
Satu jam kemudian...
Aku dan Rain kini bergegas menuju bukit pohon surga dengan menaiki kuda hitamnya. Kulihat pangeranku diam saja sedari tadi, tidak berbicara sepatah katapun. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan olehnya, tapi sepertinya dia kepikiran dengan ucapan raja.
Raja mengaku amat malu dan bersalah. Dia meminta pengampunan atas perbuatan istrinya kepadaku, yang mana membuatku sedikit terkejut. Raja bilang, dia tidak mungkin menghukum istrinya sendiri sehingga dia berlutut, sebagai tebusan atas kesalahan istrinya. Sungguh hal ini membuatku amat terkejut, baru kali ini ada seorang raja besar yang berlutut kepada gadis desa sepertiku.
Aku tidak berharap raja sampai melakukan hal itu untuk menebus kesalahan istrinya. Bagiku semesta sudah cukup membalas apa yang ratu perbuat padaku. Penyakit yang menimpa ratu ini semoga saja bisa menyadarkannya. Aku tidak berharap banyak, aku hanya ingin ratu menerimaku di istana.
Aku tidak tahu sebenarnya apa yang ditakutkan ratu jika aku berada di istana. Selama ini aku tidak pernah melakukan hal aneh apapun. Aku bekerja sesuai apa yang diperintahkan kepadaku, dan menjalani rutinitas sebagaimana mestinya. Ya walau terkadang, kedua putranya seperti berlomba-lomba untuk menarik perhatianku. Mungkin ratu merasa risih karena kedua putranya lebih memperhatikan aku ketimbang dirinya. Entahlah, tapi semoga saja jalan kehidupan membaik ke depannya.
"Rain, kau diam saja."
Aku mencoba menyapa pangeranku, namun Rain tidak bergeming, ia tetap melajukan kudanya. Tidak tahu apa yang ada dipikirannya, kucium saja pipinya agar dia mau bicara. Seketika Rain pun menyadarinya.
"Ara ...."
"Rain, kenapa diam saja?" tanyaku sambil melihat ke arahnya.
Dia terdiam sejenak lalu menjawab pertanyaanku. "Aku ... aku merasa bersalah padamu, Ara."
"Rain?"
"Aku ... tidak menyangka jika ibuku akan melakukan hal itu padamu." Dia menunduk sedih.
"Rain, aku sudah memaafkannya. Kau tidak perlu cemas." Aku pun tersenyum.
Rain lalu mencium kepalaku. Ciuman hangat yang memang kubutuhkan untuk menemani hari-hari ini. Aku pun membalas ciumannya. Kucium pipinya lagi lalu mengusapnya pelan, dan kulihat dia tersenyum.
"Kau tahu, Ara?"
"Hm?"
"Bagaimana aku tidak semakin menyayangimu, mencintaimu. Sifatmu begitu meluluhkan hatiku."
"Rain ...."
"Ibuku jelas-jelas ingin membahayakanmu, tapi kau dengan mudah memaafkannya. Hatimu sungguh bersih, Ara." Dia memujiku.
"Terima kasih atas pujiannya, Pangeran. Tapi, aku tidaklah semulia itu," kataku sambil mengusap pipinya.
Rain juga mengusap kepalaku. "Aku berharap kau akan selamanya di sisiku, hingga akhir nanti," katanya lalu mempercepat laju kuda ini.
Rain ....
__ADS_1
Aku tidak mengerti mengapa dia sampai berucap seperti itu. Laju kuda yang semakin cepat, membuatku harus berpegangan dengan erat. Dan akhirnya, tak lama kami sudah sampai di pertentangan jalan menuju bukit pohon surga, melewati hutan dengan pepohonan tinggi menjulang ke angkasa.
Aku berniat membantu ratu menyembuhkan penyakitnya. Tadi raja bilang padaku jika ratu masih tertidur, jadi aku mengambil buah surganya dulu saja sambil menunggu ratu terbangun dari tidurnya. Dan seperti biasa, Rain menemaniku langsung. Katanya sih, dia tidak ingin aku hilang lagi. Jadi dia yang mengawalnya.
Dasar Rain ....
Sore hari di Angkasa...
Perjalanan istana - bukit pohon surga sekitar memakan waktu setengah jam lebih. Dan kini aku telah selesai mengambil buah surga dan dedaunnya. Tapi ada yang aneh hari ini, buah yang jatuh tidak lebih dari sepuluh saja, daunnya juga tidak banyak yang bisa kuambil.
"Ini aneh sekali."
Aku sudah memintanya dua kali, tapi tetap saja tidak banyak yang bisa kuambil. Kulihat Rain juga terheran-heran dengan hal yang terjadi. Namun, dia segera menenangkanku.
"Sudah, tak apa." Rain merangkulku.
Kulihat dedaunan pohon surga berterbangan ke angkasa, padahal daunnya masih hijau. Aku jadi khawatir sendiri, teringat dengan daun yang jatuh ke wajahku sebelum wabah penyakit menyerang ibu kota.
Pertanda apa ini?
Hatiku bertanya-tanya, namun tidak ingin menanyakannya kepada Rain. Khawatir jika hal ini hanya akan menambah bebannya saja.
