Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Nothing Impossible


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Aku diajak Zu masuk ke dalam ruangannya. Dan kini hanya aku dan dirinya saja di dalam ruangan.


"Pangeran, kau jangan salah paham pada adikmu. Kami sungguh hanya sekedar berbincang saja."


Aku mencoba menjelaskan kepada Zu karena merasa tak enak sendiri. Ia sepertinya melihat tanganku dipegang oleh Shu tadi. Aku khawatir jika Zu berprasangka yang tidak-tidak tentang kami. Terlebih aku tidak ingin ada perpecahan di antara mereka.


"Pangeran ...."


Zu masih diam, dia duduk di depan meja kerjanya. Sedang aku duduk di sofa yang ada di seberang meja kerjanya ini. Kutatap wajahnya yang dingin, dia pun mulai mengambil berkas dokumen yang harus ditandatangani satu per satu.


Ya sudahlah ....


Aku duduk sambil membaca buku yang ada di meja tamunya. Aku berharap dia akan berbicara. Tapi ternyata, dia masih diam saja sambil terus menandatangani dokumennya itu.


"Pangeran."


Tak berapa lama kemudian, kudengar suara mengetuk pintu ruang kerjanya. Zu lalu mempersilakannya masuk. Dan kulihat beberapa menteri datang. Aku pun segera berdiri, memberi salam.


"Salam bahagia," kataku kepada menteri-menteri itu.


"Salam Putri." Para menteri membalas sapaanku seraya membungkukkan badan.


"Putri, syukurlah Anda sudah kembali." Salah satu menteri bicara padaku.


Aku hanya tersenyum dan kulihat Zu masih diam, tidak ada tanggapan sama sekali. Sepertinya dia memang benar-benar marah kepadaku.


"Pangeran, ini dokumen berisi inventaris negeri. Pangeran bisa mengeceknya." Menteri lain memberikan dokumen kepada Zu.


Zu hanya mengangguk, tidak berbicara sepatah katapun. Karena merasa menganggu kegiatannya, aku beranjak keluar dari ruangan.


"Maaf, aku permisi dulu," kataku lalu berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Dewi!" Seketika itu juga Zu memanggilku.


"Ya, Pangeran?" Aku berbalik menghadapnya.


"Tetaplah di sini, bantu aku menyelesaikan pekerjaanku."


Tiba-tiba saja dia memintaku untuk membantu pekerjaannya, yang mana hal itu membuat para menterinya terperanjat kaget. Kulihat mereka saling melirik satu sama lain.


"Jelaskan padaku bagaimana cara menyelesaikannya. Hari ini biar aku bersama ratuku yang menyelesaikan." Zu berkata kepada para menterinya.


"Baik, Pangeran."


Menteri-menteri itu lalu menjelaskan apa saja yang harus Zu lakukan berkenaan dengan serah-terima jabatan raja ini. Aku pun kembali duduk di sofa sambil menunggu mereka selesai berbicara. Dan tak lama, para menteri itu berpamitan kepada Zu dan juga aku.


Padahal dia sudah berjanji untuk memberiku kebebasan. Tapi kenapa dia mengingkarinya?


Aku jadi pusing menghadapi sikap cemburunya ini. Ya, apalagi kalau bukan cemburu. Mungkin dia takut terjadi apa-apa denganku jika jauh dari pengawasannya.


"Kemarilah, Ara."


"Tolong bantu bacakan apa yang ada di dalam dokumen ini. Aku sambil menandatangani dokumen yang lain," pintanya.


Tak ingin memperkeruh suasana, aku pun menuruti apa yang dimintakan olehnya. Kubacakan isi dokumen kepadanya dan dia memintaku untuk menandai dokumen-dokumen yang telah selesai dibacakan. Sedang dirinya, terus saja menandatangani dokumen lain.


Aku jadi teringat dengan Cloud. Sedang apa ya dia di sana?


Tiba-tiba aku teringat dengan pangeran sulung kerajaan Angkasa, namun kali ini dengan suasana yang berbeda. Kalau bersamanya, aku mengerjakan dengan sepenuh hati. Tapi jika sekarang, bisa dibilang terpaksa. Ya, terpaksa agar Zu tidak marah padaku.


