
"Ara, mbok Asri sudah menyiapkan makan siang untuk kita. Aku ambilkan, ya?" Cloud menawarkan, Ara pun mengangguk.
Sang pangeran lalu mengambilkan semangkuk bubur ayam untuk gadisnya. Ia ingin menyuapi Ara. Namun...
"Cloud, biar aku saja." Ara menolak suapan dari Cloud.
Ara ....
Seketika Cloud merasa terluka. Gadisnya kini tidak lagi menerima niat baiknya. Cloud pun membiarkan Ara menyuap sendiri bubur itu, sedang dirinya tertunduk dalam sedih.
"Kau tidak makan, Cloud?" tanya Ara sambil menyantap bubur ayamnya.
"Hem, tidak. Aku sedang tidak berselera," jawab Cloud berusaha untuk tersenyum.
"Em, baiklah." Ara ikut tersenyum.
Cloud merasa miris dengan hal yang terjadi padanya. Kini Ara tidak lagi memaksanya untuk makan. Perhatian sang gadis seakan hilang terbawa angin. Hatinya pun semakin terluka karena perubahan sikap Ara kepadanya.
Ara ... apa yang terjadi denganmu? Apakah semua rasa di hatimu sudah hilang untukku?
Cloud beranjak bangun. Ia menuju pintu keluar, ingin menyendiri.
"Cloud, kau mau ke mana?" Ara melihat Cloud ingin pergi.
Cloud pun menghentikan langkah kakinya walau tangannya sudah memegang gagang pintu. "Aku ingin mencari udara segar, Ara. Entah mengapa aku merasa sesak di sini." Cloud berbalik, melihat Ara sambil tersenyum. Ia kemudian berlalu.
"Cloud ...." Seketika Ara tidak enak hati sendiri.
Sang gadis bukannya tidak menyadari perubahan sikap pada Cloud. Namun, ia berusaha memegang janjinya kepada Rain yang tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Sebisa mungkin Ara menjaga jarak agar Cloud tidak terlalu berharap kepadanya. Tapi, setelah melihat perubahan roman wajah pada Cloud, gadis itu merasa amat bersalah.
"Cloud, maafkan aku ...."
Ia kemudian menyudahi santap siangnya lalu segera meneguk segelas air minum. Setelahnya, ia mencoba keluar dari ruangan untuk melihat keadaan istana siang ini.
Sementara itu...
Cloud berdiri sendirian di teras balkon lantai tiga istana. Ia menatap pemandangan istana yang masih dipenuhi oleh prajurit penjaga. Ia juga menatap gazebo, tempat di mana Ara biasa berada.
Ara ... apakah aku akan kehilanganmu?
__ADS_1
Cloud dilanda kesedihan karena perubahan sikap Ara kepadanya. Yang mana hal itu membuatnya amat berkecil hati, serasa tidak lagi mempunyai semangat untuk meneruskan kehidupan ini. Cloud merasa telah kehilangan cahaya kehidupannya.
Aku akui jika waktuku memang tidak banyak seperti dirinya, Ara. Tapi cintaku begitu besar kepadamu. Hanya saja waktu belum mengizinkan kita untuk selalu bersama. Namun, jauh di dalam lubuk hatiku ini aku ingin selalu bersamamu, menemanimu ke manapun yang kau mau.
Kini kau telah menunjukkan perubahan itu padaku. Lalu apakah aku harus menyerah? Bagaimana dengan hati ini? Segalanya telah kuberikan padamu. Di depanmu kurendahkan harga diriku. Tapi mengapa ... mengapa kau setega ini? Begitu cepat hilang kah perasaanmu padaku Ara?
Sang pangeran bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Hatinya kini diselimuti kegundahan karena terbawa perasaan sedih. Ia sampai tidak menyadari jika Ara tengah melihatnya dari kejauhan. Sang gadis merasa menyesal karena telah membuatnya bersedih hati.
Cloud ....
Ara lantas memutuskan untuk kembali ke kediaman Rain tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Cloud. Ia khawatir jika pamitnya itu hanya akan menambah luka di hati Cloud. Sebisa mungkin Ara akan menjaganya.
Sore harinya...
Sang ratu Angkasa telah kembali pulih ke sediakala. Ia tampak didandani oleh penata rias kerajaan. Tentunya hal ini merupakan kabar gembira bagi sang suami, Sky.
"Salam bahagia untuk Yang Mulia." Para penata rias memberi salam saat Sky masuk ke dalam ruang rias istrinya.
"Ya, terima kasih."
