Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Confused


__ADS_3

Dua jam kemudian...


Kini aku sudah duduk di teras kamar, berniat mengeringkan rambutku yang masih basah karena baru saja mandi. Entah mengapa, ada sebuah ide melintas di benakku. Aku ingin lebih memahami bagaimana caranya bermain pedang. Tapi kali ini pedang sungguhan, bukan kayu.


Aku lalu berjalan mendekati kedua penjaga yang sedang berjaga tak jauh dari kamarku. Aku meminta mereka untuk mengajariku bermain pedang.


"Tapi, Non. Kami takut—"


"Tidak apa-apa. Aku yang memintanya sendiri. Lagipula malam ini aku sedang senggang. Sayang jika waktu dibuang begitu saja tanpa mendapat manfaatnya."


Aku berusaha meyakinkan kedua penjaga istana agar mau mengajariku bermain pedang. Dan alhasil, mereka pun bersedia mengajariku.


Pelan-pelan kuperhatikan keduanya saat mencontohkan bagaimana cara bertarung menggunakan pedang. Aku pun ikut mencobanya. Lambat laun, aku terbiasa memegang pedang. Awalnya memang terasa berat. Tapi dengan kesungguhan di hati, pedang ini dapat menyatu denganku sehingga terasa lebih ringan.


Aku meminta kedua penjaga ini mengajariku bermain pedang di setiap malam. Sebagai imbalannya, aku akan membuatkan kebaya untuk istri mereka. Mereka pun menyambut imbalan ini dengan suka cita. Aku turut bahagia melihat kebahagiaan yang tersirat dari wajah keduanya.


Beberapa jam kemudian...


Malam semakin larut. Kurebahkan tubuh di atas kasur lalu mulai mengingat-ingat kejadian yang kualami bersama Cloud.


Aku masih terbayang dengan apa yang Cloud lakukan padaku. Rasanya tubuhku begitu bersemangat untuk segera menemui esok hari.


"Dia mulai berani mengecup sudut bibirku."


Aku tersenyum-senyum sendiri saat mengenang kejadian di dalam kereta kuda tadi. Rasanya begitu bahagia. Aku ingin kebahagiaan ini tetap abadi bersamaku.


"Andai tadi aku menggerakkan kepala, mungkin ciuman pertama ini akan terjadi di antara kami."


Aku sungguh merasa beruntung. Kupeluk erat bantal guling di sisi kiriku. Kubayangkan jika itu adalah Cloud.


"Aku akan mengajarimu bermain biola. Tapi tidak malam ini, ya. Aku harus mempersiapkan bahan untuk bertemu para pejabat dari timur negeri. Kami akan mengadakan rapat esok pagi."


Aku terngiang-ngiang dengan kata-kata Cloud setelah menciumku tadi. Sepertinya Cloud memang sangat sibuk sekali. Sehingga saat dia mempunyai waktu luang, dia ingin aku menemani dan tidak menolak ajakannya.


"Cloud ... pangeranku."


Terbayang wajahnya yang rupawan. Senyum manisnya, tawa kecilnya. Semua yang ada pada dirinya kembali terbayang di pikiranku. Mungkin ini yang dinamakan dengan jatuh cinta. Rasanya aku ingin selalu terus bersamanya dalam suka maupun duka.


"Setiap hari aku bergelut dengan banyak kertas yang harus kubaca. Namun, aku merasa kata-kata itu dirimu, Ara."


Lagi, aku kembali teringat akan kata-katanya di sepanjang jalan pulang menuju istana.


"Cintamu yang kubutuhkan. Aku akan menunggu jawaban atas pernyataan cintaku kemarin."


"Aku memang belum menjawabnya."

__ADS_1


Aku menjadi gelisah sendiri. Kini aku berada di antara dua hati, Rain dan Cloud. Kedua pangeran ini membawaku ke dalam sebuah perjalanan cinta yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku jadi bingung sendiri dibuatnya. Siapa yang harus kupilih?


"Cloud seolah tidak mau mengalah kepada Rain."


Kurasakan semenjak Rain berani mengajak aku jalan, Cloud lebih banyak meluangkan waktunya untukku. Dia seakan tidak ingin mengalah kepada adiknya.


"Hah, lebih baik aku tidur saja."


Aku mencoba untuk memejamkan kedua mata. Kutarik napas perlahan lalu kuembuskan pelan. Kuulangi beberapa kali hingga seluruh sendi tubuhku merasa nyaman. Lambat laun, akupun tertidur. Lalu mulai menjalani destinasi mimpiku.


Pagi harinya...


"Aku kesiangan!"


Aku terkejut kala Mbok Asri datang dan membangunkanku.


"Astaga, Mbok!"


Aku segera berbenah diri. Aku berlari untuk mandi. Kubersihkan tubuhku yang tampak kumel ini.


"Nona, pelan-pelan saja mandinya. Nanti airnya masuk ke telinga."