Ara tidak dapat melawan ataupun menentang permintaan Zu saat suasana sedang keruh seperti ini. Ia menyadari jika Zu cemburu karena Shu telah berani memegang tangannya. Ara pun sudah berusaha menjelaskan kepada Zu, tapi tetap saja sang pangeran memasang wajah dingin kepadanya. Sedang Zu sendiri masih menahan emosi karena rasa cemburunya itu.


Aku tidak mengerti mengapa adikku bisa seperti ini kepada kekasihku sendiri. Padahal Ara akan menjadi kakak iparnya. Haruskah aku melarangnya pergi ke manapun bila tanpaku? Tapi bagaimana jika dia kabur lagi?


Astaga ... semakin lama aku semakin gila karenanya. Sepertinya aku memang benar-benar membutuhkan terapi untuk menenangkan jiwa ini.

__ADS_1


Zu diselimuti ketakutannya. Ia takut jika kisahnya akan berakhir sama seperti kedua pangeran Angkasa, saling memperebutkan hati gadis yang sedang berada di sampingnya ini. Zu pun masih menjaga sikap agar Ara tidak takut kepadanya. Ia tidak ingin perasaan Ara yang telah susah payah ia bangun hilang begitu saja. Ia tidak ingin Ara kembali seperti awal pertemuan, yang biasa-biasa saja terhadapnya.


Sementara itu...


Rain bersama pasukan sedang bersiap melanjutkan perjalanannya. Ia tampak dibekali beberapa nasehat oleh sang kakek. Rain pun mendengarkannya dengan saksama.


"Jangan lewat jalur dataran rendah saat menuju bukit persik. Pilihlah jalur menanjak seperti yang telah kakek jelaskan tadi." Kakek itu berpesan.


"Baik, Kek. Aku mengerti." Rain menanggapi.


"Jangan lupa matikan api saat lewat pertengahan malam, agar tidak terlihat oleh burung pengintai di sekitaran bukit itu."


"Burung pengintai?"


"Benar, Cucuku. Asia menyebarkan burung pengintai di sekitaran istana setiap lewat pertengahan malam. Dan burung itu akan berbunyi keras jika ada sesuatu hal yang dilihatnya mencurigakan." Kakek itu menjelaskan.


"Baik, Kek." Rain mengangguk.


"Perjalananmu akan memakan waktu sekitar empat jam jika tidak ada hambatan. Tapi biasanya ada buah-buahan bukit yang berjatuhan sehingga menyebabkan jalan kalian sedikit terhambat," lanjut kakek itu.


Rain mengerti.


"Selamat menjemput bidadarimu, Cucuku. Kutunggu kalian di sini." Kakek itu mengantarkan Rain ke depan rumah.


"Terima kasih, Kek. Kalau begitu aku pamit." Rain berpamitan.


"Iya, jangan sampai lupa semua pesanku." Kakek itu melepas kepergian Rain.


Rain bersama pasukan mulai menaiki kudanya masing-masing. Mereka menuju bukit persik sebagimana yang telah Ara sampaikan di balasan surat yang Rain kirim. Rain pun mulai memimpin perjalanan, mengikuti rute yang telah kakek tua itu sampaikan. Ia akan menjemput dan membawa gadisnya kembali ke Angkasa.


Ara ... aku akan tiba awal malam di sana. Dan besok pagi aku akan menunggu kedatanganmu. Jangan kecewakan aku. Kembalilah ke Angkasa bersamaku. Karena bukan hanya aku yang membutuhkanmu. Tapi juga ibuku, dan seluruh penghuni istana lainnya.


Langkah kaki kuda Rain mulai melaju dengan cepat, melewati hutan yang ada di sekelilingnya. Ia bertekad untuk membawa Ara kembali ke istana Angkasa. Ia tidak bisa menundanya lebih lama lagi. Ia amat rindu dan juga ingin bertemu dengan sang gadis pujaan.

__ADS_1


Siang ini tak ada kata lelah baginya. Padahal ia baru saja melakukan perjalanan jauh, mengarungi samudera untuk dapat sampai ke Asia. Misi harus berhasil dilaksanakan dan hal itu adalah mutlak baginya. Bagi seorang panglima tinggi kerajaan Angkasa yang diberkahi. Dan Rain yakin jika misi ini akan berhasil.


__ADS_2