Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Heaven?


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Aku terbangun. Tapi melihat sekeliling diliputi awan putih. Aku mencoba mengambil awan itu. Terasa kenyal lalu lenyap menjadi air.


Ini di mana?


Aku jadi heran sendiri dengan tempat ini. Tempat yang belum pernah kulihat sebelumnya. Akupun berusaha bangkit untuk melihat lebih jelas. Dan sejauh mata memandang hanya hamparan luas yang tertutupi awan.


Jangan-jangan aku ...?


"Dewi ...."


Saat berada dalam kebimbangan, aku mendengar suara seseorang yang memanggil Dewi. Akupun menoleh ke belakang untuk melihat apakah ada Dewi yang dimaksud oleh suara itu.


"Tidak ada siapa-siapa." Aku jadi semakin bingung.


"Kaulah Dewi itu."


Tiba-tiba dari balik awan terlihat seorang kakek tua berjubah putih dengan rambut yang sudah memutih. Seketika itu juga aku menjadi takut sendiri.


"Jangan takut, Dewi. Aku adalah penjaga bukit pohon surga."


Hah? Apa?!


Sontak aku teringat dengan cerita Cloud dan Rain mengenai misteri bukit pohon surga. Aku lalu memberanikan diri untuk bertanya kepada kakek tua yang berada di hadapanku ini.


"Apakah Anda Tetua Agung?" tanyaku penasaran.


Dia tersenyum ke arahku.


"Ya, aku adalah Tetua Agung. Senang rasanya dapat berjumpa denganmu, Dewi."


"Dewi? Dewi siapa?" tanyaku seraya melihat ke belakang lagi.


"Kau adalah seorang Dewi yang terpilih untuk menyelamatkan negeri ini."


Hahh???


Aku jadi semakin bingung. Kenapa kakek tua ini memanggilku dengan sebutan dewi? Aku begitu heran sendiri.


"Namaku Ara, Kek. Bukan Dewi," balasku.


Kakek itu lalu berjalan lebih mendekat ke arahku. Jarak kami hanya sekitar lima meter pandangan.


"Kau adalah gadis terpilih sejak di alam ruh," katanya lagi.


"Maksud Kakek?" tanyaku.


"Ada seorang Dewi di surga yang berdoa kepada Tuhannya untuk mengirimkanmu ke dalam rahim seorang perempuan miskin. Dan dia adalah ibumu."


Benarkah?


"Kenapa harus di rahim seorang perempuan miskin, Kek?" tanyaku penasaran.


"Dewi surga ingin mendidikmu agar menjadi wanita tangguh dalam menghadapi kemelut dunia yang tak ada habisnya."


"Maksud Kakek?"


"Karena jika kau terlahir dari rahim seorang perempuan kaya, kau tidak akan setangguh ini. Kebanyakan harta menjebak manusia menjadi sombong dan angkuh."


Kakek tua ini menjelaskan alasan kenapa aku dilahirkan dari rahim ibuku, bukan ibu yang lain. Sepertinya dia banyak mengetahui tentang hal di luar batasan manusia.

__ADS_1


"Lalu di mana Dewi itu? Apa aku bisa menemuinya?" tanyaku lagi.


"Tidak bisa. Tapi yang jelas, dia selalu mendoakanmu di manapun kau berada."


Aku terkejut mendengar penuturan kakek tua itu. Aku jadi semakin penasaran.


"Kenapa Dewi Surga memilihku, bukan memilih Ara yang lain?" tanyaku kembali.


"Sejak di alam ruh, kau mempunyai cahaya lebih terang dari yang lain. Dan cahayamu itu membuat Dewi Surga tertarik."


"Begitu, ya?" Aku masih bingung.


"Kau mempunyai kekuatan tersembunyi yang tidak dimiliki gadis lain. Aku berharap kau dapat mengasah kekuatanmu itu untuk menolong orang banyak."


"Kekuatan? Kekuatan apa?" tanyaku tak mengerti.


"Kau akan mengetahuinya sendiri. Pergunakanlah kekuatanmu itu untuk membantu orang lain. Sudah tertulis jika kau adalah dewi pembawa kedamaian. Maka penuhilah tanggung jawabmu." Kakek itu perlahan-lahan menjauh dariku.


"Tunggu!"


Aku mencoba untuk mengejarnya, namun dia hilang begitu cepat dari pandanganku. Aku lalu berusaha mencarinya.


...


"Ara ... Ara."


Kudengar samar-samar suara memanggilku.


"Ara, bangunlah."


Pipiku terasa ditepuk-tepuk. Akupun segera tersadar dari hal yang kualami.


"Cloud?"


"Ara, kau tak apa?" tanyanya yang khawatir.


"Cloud ... aku ...." Kepalaku terasa pusing sekali.


"Ini minumlah." Cloud lalu memberiku segelas air. Akupun lekas meneguknya.


"Terima kasih, Cloud." Aku berusaha untuk bangun.


"Ara, tolong jangan membuatku cemas," katanya sambil membantuku merebahkan diri di atas kasur.


