
Angin berembus begitu lembut, menyapu helaian rambut sang pangeran yang sedikit panjang. Awan putih pun terlihat berarak di langit, menemani kesendiriannya di atas bukit.
Kini hatinya berkecamuk karena memikirkan keadaan sang gadis. Tapi, Cloud masih berusaha sekeras mungkin untuk meredam kesedihannya itu. Berusaha menggunakan logikanya sebagai pria dalam menghadapi masalah ini.
"White, menurutmu sedang apakah dia sekarang?" tanya Cloud kepada kudanya.
"Aku berharap dia baik-baik saja. Aku tidak ingin berpikiran buruk tentangnya. Aku yakin Tuhan akan menjaganya untukku." Cloud tertunduk.
"Hah ...."
Ia lantas membaringkan tubuhnya di atas rerumputan. Sedang kudanya masih duduk di sampingnya, menemani Cloud yang tengah merasa kehilangan. Sang tuan lantas mengingat kembali awal pertemuannya dengan sang gadis.
"Waktu itu kau masih terlihat biasa-biasa saja, Ara." Cloud bergumam sendiri.
"Kau tahu, aku sangat terkejut saat melihatmu berada di istana. Kau bagai seorang dewi dari khayangan yang Tuhan utus untukku." Lagi-lagi Cloud bergumam sendiri.
Cloud mengenang bagaimana ia menghindari perasaannya sendiri waktu itu. Semua kenangan terlintas jelas di benaknya.
Ara ....
Ia mencoba meraih awan dengan tangannya, berusaha menggenggam awan putih yang ada di langit. Namun, hanya angannya saja yang mampu menggapai awan itu.
"Ara ...."
Tanpa sadar Cloud meneteskan air matanya kembali. Air matanya jatuh membasahi rerumputan bukit. White juga terlihat menjulurkan kepalanya ke depan, seolah ikut bersedih karena takdir yang diterima tuannya.
...
"Ara."
"Hm?"
"Kau ingin punya anak berapa?" tanya Cloud yang sedang bermanjaan dengan Ara. Ia merebahkan kepalanya di pangkuan sang gadis.
"Satu saja," jawab Ara cepat.
"Kenapa satu? Aku ingin lima," sahut Cloud segera.
"Hei! Kau ingin membunuhku, ya!" Gadis itu tampak kesal.
"Apa yang kau takutkan, Ara? Aku akan selalu berada di sisimu saat kau mengandung nanti." Cloud meyakinkan.
"Bukan itu masalahnya. Kau tahu bagaimana rasanya melahirkan itu?" tanya Ara seraya memasang wajah kesalnya.
Cloud menggelengkan kepala. Ia tentu saja tidak tahu bagaimana rasanya melahirkan.
"Tu, kan. Dasar pria!" Ara lalu ngambek di depan Cloud.
Melihat Ara yang ngambek, sontak membuat Cloud merasa gemas kepada gadisnya. Ia lantas bangun lalu meraih tubuh sang gadis. Ia rebahkan tubuh Ara di atas rerumputan, dengan tangan kanannya sebagai alas kepala sang gadis.
__ADS_1
"Cloud!"
Ara kaget. Ia tidak punya persiapan dengan hal yang Cloud lakukan. Rerintikan hujan menjadi saksi keduanya yang bersembunyi di dalam rerimbunan pohon tin ini.
"Ara, kau ingat saat pertama kali kita sampai di sini?" tanya Cloud seraya menatap Ara.
"Tentu aku ingat. Itu pertama kalinya aku berpelukan dengan seorang pria," jawab Ara dengan polosnya.
Cloud terkejut mendengar pengakuan sang gadis. Ia merasa sangat spesial karena menjadi pria pertama bagi Ara.
"Ara, kau tahu jika aku semakin menyayangimu?" tanya Cloud lagi.
"Aku tahu." Ara tersenyum.
"Tapi mengapa kau menuduhku macam-macam waktu itu?" tanya Cloud kembali.
"Eh ...?" Ara tampak bingung.
"Waktu kita baru sampai dan kau berada di atas tubuhku," kata Cloud kemudian.
"Astaga, aku kira yang mana. Ya, jelas saja aku berpikiran macam-macam karena itu pertama kalinya bagiku. Begitu juga dengan posisimu yang sekarang ini." Ara melanjutkan.
"Kau keberatan?" tanya Cloud lembut.
