
Cloud lalu beranjak bangun dari duduknya. Ia berjalan sedikit ke depan. Melihat pemandangan negeri dari atas bukit.
Dihirupnya dalam-dalam udara pagi ini seraya menormalkan suasana hatinya. Tak lama kemudian, ia menjatuhkan diri di atas rerumputan bukit.
Dipandanginya langit pagi itu. Ia menatap jauh langit biru yang terhias awan hitam. Seperti keadaan hatinya yang kian mendung terbawa cemburu. Ya, Cloud cemburu dengan adiknya sendiri, Rain. Apa yang dikhawatirkannya kini terjadi. Ia masih tidak percaya jika adiknya itu menjalin hubungan khusus dengan gadis yang berhasil menaklukkan hatinya.
Beberapa waktu yang lalu...
Cloud datang sendiri ke bukit pohon surga sebelum bintang fajar menghilang. Ia mengenakan pakaian serba putih dan tanpa alas kaki. Kedatangannya itu disambut oleh seorang kakek tua yang diketahui sebagai penjaga pohon surga.
Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Tetua Agung. Ia adalah penjaga pohon surga dari masa ke masa. Ia ditugaskan menjaga pohon surga itu dari gangguan manusia yang berkunjung ke sana.
Tak hanya itu, Tetua Agung dipercaya ikut menjaga Negeri Angkasa dari bahaya yang akan datang. Biasanya daun pohon tin akan berguguran lalu mengitari seluruh penjuru negeri jika ada bencana dalam waktu dekat. Sehingga para penduduk dapat mempersiapkan diri sebelum bencana itu datang.
Tetua Agung juga mempunyai kekuatan di luar nalar manusia. Ia mampu membuka portal dimensi ruang dan waktu. Walaupun hal itu dapat membuat dirinya bertambah tua dan lemah. Entah berapa usianya sekarang. Kini ia tampak beruban di seluruh kepala dan jenggotnya.
"Kau sudah siap, Anak Muda?" tanya kakek tua yang berdiri di depan pohon surga.
"Aku siap, Tetua Agung," jawab Cloud yakin.
Keduanya berdiri berhadapan dengan posisi Cloud lebih rendah. Ia menghargai dengan tidak berdiri sejajar dengan seseorang yang dihormati para penduduk negeri.
"Baiklah. Sebelumnya aku akan memberi tahumu beberapa hal," lanjut kakek itu.
Cloud mengangguk. Ia siap menerima semua pesan.
"Kau akan menemui seorang gadis yang terlihat biasa saja pada awal pertemuan. Namun, dia akan sangat mempesona saat sudah berada di istanamu." Kakek itu mengawali.
"Segala sesuatu pasti mengandung risiko. Apa kau siap menanggung apapun risikonya?" tanya sang kakek memastikan.
"Aku siap!" Cloud menjawab cepat dan yakin.
"Bagus. Perjalananmu akan dimulai setelah buah surga ini jatuh ke bumi. Kau bisa mempersiapkan diri dari sekarang," katanya lagi.
"Baik." Cloud penuh kemantapan diri.
"Gadis yang akan kau temui bukanlah gadis biasa. Dia mempunyai kemampuan di luar batasan manusia pada umumnya. Pikirannya selalu terhubung dengan alam semesta. Ia berbeda dengan ara-ara lainnya."
__ADS_1
"Aku mengerti," sahut Cloud kemudian.
"Dia juga mempunyai kepekaan di atas rata-rata. Saat pikirannya terfokus, dia dapat mengalahkan apapun dan siapapun. Maka jangan pernah menyakiti hatinya."
"Hal itu tidak sulit bagiku," jawab Cloud yang begitu yakin.
"Kau mempunyai keyakinan besar terhadap dirimu sendiri, Anak Muda." Kakek tua itu menyadari.
Cloud tersenyum. Tak lama, buah tin itu jatuh ke atas rerumputan bukit.
"Waktumu sudah tiba."
Angin kencang datang lalu berputar di sekeliling pohon tin itu. Kabut hitam menyelimuti lalu membiaskan sebuah lubang hitam yang semakin lama semakin membesar.
"Masuklah ke dalam lubang hitam itu. Portal sudah terbuka." Tetua Agung mengantarkan kepergian Cloud.
