
Aku mulai mengupas kulit pisang. Kulihat Cloud memperhatikanku.
"Kau mau?" tanyaku padanya.
Dia hanya menggelengkan kepala.
Setelah kulit pusingnya terkelupas hingga hampir semuanya, aku segera ingin melahap pisang ini. Tapi, pandangan Cloud sedikit aneh. Dia amat memperhatikan bagaimana cara aku memegang pisangnya.
Dia pasti berpikiran macam-macam.
Sifat jahilku seketika muncul. Akupun memperlambat gerakanku melahap pisang ini. Setelah menyentuh bibir, aku masukkan perlahan ke dalam mulut lalu mengemutnya. Cloud bereaksi seketika.
"Hh!"
Tidak puas sampai di situ, aku keluarkan pisang dari mulutku lalu memasukkannya kembali ke dalam mulut. Kuintip Cloud dari ujung ekor mataku, dia seperti merasa risih sendiri.
Dia menikmatinya.
Aku suka melihat ekspresi wajahnya itu. Dan kuulangi lagi kejahilanku. Mulutnya pun terbuka seakan mengikuti gerakanku ini.
"Akh!"
Cloud tiba-tiba berteriak saat aku mengigit pisangnya sampai terpotong menjadi dua. Dia seperti kesal sendiri. Aku dapat merasakan perubahan dalam emosinya itu.
"Enak sekali pisang ini."
Kuhabiskan satu, lalu mengambil pisang yang lain. Tapi, Cloud segera menahanku.
"Sudah, Ara!"
"Hah ...?"
"Jangan makan pisang lagi," pintanya.
"Tapi ini enak, Cloud."
"Ya, aku tahu. Tapi ...,"
"...?"
"Makan buah yang lain saja. Buah apel. Ya, buah apel." Cloud lalu mengambil buah apel dari keranjang.
"Cloud, aku tidak suka buah apel."
"Kau tidak suka?"
"Sejak kecil aku tidak pernah makan buah itu. Sehingga aku merasa asing."
"Tapi rasanya—"
"Tidak, ah. Aku ingin pisang saja."
Aku kembali mengambil buah pisang, tapi Cloud lagi-lagi menahannya. Kutepiskan tangannya lalu berusaha mengambil lagi, tapi Cloud menyingkirkan tanganku dari dalam keranjang.
"Tidak, Ara. Yang lain saja," katanya lagi.
"Hei, kau ini kenapa, sih?!" tanyaku pura-pura lugu.
"Ara, kataku jangan." Dia risih sendiri.
Hahahaha. Aku menang kali ini. Cloud tampak kesulitan mengungkapkan hal yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ya, sudah. Aku makan buah anggur saja."
Kuambil buah anggur dari dalam keranjang, lalu kupisahkan menjadi dua gandengan. Aku memakan gandengan pertama, dua biji buah anggur.
Lezatnya buah-buah surga ini.
Cloud kembali memperhatikanku. Kini gandengan ke dua kuambil. Kuangkat ke atas tepat di depan wajahku. Kudongakan kepala menghadap buahnya. Cloud tampak berkeringat.
Dia ini mudah bereaksi, ya. Untung saja bubuk perangsang itu belum sempat masuk ke dalam tubuhnya. Aku tidak dapat membayangkan jika hal itu sampai terjadi.
"Ara."
"Hm?"
"Apakah cara memakan buah anggur seperti itu?" tanyanya seraya menelan ludah.
"Maksudmu?"
"Bisa biasa saja tidak?" tanyanya lagi.
"Hah?"
Cloud tampak risih dengan caraku memakan buah anggur ini. Aku sendiri menahan tawa sedari tadi melihat ekspresi wajahnya itu. Dan karena sudah terlanjur, sekalian saja aku mengerjainya.
"Cloud ...."
Aku mulai mengangkat buah anggur itu ke atas mulutku, lalu kujulurkan lidah di pertengahan kedua buahnya. Kujilati buah anggurnya lalu kuemut bergantian.
"Akh, Ara! Hentikan!"
Cloud bereaksi cepat, dia segera pergi dari hadapanku. Dia masuk ke dalam rerimbunan pohon tin itu. Entah apa yang terjadi padanya, aku pura-pura lugu saja. Tapi karena dia tak kunjung kembali, aku pun segera menyusulnya.
"Cloud?"
"Hei, kau tak apa?" tanyaku yang khawatir.
Dia menoleh ke arahku. "Ara, kau sengaja memancingku."
"Hah? Aku tidak bermaksud—"
Belum sempat meneruskan ucapan, Cloud segera berbalik lalu menarikku. Dia menyandarkan tubuhku ke batang besar pohon ini. Dia lalu menciumku.
