
Di perjalanan...
Aku di dalam kereta kuda bersamanya. Rasa sakit di perutku pun mulai sedikit mereda. Dan tanpa sadar, aku tadi tertidur di sampingnya. Entah apa yang dicampurkan ke dalam teh itu, aku tiba-tiba saja mengantuk.
Kini aku terbangun. Kulihat dari balik kaca kereta, pemandangan yang tak biasa. Di sepanjang perjalanan aku melihat pemukiman penduduk yang tampak seperti rumah-rumah adat Korea.
Apa aku memang sedang di Korea, ya? Korea di dimensi ruang dan waktu yang berbeda?
Aku menoleh ke arah pangeran di sisi kananku ini. Ternyata dia sedang memijat dahinya sendiri. Lalu tak lama kusadari jika tangan kirinya tengah memegang tangan kananku. Dan entah mengapa aku jadi merasa iba padanya.
Pasti dia merasa lelah dengan semua ini. Tapi, aku masih belum bisa memberanikan diri untuk lebih dekat dengannya. Aku tahu jika dia menginginkanku. Namun, bayang kedua pangeran Angkasa itu belum bisa lepas begitu saja.
"Pangeran." Aku menyapanya, dia pun menoleh ke arahku.
"Kau sudah bangun?" tanyanya, yang juga menoleh ke arahku.
"He-em." Aku mengangguk.
"Kau sudah merasa baikan?" tanyanya lagi.
"Lumayan, Pangeran. Sepertinya teh itu berguna untuk meredakan rasa sakit," selidikku seraya tersenyum.
"Hahaha." Dia tertawa. "Kau begitu cepat menyadarinya, Nona. Tapi kenapa kau tidak cepat menyadari perasaanku?" tanyanya lagi.
Tiba-tiba suasana terasa berubah saat dia mengatakan hal itu. Aku merasa jadi tidak enak sendiri.
"Maaf, Pangeran." Aku menunduk. "Aku akan mencoba membiasakan diri," kataku lagi.
Dia diam, lantas mengusap kepalaku. Ia merebahkan kepalaku di bahu kirinya seraya mengusapnya pelan. Seketika aku merasa nyaman bersamanya.
"Harusnya aku yang meminta maaf karena terlalu memaksamu. Maafkan aku, ya." Dia mencium kepalaku.
Hatiku sungguh bercampur aduk, antara harus bahagia atau sedih. Sebenarnya bisa saja aku memperlakukan diri sebagai seorang kekasih sungguhan. Tapi, bagaimana dengan Rain dan Cloud? Aku masih terikat dengan keduanya.
__ADS_1
Zu terus saja memintaku, tidak merasa lelah sedikit pun untuk meminta hati ini. Tapi aku masih membutuhkan waktu untuk membiasakan diri. Mungkin saja jika aku lama bersamanya, perasaanku ini benar-benar tumbuh untuknya. Aku juga tidak ingin melihatnya bersedih terus-menerus karena memohon hatiku.
"Pangeran."
Aku mulai mencoba bersikap manja padanya. Kugandeng lengan kirinya lalu kuusap-usapkan kepalaku ini pada lengannya. Aku berharap sikapku dapat membuat hatinya sedikit tenang. Zu pun lantas tertawa.
Hah, syukurlah. Akhirnya dia bisa benar-benar tertawa.
Perjalanan pun kami teruskan hingga masuk ke perkotaan, yang mana membuatku lebih terkejut lagi. Ternyata di sini sudah mulai menggunakan mesin sebagai kendaraan. Atau mungkin lebih tepatnya motor roda tiga. Kalau di duniaku sih disebut sebagai bemo, ya.
Ah, jadi rindu rumah.
Tiba-tiba aku merindukan keluargaku di sana. Rasa rindu karena lama tak jumpa.
Sedang apa ayah dan ibu di sana, ya? Aku rindu sekali. Apa Anggi sudah semakin lincah sekarang? Pasti dia cantik sekali saat beranjak remaja.
Aku tersenyum sendiri, sengaja tidak mengingat adik lelakiku karena kesal jika mengingat kelakuannya. Dia itu banyak sekali ulahnya dan selalu membuatku jengkel. Jika tidak kuat-kuat bersabar, mungkin piring di lemari sudah kujadikan shuriken untuk melemparnya. Ya, maklumlah kalau marah jiwa emak-emakku ini keluar. Tapi sepertinya, cuma aku saja yang seperti itu, kalau marah suka kelabasan.
Ara, apakah kau baik-baik saja di sana, Nak? tanya sang ibu di dalam hati.
