Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Get Out!


__ADS_3

Pukul sembilan pagi di Asia...


Awal musim panas akan segera tiba. Cahaya matahari menyorot ke dalam kediaman sang pangeran begitu terang. Sang surya seperti ingin melihat keadaan pangeran yang sedang terluka karena cintanya.


Mentari terbit menyambut kedatangan Zu kembali ke istana. Pukul enam pagi ia telah tiba di kediamannya. Dan kini sang pangeran tengah duduk termenung di atas sofa. Ia mencoba mengingat-ingat hal apa yang bisa ia gunakan untuk mengembalikan cintanya.


Ara ....


Senyum indah sang gadis belum mampu ditepiskan olehnya. Manisnya kecupan bibir dari pemilik hatinya masih bisa ia rasakan sampai sekarang. Segala kenangan indah pun terlintas di alam imajinya. Zu begitu merindukan masa-masa itu. Andai saja ada portal waktu, ia akan kembali ke masa indah bersama Ara.


Baru pertama kali jatuh cinta, ia sudah mengalami luka. Luka yang terasa sakit namun tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Cinta Ara telah membuatnya buta. Dan kini sang pangeran tiada berdaya. Ia hanya menginginkan gadisnya.


"Aku ... tidak mencintaimu."


Tiga patah kata itu kembali teringat di benaknya. Ia tidak percaya jika Ara akan mengatakannya. Ia meyakini jika Ara hanya terpaksa mengatakan hal itu, tidak tulus dari hati.


"Ara, aku tahu kau mencintaiku. Tapi karena ucapan Jasmine, kau menepiskan perasaanmu. Lihatlah Ara! Aku akan menemui Jasmine untuk meminta pertanggungjawabannya."


Zu beranjak dari duduknya. Ia masih mengenakan pakaian kerajaan yang berwarna hitam. Ia segera melangkahkan kakinya ke luar kamar, lekas-lekas menuruni anak tangga, menuju lantai satu kediamannya. Ia lalu menaiki kuda untuk menemui Jasmine pagi ini.


Beberapa menit kemudian...


Akhirnya sang pangeran tiba di belakang istana. Di mana terdapat bangunan khusus untuk para pekerja. Zu pun masuk ke dalamnya, ia ingin menemui Jasmine.


"Putri, Pangeran Zu ingin bertemu dengan Anda."


Jasmine sedang berada di dalam kamar. Zu pun tidak ingin masuk ke dalam kamar tersebut. Ia menunggu di depan pintu dan meminta seorang penjaga memanggil Jasmine. Ia tidak ingin terjadi fitnah di kemudian harinya.


Jasmine yang sedang sakit pun berjalan tertatih ke luar kamar. Ia dibantu seorang pelayan yang ada di sana. Ia keluar kamar lalu melihat Zu sedang menyandarkan punggung di dinding luar kamarnya.


"Pangeran Zu?"


Betapa senang hatinya karena sang pangeran akhirnya datang untuk menemuinya. Senyumnya mengembang karena perasaan bahagia. Ia tidak menyangka Zu akan menemuinya. Namun, sang pangeran tampak memalingkan pandangan.

__ADS_1


"Kau sedang sibuk?" tanya Zu tanpa melihat ke arah Jasmine.


"Aku tidak sibuk, Pangeran. Apa kau ingin mengajak ku berjalan-jalan?" tanya Jasmine yang seketika semringah.


"Jasmine." Zu lalu berdiri tegap di hadapannya. "Kedatanganku ke sini bukan untuk mengajakmu berjalan-jalan ataupun menjengukmu." Zu berkata tegas, seketika Jasmine terdiam.


Pangeran ....


"Aku ke sini ingin bertanya kepadamu tentang apa yang kau katakan kepada Ara," lanjut Zu yang sontak membuat Jasmine terperanjat kaget.


"Pa-pangeran ...."


"Kau sadar jika telah memfitnahku?" tanya Zu dengan tatapan nanar.


"Pangeran—"


"Kau sadar apa yang kau lakukan?"


"Pangeran, aku hanya—"


"Pangeran ...." Jasmine pun menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa berkata apa-apa.


"Mungkin selama ini aku sudah terlalu baik padamu sehingga kau bisa seenaknya padaku. Cepat katakan hal apa yang kau katakan pada Ara sebelum dia pergi dari istana?" Zu meminta.


