Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Miss You


__ADS_3

Sore hari di Aksara...


Cloud masih sibuk di ruang administrasi seorang diri. Ia sampai-sampai harus makan siang di dalam ruangan. Dan kini sang pangeran terkejut dengan penemuannya. Ia pun lekas-lekas keluar ruangan dan meminta salah satu pasukan khusus untuk memanggilkan menteri yang bersangkutan.


Rain mengasingkan semua menteri Aksara selama proses pengalihan negeri ini. Ia tidak mengizinkan semua menteri keluar istana sebelum serah terima administrasi selesai. Sedang pejabat tinggi lainnya dibebaskan bersyarat. Boleh keluar-masuk istana, tentunya dengan surat izin yang sengaja dibuat rumit, agar para pejabat tidak seenaknya keluar-masuk istana.


Aksara masih dalam pengawasan Angkasa. Negeri ini akan dipindahalihkan jika semua syarat sudah terpenuhi. Tentunya akan terjadi perombakan besar jika semua administrasi negeri sudah dirapikan. Tinggal menunggu hasil akhir dari Cloud. Jika Cloud merasa negeri ini memang pantas bergabung, maka Angkasa akan mengambil alihnya. Tapi jika Cloud merasa negeri ini terlalu banyak masalah, maka Cloud akan membatalkannya. Sang putra sulung mempunyai peran amat penting dalam proses pengalihan ini.


"Pangeran Cloud."


Dua menteri datang menghadap Cloud yang masih sibuk dengan berbagai macam dokumennya. Sedang dua pasukan khusus ikut masuk mengawasi kedua menteri yang menjadi tawanan Angkasa ini. Mereka didudukkan di depan Cloud, sedang pasukan khusus berjaga di belakangnya.


"Menteri Dalam Negeri?"


"Saya, Pangeran." Seorang pria paruh baya berpakaian kerajaan kuning mengangkat tangannya.


"Menteri Perdagangan?" tanya Cloud lagi.


"Saya, Pangeran." Pria yang satunya mengangkat tangan.


"Baiklah. Terima kasih telah datang. Aku hanya ingin menanyakan perihal dokumen yang kutemukan ini."


Cloud menyerahkan dokumen Aksara kepada kedua menteri. Sontak kedua menteri itu terkejut bukan main.


"Aku tidak mengerti mengapa sistem perdagangan di negeri ini terlalu besar mengambil pajak ke setiap pedagang. Bahkan pedagang kecil pun kalian mintakan pajaknya. Apa maksud semua ini?" tanya Cloud serius.


Kedua menteri saling melirik.


"Aku hanya minta penjelasan saja. Kalian tidak perlu cemas," kata Cloud lagi yang melihat roman wajah kedua menteri tampak pucat.


"Mohon maaf, Pangeran. Saya selaku Menteri Perdagangan hanya menjalankan perintah dari raja Hell. Tidak lebih dari itu," tukas Menteri Perdagangan.

__ADS_1


"Apakah ini hanya alasan Anda?" tanya Cloud lagi.


"Ti-tidak, Pangeran. Saya mengutarakan yang sebenarnya," jawab menteri itu.


"Oh, begitu. Lalu apa ini?" Cloud menyerahkan dokumen lain.


Menteri Perdagangan pun melihat dokumen yang diberikan Cloud. Seketika itu juga tubuhnya gemetaran.


"Hasil pajak yang kalian ambil dari rakyat, tidak sesuai dengan laporan neraca masuk. Ke mana sisa uangnya?" tanya Cloud dengan tatapan tajam.


Kedua menteri menundukkan kepalanya.


"Kenapa tidak menjawab?" tanya Cloud lagi.


"Pangeran Cloud, selisih dari pajak itu kami gunakan untuk perbaikan akses jalan ibu kota. Dan mungkin Menteri Keuangan lupa memasukkan jumlah selisihnya." Menteri Dalam Negeri beralasan.


"Lupa? Hm, lupa tapi bisa bertahun-tahun, ya?" Cloud berlagak berpikir, ia kemudian beranjak dari duduknya.


"Andai ini Angkasa, pastinya kalian sudah dihukum mati. Sayang sekali negeri ini belum bersatu dengan negeri kami." Cloud memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Pangeran, apakah kami harus mengeksekusinya?" tanya seorang pasukan khusus.


Sontak pertanyaan itu membuat kedua menteri jatuh bersimpuh di depan Cloud. "Pangeran Cloud, maafkan kami. Kami menggunakan uang itu untuk keperluan pribadi kami. Ampuni kami, Pangeran." Akhirnya kedua menteri mengaku.