Kudengar Mbok Asri memperingatkanku. Aku terus saja mandi dan tidak memedulikannya. Setelahnya, segera mengenakan kebayaku. Hari ini kugunakan kebayaku yang berwarna ungu muda dengan paduan rok batik terbelah di bagian sisi kirinya.


"Saya bantu menyanggulnya, Non."


Setelah selesai, aku segera berdandan minimalis dengan lipstik merah muda yang lembut. Aku pun siap menjalani hari ini.


"Mbok, parfumku mau habis."


Kurasakan botol parfumku ini sudah sangat ringan. Aku lalu meminta Mbok Asri untuk mengambilkan parfum dari rumah kecantikan istana.


"Baiklah, Non. Saya akan segera kembali."


"Terima kasih, Mbok. Aku tunggu di gazebo istana, ya."


Mbok mengangguk, kami pun berpisah. Aku berjalan sendiri menuju gazebo istana dengan lembaran kertas rancangan busanaku. Namun saat aku berbelok, Rain terlihat berjalan berlawanan arah denganku. Kali ini dia sendiri.


Rain ....


Aku merasa dejavu dengan situasi ini. Seperti pertama kali saat kami bertemu di taman. Akupun berusaha untuk tersenyum kepadanya.


"Salam bahagia untuk Pangeran Rain."


Kubungkukkan tubuhku ke arahnya seraya tersenyum. Rain pun berhenti sejenak sebelum dia melangkah lagi. Kurasakan jika dia ingin membalas sapaanku. Namun ternyata, dia hanya diam dan kemudian berlalu pergi. Tanpa kata, tanpa pamit.

__ADS_1


Hatiku ....


Sungguh sakit hati ini mendapat perlakuan seperti ini darinya. Aku ingin menahannya, namun entah mengapa seolah tidak ada kekuatan untuk melakukannya. Aku terdiam lalu kembali mengalihkan pandanganku ke depan. Aku berbalik darinya lalu mulai berjalan menyusuri jalan setapak menuju gazebo istana.


...


Tak lama, Mbok Asri datang. Tepat setelah aku menyelesaikan lima rancanganku.


Tinggal sepuluh lagi.


"Nona, ini parfumnya."


Mbok Asri lalu menyerahkan sebotol parfum kesukaanku. Aroma cokelat manis yang begitu pekat.


"Tadi saya liat Pangeran Rain berpapasan dengan Anda, Nona."


Mbok Asri tiba-tiba membuka percakapannya tentang Rain. Aku pun menghentikan aktivitasku sejenak. Kututup lembaran kertas rancangan busanaku lalu kujepit agar tidak berceceran.


"Mbok, sebenarnya aku ...."


"Nona, saya tahu hal ini sangat sulit untuk Anda."


Bagai guntur menyambar di pagi hari yang cerah. Kata-kata dari Mbok Asri membuatku tersentak. Seolah dia mengetahui apa yang sedang terjadi antara aku dan Rain.


"Mbok, sebaiknya apa yang harus aku lakukan?" tanyaku, berusaha meminta saran darinya.


"Maafkan saya sebelumnya, Non. Ini memang bukanlah urusan saya. Saya pun merasa tidak pantas untuk ikut campur dalam masalah ini. Namun, sebagai orang yang telah lama bekerja di istana ini dan sebagai pendamping Nona Ara, sepertinya saya harus ikut membantu."


"Katakanlah, Mbok. Aku menunggunya."


"Non, saya lihat Pangeran Rain begitu mencintai Anda. Sepanjang saya bekerja di istana ini, baru pertama kali saya mendengar Pangeran Rain pergi berduaan bersama seorang wanita dan tanpa pengawalan. Bisik-bisik terdengar jika kalian telah menjalin hubungan khusus."


Aku terdiam. Kupikirkan kata-kata dari Mbok Asri dengan seksama. Kurasakan jika Mbok Asri tidak memihak siapa pun. Baik itu Rain maupun Cloud.


"Namun yang kami ketahui, Nona adalah pasangan dari Pangeran Cloud. Karena tidak pernah Pangeran Cloud membawa seorang wanita dari luar istana selain Nona ke sini."


Astaga... Apa yang telah aku lakukan? Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini?


Aku berucap dalam hatiku. Rasanya aku telah membuat kesalahan besar. Aku harus segera menyelesaikan masalah ini. Tidak ingin ada pandangan negatif tentangku dan juga kedua pangeran kerajaan ini.


"Nona, maafkan saya."


Mbok Asri meminta maaf kepadaku. Aku jadi tidak enak hati sendiri.


"Tidak apa-apa, Mbok. Aku baik-baik saja. Sepertinya aku memang harus menemui Rain agar kesalahpahaman ini berakhir."

__ADS_1


Aku lalu meminta Mbok Asri untuk menemaniku sejenak membuat rancangan kebaya. Lalu aku memintanya untuk menyimpan rancanganku ini.


Aku segera pergi untuk menemui Rain. Aku ingin menyelesaikan kesalahpahaman yang sedang terjadi di antara kami. Tak baik membiarkan masalah kian larut dalam waktu yang lama.


__ADS_2