Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Between Us


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Aku mencari Rain hingga kudapati dirinya tengah memberikan pelatihan kepada para prajurit kerajaan.


"Siapa lagi yang ingin mencobanya?"


Dia menanyakan kepada para prajurit siapa lagi yang akan mencoba untuk latihan pedang bersamanya. Tampaknya, prajurit-prajurit ini masih baru. Hanya ada sekitar tiga puluh orang saja.


Aku lalu memberanikan diri untuk lebih dekat sambil mencari alasan untuk berbicara.


"Aku!" jawabku dari belakangnya.


Semua prajurit menoleh ke arahku. Rain pun membalikkan badannya, melihatku yang berjalan mendekati.


"Aku yang akan mencoba melawanmu!"


Kata-kataku tentu saja membuat para prajurit baru ini saling berpandangan. Tak terkecuali Rain yang tampak terkejut dengan permintaanku ini.


"Ara."


Suaranya tiba-tiba terdengar serak. Seperti menahan kesedihan. Dia berulang kali menelan ludahnya. Tatapan sendu pun keluar dari sorot matanya yang tajam.


"Lawan aku, Pangeran Rain!" kataku kepadanya.


"Aku tidak akan melawan seorang wanita," balasnya.


Aku kemudian berputar. Masuk ke dalam lingkaran tarung yang dia buat. Kini aku berdiri di hadapannya.


"Bagaimana jika musuhmu seorang wanita? Kau akan tetap tidak melawan dan merelakan nyawamu berakhir di tangannya?"


Aku mencoba untuk memacu dirinya. Alhasil, kata-kataku berhasil. Rain meminta kepada salah satu prajurit untuk mengambilkan pedang yang terbuat dari kayu. Akupun mengambil pedang itu.


Di hadapan para prajurit, Rain menunjukkan wibawanya. Dia melayani permintaanku. Aku pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Sebelum latihan tarung dimulai, kami membungkuk saling memberi hormat. Lalu kemudian aku mulai maju untuk menjatuhkannya.


Aku menyerangnya dengan kemampuan dan pelajaran yang telah kudapati. Rasanya latihanku semalam tidaklah sia-sia. Hari ini aku dapat menunjukkan kemampuanku padanya.


Berulang kali aku menyerangnya, Rain sama sekali tidak berniat menyerangku. Dia selalu bertahan. Bahkan saat sudah terdesak di ujung garis tarung, dia masih saja tidak melawan seranganku.


Aku masih mengenakan kebaya ungu mudaku. Namun, bawahannya berganti celana dasar hitam yang panjang. Sehingga membuatku leluasa untuk bertarung dengannya.


"Rain, balas aku!"


Aku memintanya untuk membalas seranganku. Namun, dia tidak menggubrisnya sama sekali. Dia tetap bertahan. Hingga aku merasa lelah sendiri. Melihat hal itu, dia mencoba menahan pedangku lalu mendorongku ke belakang hingga akupun terjatuh.

__ADS_1


"Kita sudahi latihan hari ini."


Rain menyudahi latihannya. Para prajurit pun segera meninggalkan tempat latihan tanpa lupa memberi hormat kepada Rain secara serempak. Kini tinggal kami berdua di sini.


"Ara, ini keterlaluan."


Dia berkata seperti itu lalu berbalik, berjalan menjauh dariku. Segera saja aku bangkit lalu berusaha untuk bicara padanya.


"Sampai kapan kau akan terus menghindar, Rain?" tanyaku kepadanya, dengan jarak pandang sekitar lima meter.


Rainpun menghentikan langkah kakinya, namun dia tidak menjawab apa-apa.


"Aku minta maaf atas kejadian kemarin. Tapi semua yang kau lihat itu tidaklah seperti yang kau bayangkan," kataku, lalu mulai berjalan mendekatinya.


"Rain, kami tidak berciuman. Kami hanya menikmati sentuhan air terjun yang jatuh," lanjutku.


Rain kemudian membalikkan badannya ke arahku.


"Ara, aku melihatnya sendiri."


"Rain, kau hanya melihat dari sudut pandangmu. Jika kau melihat dari sudut pandang lain, maka tidak seperti yang kau kira."


Kami bertatapan. Rasanya aku begitu kehausan setelah bertarung melawannya, tenggorokanku kering sekali, namun kucoba untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini terlebih dahulu.


