Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Good Bye


__ADS_3

Keesokan harinya...


Kulihat tubuhku semakin memucat. Detak jantungku pun semakin melemah. Di samping tubuhku, kulihat Cloud masih sibuk menjagaku. Dia sampai tidak tidur semalaman. Aku jadi kasihan melihatnya.


"Ara ...."


Suaranya terdengar serak sekali. Dia tidak makan sesuatu apapun sedari malam.


"Bangunlah, kumohon ...."


Aku tahu dia begitu sedih saat mendengar kabarku. Tampak penyesalan yang mendalam pada dirinya. Dia berulang kali menyalahkan diri sendiri.


"Ini semua karena kesalahanku. Andai saja kutunda rapat kemarin, mungkin hal ini tidak akan terjadi padamu."


Cloud mengusap kepalanya. Dia tampak putus asa. Aku mencoba untuk memeluknya, tapi sentuhan tanganku tertembus. Aku tidak dapat menggapainya.


Cloud, berhentilah menyalahkan diri sendiri.


Bibi Rum datang bersama beberapa pelayan kerajaan, membawakan makanan dan juga pakaian ganti untuk Cloud. Namun, Cloud tidak mengindahkannya.


"Pangeran Cloud. Tolong jangan siksa diri Anda. Saya khawatir Pangeran akan jatuh sakit. Anda harus segera mengisi perut yang kosong."


Bibi Rum mencoba membujuk Cloud agar mau makan. Cloud menoleh sambil mengusap wajahnya yang memerah karena menangis.


"Saat ini aku lebih sakit, Bi. Semua yang kubutuhkan seakan menghilang."


Bibi Rum yang biasanya terlihat tegas kini seperti ikut terlarut dalam kesedihan. Dia mendekati Cloud lalu mengusap bahunya.


"Pangeran, saya tahu Nona Ara adalah wanita yang berharga bagi Anda. Namun, jika Anda terus begini maka akan membuat Nona Ara lebih merasakan sakit," katanya mengawali.


"Ini semua sudah tertulis. Mau tak mau, Anda harus menerimanya. Yakinlah, jika dia sudah ditakdirkan untuk Anda, Nona Ara akan kembali."


Bibi Rum berusaha menyemangati Cloud. Sosoknya kini berubah menjadi seperti seorang ibu yang begitu perhatian kepada anaknya.


"Terima kasih, Bi. Aku berharap Ara akan kembali."


Cloud lalu mengambil makanan yang Bibi Rum bawakan. Setelahnya dia keluar dari ruangan. Sepertinya dia ingin berganti pakaian.


Kini Bibi Rum ditemani beberapa pelayan yang menjagaku. Dia kemudian mendekati tubuhku, duduk di kursi yang ada di sisi kanan pembaringan.


"Nona Ara."

__ADS_1


Dia memanggilku. Melepas kacamatanya yang biasa selalu dia pakai. Kulihat dia memijat dahinya sendiri.


"Saya tahu sikap saya kurang menyenangkan untuk Nona. Tapi kejadian kemarin, membuat saya mengakui jika Anda adalah seorang wanita yang patut untuk diperjuangkan. Anda telah berhasil menaklukkan dua hati putra mahkota sekaligus. Dan Anda juga telah menyelamatkan saya dari penyusup istana. Terima kasih. Semoga Nona lekas tersadar dan kembali mewarnai istana ini. Pangeran Cloud dan Pangeran Rain menunggu keputusan Anda."


Aku terkejut mendengar Bibi Rum mengatakan hal demikian. Sepertinya kisah kami bertiga telah diketahui penghuni istana yang lainnya.


"Ara!"


Pria menyebalkan itu akhirnya datang lalu segera memeluk tubuhku.


"Pangeran Rain."


Bibi Rum dan beberapa pelayan yang lain memberi hormat kepadanya.


"Tolong tinggalkan aku," pinta Rain kepada Bibi Rum.


Bibi Rum seolah mengerti. Dia kemudian berpamitan lalu meninggalkan kami. Kini hanya ada aku dan Rain di ruangan ini.


"Ara. Bangunlah ...!" Rain mengguncang-guncang tubuhku.


"Ara, maafkan aku. Maafkan ...," katanya lagi.


Rain menangis. Air matanya berjatuhan di pipiku. Aku yang melihatnya jadi ikut menangis. Tak kuasa menahan sesak di dada.


"Harusnya kau tidak menyelamatkanku. Harusnya kau biarkan saja aku. Aku ... aku menyesal telah meninggikan egoku."


Rain menangis tersedu-sedu. Baru kali ini kulihat seorang Rain menangis seperti ini. Rasanya aku ingin memeluknya. Tapi kutahu hal itu hanya sia-sia belaka.


Rain lalu memeluk tubuhku. Dia memegang tanganku dengan erat. Air matanya masih berjatuhan, membasahi gaunku yang berwarna biru.


