
"Baiklah. Besok kita mulai persiapkan acara doa bersama. Acaranya lusa malam kita adakan." Raja kemudian berjalan mendekatiku.
"Ayah, apakah tidak terlalu cepat?" Cloud tampak keberatan.
"Tidak, Cloud. Rain bisa mengerahkan prajurit barunya untuk membantu terselenggaranya acara doa bersama ini. Bukan begitu, Rain?" Raja bertanya kembali kepada Rain.
"Baik, Yah. Aku akan mengkoordinirnya."
"Bagus. Berarti tinggal Nona Ara mempersiapkan diri untuk acara pertunjukan busana nanti. Semoga semua berjalan lancar." Raja kemudian merangkulku di hadapan kedua putranya.
Aku bingung haruskah melepaskan diri atau tidak. Tapi sepertinya raja sudah menganggap dirinya sebagai ayah mertuaku.
"Segeralah beristirahat. Besok kita mulai bekerja."
Tak lama, raja melepaskan rangkulannya. Tampak Rain dan Cloud saling melirik atas sikap ayahnya itu. Keduanya lalu berpamitan. Aku sendiri ikut undur diri dari hadapan paduka raja.
"Nona Ara, tunggu."
Raja memintaku untuk menunggu sebentar. "Nona, jika ada yang ingin kau bicarakan, maka bicarakanlah. Setelah semua acara ini selesai, aku harap bisa menyebutmu dengan kata Nak bukan Nona lagi."
Raja Sky ....
Ini jelas sebuah tanda untukku. Raja ingin segera menikahkan putranya denganku.
"Baik, Yang Mulia. Kalau begitu, saya permisi."
Akupun undur diri dari hadapan raja. Keluar dari ruangannya dengan degup jantung yang berdetak kencang. Sepertinya pernikahanku akan segera dilangsungkan.
Ya Tuhan, apakah ini benar terjadi?
Aku merasa senang sekaligus khawatir. Aku khawatir jika diminta untuk memilih salah satu dari keduanya. Jujur aku masih bingung.
Semoga saja aku bisa memiliki keduanya.
Aku mencoba menghibur hatiku sendiri seraya tersenyum, berjalan keluar dari ruangan sang raja. Tapi ternyata, kedua putra mahkota itu menungguku tak jauh dari pintu masuk ruangan.
"Cloud? Rain?" Akupun segera mendekati keduanya.
"Ara." Keduanya dengan sigap mendekatiku.
"Hei, Rain! Jangan menghalangi jalanku!" Cloud tampak kelabakan saat sang adik berjalan duluan.
"Kau sendiri mengikutiku!" gerutu Rain.
"Kau ini!"
"Hei, sudah-sudah!" Aku segera memisahkan mereka. "Hari sudah malam. Bisa tidak bertengkar?" tanyaku kepada keduanya.
"Ara, aku tak habis pikir dengan Kak Cloud. Dia selalu saja ingin menyusulku."
"Hei, kau yang seharusnya berjalan di belakangku!" Cloud membantah.
"Sudah-sudah!" Aku pusing melihat keduanya beradu mulut. "Sekarang aku akan mengantarkan kalian beristirahat. Besok kalian akan bekerja keras untuk acara doa bersama."
Kugandeng keduanya di sisi kiri dan kananku agar tidak terjadi keributan lagi. Sebisa mungkin aku berlaku adil jika sedang bersama keduanya. Aku tidak ingin karena kehadiranku membuat kakak-beradik ini bertengkar. Apalagi jika sampai berseteru dan bermusuhan. Tak apa aku lelah, asal tidak terjadi perang dunia.
__ADS_1
Kamipun berjalan menyusuri koridor ruangan di lantai tiga istana ini. Setelah menuruni anak tangga, aku mengantarkan Cloud terlebih dahulu ke ruangannya. Barulah mengantarkan Rain ke kediamannya yang ada di barat istana.
"Ara, jaga dirimu. Kau harus berhati-hati dengannya." Cloud berpesan padaku sebelum aku meninggalkannya, di depan pintu ruang kerjanya ini.
"Cih!" Kudengar Rain berdecih saat Cloud berkata seperti itu padaku.
Entah mengapa aku merasa aura persaingan ini semakin berkobar saja.
"Baiklah, aku permisi, Cloud."
Cloud pun mengangguk. Dia seperti ingin menciumku.
"Hei! Singkirkan wajahmu itu dari Araku!" Rain pun segera memasang badan di depanku.
"Rain?"
"Biarkan saja, Ara. Jika dia ingin menciummu, biarkan aku saja yang menggantikannya." Rain membuatku terperanjat.
Apa-apaan sih dia? Aku jadi geli sendiri.
"Ya sudah ya, Cloud. Sampai nanti." Aku segera menarik Rain dari hadapan Cloud.
Aku tak tahu apa yang ada di pikiran kedua putra mahkota ini. Sesaat aku melihat ke belakang, kulihat Cloud masih melihatku. Dia tersenyum manis sekali. Bersamaan dengan itu, Rain mengalihkan pandanganku agar fokus hanya berjalan ke depan saja.
Hah, mereka ini ....
