
"Rain ...." Ara menyambut kedatangan Rain dengan cemas.
"Ara, aku akan pergi ke selatan negeri ini sekarang."
"Apa?!" Sang gadis pun terkejut.
"Kita tidak punya banyak waktu. Jika memang benar lewat pertengahan malam, maka itu berarti hanya tinggal enam jam saja. Aku harus berangkat, Sayang. Kau akan aman di sini. Ikuti apa kata kak Cloud, ya." Rain memegang kedua lengan gadisnya.
"Tapi, Rain—"
"Ambil pedangku untuk berjaga-jaga. Aku harus bergegas." Rain lalu beranjak ke kamarnya.
Rain ....
Ara pun tidak dapat menahan. Ia hanya bisa melihat pangerannya mengenakan pakaian perang. Hatinya sungguh sedih saat mengetahui Rain akan pergi petang ini. Sang panglima pun tetap menjalankan tugasnya untuk menjaga keamanan negeri.
"Ara, aku berangkat." Rain berpamitan setelah mengenakan pakaian perangnya.
"Rain ...." Ara pun menitikkan air mata.
Diusapnya air mata itu lalu Rain mencium kening gadisnya. "Aku harus menjalankan tugasku, Ara. Negeri ini tidak boleh dijajah selama aku hidup. Kau bersabarlah." Rain menenangkan gadisnya.
Ara hanya mengangguk.
"Aku berangkat. Doakan aku, ya." Rain pun beranjak pergi.
"Rain!" Ara menahan kepergian pangerannya. "Kembalilah dengan selamat untukku ... dan juga untuk negeri ini," pinta Ara seraya menahan isak tangisnya.
"Aku pasti kembali."
Rain pun melepaskan pegangan tangan Ara. Ia segera pergi dari hadapan sang gadis. Air mata sang gadis pun tidak mampu terbendung lagi.
Rain, selamat bertugas ....
Kini air mata itu semakin lama semakin deras. Sang gadis pun melihat kepergian Rain. Ia tidak lagi bisa berkata-kata, hanya doa yang mampu ia berikan untuk pangerannya.
Ya Tuhan, tolong jaga Rainku. Dan juga seluruh pasukannya. Jika memang pertanda ini benar, maka berikanlah kemenangan untuk kami.
Petang ini menjadi saksi akan kesedihan sang gadis. Mau tak mau ia harus merelakan kepergian pangerannya. Rain bersama pasukan akan berperang jika kabar yang Ara sampaikan memang benar terjadi. Keutuhan negeri adalah hal mutlak baginya.
Sementara di ruang kerja sang raja...
__ADS_1
Cloud menyampaikan kabar yang didengarnya. Sky pun tampak merenungi hal ini. Terlihat raut wajahnya bertambah kusut, sesaat setelah mendengar penuturan putranya.
"Ayah, sebaiknya Ayah bersembunyi sementara waktu. Aku tidak ingin terjadi apapun pada Ayah." Cloud amat cemas.
Sky hanya diam.
"Ayah, aku tidak ingin mimpi itu terjadi. Tolong bersembunyilah bersama ibu," pinta Cloud lagi.
Sang ratu terdengar mulai kesakitan kala matahari terbenam. Ia terbangun dari tidurnya dengan jeritan yang memilukan. Seluruh tubuhnya pun kini memerah.
"Cloud, segera panggil Ara. Minta dia untuk membuatkan ramuan." Sky beranjak meninggalkan Cloud untuk menjenguk istrinya.
Ayah ....
Cloud pun hanya bisa diam saat sang ayah tidak menanggapi permintaannya. Ia merasa cemas dengan keadaan ini.
Iapun bergegas keluar dari ruangan ayahnya dan mencari sang gadis. Langkah kakinya terdengar cepat menyusuri koridor lantai tiga istana. Ia menuruni anak tangga lalu menuju ke kediaman Rain untuk menemui Ara di sana.
Lima belas menit kemudian...
Kini Ara sudah tiba dan sedang membuatkan ramuan untuk ratu. Ia juga telah membersihkan buah tin yang siap disantap ratu negeri ini. Di antara kecemasannya, ia tetap membantu ratu untuk menyembuhkan penyakit yang diderita. Dan tak lama, secangkir ramuan sudah siap tersedia.
"Cloud, sudah jadi." Ia lalu mengantarkan ramuan itu kepada Cloud.
Ara pun mengangguk. Ia membawakan nampan berisi ramuan dan juga buah tin untuk ratu. Dan setibanya di dalam, Ara melihat tubuh ratu seperti terbakar. Ratu terlihat berulang kali menjerit kesakitan.
