
Selepas makan siang...
Aku dan Rain berjalan bersama menuju lantai tiga istana, berniat menemui raja dan menjenguk ratu yang sedang sakit. Mengenakan gaun pink berdasar jatuh, sebatas mata kaki dan juga berlengan panjang. Seperti biasa, Rain memintaku untuk tidak mengenakan gaun yang terbuka.
Kami bergandengan tangan sejak keluar dari halaman rumahnya. Dan kini melewati pintu masuk belakang istana lalu menaiki anak tangga, menuju lantai dua istana. Aku sangat berharap tidak bertemu dengan Cloud saat ini, khawatir akan terjadi keributan di antara mereka.
Rain berjalan di sisi kananku dengan tangan kirinya yang sedari tadi memegang tangan kananku. Para pelayan yang berpapasan pun memberikan salam kepada kami. Dan aku membalas sapaan mereka seraya tersenyum. Sebisa mungkin kutebarkan senyuman di istana agar suasana kekeluargaan benar-benar terasa. Sedang Rain, seperti biasa dia tidak tersenyum sama sekali. Dia terus saja berjalan tegap dan menatap lurus ke depan.
Dia sangat berbeda saat bersamaku...
Sesampainya di lantai dua, kami segera menaiki anak tangga menuju lantai tiga istana. Dan aku juga masih berharap tidak bertemu dengan Cloud. Aku khawatir jika dia melihat kami bergandengan tangan seperti ini. Aku belum siap untuk mengutarakan pilihanku padanya.
Lelah juga, ya ....
Akhirnya kami sampai juga di lantai tiga istana setelah menaiki banyak anak tangga. Dan tidak berapa lama kemudian, kami tiba di ruangan raja. Rain pun mengetuk pintu ruangan ayahnya.
"Rain?"
Raja sepertinya terkejut dengan kedatangan kami. Dia segera berdiri dari duduknya, dan aku pun segera memberikan salam.
"Salam bahagia, Yang Mulia." Aku menyapa raja untuk yang pertama kalinya, setelah pergi dari istana.
"Nona Ara, senang bisa bertemu kembali denganmu." Raja melihat ke arahku dan aku pun tersenyum.
"Ayah, ada yang ingin kami bicarakan." Rain segera memulai pembicaraan.
"Hm, baiklah. Silakan duduk."
Raja kemudian meminta kami untuk duduk di kursi tamu ruangannya. Aku pun segera duduk di sofa panjang bersama Rain, sedang raja duduk di samping putranya. Suasana kali ini sedikit berbeda, yang mana seperti sudah menjadi istri dari si pangeran mesum ini.
"Rain, kau benar-benar nekat. Ayah tidak tahu harus bagaimana lagi kepadamu." Raja memulai perkataannya.
"Maafkan aku, Yah. Aku tidak punya jalan lain." Rain mengakui.
"Ya, ayah mengerti. Mungkin memang ini jalan yang sudah ditakdirkan." Raja pun menerima pengakuan Rain, dia tidak marah. "Nona, bagaimana keadaanmu? Kenapa kau bisa pergi begitu saja dari istana?" Raja kemudian beralih padaku.
Sejujurnya aku tidak ingin menceritakan hal ini kepada raja. Tapi sepertinya, raja dan juga Rain ingin mengetahui hal yang sebenarnya dariku. Aku jadi bingung, aku takut akan menimbulkan masalah baru jika menceritakan mengapa bisa sampai hilang dari istana.
"Maaf, Yang Mulia. Aku merasa tidak enak jika harus menceritakan yang sesungguhnya." Aku khawatir.
"Ceritakanlah, Nona. Sebagai raja negeri ini aku harus mengetahui permasalahan yang ada." Raja membujukku.
Aku menoleh ke arah Rain dan Rain pun mengangguk, seolah dia memintaku untuk menceritakan hal yang sebenarnya. Dan dengan berat hati, aku menceritakan kejadian malam itu kepada raja dan juga Rain. Sontak keduanya terkejut bukan main. Dan raja segera memanggil mantan asistenku itu.
Beberapa menit kemudian...
__ADS_1
Mantan asistenku yang merupakan seorang pasukan khusus istana, diseret paksa oleh beberapa pasukan khusus lainnya. Kedua tangannya diborgol ke belakang dengan kaki yang diikat. Sungguh kasihan melihat keadaannya saat ini.
Dia masuk ke dalam ruangan dengan didorong hingga jatuh tersungkur. Rain pun mulai mengeluarkan pedangnya, dia tampak di ujung kesabaran.
"Cepat katakan apa maksudmu mengurung Ara di ruang bawah tanah?!!" Rain mendekatkan pedangnya ke depan wajah mantan asistenku.
"Rain, tolong jangan terbawa emosi." Aku mencoba menenangkannya.
"Ara, dia telah mengurungmu dan kau ingin aku diam saja?!" Rain berapi-api.
Sejujurnya aku hanya menceritakan kejadian sebelum dibawa Zu keluar dari istana. Aku tidak menceritakan apa yang dilihat Zu mengenai rencana ratu kepadaku. Tapi, seperti ini saja sudah membuat Rain geram bukan main.
