
Kurasakan sesuatu lembut menyentuh bibirku. Sapuan-sapuan lembut itu membuatku merinding seperti tersengat aliran listrik. Rain mencium lembut bibirku ini. Tangan kanannya memegangi tangan kiriku, sedang tangan kirinya menjadi alas kepalaku. Aku pun menerima ciuman ini. Perlahan tangan kananku melingkar di lehernya.
"Ara ...."
Rain memejamkan kedua matanya, menikmati ciuman rindu ini. Aku pun menikmati aliran listrik yang tersambung di dalam tubuhku. Hingga akhirnya, kami terbawa suasana.
"Rain." Aku memintanya untuk membangunkanku.
Rain menarik tubuhku. Kini aku duduk di atas pangkuan dan menghadapnya. Aku mencoba untuk menyalurkan rasa rinduku ini. Kucium mesra bibir manisnya itu dan diapun memejamkan kedua matanya.
Semilir angin berembus menemani hasrat kami yang sedang tersalurkan. Rain memegang tengkuk leherku dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya meremas pinggulku ini. Aku mencoba untuk menciuminya, mencium bibirnya dengan jari tangan kananku yang menari-nari di tengkuk lehernya. Rain tampak begitu menikmati momen ini.
Napasnya terdengar begitu berat. Dia mengajakku untuk semakin tenggelam dalam gejolak cinta ini. Rain mengajakku beradu lidah, memainkannya sambil menikmati udara yang kami hirup. Akupun mulai membuka jubah merahnya. Rain tampak diam saja, dia tidak melakukan perlawanan sama sekali.
"Ara ...."
Aku lalu menyusuri lehernya dengan bibirku ini. Sesekali mengembuskan napas di telinga kirinya lalu menggigitnya pelan. Rain pun tampak menggigit bibirnya sendiri.
"Ara ... sudah ...." Suaranya terdengar melayang.
Kali ini aku begitu berani, hingga kancing jubahnya itu sudah terbuka tiga olehku. Rain kemudian menahan diriku.
"Ara ...."
Napasnya terdengar begitu berat. Detak jantungnya pun berpacu dengan cepat. Kurasakan jika Rain memasuki fase di mana dopamin itu sedang bekerja di otaknya, sehingga membuatnya sangat rileks. Dia kemudian memegang kedua tanganku.
"Rain?"
Aku bingung karena dia tidak ingin aku meneruskannya. Rain membuka kedua matanya lalu menatapku erat.
"Ara, aku menginginkannya. Aku ingin," katanya sambil memegangi kedua tanganku.
"Sungguh?" tanyaku memastikan.
Rain mengangguk. "Iya, aku ingin. Bisakah kita melakukannya?" Rain seperti memohon.
"Di sini?"
Rain menggelengkan kepala. "Di kamarku nanti."
Aku pura-pura berpikir.
"Ara, aku serius!" katanya lagi.
"Em, gimana ya ...?" Aku melaganya.
"Araaaaa!" Rain tampak kesal. Dia lalu menarik tubuhku untuk lebih dekat dengannya. "Kau rasakan itu?" Dia menekan pinggulku.
"Ah! Rain, ini?!"
"Bagaimana?"
"Ish, dasar genit! Lepaskan aku!" kataku yang mencoba untuk lepas dari pangkuannya.
"Tidak bisa, Ara. Sudah bangun," katanya lagi.
Sontak saja aku tertawa mendengar hal itu. Tawaku ini sepertinya membuat Rain bingung. Di sela-sela itu, aku segera beranjak dari pangkuannya kemudian duduk di pinggir dipan.
__ADS_1
"Rain-rain."
"Ara, kau membuatnya lemas lagi." Rain mendekatiku.
"Biar saja. Habisnya tidak tahu tempat, sih," ejekku.
"E-eh??" Dia tampak bingung.
"Hei, kau tidak tahu kita sedang berada di mana? Kau menciumku saja tadi." Aku lagi-lagi tertawa.
"Ya, itu karena ...,"
"Karena apa?"
"Karena kau begitu menggairahkan. Apalagi saat turun dari kuda tadi."
"Oh, maksudmu ini?"
Aku menunjukkan ketiakku kepadanya. Sontak saja Rain langsung menyerangku.
"Rain, jangan!"
Dia menarik tubuhku lalu menimpanya. Kini kepalaku berada di pinggir dipan gubuk ini. Rain lalu menyusuri ketiakku dengan bibirnya itu.
"Ah!"
Aku merasa geli saat rambut-rambut halusnya menyentuh ketiakku, aku menggigit bibirku sendiri. Kini tubuhku dikunci olehnya dan tidak dapat bergerak sama sekali. Kedua tanganku pun diangkat ke atas olehnya.
"Rain ...."
Aku merasa cemas dengan diriku. Kutatap dirinya yang tengah tersenyum penuh kemenangan.
"Ja-jangan, Rain ...."