"Sepertinya aku bermimpi." Aku memegang kepalaku sendiri sambil mengingat kejadian tadi.


"Kau tadi jatuh di teras istana, Ara."


"Ah, benarkah? ... Ah, iya. Aku lupa."


Tersirat kecemasan di wajah tampan sang putra mahkota. Dia begitu mencemaskanku.


"Cloud, bukannya kau sedang—"


"Aku tidak peduli dengan penyambutan itu. Aku lebih memedulikan dirimu."


"Tapi ... aku tidak enak—"


"Ara, kau prioritas untukku. Sudah, beristirahatlah," katanya lalu menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal bercorak mawar.


Kusadari jika kini sudah berada di dalam kamarku sendiri. Cloud lalu berjalan menjauh dariku, dia duduk di kursi tamu yang ada di kamarku ini. Aku jadi punya satu ide untuknya.

__ADS_1


"Cloud."


"Hm?"


"Kemarilah," pintaku padanya.


Dia lalu berjalan kembali mendekatiku.


"Kenapa, Ara? Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?" tanyanya cemas.


Aku menggelengkan kepala. "Tidak, aku hanya butuh dirimu. Bisa temani aku?" kataku lagi.


Cloud tersenyum. Dia lalu membuka sepatunya dan merebahkan diri di sisi kananku.


"Kau ingin bermanjaan denganku?" tanyanya seraya mencolek hidung ini.


"He-em. Tak apa, kan?" tanyaku seraya menatap ke arahnya.


"Tak apa, Ara. Apapun yang kau minta, akan kulakukan. Kecuali memintaku untuk menjauh darimu, aku tidak bisa."


"Cloud ...." Aku segera memeluknya dari samping.


Dia lalu merebahkan kepalaku di dadanya yang bidang. Jari-jemarinya terasa lembut membelai rambutku ini. Cloud lalu mengecup keningku, sedang tangan kanannya mengusap-usap lenganku ini. Suasana terasa romantis sekali.


"Tidurlah. Aku akan selalu ada untukmu."


Entah mengapa aku begitu nyaman bersamanya. Setelah hal yang kualami, aku merasa membutuhkan Cloud untuk menemani hari-hariku.


Aku menyayangimu, Cloud ....


Kupejamkan kedua mata lalu mulai terlelap dalam mimpi. Malam ini pun aku berakhir di dalam pelukannya. Pelukan seorang pria yang sejak awal kuinginkan. Dia adalah Cloud Sky, seorang pangeran tampan dari kerajaan Angkasa.


Esok paginya...


Aku terbangun dengan tubuh lebih bugar dan segar. Tapi ternyata aku tidur sendiri tadi malam. Aku pikir Cloud benar-benar menemaniku sampai pagi. Entah mengapa kini aku sering sekali merindukannya.


Aku lalu mandi. Airnya terasa hangat sehingga tidak membuatku kedinginan. Selepas itu barulah mengenakan gaunku. Gaun berwarna hijau dengan motif batik di bagian dadanya. Tapi rasanya kok ada yang kurang, ya?


Aku segera menyisir rambutku, mengenakan bando mahkota kecil ini. Di cermin, aku terlihat seperti seorang putri, cantik sekali. Kuambil parfum lalu kusemprotkan ke sekujur tubuh agar lebih pede menghadapi hari. Karena khawatir jika penciuman orang lebih tajam dari penciumanku sendiri.


Dengan mengenakan make-up minimalis dan sapuan lipglos merah muda, aku siap menjalani hari-hariku. Tapi sepertinya hari ini belum ada pekerjaan yang harus kukerjakan. Jadi alangkah baiknya jika aku mencoba untuk keluar istana.


Kulangkahkan kaki dengan mengenakan sepatu hak tinggi berwarna krim, berjalan menuju ruangan Cloud. Aku bergegas menemuinya karena ingin meminta izin untuk keluar istana. Namun sesampainya di sana, kulihat ada seorang nenek tua sedang tertawa bersamanya.


"Permisi," kataku saat membuka pintu ruangan.


"Ara? Silakan masuk."


Cloud tampak terkejut dengan kedatanganku. Sepertinya aku mengganggu suasananya pagi ini.


"Ara, kemarilah," pinta Cloud, akupun segera mendekatinya.


"Nenek, kenalkan ini Ara. Dia calon istriku," ucapnya seraya merangkulku.


Sontak saja aku terkejut bukan main dengan perkenalannya ini. Cloud berani-beraninya berkata seperti itu tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadaku. Lidahku pun berkeluh, seolah tidak dapat membantahnya. Ucapanku serasa tertahan, hanya sampai di tenggorokan.


"Oh, jadi ini calon istrimu?" Nenek tua itu lalu mengusap pipiku.


"Sa-salam bahagia untuk Nenek," kataku yang terbata.


"Ara, ini Nenek Sun. Adik kandung dari mendiang kakekku."

__ADS_1


Aku tersenyum ke arah nenek itu. Sepertinya Cloud mulai tidak sungkan memperkenalkanku kepada anggota keluarganya. Ya, terkecuali ibunya sendiri.


__ADS_2