Cloud lalu berjalan masuk ke dalam lubang hitam. Sebelum ia benar-benar hilang dari pandangan, Tetua Agung berpesan kepadanya.
"Setelah ini aku akan beristirahat lama. Kembalikan dia ke dunianya jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Hal itu akan menyelamatkan dirinya."
Tetua Agung lalu hilang dari pandangan Cloud. Kabut hitam tebal menutupi pandangannya. Dan tiba-tiba saja cahaya menyilaukan terlihat dan membuatnya tidak sadarkan diri.
...
"Ara ...."
Cloud bersedih. Ia merindukan sosok gadis yang berhasil mencuri hatinya itu. Seorang gadis yang begitu mengharapkan dirinya di awal pertemuan, namun Cloud menyia-nyiakannya.
Kini hanya ada rasa sesal yang menyelimuti hatinya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menyalahkan diri sendiri. Terlihat linangan air mata yang memenuhi bola mata birunya itu. Dan air matanya menetes, jatuh membasahi bumi. Tak lama, sesuatu terjadi padanya...
Beberapa saat kemudian...
Keadaan sekeliling berubah. Cloud kini berada di sebuah ruangan yang mana sang gadis tampak sedang tertidur.
"Ara!"
Cloud melihat Ara sedang tertidur nyenyak dengan mengenakan daster merah muda. Iapun segera bangkit lalu mendekati gadis itu. Tapi sayang, hal itu tidak bisa dilakukannya.
__ADS_1
"Seperti ada sekat tembus pandang."
Cloud heran sendiri. Ia dengan nyata melihat gadis itu. Cloud lalu memukul sekat tersebut sambil berusaha memanggil sang gadis.
"Ara! Ara!"
Cloud memukul ke seluruh sisi untuk dapat menembus sekat dan menemui Ara secara langsung. Namun, tak bisa.
"Ara! Bangunlah! Ini aku, Cloud!" katanya seraya berteriak.
Ia berharap Ara dapat mendengar teriakannya. Namun, hal itu hanya sampai di batas harapannya semata. Ia tak mampu.
"Ara ... aku merindukanmu," ucapnya kemudian, nada bicaranya begitu lirih.
Cloud menatap sendu gadis itu dari balik penglihatannya. Rasa rindunya seolah terbalas karena dapat melihat sang gadis.
"Ara ...."
Ingin rasanya Cloud menyentuh gadis itu, namun ia tidak mampu melakukannya.
"Ara ... maafkan aku."
Cloud menyesal karena pernah mengabaikan perasaan Ara. Sejujurnya ia pun tahu jika Ara menyukainya. Namun, saat itu Cloud belum siap untuk mencintai karena takut kehilangan lagi. Cloud mempunyai trauma masa lalu.
"Apakah ini takdirku?" tanyanya sendiri.
Raut wajahnya terlihat sendu. Ia merasa jika keadaan begitu tidak adil. Cloud berontak dengan apa yang telah dituliskan untuknya. Ia termenung di hadapan Ara yang sedang tertidur. Kedua kakinya berlutut.
"Aku akui jika telah menyakiti perasaanmu hingga Rain membalut lukamu itu. Tidak seharusnya aku begini. Tapi ... aku mempunyai alasan kuat untuk hal ini, Ara. Mengapa waktu itu tidak segera membalas perasaanmu." Cloud mulai bercerita.
"Dua kali aku merasakan kehilangan dan itu membuatku sakit sekali. Aku takut jika kehilanganmu karena rasa cintaku ini," sebutnya.
Cloud pernah menyukai seorang putri dari kerajaan lain. Saat itu usianya masih belia. Ia baru saja mengenal dunia luar.
Cloud bertemu dengan Jasmine, seorang putri dari Negeri Bunga yang kini tidak diketahui keberadaannya. Kabar terakhir yang Cloud dengar, putri itu diculik lalu diasingkan ke suatu tempat dan tidak ada satu orang pun yang tahu. Hal itulah yang membuat Cloud berkecil hati untuk mencintai seseorang. Terlebih, beberapa tahun silam ia kehilangan sang kakek yang telah mengurusnya sejak kecil.
"Ara ... kembalilah padaku," ucapnya lirih.
__ADS_1
Ia kemudian mencoba mengusap wajah sang gadis dari sekat tembus pandang yang memisahkan keduanya.