"Cloud, kau berada di atas tubuhku. Wajah kita pun terlalu dekat. Bagaimana bisa aku tidak berpikiran macam-macam padamu?" lanjut sang gadis.
"Kalau begitu aku akan memintanya."
"Ya, aku akan memintanya padamu. Kau mau, kan?" tanya Cloud lagi.
"Cloud, ini di luar. Nanti ada yang lihat." Ara menolaknya dengan halus.
"Apa itu berarti jika di istana kita boleh melakukannya?" Cloud menaikkan satu alisnya.
"Ish, kau ini. Bangunlah! Tubuhku aneh dengan jarak yang sedekat ini." Ara menuturkan.
"Tidak, aku tidak akan bangun. Karena aku ... menginginkannya."
"Cloud ...."
"Kumohon, Ara. Izinkan aku melakukannya." Sang pangeran memohon kepada gadis itu.
"Cloud, aku takut terjadi sesuatu. Nanti aku bisa hamil." Ara mencoba menerangkan.
"Jika itu terjadi, aku akan bertanggung jawab. Kau percayalah padaku." Cloud lantas meyakinkan.
Ara merasa lemah. Sang pangeran seolah memberikan titah kepadanya.
"Mau, ya?" tanya Cloud lagi.
__ADS_1
Ara menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan membuatmu menginginkannya juga."
"Cloud, jangan!"
Cloud lantas menggenggam erat tangan kanan sang gadis dengan tangan kirinya. Ia mencumbu Ara hingga Ara pun menyerah kepadanya. Cloud melakukannya dengan sepenuh hati dan kelembutan. Ara pun menjadi pasrah dibuatnya.
...
Putra mahkota itu tampak tersenyum saat mengingat kenangan indah bersama sang gadis. Ia lalu mengambil kalung pemberian dari Ara lalu menciumnya. Ia masih bisa merasakan kehadiran Ara yang begitu dicintainya. Kini biarlah alam bawah sadar yang menyatukan keduanya.
Sementara itu di lain tempat...
Zu menyediakan sarapan pagi untuk Ara. Ia sendiri yang memasaknya. Terlihat Ara yang sudah bosan menunggu karena sarapan belum juga tersedia. Ia lantas memakan cemilan yang ada di atas meja makan.
Dia lama sekali memasaknya. Aku sudah lapar.
Sang gadis menggerutu dalam hati. Tak sabar ingin menyantap sarapan pagi karena perutnya sudah keroncongan. Ara lalu mendekati Zu untuk membantunya.
"Pangeran, biar kubantu."
Ara mengambil alih pekerjaan Zu, Zu pun memberikannya. Ia perhatikan sang gadis yang begitu cepat memasak. Ara terlihat lihai meracik berbagai macam bahan untuk membuat nasi goreng.
"Kau seperti seorang koki yang handal, Nona." Zu memuji Ara.
"Benarkah?" tanya Ara seraya menoleh ke arah Zu.
"Aku tak percaya menemukan seorang gadis yang sempurna sepertimu," tutur Zu lagi.
"Kau terlalu memujiku, Pangeran." Ara merendah.
"Tidak-tidak. Kau serba bisa dan aku harus mengakuinya." Zu pun meneruskan.
"Baiklah kalau begitu. Apa upah untukku yang serba bisa ini?" Ara menadahkan tangannya di hadapan Zu.
Sontak Zu terdiam seribu bahasa saat sang gadis menadahkan tangannya. Entah mengapa yang terlintas di benak Zu adalah Ara meminta jatah bulanan dari gajinya. Zu merasa sudah berumah tangga bersama sang gadis.
"Pangeran?"
Ara lantas menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Zu, mencoba menyadarkan sang pangeran. Zu lantas menyadarinya.
"Em, maaf. Aku ... aku sepertinya menunggu di meja makan saja."
Zu bergegas pergi dari hadapan Ara. Ara pun tampak bingung dengan sikap Zu yang berubah tiba-tiba.
Dia kenapa, ya?
Ara melihat Zu duduk di depan meja makan seraya menunduk. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran sang pangeran saat ini. Ia kemudian meneruskan pekerjaannya, membuat sarapan pagi. Tak lama, nasi goreng pun sudah siap tersaji. Ara kemudian membawanya ke meja makan.
__ADS_1
"Baiklah, selamat makan."
Ara menuangkan nasi goreng itu ke atas piring Zu dan juga piringnya. Melihat hal itu jantung Zu berdebar kencang. Ia seperti merasa jika Ara sudah menjadi istrinya.