
"Rain ...."
Aku menatapnya sambil menahan haru. Dadaku tiba-tiba terasa sesak karena memendam kerinduan semenjak ditinggalkannya.
"Ara ... kau sudah tiba?"
Suara Rain terdengar lirih. Kedua matanya berkaca-kaca. Ia menelan ludahnya karena tak percaya jika aku sudah berada di hadapannya.
"Aku pikir, kau masih di sana," katanya yang masih terpaku di samping kudanya.
"Rain, kau tidak ingin memelukku?" tanyaku menahan tangis.
"Hah."
Rain tertawa, tersenyum lalu berjalan ke arahku. Dia meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku, seperti ingin mengusapnya.
"Pertanyaan macam apa itu? Sungguh, aku—"
Belum sempat Rain meneruskan kata-katanya, aku sudah berlari menghambur ke arahnya. Kupeluk tubuh itu seraya membenamkan wajahku di pundak kirinya.
"Rain, aku merindukanmu."
Air mataku tak mampu terbendung lagi. Kristal bening itu mulai berjatuhan membasahi jubah merahnya. Rain kemudian membalas pelukanku, perlahan kedua tangannya memeluk tubuhku ini.
"Ara ...."
"Rain ...."
Aku tahu, Rain tidak mungkin meneteskan air matanya di hadapan orang. Apalagi di hadapan seorang perempuan sepertiku. Dia adalah panglima tinggi di istana yang begitu disegani. Tidak mungkin dia melakukan hal bodoh seperti itu.
Kupeluk lebih erat tubuhnya dan membiarkan kristal bening ini terus berjatuhan dari kedua mataku. Kurasakan jika Rain ikut membenamkan wajahnya di pundakku ini. Dia sesekali mencium kepalaku.
"Ara ...."
Kutahu jika Rain juga begitu merindukanku. Namun untuk sementara, biarlah pelukan ini yang berbicara. Pelukan hangat dari seorang putra mahkota yang gagah perkasa, Rain Sky.
"Sudah, ya. Jangan menangis lagi."
Aku bagai anak kecil yang sedang dirayu olehnya. Rain mengusap kedua pipiku dengan tangan yang terbalut sarung perang. Akupun memegang tangan kokoh itu lalu menciumnya. Sontak saja hal itu membuat Rain terkejut.
"Ara?"
"Aku akan mengabdi padamu," kataku seraya tersenyum.
Rain tampak terharu. Dia kemudian memeluk tubuhku. Kali ini kurasakan jika Rain yang kukenal sudah kembali. Aku pun melingkarkan kedua tangan di pinggangnya.
"Baiklah, Istriku. Temani aku sebentar sebelum menemui pasukanku. Kau mau, kan?" tanyanya seraya memelukku dengan tangan kanan yang memegang kepalaku.
__ADS_1
"He-em." Aku mengangguk.
Rain lalu melepas pelukannya. Dia memintaku untuk menaiki kuda. Seperti biasa dia membantuku untuk menaiki kuda hitamnya. Namun, kali ini aku lebih cepat naik ke atas kuda. Tidak takut seperti dulu saat pertama kali menaikinya bersama Rain.
"Ara?"
Dia tampak terkejut dengan perubahan yang ada pada diriku. Hanya satu kali pijakan, aku segera memutar badan dan duduk di atas kuda hitam miliknya.
"Ayo, Pangeran!" ajakku bersemangat.
Rain menggelengkan kepalanya. Mungkin dia merasa heran dengan perubahan yang terjadi. Dia pun segera menaiki kudanya dan duduk di belakangku. Kami duduk di atas kuda seraya bercengkrama.
"Kita ke manshion-ku, ya."
Rain mulai melajukan kudanya dan aku hanya mengangguk, menanggapi. Sungguh hatiku riang sekali saat bertemu dengannya. Seolah hanya ada aku dan dia di istana ini.
Kuda hitam ini terus berjalan menuju barat istana. Di sana terdapat kediaman pribadi Rain yang begitu besar. Tempat di mana pertama kali aku menemuinya untuk mencari gaunku yang tersembunyi.
Rain, aku tidak sabar. Kejutan apa lagi yang akan kau berikan padaku. Apakah kau masih mesum seperti dulu?
Aku tersenyum sendiri seraya berbicara dalam hati. Tangan kokoh Rain menjagaku agar tidak terjatuh dari kudanya. Aku pun tanpa diminta segera menyandarkan tubuhku padanya. Rain tampak menoleh ke arahku, dia tersenyum.