Astaga ... ini benar-benar sihir.
Ia lantas mendekati Ratu yang sedang ditenangkan oleh raja. "Yang Mulia, minumlah. Ini adalah obat dari penyakit Anda," pinta Ara sambil memberikan secangkir ramuan untuk ratu.
Raja pun membantu ratu untuk bangun. Namun, sang ratu terkejut saat melihat Ara yang memberikan ramuan itu kepadanya.
"Kau?! Untuk apa kau ke sini!"
Ratu menghempaskan cangkir ramuan yang Ara bawa. Seketika cangkir ramuan itupun jatuh dan pecah berkeping-keping. Sontak Ara terkejut dibuatnya.
"Moon, apa yang kau lakukan?!" Sky kaget dengan sikap istrinya.
"Ibu, ini adalah ramuan obat, Bu. Kenapa ibu membuangnya?" Cloud mendekati ibunya dan melihat ramuan yang jatuh ke lantai.
"Aku tidak akan meminum setetes pun obat darinya. Pergi kau dari istana!" Ratu mengusir Ara.
__ADS_1
Alangkah sakitnya hati sang gadis saat mendapat perlakuan seperti ini dari ratu. Padahal ia amat tulus membantu ratu agar segera sembuh dari penyakitnya. Ara lalu segera undur diri dari hadapan raja.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya permisi."
Ia segera keluar dari kamar ratu saat jerih payahnya ditolak mentah-mentah. Perasaannya berkecamuk mendapatkan perlakuan yang seperti ini. Cloud pun segera mengejar sang gadis.
"Ara, tunggu!"
Cloud mengejar gadisnya. Ia menahan kepergian Ara yang sudah sampai di depan tangga. Dipegangnya lembut kedua lengan sang gadis agar Ara tidak melanjutkan langkah kakinya.
"Cloud, maaf ... aku tak bisa." Ara menahan air mata kesedihannya.
"Ara, maafkan ibuku. Ibuku—"
"Ya, tak apa, Cloud. Aku bisa menerimanya. Mungkin aku sangat menjijikkan baginya," sela Ara menutupi rasa sakit di hatinya.
"Tidak, Ara. Bukan seperti itu. Ibu sedang terkena sihir, jadi dia tidak bisa berpikiran jernih," bela Cloud, mencoba menengahi.
"Ya, aku tahu."
"Ara, aku sudah mendengar tentang kabar penyerangan ini. Jadi tolonglah jangan jauh dariku. Rain juga telah berpesan untuk menjagamu."
"Apa?!" Ara terkejut.
"Ara, kau tahu. Sebelum hal ini terjadi, aku sudah memimpikannya berulang kali. Jadi kumohon, bantu aku. Maklumi sikap ibuku. Jangan membuat pikiranku terpecah. Aku harus fokus mengamankan istana saat ini. Jadi tetaplah bersamaku." Cloud memohon.
Perkataan Cloud membuat Ara mengerti betapa berat beban yang dipikul sang putra mahkota. Ia pun mencoba menepiskan perasaan sakit hatinya.
"Baiklah. Sekarang beristirahatlah di kamarku. Nanti aku akan ke sana. Aku akan membuatkan ramuan untuk ibu. Mungkin jika aku yang memberikannya, ibu tidak lagi menolaknya." Cloud meminta sang gadis untuk beristirahat.
"He-em." Ara mengangguk.
Cloud lantas mengusap kepala gadisnya. Ia pun segera kembali ke kamar ratu. Sedang Ara, melihat kepergian sang pangeran dari hadapannya.
Cloud, entah mengapa melihatmu aku merasa sedih sekali. Maafkan aku ....
Ara lantas melangkahkan kakinya menuju lantai dua istana. Ia menuruni anak tangga lalu menyusuri koridor untuk sampai ke ruangan Cloud. Setelahnya, ia pun beristirahat sejenak dari rasa lelah yang melanda.
"Aku tidur di sofa saja."
Ara tidak tidur di kamar Cloud melainkan di sofa ruang kerja sang pangeran. Dan sambil memegang pedang Rain, ia berdoa kepada Tuhan.
__ADS_1
Rain, berjuanglah ....
Sebelum matanya benar-benar terpejam, ia mendoakan keselamatan dan keberhasilan untuk Rain berserta para pasukan. Rain pun seperti menyadari, namun ia tetap melajukan kudanya dengan cepat menuju selatan negeri ini.