Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
King and Queen


__ADS_3

Moon masih menunggu anaknya bicara.


"Cloud?"


"Ibu, tidak seharusnya Ibu menanyakan hal itu di saat seperti ini," kata Cloud.


"Cloud, apa susahnya menjawab apa yang Ibu tanyakan. Kau tinggal katakan saja yang sebenarnya," balas Moon.


Cloud terlihat menghela napasnya. Ia kembali duduk di kursinya dengan wajah yang lelah. Sedang Moon, masih berdiri menunggu Cloud bicara.


"Semua baik-baik saja, Bu. Ibu tidak perlu khawatir. Tidak ada yang terjadi selain penyusupan." Cloud melemahkan nada bicaranya.


"Tidak mungkin jika tidak terjadi sesuatu apapun selain itu. Semalam Ibu lihat kau tidak menyapa adikmu sama sekali saat makan malam. Pasti ini—"


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar. Pembicaraan Moon terjeda sesaat. Ketukan pintu itu terdengar berulang.


"Masuk!" Cloud lalu mempersilakan masuk.


"Yang Mulia Ratu, Pangeran Cloud. Maafkan kedatangan saya yang menganggu. Namun, Paduka Raja meminta Yang Mulia Ratu untuk segera menemuinya."


Seorang pelayan pria datang dengan hormat lalu membawakan kabar untuk keduanya. Terlihat Cloud yang sedikit senang mendengar kabar itu.


"Baik, aku akan segera menemui paduka."


Moon segera bergegas meninggalkan ruangan Cloud. Namun, sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan anaknya, Moon menegaskan perkataannya kembali.


"Lain waktu akan Ibu tanyakan lagi."


Wanita paruh baya itu kemudian meninggalkan ruangan pangeran sulung kerajaan Angkasa. Ia tampak kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh sang anak. Sementara Cloud terlihat tersenyum lega.


Hah ... ibu selalu saja begitu. Dia selalu memburuku. Sedang Rain dibiarkan bebas melakukan apa saja sesukanya. Ibu benar-benar pilih kasih.


Cloud berkata dalam hati.


Ara ... cepatlah datang. Aku sangat membutuhkanmu. Pekerjaanku sangat banyak dan hanya kau yang bisa membantuku.


Cloud kembali ke aktivitasnya. Ia mulai menghitung anggaran negeri dengan lembaran laporan pemasukan dari daerah kekuasaan Angkasa.


Di ruangan lain...


Moon segera menemui suaminya. Ia berjalan cepat menuju suatu ruangan di temani satu orang pelayan wanita dan empat pengawalnya.


"Ada apa, Suamiku?" tanyanya saat menghampiri Sky, suami Moon.


"Kau ke mana saja? Harusnya pergi sarapan bersamaku," kata Sky tegas.


"Aku ke ruangan Cloud. Hatiku resah akhir-akhir ini," jawab Moon singkat.


"Dan kau mendapatkan jawaban atas keresahanmu?" tanya Sky lagi, seraya memakai jubahnya dan dibantu oleh Moon.


Sky mengenakan pakaian kerajaan berwarna hitam dengan jubah yang juga berwarna hitam. Membalut tubuh perkasanya walaupun kini sudah menginjak usia ke lima puluh tahun.


"Belum. Cloud tidak menjawab pertanyaanku." Moon tampak kesal.


Sky lalu berjalan ke luar ruangan diikuti Moon, keduanya menuju meja makan. Mereka berniat untuk sarapan pagi bersama.


"Kau sudah tahu jika Negeri Aksara mengajak kita berperang, bukan?" tanya Sky kepada istrinya.


"Ya, aku sudah tahu."


Pelayan istana segera menyajikan sarapan pagi untuk keduanya dengan sangat hati-hati. Beberapa pelayan itu kemudian meninggalkan ruangan, membiarkan keduanya berbicara empat mata.

__ADS_1


"Cloud sedang banyak pikiran. Biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya dahulu. Jangan kau tambahi dengan pertanyaan atau apapun yang membuatnya tertekan," pinta Sky lalu mulai menyantap hidangan sarapan paginya.


"Aku hanya heran padanya, Sayang. Negosiasi Aksara ditolaknya mentah-mentah. Padahal ini kesempatan bagus untuk kita—"


"Tapi belum tentu baik untuknya," sergah Sky.


"Sayang—"


"Cloud sudah besar. Biarkan dia memilih pasangan hidupnya sendiri."


"Tapi—"


"Sudahlah. Kita sarapan dulu. Akan ada tamu yang datang pagi ini."


Sky menyela perkataan Moon. Ia tampak membela putra sulungnya itu. Sedangkan Moon bertambah kesal karena Sky tidak memihak kepadanya.


Bersamaan dengan itu, di lain ruang dan waktu...


