
Di kamar Ara...
Aku mempersilakan Cloud masuk ke dalam kamar karena tak enak jika berbicara di depan pintu. Cloud lalu mengikutiku. Dia tampak diam dan tertunduk.
"Mau minum apa, Pangeran?" tanyaku, berusaha bersikap biasa saja di hadapannya.
"Ara." Cloud menahan tanganku. "Bisakah kita bicara serius?" tanyanya yang membuatku terpaku.
"Tentang apa, Pangeran?" tanyaku.
Cloud menghela napasnya dan sesekali menunduk. Aku merasa jika ini ada kaitannya dengan hubungan kami dan juga Rain.
"Ara ... aku cemburu," ucapannya seraya menunduk.
"Aku tidak bisa melihatmu bersama Rain," lanjutnya lalu menatapku.
"Bisakah kau menjaga jarak dengannya?" tanyanya berharap.
Aku mengerti perasaannya. Tapi aku tidak dapat memenuhi permintaannya sekarang. Selain hatiku yang belum dapat memilih, aku juga mempunyai tugas dari raja untuk membahagiakan kedua putra mahkota, bukan salah satunya.
"Cloud, aku tahu ini memang berat. Tapi ...,"
"Ara, aku menyayangimu, mencintaimu sepenuh hati dan jiwaku. Apakah ini belum cukup?" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku tersentak melihat wajahnya memerah karena genangan air mata yang siap tumpah itu. Cloud tampak tulus meminta hatiku. Aku sungguh bingung harus berkata apa. Ingin rasanya aku jujur akan tugas ini, tapi aku khawatir Cloud akan bertengkar dengan paduka raja dan juga Rain.
"Cloud ...."
Aku mendekatinya, mengajaknya duduk di kursi. Aku duduk di sisi kirinya lalu menyandarkan kepala di bahunya itu.
"Maafkan aku. Beri aku waktu, ya?"
Aku memegang tangannya dan menciumnya. Sontak hal itu membuat Cloud terkejut.
"Andai kita berjodoh, aku akan berbakti padamu. Namun jika tidak, aku harap kita akan tetap seperti ini."
"Ara, aku tidak mau." Cloud menolaknya.
Seketika akupun bangkit dari bahunya. "Cloud?"
"Kita harus menikah, Ara. Aku sudah terlanjur mencintaimu," katanya seraya menatapku.
"Tapi—"
"Tidak ada kata tapi. Aku tidak sanggup jika harus berpisah. Kau cinta pertamaku. Mengertilah, kumohon." Cloud memegang kedua tanganku.
Kulihat Cloud meneteskan air matanya. Kusadari jika hatinya begitu lembut sebagai seorang pria. Dia tidak malu untuk menampakkan kesedihannya di depanku. Dengan segera, akupun memeluknya.
"Aku menyayangimu, Cloud. Melebihi rasa sayang yang kau miliki. Tapi aku mohon, beri aku waktu."
Cloud tampak memalingkan pandangannya dariku, dia mengusap air matanya yang jatuh. Perlahan tangan kirinya menarikku ke dalam dekapannya. Iapun mencium kepalaku ini. Aku merasa Cloud bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu.
Beberapa saat kemudian...
Setelah keadaan lebih tenang, aku meminta Cloud untuk mengajariku bermain biola. Namun sepertinya, aku menemui kesulitan.
"Jariku sakit, Cloud." Kulihat jari tangan kiriku memerah karena habis menekan senar biola.
Kini kami sedang duduk di teras kamar sambil menikmati malam turun salju bersama. Cloud duduk di sisi kiriku.
"Ya, sudah. Lain kali kita lanjutkan lagi," katanya seraya meletakkan biola itu di sampingnya.
__ADS_1
Cloud begitu sabar mengajariku bermain biola menggunakan alunan lagu All That I Need ini. Aku jadi ingin menanyakan sesuatu padanya.
"Cloud."
"Hm?"
"Bolehkah aku bertanya?" kataku seraya menatap ke arahnya.
"Tanyakanlah, Ara." Dia membalas tatapanku dengan bola mata birunya yang indah.
"Bagaimana kau bisa mengambil ponselku?" tanyaku penasaran.
Cloud tersenyum. "Entahlah, tiba-tiba saja aku ingin membuka lemarimu. Dan kemudian aku menemukan tas kecil berwarna hitam itu."
"Lalu?"
"Kubuka saja dan kulihat ada benda yang unik. Dan ternyata, banyak daftar di benda itu. Sampai akhirnya aku menemukan tanda not lagu."
Sebenarnya aku ingin menanyakan apakah dia melihat galeri fotoku atau tidak. Tapi aku khawatir malah membuatnya curiga.
"Kau menyukai lagunya?" tanyaku tentang lagu yang dia putar waktu itu.
"Hm, iya. Aku merasa aku yang menyanyikannya."
"Sungguh?!" Aku tak percaya.