Cloud bernapas lega. Rupanya ia tidak perlu panjang bicara untuk membuat kedua menteri mengaku. Ia tersenyum tipis, merasa kasihan kepada kedua menteri yang tengah bersimpuh di hadapannya.


"Bangunlah," pinta Cloud kepada menteri itu.


Kedua menteri itupun bangun. "Terima kasih, Pangeran," kata keduanya segera.


"Selisih pajak tidaklah sedikit. Aku minta kembalikan uang yang sudah kalian ambil. Jadikan uang kas negeri. Aku beri waktu satu minggu dari sekarang. Jika kalian tidak bisa mengembalikannya, maka dengan amat terpaksa hukum Angkasa akan berlaku di sini." Cloud berkata tegas.

__ADS_1


"Ba-baik, Pangeran. Kami mengerti," jawab keduanya.


"Bagus. Kalau begitu aku minta tolong panggilkan Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri dan Menteri Keuangan." Cloud meminta.


"Baik, Pangeran."


Kedua menteri itu lalu berpamitan kepada Cloud, mereka kembali ke ruang khusus. Sebuah ruangan besar dengan pasukan elit Angkasa yang menjaganya. Rain sengaja meminta sang ayah agar menurunkan pasukan elite untuk berjaga di ruangan tersebut. Yang mana pasukan elite tidak mengenal kata kasihan, mereka hanya fokus kepada perintah raja.


Cloud merasa puas karena berhasil menemukan kejanggalan yang terjadi di Aksara. Ia pun memanggil menteri lainnya. Sang pangeran amat disibukkan dengan tugas kerajaan. Tapi, di antara kesibukannya ia masih mengingat gadisnya.


Sayang, ternyata aku bisa lebih cepat pulang. Tunggu aku di istana, ya.


Sang pangeran mengambil cemilan yang Ara buatkan untuknya. Selama menunggu ketiga menteri datang, ia mencicipi cemilan calon istrinya itu. Rindu pun semakin menggebu di dalam hatinya. Rasa sayangnya kepada Ara sudah tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata.


Di Asia...


Zu hampir saja membuat gaduh istana. Sang putra sulung kerajaan Asia ini benar-benar tidak dapat lagi membendung amarahnya. Untung saja sang adik, Shu cepat datang dan menghentikan hal yang sedang terjadi. Jika tidak, sang ratu dipastikan tidak bisa lagi terselamatkan dari pedang Zu yang tajam.


"Kakak, tenangkan dirimu. Jangan terbawa emosi."


Shu berusaha mendinginkan kepala kakaknya. Ia juga memberi minuman penyejuk agar hati Zu ikut sejuk. Tapi amarah sang kakak belum juga mereda, walaupun raja sudah turun tangan sendiri.


Adik tiri Zu masih memohon, meminta ibunya dibebaskan dari ruang bawah tanah. Tapi kedua kakak tirinya ini tidak menghiraukannya. Sang putri bungsu raja Asia pun tidak bisa menghentikan tangisnya. Ia menangis tersedu-sedu memohon ampunan untuk ibunya. Sedang sang ayah tampak duduk diam setelah mendengar alasan Zu melakukannya.


"Ayah, tolong ibu. Maafkan ibu, Yah." Si putri bungsu memohon kepada ayahnya.


"Kakak pertama, ampuni ibu. Aku mohon." Ia kembali memohon sambil memegang kaki Zu.


Zu tidak bergeming. Baginya perbuatan ratu sudah amat keterlaluan. Masa depannya pun hancur dikarenakan ulah sang ratu. Zu tidak bisa memberinya maaf lagi.


"Semua ini karena dia. Dia sudah membuat kesabaranku habis. Sekarang masa depanku hancur! Ara pergi meninggalkanku karena dia meminta Jasmine mengatakan sesuatu kebohongan. Ayah, kali ini aku tidak dapat bersabar lagi. Jika Ayah masih membelanya, aku akan pergi dan membiarkan Ayah sendiri." Zu amat emosi.

__ADS_1


Shu terkejut dengan perkataan kakaknya. Ia pun menoleh ke arah sang ayah yang sedang duduk merenung. Di ruang tamu ratu itu sang raja seperti serba salah dalam bersikap. Ia ingin masa tuanya ada yang menemani, tapi ia juga tidak ingin kehilangan putranya. Sang raja kini dilanda kebimbangan. Ia bingung harus bersikap seperti apa.


__ADS_2