Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Extra Part


__ADS_3

Ruang utama istana terletak di pertengahan bangunan megah ini. Sebuah ruang kosong yang luas dengan tangga berdampingan meliuk indah di kedua sisinya. Kini ruang ini terlihat begitu indah dengan hiasan bunga di hampir setiap sisi. Bunga-bunga itu tersusun rapi di dalam sebuah pot besar yang terbuat dari kristal bening.


Di timur ruangan ini ada sebuah panggung, tempat band Mozart memainkan alat musiknya. Sedang di sekelilingnya ada panggung lebih rendah dari panggung band. Tempat di mana para peraga busana akan menunjukan betapa indah maha karya dari sang gadis. Mereka akan berjalan bak model di sekeliling panggung ini.


Di depan panggung dihamparkan karpet merah tebal untuk para penari latar. Yang mana para pangeran dan putri kerajaan bisa melihat pertunjukan itu dari anak tangga yang terletak di barat ruang utama ini. Sedang para raja dan ratunya akan melihat pertunjukan dari tempat yang lebih tinggi, di teras lantai dua. Tempat kedua tangga berdampingan ini terhubung.


Mozart bersama band-nya tengah mengecek suara alat musik mereka. Ia memainkan melodi awal lagu All That I Need dengan merdu. Tak ayal, para pangeran dan putri pun mulai berdatangan, memasuki ruang utama istana. Mereka dipersilakan menunggu di anak tangga oleh Menteri Luar Negeri, Shane.


"Silakan, Pangeran. Di sisi tangga sebelah kanan. Untuk Putri di sisi tangga sebelah kiri."


Shane menyambut kedatangan para pangeran dan putri dengan ramah, dan juga dengan senyuman yang menghangatkan. Sebagai orang kepercayaan raja tentunya ia tidak ingin mengecewakan Sky. Ia telah lama dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri, bahkan sejak mendiang raja bertahta.


Shane adalah menteri yang lebih banyak diam di antara menteri lainnya. Ia jarang sekali bercakap-cakap jika tidak ada hal yang terlalu penting. Namun, jika berkaitan dengan urusan kerajaan, ia paling cepat bertindak.


Usianya berbeda tipis dengan menteri-menteri lainnya, sekitar 43-47 tahun. Ia sangat jarang terlihat keluar ruangan jika tidak ada urusan yang mendesak. Ia fokus membantu Sky dalam memperluas wilayah Angkasa dan menjalin hubungan erat dengan para negeri tetangga. Shane tampak berwibawa.


Tak lama, alunan melodi lagu itupun berhenti. Mozart merasa sudah cukup untuk melakukan pemanasan bersama para personil band-nya. Dan kini acara akan segera dimulai.


Raja dan ratu mulai memasuki ruangan. Mereka duduk di barisan paling depan, ditemani Menteri Perdagangan dan Menteri Pertahanan. Sedang Menteri Dalam dan Luar Negeri bertugas menjadi pembawa acara malam ini. Dan inilah pertunjukan busana kerajaan Angkasa.


"Selamat malam, Hadirin. Selamat datang di pertunjukan busana kerajaan Angkasa. Terima kasih telah bersedia menghadiri acara ini. Dan sebelum kita memulai acara, mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa dimulai."


Count membuka acara dengan memulai doa bersama. Para putri dan pangeran tampak berdiri sambil menundukkan kepala. Mereka berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Begitu juga dengan para raja dan ratu yang berada di lantai dua. Mereka ikut berdoa dengan khidmat.


"Selesai." Count menyudahi sesi doa bersama.

__ADS_1


"Baiklah, tanpa perlu menunggu lebih lama lagi. Mari kita saksikan pembukaan acara ini. Inilah kreasi dari kerajaan Angkasa."


Tak lama Mozart mulai memainkan alunan lagu All That I Need. Para penari latar mulai memasuki ruang utama istana. Mereka mengenakan gaun panjang yang berwarna biru.


Kesepuluh penari itu lalu berbaris horizontal dan memulai gerakan tarian mereka. Sontak saja gerakan serempak itu memukau para tamu undangan yang hadir.


Rain berdiri di tengah-tengah tangga. Ia tampak menikmati tarian itu bersama alunan musik yang merdu dan menggugah hati. Ia juga menjaga ponsel Ara yang sedang merekam pertunjukan. Ia sepakat dengan gadisnya untuk mengabadikan momen bersejarah ini. Setelah belasan tahun berlalu, akhirnya Angkasa kembali mengadakan pertunjukan besar.