Kini aku merasa sedikit lega. Setidaknya, di balik musibah ini terdapat hikmah yang menggembirakan. Rain menyadari kekeliruannya dan berniat menebus kesalahannya waktu itu. Walaupun sungguh sangat disayangkan, aku tidak bisa merasakannya.


Rain ... tetaplah menyayangiku. Jadilah ksatriaku, sekarang dan selamanya.


Esok harinya...


Hari masih tampak gelap, hanya bintang fajar yang menampakkan sinar terangnya. Tubuhku kini dibawa Cloud menuju bukit pohon surga. Bersama kuda putihnya, dia menjaga tubuhku dengan sangat hati-hati agar tidak terjatuh.


Sesampainya di bukit, Cloud berjalan membawaku lalu meletakkan tubuhku di depan pohon surga sambil menitikkan air mata. Kurasakan jika hatinya kini tengah berguncang hebat.


"Ara, di sini awal aku membawamu ke istana. Di sini pula aku akan mengembalikanmu. Hanya cara ini yang bisa kulakukan agar kau bisa tetap bertahan hidup," ucapnya sendu.

__ADS_1


Cloud benar-benar terpukul. Nada bicaranya terbata, suaranya terdengar parau. Di keheningan fajar, aku melihat sisi lain dari dirinya yang rapuh.


"Tetua Agung berpesan kepadaku untuk mengembalikanmu jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Dan kini sudah tiba saatnya untuk kita ... berpisah."


Ucapan Cloud terputus. Dia terisak. Air matanya berjatuhan membasahi bumi.


"Sejujurnya aku tidak mampu berpisah denganmu, Ara. Tak bisa ...."


Cloud menangis, dia memegangi dadanya.


"Andai kubisa, aku ingin mengajakmu menetap di istana, menemaniku memajukan negeri ini. Namun, aku tidak mampu melakukannya. Maafkan aku ...."


Cloud berlutut di hadapan tubuhku. Dia menundukkan wajahnya. Air matanya tidak dapat terbendung lagi. Baru kulihat Cloud menangis sepilu ini. Walaupun aku tidak dapat merasakannya secara langsung, namun getaran pilu itu dapat kurasakan.


"Aku berharap kita masih dapat bertemu lagi. Entah itu kapan. Tapi aku akan menunggunya. Aku ... menyayangimu."


Daun-daun pohon tin mulai berguguran. Mungkin pertanda sudah tiba waktu untukku kembali ke duniaku. Cloud kemudian mengeluarkan sebuah kantong putih dari balik jubahnya. Kantong putih itu dia letakkan di antara kedua tanganku.


"Terima kasih."


Angin fajar menyapu helai demi helai rambut Cloud yang dibiarkan terjuntai ke depan. Dia masih menunduk sedih sambil terus menangis. Tak lama, cahaya putih menyilaukan mata muncul di hadapan Cloud.


Lama kelamaan cahaya itu semakin membesar. Pohon tin seperti terbelah menjadi dua. Sebuah lubang besar hitam pun muncul lalu menggerakkan tubuhku. Tubuhku melayang di udara.


Aku mencoba berteriak memanggil Cloud, namun tak bisa. Suaraku tak dapat didengar olehnya. Kulakukan semua cara agar Cloud menyadari kehadiranku. Namun ternyata, hal itu hanya sia-sia belaka.


Rasanya ... aku tidak ingin kembali ke duniaku, aku ingin di sini saja. Aku sudah merasa nyaman tinggal di sini. Aku ingin tetap bersama Cloud. Menatapnya setiap hari memberikan ketenangan yang tak dapat kuungkapkan. Aku juga ingin tetap berlatih bersama Rain dan mempelajari banyak hal. Aku sungguh ingin tetap berada di dekat mereka.


Aku tidak peduli dengan rasa sakit yang harus kuterima jika aku tetap berada di sini. Rasa sayangku lebih besar dari rasa sakit yang kurasakan. Aku menyayangi mereka. Harus kuakui, baik Cloud maupun Rain, mereka adalah orang yang berarti untukku.


"Selamat jalan, Ara."


Kudengar pelan Cloud berkata seperti itu. Lubang besar berwarna hitam kemudian menarikku masuk ke dalamnya. Aku masih dapat melihat Cloud walaupun tubuhku sudah mulai masuk ke dalam lubang hitam itu.


Lubang hitam itu perlahan-lahan tertutup, pohon tin kemudian mulai menyatu kembali. Kulihat Cloud menjatuhkan diri ke atas rerumputan. Hujan pun tiba-tiba datang lalu membasahi tubuhnya.


Cloud diam saja, dia membiarkan air hujan membasahi tubuhnya. Dan membiarkan dedaunan pohon tin yang berguguran menjadi selimutnya. Kurasakan jika kejadian ini benar-benar memukul jiwanya. Jiwa Cloud terguncang hebat.


Cloud ....


Perlahan-lahan aku tidak dapat melihatnya. Penglihatanku semakin lama semakin gelap dan aku pun tidak dapat mengingat apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2