Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I think


__ADS_3

Esok paginya...


Ara bangun di fajar hari, meninggalkan Cloud yang masih tertidur pulas. Ia sengaja tidak membangunkan sang putra mahkota agar Cloud dapat lebih cepat pulih dari sakit yang diderita.


Cloud mengalami luka lambung setelah Rain meninju perutnya dengan keras. Namun, Rain melakukan hal itu bukan tanpa alasan. Ia diminta oleh Ara untuk melakukannya agar Cloud memuntahkan semua yang telah dimakan. Termasuk buah ceri pemberian Andelin yang ditambahi sihir.


Ya, Andelin sengaja memberikan Cloud buah ceri yang ayahnya bawa dari Aksara. Buah itu adalah perantara sihir agar Cloud menuruti apa yang Andelin katakan. Cara yang digunakan Andelin benar-benar keterlaluan. Untungnya saja Rain dan Ara bergerak cepat waktu itu. Kalau tidak, pastinya Cloud sudah terkena sihir saat ini.


Perantara sihir bisa melalui apa saja. Bisa melalui tali simpul, boneka, makanan atau binatang suruhan. Maka dari itu Ara selalu waspada karena ia cukup mengerti bagaimana sihir dapat bekerja. Bukan karena ia ahli sihir, melainkan ia sudah mempelajari hal ini sebelumnya. Sehingga ia bisa lebih waspada dan mawas diri lagi.


"Semoga Rain tidak tahu jika aku tidur di kamar Cloud."


Ara menuruni anak tangga, menuju lantai satu, melewati koridor istana. Ia bergegas kembali ke kediaman Rain sebelum putra bungsu itu melihatnya di pagi buta. Tapi, langkah kakinya tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang tengah keluar dari kamarnya.


"Itu kan ...?"


Ara melihat Zu keluar dari kamarnya. Dan Zu juga melihat Ara. Keduanya saling melihat satu sama lain.


Dia mengenakan gaun tidur?


Zu terpana melihat kepolosan Ara di pagi ini. Gadis itu tidak mengenakan make-up sama sekali dan hanya mengenakan gaun tidurnya saja. Begitu alami di pandangan Zu.


Sebaiknya aku bergegas pergi.


Ara yang tanpa ada persiapan bertemu dengan Zu, segera melarikan diri. Ia tidak ingin pertemuannya pagi ini membuat pangeran itu ilfel, karena melihatnya baru saja bangun dari tidur. Namun ternyata, Zu malah mengejar Ara.


"Nona, tunggu!"


Zu mengejar Ara yang berbalik arah darinya. Ara sama sekali tidak mendengar panggilan Zu karena ia fokus berjalan cepat menuju kediaman Rain. Langkah kaki keduanya sama-sama cepat. Tapi sayang, Zu masih kalah cepat dari Ara. Dan akhirnya, Zu kehilangan jejak gadis itu.


"Astaga, ke mana dia? Kenapa cepat sekali jalannya?"


Zu tampak kelelahan sehabis mengejar Ara. Bersamaan dengan itu, suara ayam jantan terdengar. Menandakan jika sebentar lagi matahari akan segera terbit.


Dia begitu membuatku penasaran. Siapa sebenarnya dia? Mengapa aku merasa tertarik kepadanya?


Napas Zu masih terengah-engah. Ia tidak habis pikir jika akan mengejar gadis itu di waktu sepagi ini. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan melupakan gadis itu sejenak.

__ADS_1


Sesampainya Ara di kediaman Rain...


"Hoaamm. Aku masih mengantuk."


Ara tiba di teras belakang rumah Rain. Karena masih mengantuk, ia merebahkan dirinya di atas sofa sudut itu.


"Tak apa mungkin tidur sebentar. Toh, aku dapat libur hari ini."


Ia kemudian menarik napas perlahan dan tak lama ia pun tertidur di atas sofa itu. Angin pagi yang berembus menemaninya terlarut dalam mimpi.


"Salam bahagia untuk Pangeran Rain."


Selang beberapa saat kemudian, Rain datang dengan wajah lelahnya. Sepertinya ia baru saja kembali dari rutinitas hariannya yang melelahkan.


"Ara?"


