Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Please Come Back Home


__ADS_3

Di ruang rapat istana Angkasa...


Sky bertemu langsung dengan raja Negeri Bunga. Ia temani keempat menteri, sedang raja Negeri Bunga itu hanya ditemani Menteri Luar Negerinya. Mereka berjabatan tangan lalu duduk di depan meja persegi panjang yang besar. Rapat pun dimulai.


"Senang bisa bertemu kembali dengan Raja Sky," tutur raja Negeri Bunga itu.


"Terima kasih. Suatu kehormatan bisa mendapatkan kunjungan dari Raja Negeri Bunga sendiri." Sky menanggapi.


"Maaf, Yang Mulia. Ini dokumen negeri kami. Mohon dibaca." Menteri Negeri Bunga memberikan dokumen kepada Sky.


Sky mulai membaca dokumen tersebut. Sedang keempat menterinya memeriksa dokumen lain. Mereka membaca isi dokumen itu dengan saksama.


"Baiklah. Aku sudah membaca isi dokumen yang Anda berikan kepada Angkasa, Raja Flow. Namun sebelumnya, ada satu hal yang ingin aku tanyakan." Sky memulai pembicaraan ini.


"Silakan, Raja Sky." Raja Negeri Bunga itu menanggapi.


"Begini. Aku hanya ingin tahu kenapa Negeri Bunga lebih tertarik menyatukan wilayah dengan Angkasa. Bukankah lebih dekat ke Asia?" tanya Sky berhati-hati.


Sejenak raja Negeri Bunga itu terdiam, ia lalu tersenyum kepada Sky. Para menteri pun tampak memperhatikan kedua raja yang sedang berbincang.


"Raja Sky tahu sendiri jika kami tidak mempunyai penerus kerajaan. Kami tidak memiliki putra mahkota. Negeri kami hanya mempunyai seorang putri dan tidak mungkin untuk meneruskan tahta kerajaan. Sehingga kami tertarik untuk menyatukan wilayah dengan Angkasa," jawab raja negeri itu.


"Ya. Alasan bisa diterima. Tapi kenapa Anda lebih memilih Angkasa dibandingkan Asia?" tanya Sky lagi.


"Mohon maaf, Raja Sky. Kami lebih memilih Angkasa karena menurut kami Angkasa tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. Tetapi juga memperhatikan kebutuhan wilayah lain. Jika dibanding Asia, toleransi Angkasa lebih tinggi. Dan hal itu yang membuat kami lebih tertarik," tukas Flow, raja Negeri Bunga.


"Itu berarti kendali Negeri Bunga bersedia dibawah Angkasa?" tanya Sky memastikan.


"Tentu, Raja Sky. Kami akan menyerahkan kendali sepenuhnya kepada Angkasa. Dan berharap penyatuan wilayah ini akan semakin mempererat hubungan persahabatan di antara kita." Flow menuturkan.


"Baiklah." Sky mengerti. "Apakah ada syarat khusus yang ingin diajukan?" tanya Sky lagi.


"Untuk syarat kami mengikuti prosedur yang berlaku, tentunya ada timbal balik dari hasil pendapatan negeri kami. Namun, saya pribadi berharap putri kami bisa diterima di istana sebagai keluarga," tutur raja Bunga itu kembali.


Sky terdiam sejenak. Ia mengerti arah pembicaraan ini. "Em, jadi maksud Anda ingin mengikatnya dengan tali pernikahan?" tanya Sky tanpa basa-basi.


"Hahaha. Raja Sky bisa saja." Flow tertawa sendiri. "Kami memang berharap agar hubungan ini semakin erat lagi. Bukankah Raja Sky mempunyai dua orang putra?" Flow lebih menekankan intonasi nada bicaranya.

__ADS_1


"Hm, ya. Aku memang mempunyai dua orang putra. Tapi sayangnya, keduanya sudah memiliki pilihan masing-masing. Aku tidak bisa memaksa salah satunya untuk menikahi putri Anda, Raja Flow."


Sky berucap tegas. Seketika itu juga Flow terdiam.


"Saya sangat menyambut dengan gembira kabar penyatuan wilayah ini. Namun, jika syarat khusus yang diajukan seperti ini, dengan amat disayangkan kami terpaksa menolaknya." Sky melanjutkan.


Ketegasan Sky membuat suasana rapat tiba-tiba menjadi kaku. Keempat menteri Sky pun tampak menutup dokumen yang sedang dibaca.


"Em, maaf, Raja Sky. Bagaimana jika untuk perihal ini kita coba terlebih dahulu?" Menteri Flow mengajukan banding.