"Iya, Ara. Dan lagu itu menggambarkan isi hatiku padamu."
Sontak saja aku tersipu mendengar kata-katanya itu. Cloud lagi-lagi membuat hatiku luluh. Dia pintar sekali memainkan kata-katanya.
"Aku juga menyukainya. Dan kadang menyanyikannya sambil memetik gitar," kataku.
"Kau bisa bermain gitar?" tanya Cloud seperti tidak percaya.
"Kalau begitu, kita bisa membuat orkestra."
"Eh? Kau serius?"
"Nanti setelah wabah ini berakhir, aku akan menemui tuan Mozart."
"Lalu?"
"Aku akan memintanya memainkan lagu ini untuk mengiringi pernikahan kita."
"Cloud?"
Seketika hatiku tersentuh dengan kata-katanya itu. Lagi dan lagi hatiku luluh karenanya. Cloud lalu mencium kedua tanganku ini.
"Aku akan menikahimu, Ara. Menjadi suami yang bertanggung jawab, menafkahi lahir dan batinmu. Serta memenuhi apa yang kau minta."
"Cloud, sudah. Jangan membuatku terharu."
Dia kemudian tertawa, memperlihatkan gigi-gigi kecilnya di hadapanku. Senyumnya tampak begitu manis sekali.
"Ara,"
"Hm?"
"Nanti setelah menikah, aku tidak ingin menunda punya anak. Kau keberatan?" tanyanya yang sontak membuat wajahku memerah.
"Cloud, kau ini!"
__ADS_1
Dia segera mendekat lalu mengangkatku ke tempat tidur.
"Suatu saat akan kukerahkan semua kemampuanku di hadapanmu, Ara."
"Cloud ...."
Kutatap wajahnya itu hingga dia merebahkanku ke atas tempat tidur. Cloud lalu memainkan rambut panjangku ini seraya tersenyum manis sekali.
"Aku mencintaimu."
Kata-katanya menghangatkan malam yang dingin. Dia lalu menciumku. Akupun pasrah menerima sapuan lembut dari bibirnya itu.
Beberapa saat kemudian, kami akhirnya berpisah karena dia mempunyai urusan yang harus dikerjakan. Aku pun segera beristirahat untuk menyambut esok hari. Semoga saja Tuhan menuntunku untuk memilih salah satu di antara keduanya.
Esok paginya...
Hari ini aku bangun pagi seperti biasanya. Sehabis mandi, aku segera mengenakan gaun kerajaan berwarna krim. Gaun yang pertama kali kukenakan saat berada di istana. Aku seperti seorang putri sungguhan dengan tiara yang menghiasi kepala.
"Ara."
Tak lama, kudengar suara Rain masuk ke dalam kamar. Ia seperti tergesa-gesa.
"Ara, kau di mana?" tanyanya yang membuatku keluar dari ruang ganti.
"Rain, ada apa?"
Aku pun segera bergegas menemuinya. Rain seperti ingin mengabariku dengan sesuatu hal yang penting.
"Ara, sebaiknya kita mengambil buah dan daun surga yang lebih banyak lagi," katanya seraya menatapku.
Aku jadi bingung sendiri. "Memangnya ada apa, Rain?" tanyaku heran.
Rain tampak menghela napasnya. "Kita membutuhkan buah itu untuk berjaga-jaga," lanjutnya.
"Berjaga-jaga?"
"Iya, aku khawatir wabah ini tersebar hingga ke luar ibu kota. Maka dari itu, aku mengantisipasinya dengan memberikan buah kepada para penduduk di sekitaran ibu kota."
Rain ....
Aku terpukau dengan cara pemikirannya. Dia begitu peduli terhadap rakyat negeri ini. Aku jadi semakin bangga memilikinya.
"Baiklah. Berapa yang kau butuhkan?" tanyaku lagi.
"Mungkin empat atau enam karung besar."
"Apa?! Banyak sekali, Rain?!" Aku terkejut mendengarnya.
"Ini demi penduduk, Ara. Hanya kau yang bisa mengambil buah surga. Tolong kami." Rain tampak memohon.
"Hei, aku bercanda. Dengan senang hati aku akan membantu, Yang Mulia Rain," kataku yang sontak membuatnya tersenyum.
"Kau ini, memang pintar merayu." Rain mencolek daguku.
"Dan kau juga pintar memainkan hasratku," sahutku tanpa malu.
Rain tertawa mendengar kata-kataku ini. Aku jadi senang melihatnya.
"Tunggu sebentar, ya. Aku siap-siap dulu."
Aku meminta Rain untuk menungguku. Setelah semuanya siap, aku kemudian berjalan bersamanya menuju gerbang belakang istana.
__ADS_1
Rain bilang akan membawa dua pasukan beserta kereta kuda untuk membawa buah dan daun tin itu nantinya. Dia benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Aku begitu menyayanginya.