seketika Ara ingin tertawa mendengar pertanyaan Rain. Sang pangeran belum juga menyadari apa yang akan dilakukan olehnya.
"Kemari, Sayang. Telungkup di atas pangkuanku." Ara meminta sambil menggigit bibirnya.
"Telungkup?" Rain mulai curiga.
"Sudah cepat!" Ara semakin tidak sabar.
"Ba-baiklah." Rain akhirnya menurut, dia merebahkan diri di atas pangkuan Ara.
"Sudah siap, Rain?" tanya Ara sambil menggerakkan jemari tangannya.
"Siap? Siap maksudnya?" Rain menoleh. "Aaaaaa!!! Saaakiiittt!!!" Seketika itu juga dia berteriak.
Rain akhirnya merasakan apa yang kakaknya rasakan. Ara mulai memukuli pantatnya tanpa ampun. Sang pangeran pun hanya bisa pasrah menerima setiap pukulan dari gadisnya.
"Kenapa kau bertikai, hah?!!" Ara meluapkan kekesalannya.
"Ta-tadi i-itu dia yang memancingku," kata Rain yang terbata.
"Kenapa kau tanggapi?!" tanya Ara lagi sambil terus memukul pantat Rain.
"A-aku kesal. Di-dia sama sekali tidak mau mengalah. Ak-aku ... Ara, tolong hentikan. Ini sakit!" pinta Rain kemudian.
"Masih ingin mengulanginya?!" tanya Ara yang terus memukul pantat Rain.
__ADS_1
"Ti-tidak. Tidak lagi."
Sang pangeran pun tak berdaya di hadapan gadisnya. Ia hanya bisa pasrah menerima setiap pukulan dari Ara. Rasa sakit pada pantatnya pun harus ditahan sampai Ara puas melampiaskan kekesalannya. Ya, Ara kesal dengan kelakuan dua bayi besarnya. Baik Rain ataupun Cloud, keduanya hampir saja membuat sang gadis jantungan setengah mati.