Kami lalu memutuskan untuk segera kembali ke istana sebelum petang tiba. Dan kali ini aku yang mengendalikan laju kuda, sedang Rain memegang satu kantong plastik berisi buah surga dan juga daunnya. Karena belum terlalu lihai melajukan kuda dengan kecepatan tinggi, jadi aku melajukan sebisanya. Dan hal ini membuat Rainku tertawa.
"Aku tidak mengejek, Sayang. Hanya saja—"
"Hanya saja apa?"
"Hanya saja lucu," katanya.
"Itu mengejek, tahu!" Aku memasang wajah kesal padanya.
"Sudah, jangan marah-marah. Nanti membuatku bergairah. Kita sembuhkan ibu dulu, ya." Dia berbisik di telingaku.
"Ish, kau ini! Geli tahu!" kataku seraya menjauhkan wajahku darinya.
"Hahaha." Rain pun lagi-lagi tertawa.
Sejujurnya aku senang melihatnya tertawa daripada hanya diam. Aku merasa bahagia saat melihat tawa dan senyumnya, seperti berhasil menjadi wanitanya. Ya, mungkin julukan itu sudah bisa kudapatkan karena sebentar lagi Rain akan menikahiku.
Aku tidak tahu apakah pilihanku ini akan diterima oleh Cloud atau tidak. Tapi sepertinya, aku memang harus memilih karena tidak bisa mendapatkan keduanya. Andai saja bisa, tentunya aku juga mau keduanya. Ya, daripada mereka berseteru karenaku, lebih baik aku mengalah saja. Kuurus keduanya sekaligus. Serakah, ya? Tapi tak apalah jika demi kebaikan. Hahahaha.
Sesampainya di istana...
__ADS_1
Kini aku sudah sampai di istana dan berada di kamar ratu. Mentari pun sudah menampakkan cahaya merahnya. Sepertinya sebentar lagi petang akan tiba. Mungkin saat ini sekitar pukul lima sore waktu setempat.
"Lihatlah ibuku, Ara. Dia sudah tidak seperti ratu lagi, melainkan seperti babu," cetus Rain yang sontak membuatku mencubit perutnya.
"Hush, kau ini bicara sembarangan saja!" Aku melotot ke arahnya.
"Aw! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Ara." Dia memegangi perutnya.
"Tetap saja tidak boleh, Rain. Bagaimanapun ratu adalah ibumu." Aku lalu duduk di sisi kanan ratu.
"Ya, baiklah." Rain akhirnya menerima.
"Ya, sudah. Diam sebentar, ya. Aku coba memeriksa ratu dulu," kataku yang meminta Rain untuk diam. Rain pun menurut, dia berdiri sedikit menjauh dariku.
Benar apa yang dikatakan oleh Rain. Kini wajah ratu tampak amat kusut. Rambutnya pun acak-acakan. Dia seperti seorang nenek penyihir yang jahat, bukan lagi seperti ratu yang terawat.
Ratu, izinkan aku memeriksa kondisi tubuhmu, ya. Semoga semesta membantu.
Kupejamkan kedua mata lalu mulai menarik napas dalam. Kupegang tangan kanan ratu untuk merasakan hal yang terjadi padanya. Semesta pun mengarahkanku menuju suatu penglihatan yang tak biasa. Aku melihat banyak pria bermahkota raja sedang duduk bersama di depan meja bundar.
Astaga, apa ini?
Semakin mengikuti ke mana semesta menuntun, aku merasa semakin takut. Pemandangan-pemandangan yang kulihat membuat detak jantungku berdegup kencang tak menentu. Aku pun seperti kehilangan oksigen, seolah kesadaranku tak lama lagi akan hilang.
Rain ... Rain ....
Aku mencoba memanggil Rain agar menyadarkanku. Tapi suaraku seperti tertahan di tenggorokan. Sedang aku, tidak mampu lagi untuk melihat apa yang semesta perlihatkan. Akhirnya aku pun berteriak sekuat tenaga karena tak sanggup untuk meneruskan hal ini.
"Aaaaaa!!!"
Aku tersadar beberapa saat kemudian dengan napas yang terengah-engah. Rain pun segera mendekatiku.
"Ara, apa yang terjadi?" tanyanya sambil menahan tubuhku agar tidak terjatuh.
"Rain ... Rain ...." Aku melihat ke arahnya dengan tubuh yang gemetaran.
"Sayang, ada apa? Mengapa kau sepanik ini?" tanya Rain lagi.
Sungguh aku seperti tidak mampu untuk menceritakannya. Apa yang kulihat tadi benar-benar menyeramkan. Rain pun memberiku segelas air minum agar laju napasku bisa kembali normal. Sedang ratu, masih juga tertidur.
"Minumlah, tenangkan dirimu dahulu." Rain membantuku untuk minum.
Aku tidak mengerti mengapa bisa melihat semuanya. Aku merasa daun buah surga yang berguguran memberi tanda kepada kami untuk berhati-hati. Dan ternyata, semesta mengabarkan kepadaku melalui apa yang kulihat saat mencoba memeriksa ratu. Jika negeri ini tak lama lagi akan diserang negeri musuh.
__ADS_1