Ara tampak duduk di atas tempat tidurnya. Ia sedang memandangi foto bersama Rain di ponselnya. Terlihat kerinduan yang tersirat dari wajah manisnya itu.


"Sedang apa dirimu, Rain?" Ara bertanya sendiri.


Ara kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil terus memandangi foto itu. Sebuah foto yang tercipta karena ketidaksengajaan.


"Kau ini memang mesum. Tapi entah mengapa, aku begitu menyukainya."


Ara tersenyum seraya mengusap wajah Rain di ponselnya itu. Ingatannya kembali membuka kenangan bersama Rain, sebelum Rain pergi meninggalkannya. Waktu itu keduanya sedang berada di teras belakang rumah. Sesaat setelah Rain menjelaskan kepada Ara bagaimana cara membuka portal.


Dua Minggu yang lalu...


"Ara sini!"


"Tidak mau!"


"Nggak jadi, kamu tuh nakal."


"Ara—"


"Enggaaakk!"


Rain menarik-narik Ara agar mau duduk di pangkuannya. Sedang Ara masih bertahan, ia tidak juga mau duduk di pangkuan Rain.


"Sayang, sini, Sayang." Rain merayu.


Ara masih tidak menggubris perkataannya. Rain pun tampak kesal dengan gadisnya ini. Dengan segera ia menarik Ara ke dalam dekapannya.


"Kau tidak bisa lari lagi sekarang, Tuan Putri."


"Rain ...."


"Sudah kubilang berulang kali bahwa kau adalah milikku. Sekarang dan selamanya. Aku tidak akan melepaskanmu walau sedetik pun."


Rain berkata sungguh-sungguh. Ia mengunci tubuh Ara dengan kedua tangannya. Ara tidak bisa bergerak sama sekali walaupun sudah mencoba memberontak.


"Aku tahu kau menginginkannya juga. Jadi jangan bohongi dirimu."


"Rain!"


Ara menoleh, melihat Rain. Ia menjauhkan sedikit wajahnya itu dari tubuh Rain yang mendekapnya.


"Kau ini sok tahu!" gerutu Ara.

__ADS_1


"Dan kau pikir aku tidak mengetahuinya?"


"Rain ...."


"Sayang, kemarin aku begitu merasakan nikmatnya ciuman itu. Hingga membuat celanaku basah."


"Basah?" Ara tak menyangka.


Rain mengangguk.


"Dasar mesum!"


"Aku ini memang mesum, Ara. Tapi hanya dengan dirimu saja."


"Ya, tapi kan—"


"Akuilah," pinta Rain.


"Tidak mau!"


"Baiklah, kau akan tetap berada di dekapanku hingga nanti."


"Ish! Kau ini menyebalkan sekali."


"Biar saja. Kau juga menyebalkan. Tidak mau mengakuinya."


"Rain, aku ini perempuan. Aku malu mengakuinya."


"Nah, kan—"


"Eh, enggak jadi. Lupakan yang tadi."


Ara masih bertahan di hadapan pangeran bungsu itu. Ia sama sekali tidak ingin orang lain mengetahui apa isi pikirannya.


"Terus saja seperti itu. Maka aku akan lebih nakal lagi."


"Ja-jangan! Sudah cukup." Ara akhirnya menyerah.


"Katakan, Sayang." Rain meminta dengan lembut.


"Iya, aku mengakuinya."


"Mengakui apa?" tanya Rain memastikan.


"Iya, aku mengakui jika aku ... menginginkannya."


Sesaat setelah Ara berkata seperti itu, Rain tersenyum puas penuh kemenangan. Ia lantas melepaskan Ara dari dekapannya.


"Sekarang, duduklah di pangkuanku," pinta Rain.


Mau tak mau, Ara menuruti apa kemauan Rain. Ia kemudian duduk di pangkuan sang pangeran. Dan tentu saja, Rain melancarkan aksinya.


"Sini ponselnya, biar aku saja yang memfoto."


Ponsel itu akhirnya memotret kebersamaan mereka. Tampak Ara yang terkejut sambil memegangi telinga karena Rain telah menggigit telinga kanannya. Sedang Rain, tersenyum tanpa merasa berdosa sama sekali. Momen itu tertangkap jelas oleh kamera ponsel Ara.


"Rain ... kau ini, menyebalkan!"


Ara berontak, namun Rain menahannya. Ia malah memegangi kedua lengan Ara lalu segera mencium gadis itu. Rain sama sekali tidak memberi kesempatan kepada gadisnya itu untuk bernapas. Ia terus saja mencium lembut pujaan hatinya hingga sang pujaan hati pasrah dan menyerahkan diri.


...

__ADS_1


"Rain, kau ini benar-benar nakal."


Ara memeluk ponselnya saat kenangan itu terlintas di benaknya. Diletakkan ponselnya itu di samping kepala, membayangkan jika Rain tengah ada bersamanya.


__ADS_2