Para penata rias itu kemudian undur diri dari hadapan raja dan ratunya. Sky pun segera berdiri di belakang sang istri yang sedang duduk di kursi riasnya. Ia pandangi pantulan dirinya bersama Moon di cermin.
Sky menoleh ke arah Moon. "Semalam terdengar kabar jika akan ada penyerangan ke istana. Sehingga Rain membuat formasi berlapis untuk istana ini," tutur Sky lalu memegang kedua pundak istrinya.
"Siapa yang mengabari hal itu?" tanya Moon lagi.
"Ara," jawab Sky segera.
Seketika Moon berdiri dari duduknya. "Kalian percaya apa katanya?!" Moon tak habis pikir.
"Ya, dia mengabarkan kepada kami jika pihak musuh akan menyerang istana." Sky menuturkan.
"Lalu apa benar terjadi penyerangan semalam?" tanya Moon lagi.
"Tidak," jawab Sky yang terkejut dengan nada bicara istrinya yang meninggi.
"Astaga. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran kalian. Bisa-bisanya kalian memercayai gadis itu. Aku tidak habis pikir." Moon segera menjauh dari suaminya.
"Istriku, kenapa kau amat membencinya?' tanya Sky seraya mengarahkan pandangannya ke arah Moon pergi.
__ADS_1
"Aku tidak membencinya. Aku hanya kurang menyukainya. Dia terlalu banyak membuat ulah di istana ini," tutur Moon seraya duduk di sofa ruangan.
"Moon, apa maksudmu?" Sky bingung.
"Suamiku, tak sadarkah dirimu atas kehadirannya selama ini? Apa kau tidak menyadari kedua putra kita amat memperhatikan gadis itu? Apa yang telah gadis itu lakukan kepada kedua putraku?" Moon mulai dramatis.
"Jadi kau berpikir?"
"Ya, dia menggunakan sihir untuk menaklukkan kedua putra kita. Apakah kau tidak juga menyadarinya?" tanya Moon yang kesal.
"Astaga." Seketika Sky memijit dahinya sendiri. "Jadi karena hal itu kau ingin membuangnya ke hutan?" Sky balik bertanya.
Sontak Moon terkejut bukan main kala mendengar pertanyaan dari suaminya itu. "Sky?"
"Moon, aku telah mengetahui semuanya. Tidak sepantasnya kau melakukan hal itu padanya." Sky menyesalkan perbuatan istrinya.
"Aku hanya ...."
"Kau salah paham, Moon. Dia sama sekali tidak menggunakan sihir untuk menaklukkan kedua putra kita. Baik Cloud maupun Rain menyadari perasaannya. Mereka memang benar-benar mencintai Ara."
"Tidak-tidak." Moon menolak. "Aku tidak merestui hubungan keduanya ataupun salah satunya. Kita adalah keluarga bangsawan. Dan harus menikah hanya dengan bangsawan!" Moon bersikeras.
Adu mulut akhirnya terjadi dan tak terelakkan lagi.
"Moon, Ara telah banyak membantu istana. Dia juga yang telah menyembuhkanmu dari sihir." Sky mengatakan hal yang sebenarnya.
"Tidak. Tidak mungkin."
"Moon, dia bukanlah gadis biasa. Aku sudah memutuskan untuk menikahkan kedua putraku dengannya."
"Apa?!" Moon amat terkejut mendengarnya.
"Ya, jika dia masih belum bisa memilih salah satu dari kedua putra kita, maka aku akan menikahkan keduanya sekaligus." Sky berterus terang.
"Tidak! Aku tidak setuju!" Moon menolak dengan tegas.
"Aku akan mempersiapkan pesta pernikahan setelah keadaan negeri ini tenang. Moon, percayalah kepada kedua putra kita. Mereka tidak mungkin asal dalam memilih pasangan hidup."
Berkali-kali Sky menjelaskan kepada Moon dan berkali-kali pula Sky mencoba mengetuk pintu hati istrinya. Namun, lagi dan lagi Sky harus menerima jawaban yang tidak mengenakkan. Moon menolak dengan tegas pesta pernikahan yang akan segera digelar pihak istana.
__ADS_1
Sky terdiam saat sang istri meninggalkannya begitu saja, setelah adu mulut perihal pernikahan kedua putranya. Sang raja tampak memijat dahinya kala menghadapi ratu yang tetap bersikeras dengan pendapatnya sendiri. Dan pada akhirnya, pria memang harus lebih banyak bersabar dalam menghadapi wanita.