Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Story of Miracle Fruit


__ADS_3

"Memangnya kalau pohon ini marah, apa yang terjadi?" tanyaku lagi.


"Seluruh air di negeri ini akan diserap olehnya tanpa sisa. Kami akan mengalami masa-masa sulit tanpa adanya air. Bukannya air itu sumber kehidupan utama kita, Ara?"


"Kau benar, Rain. Kita tidak boleh menyakiti makhluk hidup jika tidak ingin keburukan itu kembali kepada kita. Tapi ... apa kita pulang saja? Aku lapar."


Rain seperti berpikir, dia mencari cara.


"Aku akan minta izin kepada pohonnya langsung."


Rain lalu berdiri menghadap ke arah pohon tin, diapun berkata, "Pohon surga! Jatuhkan buahmu! Kami lapar!"


Rain berteriak di depanku, aku memperhatikannya. Namun, tidak ada tanda apapun dari pohon ini.


"Pohon surga, jatuhkan buahmu! Kami lapar!"


Untuk yang kedua kalinya Rain meminta, tapi tetap saja tidak ada tanda apapun dari pohon ini. Kulihat Rain mulai bingung. Aku lalu berdiri, berjalan mendekatinya.


"Kenapa belum ada tanda-tanda, Rain?" tanyaku padanya.


"Entahlah, aku juga bingung. Padahal kata kakek kita harus meminta izin langsung kalau ingin memakan buahnya."


"Tidak bisakah dipetik begitu saja?" tanyaku lagi.


"Tak bisa, Ara. Pohon ini bukan pohon sembarangan. Sekuat apapun kau menarik buahnya, jika pohon ini tidak mengizinkan, kau tak akan bisa mendapatkan buahnya."


"Oh, begitu. Baiklah, coba sekali lagi. Siapa tau bisa."


Aku mencoba menyemangati Rain. Mungkin memang harus tiga kali meminta, pohon tin ini baru memberikan buahnya. Kuperhatikan Rain menyiapkan suaranya untuk berteriak.


"Pohon surga! Jatuhkanlah buahmu, kami sangat lapar." Rain memelas.


Satu, dua menit tidak ada tanda. Mungkin ada yang salah dengan cara Rain meminta. Aku jadi penasaran terhadap pohon ini.


"Ara, ini kan pohonmu. Mungkin jika kau yang meminta, dia akan memberikan buahnya," usul Rain.


Ada baiknya aku juga ikut mencoba. Bagaimanapun pohon ini adalah makhluk hidup, dia bernyawa. Dan setiap yang bernyawa pasti mempunyai hati. Maka aku akan mencoba untuk mengetuk pintu hatinya agar memberikan buahnya kepada kami.


"Baiklah, Rain. Aku akan mencobanya."


Aku mempersiapkan tenaga untuk berteriak dan berpikir kata-kata apa yang dapat meluluhkan hati pohon ini, terlepas nama pohon ini sama atau tidaknya denganku.


Kutarik napas panjang lalu kuembuskan perlahan dari mulut. Kulihat Rain memperhatikanku dari samping. Aku pun mengulurkan kedua tanganku ke arah pohon tin seperti meminta. Kunikmati udara yang kuhirup seraya memejamkan kedua mata lalu berkata kepada pohon itu.


"Duhai Pohon Surga. Sudikah engkau memberikan kami buahmu? Sungguh kami sangat lapar saat ini..."


Beberapa detik aku menunggunya ternyata belum juga ada respon. Aku membuka kedua mataku lalu melirik ke arah Rain, Rain tampak bingung.


Apakah ada kata-kataku yang salah?


PLUKK!

__ADS_1


Tiba-tiba aku merasa telapak tanganku berat.


"Ara, Ara!"


Rain berteriak sambil menunjuk tanganku. Aku segera mengalihkan pandangan dan melihat tanganku.


"Buahnya!"


"Ara, kau berhasil!"


"Rain!"


Betapa senangnya hatiku. Akhirnya buahnya jatuh, tepat di telapak tanganku. Dan yang luar biasanya, buah tin yang lain ikut berjatuhan.


"Rain, di sana juga jatuh!"


Aku berteriak ke sisi kiri Rain jika ada buah yang jatuh.


"Di situ juga!"


Rain dengan cepat menuju tempat jatuhnya buah tin itu. Dia segera mengambilnya di setiap tempat. Aku pun tidak ingin hanya berdiam diri saja, aku ikut membantunya. Kuambil buah tin yang berjatuhan dengan perasaan riang dan gembira.


"Akhirnya kita bisa makan," ucapku senang.


Buah yang berhasil kami kumpulkan cukup banyak. Ada sepuluh buah tin yang jatuh dari pohonnya. Satu langsung di tanganku, sembilan lainnya berjatuhan di banyak tempat. Kami pun ingin segera memakan buahnya, namun kulihat Rain menarik pedangnya.