Ya Tuhan, bagaimana ini?
Kulihat raja menghisap cerutunya. Dia masih diam dan membiarkan Rain yang menangani hal ini. Sedang pasukan khusus yang lainnya, menonton bagaimana mantan asistenku diadili.
"Ampuni saya, Pangeran. Saya hanya menjalankan perintah." Mantan asistenku memohon.
"Menjalankan perintah? Perintah apa maksudmu?!" tanya Rain lagi dengan kasarnya.
Kulihat mantan asistenku ini sudah babak belur dan tak berdaya, terlihat banyak memar di wajahnya. Aku jadi amat kasihan, hatiku miris melihatnya.
"Sa-saya ... saya hanya disuruh ratu, Pangeran."
"Apa?!!"
"Apa maksudmu mengatakan jika istriku yang menyuruhmu?" Raja bertanya kepada mantan asistenku.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak punya pilihan lain selain menuruti ratu." Mantan asistenku seperti menyesalinya.
"Apa yang dia pinta padamu?" tanya raja lagi.
Mantan asistenku pun menjawabnya dengan ragu. "Cepat katakan!!!" Rain mendekatkan ujung pedangnya ke jantung mantan asistenku.
"Rain, tolong jangan seperti ini." Rasanya aku ingin menangis saja berada di situasi seperti ini.
"Sa-saya ... saya diminta ratu untuk membuang Nona Ara ke pedalaman hutan."
"Apa?!!" Baik Rain dan raja terkejut.
"Setelahnya, saya diminta oleh ratu untuk menghilangkan ingatan Nona Ara agar tidak kembali ke istana."
Bagai petir menyambar di siang hari. Pedang Rain pun jatuh, sesaat setelah mendengar pengakuan mantan asistenku. Dia benar-benar tidak percaya akan mendengar hal ini.
"Rain ...." Aku mencoba menenangkannya.
__ADS_1
Sang raja pun terdiam seribu bahasa. Dia seperti kehilangan kata-kata. Kabar ini tentunya menjadi pukulan telak bagi raja. Kulihat raja kembali duduk di kursi kerjanya. Para pasukan khusus yang lainnya pun saling melirik satu sama lain.
"Kau tidak berbohong?" Raja bertanya kepada mantan asistenku.
"Tidak, Yang Mulia. Saya hanya mengatakan hal yang sebenarnya," tutur mantan asistenku.
"Kau tahu apa risiko jika berbohong?" tanya raja lagi.
"Saya tahu, Yang Mulia," jawab mantan asistenku.
Keadaan terasa hening setelah mantan asistenku menjawabnya. Kulihat raja memijat dahinya sendiri. Sedang Rain, dia terduduk lemas di kursi tamu. Dan kini terjawablah sudah, penyebab mengapa aku bisa sampai hilang dari istana.
"Pengawal, bawa dia ke ruang bawah tanah."
Raja meminta pasukan khusus lainnya untuk membawa mantan asistenku ke ruang bawah tanah.
"Yang Mulia, maafkan saya, Yang Mulia. Saya hanya menjalankan perintah ratu. Saya tidak melakukan semuanya. Saya hanya mengurung Nona, tidak sampai membuatnya hilang ingatan. Tolong beri saya keringanan, Yang Mulia!"
Mantan asistenku diseret paksa oleh pasukan khusus lainnya. Dia terlihat ketakutan.
"Nona Ara, tolong saya! Maafkan saya!"
Sebelum dia benar-benar dibawa pergi dari ruangan ini, dia meminta tolong kepadaku. Rasanya hatiku amat sedih melihat keadaannya.
"Yang Mulia, tolong maafkan dirinya. Apa yang dikatakan olehnya memang benar. Dia hanya mengurungku, tidak sampai membuatku hilang ingatan." Aku memohon kepada raja.
Raja hanya diam, tidak menjawab apapun. Dia lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arahku.
"Nona Ara ...."
"Yang Mulia?!!"
"Ayah!"
Seketika aku terkejut saat raja berlutut di depanku. Begitu juga dengan Rain, dia langsung bangun saat melihat ayahnya berlutut.
"Yang Mulia, tolong jangan seperti ini. Tolong bangun." Aku meminta raja untuk berdiri. "Rain, tolong aku." Aku meminta Rain untuk mengangkat tubuh ayahnya agar tidak lagi berlutut.
"Ayah, kenapa seperti ini?" Rain lalu membangunkan ayahnya.
Kulihat raja begitu terpukul atas kabar ini. Dia lalu direbahkan di sofa panjang oleh Rain, dan aku pun segera meminta pelayan untuk membawakan teh hangat. Dan tanpa menunggu lama, teh pesananku pun datang. Aku segera membantu raja untuk meminumnya.
"Yang Mulia, tolong minumlah."
Aku tidak tahu mengapa raja sampai bersikap seperti ini padaku. Aku masih membantu mengipasinya, sedang Rain mengurut kedua kaki ayahnya. Aku rasa raja malu padaku karena ulah istrinya itu. Sejujurnya aku pun sakit hati saat mendengar langsung cerita ini dari mantan asistenku. Tapi, ya sudahlah. Semua sudah berlalu.
__ADS_1