Para penari tampak begitu lentur saat mengayunkan tubuhnya mengikuti irama lagu. Mereka bergerak ke kanan dan ke kiri dengan lambat lalu mempercepat saat di bagian reff lagu. Terlihat para putri bertepuk tangan dan histeris saat melihat pertunjukan tarian pembuka itu. Dan yang lebih mengejutkan, sang gadis datang dengan gaun panjang berwarna merah muda di bait terakhir lagu.


Zu tampak terkejut melihat Ara datang. Gadis itu mengambil posisi di tengah-tengah penari yang membentuk lingkaran. Ia mengayunkan tangannya ke kanan dan ke kiri lalu merendahkan tubuhnya ke belakang. Zu terkesima, tidak percaya melihat gadis itu dapat menari seindah ini.


Nona, kau ...?!


Rain tampak menggigit bibirnya saat melihat liukan tubuh sang gadis. Sedang Cloud yang melihat dari lantai dua, tampak tidak mengedipkan matanya. Mereka terpesona dengan gerakan tarian Ara.


Semakin mendekati irama akhir lagu, Ara semakin cepat menari. Ia kemudian berputar di tempat lalu kesepuluh penari datang melingkarinya. Dan tepat saat lagu berakhir, Ara berhenti berputar lalu memasang pose dengan tangan kiri ke atas dan tangan kanan yang direntangkan.


Kesepuluh penari ikut menghiasi pose sang gadis dari jarak yang dekat, mereka membentuk formasi layaknya bunga yang sedang mekar. Sontak saja para pangeran dan putri berdiri sambil bertepuk tangan melihat persembahan pembuka itu.


"Luar biasa!"


"Lihat! Betapa indahnya gadis itu menari."


Para raja dan ratu tampak memuji penampilan tarian pembuka ini. Ara bersama kesepuluh penarinya lalu berbaris sejajar dan membungkukkan badan, memberi hormat kepada tamu undangan. Cloud hampir-hampir saja tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Tarian yang begitu indah menghipnotis dirinya.

__ADS_1


Ara, kaukah itu?


Jantung Cloud berdegup kencang. Ia masih tidak menyangka jika sang gadis mampu melakukan gerakan tarian dengan amat sempurna. Hampir-hampir saja ia terpeleset sendiri karena rasa tak percaya melihat Ara menari. Berulang kali ia menelan ludahnya. Dan akhirnya, ia pun memberikan tepuk tangannya.


Lain Cloud, lain juga dengan Rain. Rain tampak terpukau dengan apa yang Ara lakukan. Ia semakin menjadi-jadi. Ia meremas tiang penyanggah ponsel Ara yang sedang merekam pertunjukan, seolah tidak dapat menahan gejolak yang tengah hadir di dalam tubuhnya.


Ara, kau begitu menggemaskan.


Rain tak habis pikir jika akan melihat hal ini. Namun di dalam hatinya, ia juga merasa kesal karena sang gadis menari di hadapan pangeran lain. Ia segera melirik ke arah kanan, tempat di mana para pangeran duduk melihat pertunjukan.


Jangan sampai tanganku ini bergerak karena mata-mata mereka yang berlebihan memandangi Araku.


Rain menatap tajam ke arah para pangeran setelah pertunjukan pembukaan dilakukan Ara dan penarinya. Ia cemburu jika ada yang sampai menatap gadisnya itu dengan pandangan lain.


Zu sendiri tampak tertegun. Ia tidak mengindahkan para pangeran yang sedang membahas pertunjukan pembuka tadi.


Dia benar-benar luar biasa. Aku tak percaya jika dia juga bisa menari seindah itu. Ya, Tuhan. Semakin lama aku melihatnya, mengapa hati ini semakin tidak karuan?


Zu menunduk, sesaat setelah Ara menghilang dari pandangannya. Ia tertegun sendiri dengan hal yang terjadi padanya. Ia bingung, khawatir karena rasa yang tengah bersemi ini. Keadaan hatinya diliputi keinginan yang besar untuk mengenal lebih jauh sang gadis.


"Baiklah, Hadirin. Kita baru saja melihat penampilan dari Nona Ara bersama para penarinya. Semoga tarian pembuka ini bisa memberikan kesan tersendiri bagi kita semua." Count melanjutkan.


"Dan selanjutnya, kita akan mendengarkan sambutan dari Yang Mulia Raja. Kepada Yang Mulia, dipersilakan." Shane menambahkan.


Raja kemudian turun dari lantai dua ditemani putra sulungnya, Cloud. Ia lantas naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan. Sedang Cloud menemani hingga sambutan ayahnya berakhir.

__ADS_1


__ADS_2