
Jam makan siang akhirnya tiba. Sekarang aku dapat bernapas lega karena urusanku sedikit demi sedikit terselesaikan dengan baik.
Syukurlah, semuanya berjalan lancar.
Kini aku duduk di teras kamar sendirian. Menikmati semilir angin di cuaca siang yang cukup terik. Sambil mendengarkan lagu All That I Need, aku mencoba membayangkan gerakan tari apa yang pas untuk mengikuti irama lagu ini.
"Mungkin aku pemanasan dulu."
Sudah lama sekali aku tidak menari. Terakhir saat liburan kenaikan kelas dua SMA. Mungkin ada baiknya jika aku melakukan peregangan otot terlebih dahulu. Untuk meminimalisir jika sendiku terkilir.
Aku mulai berdiri di teras menghadap ke halaman depan kamarku yang tidak terlalu luas. Aku pun mulai meregangkan otot-otot tubuhku.
"Fiyuhh."
Karena sudah lama tidak menari, pemanasan ini membuat tubuhku berkeringat. Belum lagi jika sudah menari.
"Baiklah, sepertinya cukup."
Setelah melakukan sedikit pemanasan, aku mulai menari. Kubiarkan imajinasiku mengambil alih pikiran ini. Kubayangkan jika sedang berada di atas panggung pertunjukan. Menari di hadapan banyak orang dengan diiringi lagu romantis ini.
Kuputar tubuhku perlahan, mengayunkan kedua tangan ke atas lalu ke belakang. Merendahkan sedikit badan kemudian berputar perlahan. Aku menari mengikuti irama lagu ini.
Semakin lama, tubuhku semakin terasa lentur. Lagu yang sengaja kuputar berulang ini mampu membuatku nyaman dengan gerakan-gerakan yang muncul secara spontan. Dan karena terlalu menikmati tarianku sendiri, aku tidak menyadari jika sedari tadi ada yang tengah memperhatikanku.
"R-rain?"
Saat lagu berakhir, kulihat seorang pangeran tengah tersenyum-senyum sendiri ke arahku. Aku tak menyangka jika dia sudah berada di hadapanku. Dia kemudian memberikan tepuk tangannya.
"K-kau dari tadi, Rain?" tanyaku terbata.
"Em, tidak. Mungkin baru lima menit aku di sini. Dan kulihat kau sedang menari begitu indah," jawabnya.
Aku tersipu malu mendengar pujiannya itu. Wajahku sontak memerah karena ucapannya.
Rain pun berjalan mendekati. "Kau butuh bantuan?" tanyanya seraya mengusap keringat di dahiku.
"Em, aku ...."
"Pakailah tubuhku untuk membantumu menari," katanya lagi.
Aku tersentak. "Kau serius?" tanyaku.
Rain mengangguk.
Aku jadi punya ide atas tawarannya ini. Segera saja kuputar ulang lagunya dan mulai menari di hadapannya. Rain tampak memperhatikanku.
Sorot matanya seolah memenuhi ruang hatiku. Dia menatapku dalam sekali. Sampai aku mendekatkan diri kepadanya, dia memegang kedua tanganku.
Aku lalu merendahkan diri ke belakang dan Rain memegang erat pinggangku. Aku mengayunkan tubuh di hadapannya dan dia lalu menarikku. Kami mulai berdansa mengikuti irama lagu.
Beberapa hentakan kaki memberi tanda kepadanya agar menjadi tumpuanku kala beraksi. Rain memutar tubuhku lalu menariknya kembali. Dia memelukku dari belakang seolah ingin menciumku. Akupun lari darinya dan Rain segera menarikku lagi. Kami terus berdansa hingga lagu ini selesai.
__ADS_1
"Hah...hah..."
Napasku terdengar memburu setelah menyelesaikan satu lagu bersamanya. Dan kini aku tengah bersandar di dadanya. Rain membiarkanku beristirahat sejenak di dadanya yang bidang ini.
Perlahan jari jemarinya menyusuri punggungku. Naik ke leher lalu memegangnya dengan lembut.
Rain menatapku. "Tidak ada yang begitu kuinginkan selain dirimu, Ara. Kau begitu sempurna di mataku."
"Rain ...."
Tatapan kedua matanya seolah mencengkram tubuhku. Aku tidak dapat bergerak di hadapannya, aku terpaku.
"Segeralah selesaikan tugasmu. Aku sudah tidak sabar ingin selalu bersamamu," katanya lagi.
Rain ....
"Jangan membuatku menunggu terlalu lama, Ara," lanjutnya.
Aku mengerti akan hasratnya itu. Aku pun menginginkan hal yang sama. Tapi tugasku terlalu banyak sehingga tidak bisa membuatku berpikir ke arah sana.
Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Aku merasa pandangan kedua mata Rain kali ini begitu berbeda padaku. Perlahan dia pun mendekatkan wajahnya. Aku bisa merasakan hangat napasnya itu.
Rain ....
Wajahnya semakin mendekat. Dia menginginkanku. Akupun pasrah menerimanya.
"Hei!"
"Cloud?!"
Wajah Cloud merah padam. Dia seperti menahan amarah.
"Kuperingatkan padamu, Rain. Jangan memancing emosiku!" Cloud memegang tanganku erat.
"Cloud—"
"Ara, tolong jangan membuatku kesal dengan keadaan ini." Cloud juga memperingatkanku.
"Hei, Kak! Apa urusanmu akan hal ini? Ara kekasihku, kau tidak berhak mengaturnya."
"Ara juga calon ratuku. Aku tidak akan membiarkannya disentuh oleh siapapun!" Cloud tampak geram.
Suasana seketika berubah mencekam. Aku harus segera mencari cara untuk menengahi hal ini.
"Cloud, tolong. Ini semua salah paham. Aku dan Rain sedang mencari gerakan tarian yang cocok untuk acara pembuka pertunjukan busana nanti."
"Apa?!"
"Iya, Cloud. Kami sedang berlatih menari. Benar kan, Rain?"
Aku beralih kepada Rain, mencoba memberi kode agar dia mengiyakan perkataanku. Tapi...
__ADS_1
"Aku tidak peduli Ara calon ratumu atau bukan. Akan kubuktikan jika aku lebih layak untuknya."
Rain beranjak pergi meninggalkan kami.
"Rain!" Aku mencoba menahannya, tapi Cloud melarangku.
"Cloud?"
"Ara, kau di sini saja. Jangan kejar dia." Cloud memintaku.
Aku jadi bingung menghadapi situasi seperti ini. Kedua pangeran ini sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Padahal aku sudah memberi isyarat jika bersedia dengan keduanya. Tapi tetap saja mereka tidak ingin dimadu olehku.
Oh, ya ampun. Mengapa kisah cintaku harus seperti ini?
Aku tidak habis pikir jika harus mengalami kisah cinta yang membingungkan. Aku juga tidak mengerti mengapa hatiku belum bisa memilih. Padahal mudah saja sebenarnya jika diharuskan memilih. Pastinya cinta segitiga ini akan cepat berakhir dan aku pun menjadi tenang, tidak dihantui ketakutan jika sedang bersama salah satunya.
"Ara, aku ingin bicara padamu." Cloud lalu menatapku.
"Em, maaf. Tapi tentang apa?" tanyaku memastikan.
"Tentang kita dan juga kerajaan ini. Kau keberatan?" tanyanya seperti menyudutkan.
"Em, tidak. Aku bisa. Kebetulan waktuku masih luang. Ada hal yang juga ingin aku bicarakan mengenai acara pembuka nanti," jawabku seraya berusaha tersenyum.
"Em, baiklah. Aku tunggu di ruanganku selepas jam kerja istana." Cloud berpesan, wajahnya tanpa ekspresi.
"Baik." Aku pun menyanggupi.
Cloud lantas beranjak pergi dariku. Sepertinya masih ada urusan yang harus dia selesaikan.
Haduh, hampir saja.
Setelah melihati kepergiannya, akupun segera masuk ke dalam kamar. Dan tiba-tiba saja aku ingin melihat gaun yang diberikan oleh Cloud.
"Warnanya imut sekali."
Kuambil gaun-gaun itu dari dalam lemari. Warna gaunnya begitu lembut dengan hiasan mewah di bagian dada. Akupun segera melihatnya lebih jelas.
"Astaga!"
Saat kulihat, ternyata gaun yang diberikan Cloud itu ada yang pendek. Hanya dua gaun panjang yang menutupi mata kaki. Kedua gaun lain semuanya pendek. Bahkan ada yang di atas lutut.
"Apa maksud Cloud memberikan gaun pendek ini kepadaku?"
Pikiranku mulai traveling saat melihat gaun pendek ini. Apalagi yang di atas lutut. Aku jadi berpikiran macam-macam tentangnya.
"Betisku ini tidak terlalu indah untuk dilihat. Apakah aku harus me-waxing rambut halus di kakiku?" tanyaku sendiri.
"Mungkin Cloud ingin aku terlihat lebih imut." Aku mencoba berpikiran positif.
"Baiklah, aku ke rumah kecantikan istana saja sekalian perawatan mingguan."
__ADS_1
Tanpa menunda, segera kulangkahkan kaki menuju rumah kecantikan istana. Aku berniat untuk me-waxing rambut-rambut halus pada kakiku.