
"Bagaimana menurutmu tempat ini?" tanya Cloud seraya melihat ke sekeliling.
"Aku baru pertama kali melihatnya, Cloud. Sangat indah," jawabku grogi.
"Kau mau mencoba berenang di sini? Airnya sangat sejuk dan tidak akan membuatmu menggigil kedinginan." Cloud meyakinkanku.
Aku mengangguk, mengiyakan. "Tapi rasanya agak aneh jika aku berenang menggunakan gaun," kataku.
Cloud pun tertawa mendengarnya, "Lalu bagaimana menurutmu?" tanyanya.
Apakah dia memancingku?
Hasrat untuk berenang sudah sampai di puncaknya. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku penuhi saja hasratku. Kubuka resleting gaunku, kuturunkan lengan gaunku satu per satu di hadapannya.
"Tak ada orang kan, Cloud?" tanyaku padanya.
Dia menyilangkan kedua tangan di dada sambil menggelengkan kepala dengan tetap memperhatikanku.
"Tempat ini memang di ruang terbuka. Tapi percayalah, area ini sangat tertutup bahkan untuk penghuni istana sekalipun."
"Baiklah."
Aku percaya apa yang dikatakan Cloud. Aku lalu menurunkan gaunku. Tubuhku yang kuning langsat kini terlihat jelas di hadapannya. Aku pun masih memakai kemben berwarna putih dan celana sejenis leging pendek sebagai dalaman gaun untuk berenang.
Cloud diam saja. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya membantu meletakkan gaunku di tempat kering beserta pakaian ganti yang kubawa. Aku tidak dapat menahan lagi. Aku segera menceburkan diri ke kolam air terjun. Tak peduli jika Cloud memperhatikan lekuk tubuhku.
"Ah. Segarnya!"
Kakiku kini mengambang di atas air. Tempat ini cukup dalam di bagian tengahnya. Mungkin sekitar 180cm. Namun, aku memilih untuk berenang di pinggirannya saja. Aku berkeliling menyusuri kolam lalu menuju air terjun. Cloud pun menyusulku.
Kuposisikan diriku untuk duduk menyandar di batu kali yang berada di bawah air terjun. Kunikmati setiap air terjun yang jatuh. Rasanya seperti memijat pundakku.
"Ara."
Cloud mendekatiku. Tersenyum, menampakkan gigi-gigi kecilnya yang imut. Dia kini berada di hadapanku, memegang kedua lenganku. Jari-jemarinya menyusuri lengan lalu menggenggam kedua tanganku.
"Cloud?"
Air terjun yang jatuh itu membuat kembenku sedikit turun. Dadaku pun sedikit terlihat olehnya.
Cloud meremas kedua tanganku. Dia menurunkan kepalanya sedikit agar dapat bertatapan denganku. Jantungku jadi berdebar tak menentu dibuatnya.
"Ara, maukah kau menjadi kekasihku?"
Tiba-tiba saja pertanyaan itu terdengar di telingaku. Aku begitu terkejut mendengarnya.
"Cloud, apa ini bercanda?" tanyaku tak percaya.
Cloud menggelengkan kepalanya. Tangan kanannya lalu mengusap pipi kiriku. "Aku menyayangimu, Ara."
Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Cloud menyatakan perasaannya kepadaku. Setelah perjalanan panjang ini, kata-kata yang kuharapkan akhirnya langsung terucap dari bibir manisnya.
__ADS_1
"Cloud, aku ...."
Cloud memiringkan sedikit kepalanya ke arahku. Wajahnya mulai mendekati wajah ini. Hangat napasnya kian terasa bersamaan dengan debar jantungku yang semakin tak beraturan. Dia mengarahkan bibirnya ke arah bibirku.
Apa yang harus kulakukan?
Mataku berkelap-kelip, tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini. Aku tidak bisa berpikir. Kepalaku terasa pusing sekali. Kedua tangan Cloud mencengkeram erat kedua tanganku. Aku seperti terpaku di hadapannya.
Semakin lama, semakin dekat. Dadaku naik turun dibuatnya. Aku merasa seperti kekurangan oksigen. Aku pasrah, menerima apapun yang akan dia lakukan padaku. Kupejamkan kedua mata sambil menelan ludah berulang kali. Kupersiapkan diri untuk menerima ciumannya.
Cloud, apa yang kau tunggu?
Batinku meronta, meminta Cloud untuk segera memulainya. Namun ternyata, tidak ada tanda-tanda darinya.
"Cloud?"
Aku membuka kedua mataku. Kulihat dia kini tengah tersenyum manis kepadaku.
"Kepasrahanmu membuat aku menikmatinya, Ara."
Apa?! Aku merasa dipermainkan olehnya.
"Cloud! Kau mempermainkanku?!"
"Tidak. Aku tidak mempermainkanmu. Jangan salah sangka, Ara."