Saat ia ingin masuk ke dalam kamar, ia melihat di teras belakang sang gadis sedang tertidur pulas. Rain mendekati lalu mengangkat gadis itu menuju kamarnya.


Apakah semalaman dia menungguku?


Rain merebahkan gadis itu ke atas kasurnya. Ia segera beranjak mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang lelah.


Setelah membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dengan terbalut handuk putih sebatas pinggang sampai ke lututnya. Ia juga menghanduki rambutnya yang masih tampak basah dan segera mengambil pakaian.


Celana panjang putih ia ambil dari dalam lemari untuk dikenakan tidur. Ia hanya berniat tidur dengan hanya mengenakan celana panjangnya saja. Rain tidak terbiasa tidur dengan memakai baju.


Lebih baik aku tidur untuk mengisi energi.


Iapun segera tidur di samping kanan gadisnya. Dibelainya rambut panjang sang gadis seraya memandanginya dengan tatapan sayang. Diusapnya lembut pipi gadis itu yang akan segera ia nikahi selepas acara ini. Rain yakin jika akan memenangkan hati sang gadis.


Ara, kaulah penyemangat hidupku. Jangan pernah tinggalkan aku. Aku sangat menyayangimu.


Rasa lelah yang menerjang, akhirnya membuat Rain berada di fase delta. Ia tertidur sambil memegang tangan kanan sang gadis dengan tangan kanannya. Kamarnya menjadi saksi akan cintanya kepada seorang gadis yang sangat ia sayangi. Rain berniat mempersunting Ara setelah acara pertunjukan busana ini selesai.


Sementara itu...


Zu tampak bersemangat untuk sarapan pagi bersama hari ini. Ia menyemprotkan banyak parfum ke tubuhnya. Senyumnya semringah dengan wajah yang berseri-seri. Ia yang sekamar dengan adiknya itu sontak saja membuat si adik keheranan.

__ADS_1


"Kau tampak bersemangat hari ini, Kak."


Shu melihat kakaknya sudah siap untuk menuju ruang utama istana. Padahal dirinya baru saja selesai mandi.


"Apa biasanya aku tidak bersemangat?" tanya Zu kepada adiknya.


"Tidak. Maksudku lebih bersemangat hari ini." Shu mengenakan pakaian kerajaannya.


"Hm, ya. Mungkin aku lebih bersemangat hari ini."


"Apa karena gadis itu?" tanya Shu cepat.


Zu terdiam, di depan cermin ia tersenyum sendiri. Mengenang pertemuannya bersama Ara dan kejadian tadi pagi.


"Sepertinya Kakakku sedang jatuh cinta."


Shu datang menepuk bahu kakaknya. Ia bergantian bercermin. Zu hanya tersenyum menanggapi.


"Hah, baiklah. Aku tidak menyukai hal ini. Tapi aku akan berusaha menerimanya." Shu kembali bicara.


"Apa kau takut jika Kakakmu jatuh cinta?" Zu bertanya kepada adiknya.


"Kakak, cinta itu tidak ada. Dan jikalaupun ada, mungkin hanya ada sebagai omong kosong belaka."


"Maksudmu?" Zu tampak serius.


"Aku tidak percaya adanya cinta, Kak. Kita ini pewaris kerajaan Asia yang besar. Jikalau ada yang mencintai, itu hanya karena kita mempunyai segalanya, bukan tulus dari hati." Shu menuturkan.


Perkataan Shu membuat Zu berpikir.


"Sudahlah. Lupakan gadis itu. Ingat tujuan kita ke sini untuk apa." Shu kemudian keluar dari kamarnya.


Zu tampak berpikir. Ia seperti mengiyakan perkataan adiknya. Ada rasa khawatir jika gadis yang mencuri perhatiannya itu hanya akan menyukainya karena harta dan tahta. Bukan karena perasaan tulus yang sesungguhnya.


Aku berharap dia berbeda dari gadis lain. Dari pandangan wajahnya, bening matanya dan senyumnya itu terasa tulus dari hati.


Zu mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Aku percaya semua sudah dituliskan. Dan mungkin inilah ceritaku.


Ia bergegas menuju ruang utama kerajaan, menyusul adiknya lalu berjalan bersama melewati koridor ruangan. Ia ingin segera berjumpa dengan sang gadis. Gadis yang terasa tidak asing baginya, Ara.


__ADS_2