Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Tell Me


__ADS_3

Keesokan harinya...


Pagi telah datang. Cuaca pun mulai menghangat. Sang mentari lebih awal terbit pagi ini. Di sana, di kamar seorang pangeran masih tertidur pulas seorang gadis manis yang menjadi rebutan. Ia tampak menyelimuti tubuhnya seusai menghabiskan malam, bersama pangeran bungsu kerajaan Angkasa. Dialah Ara yang masih bergumul dengan selimutnya, padahal sang surya telah menyapanya dengan penuh kehangatan.


Sosok panglima tinggi kerajaan ini datang dengan wajah dan tubuh yang lelah. Ia baru saja menyelesaikan latihan militernya bersama para prajurit istana. Ia pun melihat pujaan hatinya masih tertidur pulas dalam mimpi. Dengan perlahan ia mendekat, membangunkan gadisnya.


"Sayang ...."


Ia memegang lembut lengan sang gadis yang terlihat terbuka. Gaun tidur yang dipakainya tampak memperlihatkan bahunya yang mulus dan bersih. Sang panglima pun mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.


Dia ini, tidak kusangka jika akan amat manja padaku semalam. Rasanya ingin memiliki seutuhnya. Tapi apa itu bisa?


Dialah Rain, panglima tinggi sekaligus pangeran bungsu kerajaan Angkasa. Ia tampak memandangi gadisnya yang masih tertidur dengan tatapan lembut dan penuh kasih. Tak ada yang menyangka jika dibalik ketegasannya sebagai seorang panglima, sisi lembutnya muncul saat bersama sang gadis. Gadis itu mampu merubah sudut pandangnya tentang dunia. Gadis itu juga yang telah membuatnya bertekuk lutut tak berdaya. Segala kenangan indah telah tercipta dan tidak mampu dilupakannya begitu saja.


"Sayang ...."


Ia menyebut lagi sosok gadis yang masih tertutupi selimut. Beberapa saat kemudian sang gadis pun tersadar. Kedua matanya perlahan terbuka dan melihat siapa gerangan yang duduk di sisinya.


"Rain ...?" Ia mengucek matanya.


"Sayang, bangunlah. Matahari sudah terbit, kau tidak ingin menyapanya?" tanya Rain dengan lembut.


"Em, aku masih mengantuk. Kau sudah pulang?" tanya Ara sambil berusaha duduk.


"Ya, baru saja. Dan kulihat kau masih tertidur. Apa kau ingin mandi bersamaku?" tawarnya kepada sang gadis.


"Nanti kau nakal." Ara menggerutu.


"Hahahaha. Apa salahnya nakal dengan calon istri? Lagipula kau sudah melihat semuanya, kan?" Rain tertawa sendiri.


"Baru calon, Rain." Ara pun berkelit.


"Ha, ya. Baiklah. Lalu bagaimana dengan tawaranku? Apa ingin mandi bersama?" tanya Rain lagi.

__ADS_1


"Aku mandi sendiri saja," jawab Ara sambil mengembuskan napasnya.


"Em, baiklah. Nanti jika sudah mandi, temui aku di gazebo istana, ya. Ada sesuatu hal yang ingin kubicarakan," tukasnya lagi.


"Apakah sangat penting?" tanya Ara antusias.


"He-em." Rain mengangguk lalu mengusap kepala Ara.


"Baiklah, kalau begitu aku mandi sekarang." Ara pun bergegas bangun.


Ara keluar dari kamar Rain dan mandi di lantai dua kediaman sang pangeran. Rain pun menunggu sang gadis turun sambil membaca beberapa dokumen yang ayahnya berikan. Terbesit sesuatu dalam benaknya setelah membaca cepat salah satu dokumen itu. Iapun bergegas mandi agar dapat bersama Ara ke gazebo istana.


Dua puluh menit kemudian...


Rain bersama Ara keluar dari kediaman dan berjalan bersama menuju gazebo istana. Di sepanjang jalan mereka bergandengan tangan dengan mesra. Tak peduli lagi dengan para pelayan yang sedang membersihkan istana pagi ini. Mereka bak sepasang kekasih yang tak akan pernah terpisahkan. Momen ini tentunya menjadi kenangan tersendiri bagi mereka.


Rain mengenakan seragamnya yang lain. Namun, warna dan atribut kerajaannya masih sama. Sedang sang gadis tampak mengenakan gaun berwarna putih dengan bagian bahu yang terbuka. Tetapi sengaja ia tutupkan dengan rambutnya. Rain pun tampak tidak keberatan hari ini. Ia biarkan Ara bebas berekspresi dengan penampilan imutnya. Penampilan sang gadis pun semakin membuat Rain menyayanginya.