"Hei, kau mau apa?!" tanyaku kaget.


"Astaga, Rain. Itu tidak perlu kau lakukan. Cukup kau tekan kuat dengan kedua tanganmu lalu tarik. Seperti ini." Aku memberinya contoh.


"Benar juga. Kenapa tidak kepikiran, ya?" Rain menggaruk kepalanya.


"Sarungkan lagi pedangmu! Itu terlihat menyeramkan," pintaku.


Rain lalu menyarungkan kembali pedangnya. Kini dia ikut duduk di sisi kananku. Rain mulai mencoba membuka buah tin dengan kedua tangannya. Sementara aku sudah mulai makan.


"Bagaimana rasanya, Ara?" tanya Rain saat aku sudah hampir habis satu buah penuh.


"Hmmm. Enak!"


Aku memberikan dua jempol kepadanya. Rain pun mulai memakan buahnya.


"Benar. Enak sekali. Ini luar biasa, Ara."


Kami tanpa malu-malu makan dengan lahapnya. Sepertinya Rain juga sangat lapar. Terlihat ekspresi wajahnya yang begitu lucu.


"Tapi, Ara. Tadi aku benar-benar tidak kepikiran hingga harus mengeluarkan pedangku untuk membelah buah ini," lanjut Rain.


"Kau, sih. Ribet!" kataku.


"Tapi kalau untuk membelah buahmu menggunakan pedangku, tak apa kan, ya?" tanyanya yang sontak membuatku memerah.

__ADS_1


"Rainnn!!!"


Tiba-tiba selera makanku terhenti. Aku berusaha memukulnya, namun dia mengelak. Kudekati lagi, dia malah bangkit.


"Rain, kau ini menyebalkan!"


Aku memburunya. Kata-katanya itu terlalu vulgar untukku. Atau memang pikiranku yang kotor?


"Haha. Coba kau tangkap aku, Nona Ara."


Rain benar-benar menggodaku. Aku masih saja mengejarnya. Dia mulai menuruni bukit, aku pun ikut menuruninya. Aku tak akan melepaskannya. Hari ini kupastikan dedaunan akan kembali masuk ke dalam mulutnya.


"Rain!"


Saat aku mengejarnya, kupikir dia akan terus berlari. Ternyata dia malah berhenti lalu balik mengejarku. Aku yang tidak punya persiapan, seperti akan terjatuh saat berusaha menghindarinya.


Rain ....


Rain segera menarikku ke dalam dekapannya sebelum aku benar-benar terjatuh. Dia kemudian menjatuhkanku ke atas rerumputan bersamaan dengan dirinya. Dia menatapku dalam.


"Ara ...."


Suaranya melemas, wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Jaraknya hanya sekitar satu jengkal saja. Hangat napasnya pun kian terasa di permukaan wajahku ini.


Rain kemudian membelai rambutku dengan jari-jemarinya, dia melakukannya dengan sangat lembut. Disingkapkannya rambutku ke belakang telinga hingga membuatku geli dan mengangkat bahu. Rain menikmati ekspresiku ini.


"Ara, hari ini kau milikku..."


Wajahnya semakin mendekati wajahku. Napasnya terdengar berat, detak jantungnya pun melambat.


Ini terlalu dekat...


Aku menelan ludah berulang kali. Akankah hari ini terjadi peristiwa yang tidak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku?


Aku tidak dapat berpikir, jantungku semakin berdetak kencang. Napasku pun seolah ikut melambat. Rain mulai mendekatkan bibirnya ke bibirku. Semakin lama, semakin dekat. Kupejamkan kedua mataku. Aku pasrah...


"Rain ...."


Suaraku terdengar serak. Rain ternyata tidak mencium bibirku. Dia mendaratkan ciumannya di keningku. Tepat di atas hidung.


Kubuka kedua mataku lalu mencoba untuk melihat wajahnya, namun dia masih mencium keningku. Kunikmati ciuman ini. Kurasakan detak jantungnya yang begitu dekat dengan jantungku. Pancaran energi yang Rain salurkan membuat jiwaku meronta-ronta.


"Ara ...." Ditatapnya aku dengan lembut.


"Aku akan menunggu sampai kau siap melakukannya." Dia membelai rambutku. "Aku ingin kau memberikannya dengan tulus."


Rain ....


"Jika sudah siap, maka lakukanlah sepenuh hatimu. Aku milikmu, No-na A-ra." Rain mengejanya di akhir kalimat.


Rain lalu bangkit dari hadapanku. Sementara aku masih merenungi kata-katanya. Aku terhanyut dengan perasaanku sendiri. Dia sama sekali tidak mengambil kesempatan ini. Padahal aku sudah pasrah dibuatnya.

__ADS_1


Rain oh Rain. Kau berhasil meluluhkan hatiku...


__ADS_2