Aku kesal. Aku sudah menantinya lama namun dia tidak jadi menciumku. Aku merasa seperti dipermainkan. Segera saja aku pergi dari hadapannya, berenang menjauh darinya.
Aku tidak peduli dia memanggilku. Aku terus saja berenang ke tepian.
"Ara, tunggu!"
Aku bangkit dari kolam lalu segera berjalan cepat mengambil pakaianku. Rasanya ingin menangis saja. Hatiku seolah dipermainkan olehnya.
Cloud ternyata menyusulku dari belakang. Dia segera mengejarku sebelum aku menaiki anak tangga.
"Ara, tunggu!"
Cloud menarik tubuhku ke pelukannya. Dia menyandarkan kepalaku di dadanya. Aku berusaha mengelak tapi dia menahanku.
"Ara, tolong dengarkan aku. Aku tidak ada maksud untuk mempermainkanmu. Maafkan aku."
"Lepaskan aku!"
Aku marah, kesal, bercampur sakit. Entahlah aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Cloud yang menawan hatiku dan membuatku berharap, kini membuat hatiku sakit.
"Ara, aku tidak melakukannya karena akan kusimpan untuk nanti."
"Lepaskan aku!" Aku berontak.
"Ara, aku sangat menyayangimu. Tidak sepantasnya aku melakukan hal itu sebelum ada ikatan resmi dengan hubungan kita." Cloud menatapku erat.
__ADS_1
"Aku benar-benar menyayangimu. Sungguh. Perasaan ini tidak dapat kutolak. Tapi kutahan hasratku untuk memastikan hubungan kita terlebih dahulu."
Cloud meyakinkanku. Dia berkata dengan bersungguh-sungguh. Sementara aku hanya diam, tak mampu berkata apa-apa. Aku mencoba berpikir rasional.
Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Cloud. Mungkin akunya saja yang terlalu terbawa perasaan sendiri.
"Ara, aku mohon maafkan aku."
Cloud?!!
Dia merendahkan tubuhnya di depanku, Cloud berlutut. Dia menundukkan kepala sambil memohon maaf. Sungguh, aku tidak menyangka jika dia akan melakukan hal ini kepada seorang gadis desa sepertiku. Hatiku pun terenyuh melihat sikapnya. Aku jadi merasa amat bersalah.
"Cloud, bangunlah," pintaku.
"Tidak, sampai kau memaafkanku," katanya, penuh rasa penyesalan.
"Cloud, kau tidak perlu meminta maaf kepadaku. Aku yang salah."
Aku membangunkannya. Cloud lalu mau berdiri dan diapun segera memelukku. Kurasakan kehangatan yang menyatu di saat permukaan kulit kami bertemu.
"Aku menyayangimu, Ara. Jangan marah."
Aku pun membalas pelukannya. Tanpa terasa butir-butir kristal bening itu membasahi pipiku.
Aku pun menyayangimu, Cloud, ucapku dalam hati.
Hari ini menjadi hari berharga bagiku. Cloud merubah sudut pandangku. Dia mengajarkanku untuk tidak terburu-buru dalam menyalurkan hasrat yang ada. Aku begitu mengagumi sudut pandangnya.
Maafkan aku, Cloud...
Kuakui jika aku telah terbawa emosi. Namun, kehangatan yang Cloud berikan seakan mampu memadamkan api amarah yang sedang berkecamuk. Kunikmati hangat pelukannya bersamaan dengan semilir angin yang berembus. Aku berjanji akan lebih menjaga emosiku lagi.
Satu jam kemudian...
Kami memutuskan untuk kembali ke istana. Aku pulang dengan menaiki kuda bersama Cloud. Kuda putihnya yang begitu cantik. Dia pasti sangat merawat kudanya ini. Tidak kulihat sedikitpun bekas luka atau bulunya yang tidak tersisir rapi.
Kudanya yang bernama White ini tampak akrab denganku. Seolah ingin memperkenalkan diri dan menceritakan kisah pemiliknya. Akupun mengusap lembut kepala kuda putih ini lalu berjalan masuk ke istana bersama Cloud.
"Aku sudah memberikan kesepuluh rancangan busanamu kepada Paman Rich. Kita tinggal menunggunya saja, Ara."
"Benarkah?"
Aku terkejut mendengar Cloud menyetujui semua rancanganku.
Cloud mengangguk. Mungkin dia memastikan jika aku tidak marah lagi kepadanya.
"Nanti malam langsung tidur saja. Jangan begadang. Aku tidak mau melihatmu sakit," lanjutnya.
"Baik, Pangeran," jawabku seraya tersenyum.
Cloud pun tersenyum, kami berjalan bersama ditemani para pengawal kerajaan yang berada di belakang.
__ADS_1
Tampaknya, pekerjaanku sudah mulai mendekati akhir. Entah mengapa rasa sedih mulai menyelimuti hati ini. Hingga tiba di dalam istana pun, kesedihan yang melanda hati ini belum juga berakhir.