
Angin sore menerpa vila ini. Sebuah vila yang berada di tengah pulau terpencil. Katanya sih dekat dengan Negeri Angkasa, tapi aku belum tahu pasti di mana letak pulau ini. Namun sepertinya, berjarak beberapa jam dari pelabuhan negeri itu. Negeri di mana kedua pangeranku berada.
Ya Tuhan, aku benar-benar merindukan mereka.
Ini adalah hari keduaku sejak meninggalkan Angkasa. Dan sekarang aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Aku hanya bisa bilang jika aku merindukan Rain dan juga Cloud. Mereka sangat berarti untukku.
Kini aku bersama Zu, seorang pangeran dari kerajaan Asia yang sepertinya pernah kulihat sebelumnya. Atau mungkin saja jika dia pernah masuk ke dalam mimpiku. Ah, entahlah. Aku belum bisa banyak berkata tentangnya. Kami baru saja berkenalan, mungkin sekitar seminggu.
Paras Zu memang sangat tampan. Terlebih dia begitu sabar menghadapiku. Dia mau bolak-balik mengambilkan apa yang aku butuhkan. Dan karena itu aku merasa tidak enak hati padanya. Dia seorang pangeran, sedang aku? Aku hanya seorang gadis desa yang berusaha menggapai mimpi.
"Hah ...."
Sore ini aku duduk di ayunan yang berada di samping vilanya. Duduk sendiri sambil melihat pemandangan lepas pantai yang indah. Tapi, saat aku melihat lautan, entah mengapa aku langsung teringat dengan Cloud. Kedatangannya waktu itu sungguh mengejutkanku.
Di tepi laut waktu itu...
Ara sedang memancing. Belasan menit pun sudah dilaluinya, namun tak didapat seekor ikan pun. Ia lantas mengganti umpan yang lebih besar, berharap akan mendapatkan ikan yang lebih besar juga. Namun, tak disangka langit tiba-tiba menitikkan air hujan untuknya. Rintik-rintik hujan itu mengundang angin yang kencang hingga menggoyangkan sampannya.
"Ke-kenapa tiba-tiba begini?" Ara memegangi sampan kecil kepunyaan keluarganya.
Keadaan di sekeliling berubah drastis menjadi gelap, matahari seakan lenyap dari pandangannya. Kabut pun datang hingga membuat penglihatannya menjadi kabur. Kabut itu seperti membawa sebuah lubang besar berwarna hitam.
Dalam keadaan seperti ini ia berusaha untuk tetap tenang. Ia pegang erat-erat gagang pancingan dan sampannya. Tak lama terdengar gemercak air laut di depan sampan seperti ombak yang begitu besar. Sampannya pun terasa sangat berat. Ara kehilangan kendali.
"Aku jatuh! Jatuh!" teriaknya, sebelum kehilangan keseimbangan dan akhirnya sampan itu terbalik.
Segera ia berenang ke tepian sambil tetap memegangi gagang pancingannya. Namun, tubuh Ara terasa begitu berat. Ia lantas melihat ke belakang, dan betapa terkejutnya saat ia melihat sesosok tubuh mengambang di atas permukaan air yang mana kail pancingnya menarik tubuh itu.
"Ma-ma-ma-"
__ADS_1
Ara seperti tahu apa yang ada di depan matanya, tapi ia tidak dapat mengatakannya. Seakan-akan kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
Tenang, tetap tenang. Tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan.
Ia mencoba tenang menghadapi situasi aneh ini. Sudah terlanjur basah sekalian saja menyelam, pikirnya. Dan karena khawatir pancingan yang ia punya hilang terbawa ombak jika dilepas, akhirnya ia memberanikan diri untuk menarik sosok yang mengait di kail pancingannya itu. Ara tarik sekuat tenaga lalu membawanya ke tepian. Ia balikkan tubuh sosok itu dengan perasaan takut dan cemas yang tak menentu.
"Astaga!"
Sosok itu ternyata seorang pemuda berkulit putih kemerah-merahan. Ia menggenakan pakaian yang serba putih. Rambutnya pirang, meyakinkan Ara jika dia bukanlah penduduk setempat.