Aku mencoba bernegosiasi dengannya. Namun, Rain tidak memedulikan hal itu. Dia lalu menghujami tubuhku dengan ciumannya.
"Rain ... ah!"
Tak ada yang bisa kulakukan selain menikmati setiap cumbuan dari bibir manisnya. Rain membuat sekujur tubuhku merinding. Dia melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya.
"Rain ... jangan, ah!"
"Ara ...."
Tak lama, aku merasakan aneh di sekujur tubuhku. Tubuhku menegang lalu bergetar kecil. Rasanya tidak dapat kuungkapkan, mungkin seperti melayang di udara. Rain juga tampak merasakan hal yang sama.
"Rain ... ini gila," kataku lemas seraya mengatur ulang napas.
"Hah, hah. Biarkan saja," jawabnya yang terengah-engah.
"Kita pulang ke istana sekarang," ajakku.
"Tidak. Kita mandi dulu di sini," sahutnya.
"Rain, kau kelelahan."
"Kau pasti akan meninggalkanku jika sudah sampai di istana," katanya lagi.
__ADS_1
"Tidak. Aku akan menemanimu hari ini," sahutku.
"Benarkah?"
"He-em."
Rain menarik tubuhku. Dia tampak senang sekali.
"Baiklah. Kita pulang ke istana," katanya lalu membantuku turun dari atas dipan.
"Tapi aku lemas jika harus berjalan sampai ke depan," kataku seraya merapikan rambut dan gaunku ini.
"Tenang saja."
Rain kemudian bersiul kencang sekali. Tak lama, kuda hitamnya itu datang menghampiri.
"Silakan naik, Istriku," ucapnya yang sontak membuatku tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Sayangku," balasku lalu mulai menaiki kudanya.
Kami memutuskan untuk kembali ke istana setelah mengalami hal tak terduga tadi. Sepertinya, ini saat yang tepat untuk menunjukkan siapa diriku sebenarnya. Tanpa rasa canggung, tanpa harus sungkan. Akan kutunjukkan siapa Ara sebenarnya.
Dia ini tidak kenal tempat dan waktu. Dasar mesum! gerutuku dalam hati.
Sementara itu di istana...
Cloud tampak mencari keberadaan Ara. Ia telah mencari Ara di gazebo istana, namun tidak juga ditemukan. Ia lalu berjalan menuju kamar pemilik hatinya. Namun, saat ia mengetuk pintu, tak ada jawaban sama sekali dari dalam. Cloud lalu membuka pintu kamar sang gadis.
"Ara?"
Ia mencarinya hingga membuka pintu kamar mandi. Namun, sang gadis belum juga ia temukan.
"Ke mana dia?"
Cloud tampak khawatir dengan keberadaan Ara. Ia lalu menanyakan gadis itu kepada para pengawal yang berjaga. Pengawal itu pun memberikan jawaban yang kurang memuaskan. Cloud lalu mencari Mbok Asri untuk menanyakan keberadaan gadisnya itu.
"Mbok, apakah melihat Ara?" tanya Cloud yang menjumpai Mbok Asri di rumah kecantikan istana.
"Maaf, Pangeran. Saya tidak bersama Non Ara sedari pagi. Katanya dia ingin sendiri hari ini."
"Sendiri?" Cloud tampak bingung.
"Iya, Pangeran. Saya diminta untuk istirahat hari ini. Dia tidak ingin ditemani dulu," lanjut Mbok Asri.
Ini aneh. "Baiklah, Mbok. Terima kasih."
Cloud segera pergi meninggalkan Mbok Asri. Ia terus mencari informasi ke mana Ara pergi.
Ke mana dia? Kenapa tidak mengabariku dahulu?
Cloud berjalan menuju pintu gerbang utama. Ia lalu menanyakan kepada para pengawal yang berjaga. Dan didapatkan olehnya jawaban yang membuat degup jantungnya kencang seketika.
"Apa?! Dia pergi bersama Rain?!"
Cloud kaget mendapat jawaban seperti itu dari penjaga pintu masuk istana. Roman wajahnya tiba-tiba berubah drastis. Rasa cemas itu kini menyelimuti hatinya. Iapun segera menuju ruang kerja ayahnya untuk menanyakan hal ini. Langkah kakinya terdengar tergesa-gesa. Cloud tampak mencemaskan sesuatu.
Ara ... jangan sampai ini terjadi. Kumohon, jangan membuatku terluka dengan kabar yang tidak ingin kudengar.
__ADS_1
Cloud diliputi perasaan cemas dan cemburu yang bersamaan. Ia tidak mengetahui jika Rain sudah kembali ke istana. Sedari pagi ia sibuk rapat dengan para menterinya, sehingga tidak tahu jika adiknya itu telah kembali. Kini Cloud dikejar ketakutannya sendiri. Ia takut jika akan kehilangan Ara setelah kembalinya Rain ke istana.