Cloud ....
Kedua tanganku diangkat ke atas olehnya. Dia mencumbuku dengan cumbuan yang menggebu. Hampir saja aku tidak dapat mengimbanginya.
"Cloud, beri aku napas."
Aku mencoba memalingkan wajah, tapi Cloud memburuku. Hingga akhirnya, tangan kanannya menuntunku agar memeluk tubuhnya. Akupun menurut.
Kulingkarkan tangan kiriku di pinggangnya, sedang tangan kananku perlahan memegang tengkuk lehernya. Cloud pun semakin menjadi-jadi. Rompi gaunku dijatuhkan olehnya. Dia lantas memegangi tengkuk leherku ini.
Napas kami memburu, detak jantung kami pun menggebu. Akhirnya setelah lama menanti, Cloud menciumku dengan segala perasaannya. Dia mencurahkan isi hatinya melalui ciuman ini.
Cloud ....
Semakin lama ciumannya semakin melembut. Perlahan, aku pun dapat menikmatinya.
Dia mengecup bibirku seraya menyusuri tengkuk leherku dengan jari-jemarinya. Aku merasa sangat geli. Ditambah lidahnya yang menari-nari saat bertemu dengan lidahku.
Aku tidak bisa terus seperti ini.
__ADS_1
Ciuman ini semakin lama semakin dalam. Dan tidak tahu kapan akan berakhir. Aku masih menikmati hasrat dan kasih sayangnya yang bersamaan. Seolah aku lupa dengan keberadaanku saat ini.
Angin pagi serasa mendinginkan hasrat kami yang kian menggebu. Hingga akhirnya rintik hujan mulai berjatuhan. Aku tersadar dari nikmat duniawi lalu segera melepaskan diri darinya.
"Cloud, hujan!"
Aku bergegas keluar dari rerimbunan pohon tin dan Cloud pun mengikuti. Aku mengambil keranjang makanan dan Cloud menggulung karpetnya. Hujan yang semakin lama semakin deras, membuat kami berteduh di dalam rerimbunan pohon ini. White pun tak lama datang menghampiri, dia ikut berteduh bersama kami.
"Sepertinya ini tanda musim semi akan segera tiba," kata Cloud yang terengah-engah.
Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Ciuman kami tadi terputus begitu saja.
"Benarkah?" tanyaku tak percaya.
"Hujan ini menandakan fase peralihan musim. Besok kau bisa melihat bunga-bunga pepohonan yang berjatuhan, Ara."
"Apa ada pohon sakura di sini?" tanyaku lagi.
"Kau ingin melihat pohon sakura?"
"Kalau ada, sih," gumamku.
"Baiklah, nanti kita pergi ke sana."
"Ke mana?"
"Ke negeri bunga."
"Eh??"
"Bulan madu, Ara." Cloud tersenyum sendiri.
"Ish, dasar!"
Lagi, aku mencubit lengannya. Aku tidak dapat menahan rasa bahagia ini. Aku merasa sangat senang sekali.
Dapat berduaan bersama Cloud itu sesuatu yang langka bagiku. Jarang sekali dia mempunyai waktu luang. Kuakui jika aku lebih sering bersama Rain dibandingkan Cloud. Sehingga aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini saat bersamanya.
Kami lalu duduk di bawah pohon. Menikmati makan siang bersama. Seperti biasa, aku menyuapinya. Namun kali ini, Cloud bergantian menyuapiku. Kami menghabiskan waktu di bukit pohon surga hingga sore hari tiba.
"Enak sekali makanannya. Habiskan, ya?" Aku menyuapi Cloud lagi.
Semoga setelah ini tidak ada lagi kejadian seperti kemarin. Cukup sekali aku difitnah dan merasakan sakitnya. Walaupun begitu, aku masih bersyukur karena bisa menyelamatkan Cloud dari jeratan putri itu. Tak bisa kubayangkan jika tidak ada Rain yang membantuku. Kepada siapa lagi aku harus mengadukan hal ini?
Tuhan, terima kasih. Engkau telah meneguhkan hati mereka untukku. Aku masih menantikan pilihan yang terbaik. Tapi jika boleh, aku ingin keduanya.
Sambil bercanda dengan Cloud, diam-diam aku berdoa di dalam hati. Meminta keduanya untukku. Karena merasa jika kami itu saling melengkapi. Tak apa aku lelah mengurus keduanya, asal bahagia selalu tercipta. Bukankah bahagia itu obat dari segalanya?
...
Kaulah udara yang aku hirup.
Gadis, kau adalah semua yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah semua yang kubutuhkan.
Kau adalah lagu yang aku nyanyikan
__ADS_1
Dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?
Dan aku ingin berterima kasih, Nona...