"Sayang."


"Ada sesuatu hal yang mengganjal pikiranku." Rain menoleh ke Ara yang berjalan di sisi kirinya.


"Apa itu?" tanya Ara lembut.


"Kemarin aku mendengar pembicaraanmu dengan Zu. Dia bilang apa kau ingin membuktikan ucapannya. Aku tidak tahu apa maksudnya. Apa kau bisa menjelaskan padaku?" tanya Rain yang seketika membuat langkah kaki Ara terhenti.


"Sayang?" Rain pun memutar badannya, menghadap Ara.


"Rain, kau mendengar semuanya?" Ara tiba-tiba berubah roman wajah.


"Ya. Aku sengaja mengikuti kalian. Aku tidak mungkin membiarkanmu berbicara hanya berdua dengannya." Rain menegaskan.


"Lalu apa pendapatmu?" tanya Ara lagi.

__ADS_1


"Sayang." Rain memegang kedua lengan Ara. "Aku tidak peduli apa yang telah terjadi pada kalian. Aku hanya khawatir jika dia berbuat sesuatu yang membuatmu tertekan. Dari nada bicaranya dia seperti mengancammu. Apakah perasaanku ini benar?" tanya Rain sambil menatap gadisnya.


Rain ... ternyata kau menyadarinya.


Ara terdiam sejenak. Ia bingung haruskah mengatakan hal yang sebenarnya kepada Rain atau tidak. Ia takut pangerannya ini akan nekat membalas ancaman Zu. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada kedua negeri.


"Rain, sebenarnya ada hal yang ingin aku ceritakan. Tapi, aku khawatir jika mengatakannya." Ara tertunduk.


"Apa karena kau tidak percaya padaku?" tanya Rain yang masih menunggu.


"Tidak." Ara menggelengkan kepalanya. "Bukan itu, tapi karena aku takut terjadi sesuatu." Ara mencoba jujur.


"Baiklah. Kita bicarakan hal ini setelah sarapan pagi di gazebo." Rain mengajak Ara meneruskan langkah kakinya ke gazebo istana.


Ara pun mengangguk. Ia kemudian berjalan bersama Rain menuju gazebo istana. Hatinya cemas karena khawatir Rain akan salah tanggap. Tapi, ia juga tidak bisa menyimpannya karena takut penyerangan akan benar-benar terjadi dan Angkasa tidak punya persiapan sama sekali.


Sementara itu...


Cloud sudah memulai pekerjaannya. Ia duduk di ruang administrasi Aksara seorang diri, sedang para pasukan menunggunya di pintu masuk. Mereka mengamankan kerja sang pangeran.


Sebelum semakin sibuk mengerjakan urusannya, Cloud membuka bekal cemilan yang Ara buatkan. Ia nikmati cemilan dari calon istrinya sambil meneguk secangkir kopi. Ia belum ingin memakan makanan berat pagi ini.


Ya ampun, enak sekali.


Satu, dua, tiga batang cemilan berlapis cokelat ia habiskan. Cemilan yang Ara buat benar-benar terasa enak di lidah. Cloud pun hampir saja ingin menghabiskan semuanya.


Sayang, kau sempurna di mataku. Serba bisa dan juga pintar. Aku menyayangimu.


Setelah menghabiskan tiga batang cemilan berlapis cokelat, Cloud segera meneruskan pekerjaannya. Yang mana ia menargetkan pekerjaan ini bisa selesai dalam waktu tiga hari. Ia ingin segera pulang dan kembali menemui gadisnya.


Ara, tunggu aku pulang ya.


Ia pun bersemangat menyelesaikan pekerjaannya. Di meja kerjanya pun terlihat sudah banyak dokumen menunggu. Cloud akan menyelesaikan administrasi Aksara untuk dilaporkan kepada ayahnya. Ia akan merapikan dan mencari tahu ke mana aliran dana negeri yang selama ini ditutupi.

__ADS_1


Aku rasa pekerjaan ini tidak terlalu sulit. Mungkin aku bisa lebih cepat pulang ke Angkasa.


Dengan segera sang pangeran mengerjakan tugasnya. Ia pun melakukannya dengan baik, sebagaimana yang ia lakukan di Angkasa. Cloud menunjukkan jika ia memang ahli di bidang administrasi negeri. Dalam beberapa jam awal pun ia mampu menemukan kejanggalan yang selama ini terjadi.


__ADS_2