"Ara, mungkin kau benar. Tapi hatiku sudah terlanjur—"


Segera saja kupeluk dirinya sebelum dia sempat meneruskan kata-katanya. Kurebahkan kepalaku di dadanya yang bidang. Kulingkarkan kedua tanganku di pinggangnya lalu kurasakan hangat tubuhnya.


"Rain, kumohon maafkan aku. Jangan bersikap acuh tak acuh seperti ini."


Entah mengapa, aku merasa jadi sedih sendiri kala mengingat kejadian yang telah kami lalui. Aku merindukannya, sangat merindukan perhatian dan kasih sayangnya. Kurasakan jika Rain pun demikian kepadaku.


Dia menggerakkan tangannya, seperti ingin membelai rambutku. Namun tiba-tiba, ada seseorang yang datang menghampiri kami.


"Sepertinya kedatanganku telah mengganggu kalian."


Cloud ...?


Suara itu suara Cloud. Aku segera melepaskan pelukanku dari Rain.


"Cloud, aku—"


Jantungku berdetak cepat tak terkendali. Otakku seolah tidak dapat berpikir kala berada di situasi ini. Helaan napasku pun terasa begitu berat. Aku ketahuan Cloud tengah bersama Rain dengan sikap yang seperti ini.


"Ara, jam kerjamu belum berakhir."

__ADS_1


Cloud berkata seperti itu lalu pergi meninggalkanku. Aku jadi merasa tidak enak hati dibuatnya. Aku segera mengejarnya.


"Cloud, tadi itu—"


"Temui aku menjelang malam. Aku tidak ingin bicara saat ini."


"Tapi, Cloud—"


Cloud berlalu begitu saja. Aku tidak mampu menahannya. Aku tahu jika Cloud sakit hati melihat pemandangan kami tadi.


Aku pun menghentikan langkah kakiku. Aku menoleh ke belakang, melihat Rain. Kulihat Rain berdiam diri sambil menelan ludahnya berkali-kali. Tatapannya begitu pilu. Dia kemudian mengalihkan pandangannya dariku.


Aku pusing, pusing sekali. Mengapa aku harus berada di situasi seperti ini? Di depanku ada Cloud yang sedang marah. Di belakangku ada Rain yang sedang bersedih hati. Aku seperti kehabisan akal. Tidak dapat menentukan harus ke mana. Haruskah aku terus mengejar Cloud? Atau tetap berada di sini bersama Rain?


Oh, Tuhan. Tolong aku...


...


Aku kembali ke kamarku. Kurasa, kuselesaikan rancangan busanaku di dalam kamar saja. Pikiranku melayang tidak menentu. Aku seperti harus introspeksi diri segera.


Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, merendam diri di dalam bak sambil menikmati pancuran air. Kucoba menenangkan hatiku.


Aku sudah berusaha untuk menyelesaikan skesta rancanganku. Tapi berulang kali gagal seperti terhambat sesuatu. Ya, suasana hati memang sangat berpengaruh besar dengan pikiran ini. Kala suasana hati tidak baik, maka pikiran pun tidak dapat fokus dalam melakukan berbagai hal.


"Lebih baik kutenangkan diriku dahulu."


Aku berendam cukup lama. Setelah merasa sedikit dingin, aku segera berbilas lalu keluar kamar mandi. Kuambil baju tidurku dan memakainya segera. Kupandangi diriku di depan cermin besar sambil berkata-kata sendiri.


"Apa yang harus aku lakukan saat ini?"


Aku menyandarkan tubuh di dinding ruangan sambil mengusap kepalaku sendiri. Tak ingin terhanyut lebih lama, akupun segera keluar dari ruang ganti lalu duduk di depan meja kerjaku. Aku mulai merancang busana.


Pelan-pelan, aku mulai menggambarnya. Tak lama, Mbok Asri datang menyampaikan pesan kepadaku.


"Nona, Pangeran Cloud menunggu Anda di ruangannya."


Kulihat jika malam sudah datang. Aku segera berganti pakaian untuk menuju ruangannya, dengan mengenakan gaun berwarna biru. Aku juga mencoba bersikap biasa, seperti tidak terjadi sesuatu apapun.


Sesampainya di sana...


Cloud telah menunggu kedatanganku. Dia lalu mengajakku ke sebuah tempat.


Ini ruang rahasia?


Aku mengikutinya masuk ke dalam sebuah ruangan yang berada di balik dinding ruang kerjanya. Ternyata, di dalam ruang rahasia ini terdapat sebuah kasur mewah dan lemari pakaian.

__ADS_1


Sepertinya Cloud tidur di sini.


__ADS_2