Sky menghela napas. "Hem, ya. Silakan saja. Apa salahnya dicoba. Tapi, aku tidak bisa menjamin akan berhasil atau tidak." Sky menanggapi.


"Bagaimana Yang Mulia?" tanya menteri Flow kepada rajanya.


"Ya ... tidak apa. Lebih baik dicoba terlebih dahulu. Semoga ada perubahan ke depannya." Flow akhirnya mengiyakan.


"Hem, baiklah. Sepertinya Angkasa hanya bisa memberikan waktu satu minggu untuk putri Bunga. Semoga berhasil." Sky beranjak dari duduknya.


Rapat pun selesai. Sebuah keputusan akhirnya didapatkan. Flow meminta waktu kepada Sky agar putrinya bisa mendekati salah satu dari putra mahkota Angkasa. Sky pun mengizinkannya, ia ingin mengetahui bagaimana sikap putranya terhadap hal ini. Sekaligus menguji sampai sejauh mana perasaan keduanya kepada gadis itu yang tak lain adalah Ara.


Zu tampak tidak fokus mengerjakan tugas-tugas kerajaannya, padahal sudah empat menteri yang membantu. Ia gelisah karena belum juga mendapatkan kabar tentang keberadaan Ara.


"Pangeran Zu."


Tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya. Zu pun segera mempersilakan masuk. Terlihat seorang berpakaian hitam-hitam dengan pedang di sisi kiri pinggang, mendatangi Zu.


"Mohon maaf, Pangeran. Saya ingin melaporkan keadaan putri," kata seseorang tersebut.


Zu segera beranjak berdiri lalu mendekatinya. "Bagaimana? Apakah sudah ditemukan?" tanya Zu segera.


"Maaf, Pangeran. Putri memang sudah kami temukan, tapi—"


"Tapi apa?"


"Tapi ... putri tidak ingin kembali ke istana," lanjut seseorang tersebut.


"Apa?!!" Seketika Zu terkejut.

__ADS_1


"Mohon maaf, Pangeran. Kami sudah membujuknya, tapi putri tetap tidak mau kembali." Seseorang itu meneruskan.


"Astaga ...." Zu mengusap kepalanya sendiri. "Di mana dia sekarang?" tanya Zu lagi.


"Dia di bukit persik, seorang diri dan sedang tiduran di dahan pohon."


"APA?!!" Zu lebih terkejut. Ara, apa yang kau lakukan di sana? Astaga .... "Baiklah, antarkan aku ke sana sekarang!" pinta Zu kemudian.


"Baik, Pangeran."


Zu segera berpesan kepada para menterinya. Ia terpaksa menunda pekerjaan untuk menjemput sang gadis terlebih dahulu. Hatinya sedikit tenang karena Ara telah ditemukan, tapi ia juga terkejut saat mengetahui jika Ara tidak mau kembali ke istana.


Zu dengan cepat menuruni anak tangga, bergegas menuju halaman depan istana lalu menaiki kuda putihnya. Ia kemudian melajukan kudanya menuju bukit persik. Sang pangeran menjemput gadisnya sendiri.


Kau sudah membuatku gelisah dan kini tidak mau kembali ke istana. Hukuman apa yang kau inginkan dariku, Ara?


Kuda putih itu melaju dengan cepat menuju bukit persik. Ia diantarkan oleh seorang pasukan khususnya yang berhasil menemukan Ara di sana.


Beberapa saat kemudian...


Kini Zu telah tiba di atas bukit persik. Ia pun melihat keempat pasukan khususnya sedang memakan buah persik. Setelah melihat kedatangan Zu, keempat pasukan khusus itu segera berdiri, memberi hormat dengan mulut yang masih penuh dengan buah.


"Salam, Pangeran."


Zu tidak menghiraukan mereka, ia segera turun dari kuda lalu lebih mendekat ke pohon raksasa itu.


"Di mana dia?" Zu tidak melihat ada Ara di sana.


"Putri sedang tiduran, Pangeran." Salah satu pasukan khususnya menjawab.


"Dewi!" Zu akhirnya memanggil Ara dari bawah pohon. "Dewi, turunlah. Aku ingin bicara padamu!" seru Zu dari bawah.


Ara pun menyadari jika Zu telah datang. Ia segera bangkit lalu melihat sang pangeran. Ia lantas berdiri di dahan pohon sambil melihat ke arah Zu.


"Dewi, kembalilah. Aku mohon!" pinta Zu lagi.


Sang pangeran memohon kepada Ara di depan kelima pasukan khususnya. Sontak hal itu membuat Ara jadi iba sendiri. Dan akhirnya, sebuah percakapan pun terjadi di antara kedua insan ini.

__ADS_1


__ADS_2