Akhirnya, aku mengantarkan Rain ke kediamannya. Aku memintanya untuk segera beristirahat. Tapi sebelum aku beranjak pergi, Rain berbisik kepadaku. Bisikan yang membuatku tersipu.
"Ara, kau seperti bidadari yang turun dari khayangan. Kau sangat cantik dengan gaun-gaun dariku ini."
"Maaf, aku hanya bisa memberimu empat gaun karena ayah membatasiku."
"Membatasi?"
"Iya. Ayah meminta kami untuk memberimu gaun yang baru, sesuai dengan selera kami. Namun, hanya empat gaun yang boleh kami berikan," ungkapnya.
"Berarti?"
"Kak Cloud juga akan memberimu gaun. Mungkin besok atau lusa. Tapi aku yakin jika gaunku lebih bagus dari punyanya."
Rain mengepalkan tangannya. Dia seperti tidak ingin kalah bersaing dengan kakaknya itu. Aku sendiri menahan tawa mendengar hal ini.
Jadi raja meminta kedua putranya untuk memberiku gaun? Apakah raja ingin melihat siapa putranya yang lebih baik untukku? Hah, entahlah. Ini masih menjadi misteri.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang beristirahatlah, Sayang."
Aku mengecup pipi kiri Rain lalu membalikkan badan dan segera beranjak pergi. Hari sudah larut, tak baik jika berlama-lama di kediaman orang.
"Ara, hati-hati!" Rain pun berpesan kepadaku.
"Sampai nanti."
Aku melambaikan tangan ke arahnya, menutup malam yang lelah ini. Ya, jujur saja rapat dadakan tadi membuatku lelah. Cukup lama kami berada di ruangan rapat, mungkin ada sekitar tiga jam. Dan kini saatnya untuk beristirahat.
Esok harinya...
__ADS_1
Aku terbangun seperti biasa dan segera berbenah diri. Kudengar suara burung bersiul di pagi yang indah. Pagi ini cuaca tampak mendung, sepertinya sang mentari sedang bersembunyi dari penglihatanku.
"Gaun berwarna krim?"
Seusai mandi, aku melihat ada dua gaun yang belum kupakai. Ada yang berwarna krim dan juga ungu muda. Tapi sepertinya aku mengenakan gaun yang berwarna krim saja untuk hari ini.
"Semua gaunnya panjang dan tertutup."
Tak lama, kudengar Mbok Asri mengetuk pintu. Aku pun segera membukakan pintu untuknya.
"Selamat pagi, Nona. Salam bahagia untuk calon ratu kerajaan Angkasa," katanya yang membuatku tersipu.
"Mbok, apa-apaan, sih?" Aku jadi malu sendiri.
Mbok tertawa, dia seperti sedang bahagia sekali. "Maaf, Non. Saya datang membawakan gaun dari pangeran Cloud."
Mbok lalu membawa gaun-gaun itu ke kamar ganti. "Saya langsung masukkan ke dalam lemari saja ya, Non."
"Iya, Mbok. Tak apa."
"Hari ini apakah ada pekerjaan untuk saya, Nona?" tanyanya setelah memasukkan semua gaunku ke dalam lemari.
"Em, rencana aku ingin pergi ke gedung konveksi istana. Apakah Mbok bisa menemani?" tanyaku.
"Bisa, Non. Tapi mungkin tidak lama. Ada pekerjaan yang harus saya lakukan nanti."
"Pekerjaan?"
"Iya, Non. Hari ini para pelayan diminta menyiapkan masakan untuk acara doa bersama. Sehingga kami akan memasak dalam jumlah yang besar."
"Oh, begitu. Kalau begitu aku pergi sendiri saja, Mbok."
"Tapi, Non—"
"Tak apa, Mbok. Aku mengerti. Acaranya memang besok malam," kataku seraya tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, Non. Maafkan saya."
"Tak apa, Mbok. Demi negeri ini kita harus merelakan waktu dan tenaga. Tetap semangat ya, Mbok. Selamat memasak!" kataku menyemangati.
Mbok Asri terdiam. Kulihat genangan air mata mulai muncul di kedua matanya yang menua. Mbok pun segera memelukku.
"Mbok?"
"Nona, Nona begitu baik sekali. Tidak seperti kebanyakan calon ratu pada umumnya. Saya merasa beruntung diberi kepercayaan untuk mendampingi Nona. Semoga Tuhan memilihkan yang terbaik untuk masa depan Nona."
Mendengarnya aku begitu terharu. Kuusap punggung Mbok Asri lalu melepaskan pelukannya.
"Terima kasih atas doanya, Mbok. Aku akan segera berangkat."
"Baik, Non. Kalau begitu saya permisi."
Mbok pun bergegas pergi. Sepertinya hari ini istana begitu disibukkan. Mungkin Rain dan Cloud juga sedang bekerja keras untuk terselenggaranya acara doa bersama.
"Baiklah, aku pergi sendiri saja."
__ADS_1
Aku segera merapikan diri, mengenakan tiara dari raja dan berdandan seminimalis mungkin. Tak lupa kusemprotkan parfum favoritku. Hiasan kalung dari Rain dan cincin dari Cloud juga masih menyertai ke mana kupergi. Aku tidak akan pernah melepaskan pemberian dari keduanya. Karena aku mencintai mereka, pangeran-pangeranku.