Ara tidak mungkin melarikan diri saat ini. Rasa empati sekaligus penasaran begitu menyelimutinya. Ia lantas memberanikan diri untuk mendekatkan telinganya ke dada sosok itu, memastikan apakah jantung pemuda itu masih berdetak atau tidak.
Masih hidup.
Ara dapat mendengar detak jantung yang melambat, memaksanya untuk segera memberikan pertolongan. Ia lalu menekan dada pemuda itu dengan kedua tangannya, ia pompa sekuat tenaga untuk mengeluarkan air yang masuk.
Ara mengulanginya berkali-kali sampai terdengar suara cekukan dari pemuda itu. Hingga akhirnya pemuda itupun tersadar lalu memuntahkan semua air yang masuk.
Pemuda itu berusaha bangun dan Ara pun membantunya agar dapat duduk. Ia duduk di depan Ara, sedang Ara sendiri masih memperhatikannya, memastikan jika keadaan pemuda itu baik-baik saja.
"Aku rasa aku terjatuh," jawab sang pemuda sambil memegangi kepala dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menjadi tumpuan tubuhnya yang baru saja tersadar.
Ara mengamati pemuda itu. Sekilas ada perasaan yang menggelitiknya. Ia tidak menyangka jika akan bertemu bule kesasar seperti ini.
"Sepertinya kau membutuhkan perawatan. Baiknya kau ikut denganku agar dapat segera diobati."
Ara berusaha menawarkan jasa kepadanya walau ia tahu dampak dari semua ini, pastilah ayah dan ibu akan memarahinya. Tapi sebagai manusia, rasa empati itu mendorongnya untuk menolong sang pemuda.
Pemuda itu tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan. Mungkin tubuhnya masih lemah dan Ara pun berusaha memakluminya. Segera saja Ara membantunya berdiri lalu memapahnya agar dapat berjalan.
__ADS_1
...
"Hah ... kalau ingat kejadian itu aku ingin tertawa sendiri jadinya."
Aku masih bisa merasakan suasana saat itu. Saat di mana pertama kali aku bertemu dengan Cloud. Dia benar-benar mencuri hatiku sejak pertemuan pertama. Tak pernah kubayangkan jika bisa sedekat ini dengannya. Tapi ... kini aku harus berpisah lagi.
Tuhan, jika kami berjodoh, tolong dekatkan kami.
Aku tidak tahu bagaimana akhir ceritaku nanti. Aku hanya berusaha menjalani kehidupan seperti biasanya. Aku mencoba bangkit dari rasa sedih yang menyelimuti. Aku tidak boleh terus-terusan terlarut dalam kesedihan. Toh, kini ada Zu yang menemani.
Mungkin Tuhan memberikan Zu untuk menjagaku. Dan aku juga berharap jika dia bersedia menjagaku.
"Nona, kau tidak mandi?"
Pangeran berkulit putih itu datang sambil menghanduki rambutnya. Dia mengenakan switer hitam panjang berbahan dasar wol yang tebal. Dia berdiri di depan pintu seraya menghadapku. Namun, aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku masih senang memperhatikannya.
"Nona?"
Zu sepertinya malu jika terus kuperhatikan. Ia lantas tertawa kecil sambil menunduk. Aku pun bisa menyadari perubahan roman di wajahnya itu.
"Pangeran, entah mengapa aku merasa kita pernah bertemu sebelumnya." Aku mulai bicara.
"Bertemu?" Dia lantas duduk di sampingku.
"Iya. Tapi aku tidak tahu di mana? Apa kau ingat?" tanyaku sambil terus memandanginya.
Dia tampak berpikir, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Aku merasa angin sore ini begitu membuat suasana semakin romantis. Hatiku tersentuh dengan sikapnya itu.
Ah, tidak. Aku tidak boleh tergoda dengan pangeran lain. Belum tentu dia bisa menerima kekuranganku seperti Cloud dan juga Rain.
__ADS_1
"Mungkin saja kita pernah bertemu. Karena ... aku juga merasa begitu." Zu akhirnya menjawab pertanyaanku.
Aku merasa suasana ini tidak terlalu asing. Tapi aku hanya bisa menduganya saja. Sampai detik ini aku merasa jika dia masih bisa menjaga sikapnya padaku. Entah jika kami sudah lama kenal, mungkin akan ada sesuatu yang kuketahui darinya.