Sesampainya di kediaman Rain...
Kediaman Rain ini berdekatan dengan halaman belakang istana. Kudengar para pasukan sedang beristirahat sambil bercakap-cakap. Suara kuda-kuda mereka pun tampak meramaikan pagi yang hening ini.
Para pelayan kediamannya menyambut kedatangan kami. Rain masuk ke dalam rumah sambil menggenggam tangan kiriku. Aku merasa dijaga olehnya. Setelahnya, Rain segera membawaku masuk ke dalam kamar.
"Em, Rain. Aku tunggu di luar saja, ya? Aku tak enak dengan para pelayan di sini."
"Tak apa, Ara. Aku tidak ingin membuatmu menunggu di luar. Lagipula kamarku akan menjadi kamarmu," katanya seraya membuka pintu kamar.
Aku hanya diam kala tanganku ditarik olehnya saat masuk ke dalam kamar. Kulihat kamar Rain begitu rapi dan juga bersih. Kasurnya berwarna putih dengan selimut tebal terlipat, di dekat bantal dan guling yang juga berwarna putih. Rasanya aku jadi ingin tidur saja.
"Tunggu sebentar, ya. Aku mandi dulu."
Rain kemudian memintaku untuk menunggu. Dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan sambil menunggu, aku mencoba melihat-lihat isi kamarnya. Tak lama, kutemukan sesuatu yang membuatku menelan ludah berulang kali.
"Di-dia itu?!"
Aku tak percaya dengan apa yang kutemukan. Sebuah buku berwarna merah dengan judul kamasutra, kutemukan di laci meja kamarnya. Pikiranku otomatis menerawang ke mana-mana.
Dasar mesum!
Anehnya, aku membuka buku itu lalu mulai membacanya. Halaman demi halaman kubaca sambil menunggu Rain selesai mandi.
Pantas saja dia tahu titik-titik yang bisa membuatku menyerahkan diri. Dasar!
__ADS_1
Aku membacanya perlahan. Hingga lama kelamaan aku merasa ketagihan ingin membacanya sampai selesai. Tanpa kusadari, Rain sudah berada di belakangku.
"Jadi, mau pakai gaya apa?" tanyanya yang mengagetkanku.
"R-r-rain?!"
Aku terkejut dengan kehadirannya. Mungkin karena terlalu serius membaca isi buku ini.
"Em, ak-aku—"
"Sepertinya untuk seorang pemula, biarkan aku dulu yang bekerja," katanya seraya mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Apaan sih, Rain!" Aku lalu menjauhkan wajahnya dengan tangan kananku.
Rain tersenyum seraya menahan tawa. Dia lalu menghanduki kepala dan tubuhnya itu di depanku, tanpa ada rasa segan sedikit pun.
"Rain!"
Sesuatu kemudian terlihat di depan kedua mataku, membuatku spontan menutup mata. Dia tidak malu sama sekali memperlihatkannya padaku.
"Bagaimana, Ara?" tanyanya bangga.
"Dasar genit!" seruku padanya.
"Ini yang kumaksud benda tumpul itu. Kau menyukainya?" tanyanya lagi.
"Rain, tolong tutup! Aku tidak mau melihatnya!" teriakku yang menutupi wajah dengan buku kamasutra yang kupegang.
"Hahahaha. Ara-ara."
Kudengar Rain tertawa renyah sekali. Dia seperti mengejekku.
"Sudah, nih!"
"Bohong!"
"Lihat saja sendiri," katanya.
Aku pelan-pelan membuka kedua mata lalu mengintip Rain dari balik buku ini. Ternyata benar dia sudah menutupinya.
Hah, untung saja...
Aku tak habis pikir dengan sikapnya itu. Dia tanpa malu menunjukkannya padaku. Sontak saja aku kaget bukan main dibuatnya. Dia benar-benar mesum dan tak tahu waktu.
Dia tidak pernah berubah. Rainku ini memang mesum sekali.
Aku lalu kembali membaca buku. Rasa penasaranku begitu tinggi terhadap isi buku ini. Rain tampak tersenyum sendiri melihatku. Sepertinya dia mencoba memahami rasa penasaran yang ada pada diriku ini. Ya, di hadapannya aku tidak perlu sungkan ataupun malu.
__ADS_1