"Pangeran, a-aku—"


"Cepat katakan!" Zu pun membentak Jasmine.


Tidak pernah terbayangkan oleh Jasmine sebelumnya akan mendapat ucapan keras dari Zu. Selama ini Zu berlaku lembut padanya hingga ia mengira jika Zu menyukainya. Tapi hari ini ia harus menerima bentakan dari seorang pangeran yang dicintainya.


"Pangeran, aku akui jika salah." Jasmine mencoba berkilah.


"Aku tidak meminta pengakuan salah darimu. Aku hanya minta katakan apa yang kau bicarakan pada Ara." Zu benar-benar kesal kepada putri dari Negeri Bunga itu.

__ADS_1


"Aku ...." Jasmine seperti tidak dapat berkata apapun.


"Baik. Jika kau tidak ingin mengatakannya, berarti benar apa yang dikatakan Ara. Jasmine, aku akan mengembalikanmu ke negeri asal." Zu beranjak pergi.


"Pangeran, tunggu! Kumohon jangan kembalikan aku ke Negeri Bunga, Pangeran." Jasmine menahan kepergian Zu.


"Kau tidak berhak mengaturku." Zu menghempaskan tangan Jasmine yang menahannya.


"Pangeran!" Jasmine pun menghadang langkah Zu. "Pangeran, aku akui jika salah telah mengatakan kepada Ara tentang kandunganku. Tapi aku mohon jangan kembalikan aku ke Negeri Bunga." Jasmine memohon.


"Kau mengatakan kepada Ara tentang kandunganmu?" Zu menyelidik.


"Ya, aku mengatakan jika sedang mengandung anakmu. Tapi aku terpaksa melakukannya, Pangeran. Kumohon jangan buang aku, jangan kembalikan aku ke Negeri Bunga." Jasmine bersimpuh di hadapan Zu.


Amarah Zu semakin meledak-ledak saat mendengar pengakuan Jasmine. Ternyata apa yang dikatakan oleh Ara memang benar adanya. Ia kini menyadari jika Ara pergi dan meninggalkannya karena perkataan Jasmine.


"Sekarang katakan padaku, siapa yang memaksamu melakukan hal itu?" tanya Zu yang sudah di batas kesabarannya.


"I-itu ...." Jasmine takut.


"Cepat katakan! Atau kalau tidak, aku akan meminta prajurit untuk mengembalikanmu sekarang juga!" ancam Zu kepada Jasmine.


"Ba-baik." Jasmine terbata. "Ibu ratu yang menyuruh. Dia memintaku untuk membuat Ara pergi dari istana," kata Jasmine ragu.


Bertambahlah rasa kesal dan amarah di dalam hatinya setelah mendengar kebenaran ini. Zu pun segera meninggalkan Jasmine dan pergi menuju istana. Ia ingin menyelesaikan masalah ini dengan ibu tirinya. Zu tidak akan diam saja kepada seseorang yang telah menghancurkan masa depannya.


Pangeran ....


Putri bergaun putih itu pun masih bersimpuh di atas lantai sambil melihat kepergian Zu dari hadapannya. Ia tidak menyangka jika Zu akan sekasar ini padanya. Pupus sudah harapan di hatinya yang ingin bersama Zu. Ia kini dilanda ketakutan akan dikembalikan ke Negeri Bunga. Jasmine tidak ingin kembali ke negeri itu, ia sudah terlanjur menyukai Asia dan juga pangeran sulung kerajaannya.


...


Menjelang siang ini suasana sekitar terasa panas. Tapi bukan karena cuaca yang terik, melainkan karena amarah sang calon raja Asia. Para pelayan dan prajurit yang ada di dekat Jasmine pun terpaku di tempatnya saat melihat amarah yang muncul dari sang pangeran. Mereka belum pernah melihat Zu marah sebelumnya. Namun, hari ini kemarahan itu jelas terlihat di mata mereka.

__ADS_1


Lain Jasmine, lain Zu. Sang calon raja Asia ini segera melajukan kudanya menuju istana. Tak lama ia pun sampai dan kedatangannya disambut oleh para menteri yang ada. Namun, ia diam saja dan terus melangkahkan kakinya menuju ruangan ratu. Zu akan membuat perhitungan dengan ibu tirinya saat ini juga.


__ADS_2