Sebagai seorang ibu, tentunya mempunyai naluri yang kuat. Rasa cemas itupun mulai melanda, ia khawatir jika terjadi sesuatu kepada anak gadisnya itu. Terlebih sudah setahun sang anak tidak memberikan kabar untuknya.
"Ibu, Ara akan pergi jauh. Di mana tempatnya di pedalaman sekali. Di sana tidak ada sinyal untuk memberi kabar. Tidak ada juga pos untuk mengantar pesan. Tapi percayalah, jika Ara akan baik-baik saja. Pekerjaan Ara sangat banyak sekali, jadi mungkin bisa pulang setelah pekerjaan itu selesai. Ibu jangan khawatir, ya."
Sang ibu teringat akan perkataan putrinya. Ia kembali tersenyum setelah cemas beberapa saat. Ia percaya jika Ara adalah seorang perempuan yang tangguh. Tidak mungkin jika putrinya itu menyerah begitu saja, walaupun keadaan terdesak sekalipun. Ia percaya jika Tuhan akan selalu menjaga putrinya. Karena ia tahu niat mulia Ara untuk membahagiakan keluarga.
Tuhan, tolong jaga anakku. Di mana pun dia berada.
Sang ibu berdoa dalam hati sambil menatap halaman belakang rumah dari balik kaca jendela dapur. Ia terkenang dengan kepribadian Ara yang bertanggung jawab kepada kedua adiknya. Ia lantas tersenyum mengingat kenangan itu.
"Cepat sapu, Adit!" Ara berseru kepada adik laki-lakinya.
"Iya, Kak. Ini juga lagi disapu," gerutu Adit.
__ADS_1
"Lama sekali nyapu begitu saja. Bagaimana nanti jika sudah menikah, apa yang bisa kau berikan pada istrimu jika sekarang saja lelet begitu." Ara menceramahi adiknya.
"Ish, Kak Ara ini bawel sekali."
"Hah?! Apa katamu?!"
Ara yang sedang menguras kolam ikan di taman belakang rumah, tampak kesal dengan jawaban dari sang adik. Ia lalu ingin melempar adiknya itu dengan gayung yang sedang ia pegang.
"Ampun, Kak Ara!" Adit pun menghindar dari sang kakak yang sedang marah.
"Hahaha. Makanya Kak Adit jangan membantah. Rasain tu!" Anggi ikut bicara dari depan pintu.
Tawa, tangis, suka cita telah dilalui bersama. Menciptakan kenangan indah yang tak akan pernah bisa dilupakan.
Ara, Ibu bangga padamu, Nak.
Sang ibu tiada henti-hentinya tersenyum saat mengingat kebersamaan itu. Sambil memandangi foto wisuda putrinya bersama keluarga, ia berdoa yang terbaik untuk anak gadisnya di sana. Ia merasa bahagia karena mempunyai anak seperti Ara.
Selama ini Ara belum pernah sama sekali mengeluh padaku, walaupun keadaan sangat susah sekalipun. Dan kini keadaan itu berbalik, berkecukupan berkat perjuangannya. Terima kasih, Tuhan. Telah menganugerahkan kepadaku gadis sebaik dan setangguh dirinya.
Bukan hanya ibunya saja yang begitu merindukan Ara. Sang sahabat sejak masa SMA itu pun ikut merindukan kehadiran sang gadis. Baim baru saja selesai melukis wajah Ara yang sedang tersenyum. Ia mencoba menyalurkan perasaan rindu itu melalui coretan kuas cat yang indah.
Sudah setahun kau tidak ada kabar, Ara. Apa kau sekarang lebih tinggi? tanya Baim dalam hatinya seraya terkekeh sendiri.
Ia memandangi deburan ombak lepas pantai yang ada di hadapannya. Merasakan nikmat angin sore yang menerpa seraya mengingat sang sahabat.
"Aku jadi curiga. Jangan-jangan Ara benar-benar melintasi portal dimensi. Tapi apa itu mungkin?" tanyanya sendiri.
Sang sahabat mempunyai sedikit kecurigaan karena Ara pernah menanyakan portal dimensi kepadanya. Tapi ia tidak ingin terhanyut dengan pikirannya itu, ia biarkan saja waktu yang menjawab semuanya.
Semoga kau baik-baik saja di sana, Ara. Doanya dalam hati.
Kebaikan akan menuai kebaikan. Begitu pun sebaliknya. Teruslah berbuat baik, sekalipun tidak kita sukai. Karena belum tentu yang tidak kita sukai itu buruk bagi kita, bisa jadi malah sebaiknya. Teruslah berpikiran positif dalam setiap melangkah, karena Tuhan tidak akan pernah sedetik pun meninggalkan. Percaya dan yakin adalah kunci ketenangan hidup yang sesungguhnya.
__ADS_1