Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Don't, Stop!


__ADS_3

Di ruang TV, di rumah Ara...


Aku melihat adik bungsuku kini sudah lebih besar. Adit pun lebih tinggi dan semakin terlihat dewasa. Keduanya sedang mengobrol bersama ibuku di ruang TV.


"Bu, kenapa kak Ara belum pulang juga? Sudah setahun lebih tidak pulang-pulang." Anggi menanyakan kepada ibu.


"Nanti juga kak Ara pulang. Doakan saja kak Ara agar baik-baik di sana. Siapa tahu kepulangan kak Ara membawa adik kecil," balas ibuku.


Ish, ibu ini.


Seketika aku malu sendiri mendengarnya. Entah ibu bercanda atau tidak, tapi sepertinya ini kode buatku. Ibu ingin segera menimang cucu.


"Bu, Adit ingin membuka kedai di dekat sekolah. Boleh ya, Bu?" tanya Adit kepada ibuku.


"Kau masih sekolah, Nak. Nanti jam belajarmu akan terganggu," jawab ibu yang khawatir.


Adit ingin membuka kedai? Wah!


Aku tak percaya jika jiwa entrepreneur dalam diri adik laki-lakiku sudah muncul ke permukaan. Mungkin di sekolahnya dia bergaul dengan teman-teman yang berpikiran bisnis. Jadi dia ikut-ikutan.


"Tidak, Bu. Adit akan mengolahnya seusai jam sekolah. Adit ingin seperti kak Ara. Waktu SMA kak Ara sudah ikut kerja dengan bibi. Adit juga ingin menghasilkan uang sama sepertinya."


Adit ....


Entah mengapa hatiku terharu mendengar kata-kata dari adik laki-lakiku ini. Aku tak menyangka jika dia akan mengikuti jejakku. Dan karena rasa haruku ini, tanpa sadar aku meneteskan air mata. Dalam sekejap aku kembali ke diriku sendiri.


"Hah, hah." Aku sudah kembali ke sini. Dan kulihat hari sudah menjelang siang. "Cepat sekali waktu berputar."


Rasanya baru sebentar aku bermeditasi, tapi ternyata sudah lama saja. Mungkin sekarang sudah pukul sembilan pagi.


Syukurlah mereka baik-baik saja. Tapi sayangnya aku tidak melihat ayah di sana. Aku rindu sekali.


Halaman belakang rumah ini memang sangat cocok untuk dijadikan tempat wisata alam bawah sadar. Udaranya begitu sejuk dengan harum bunga bermekaran. Sepertinya Cloud memang sengaja merancang rumah seperti ini.


"Aku beres-beres sekarang saja."


Aku beranjak berdiri lalu menuju dapur. Kuambil segelas air untuk meredakan kehausan yang melanda seusai berselancar ria ke bumiku. Rasanya senang sekali bisa melihat keluargaku sehat dan ceria. Ya, aku hanya berharap baik ayah maupun ibu dan kedua adikku, selalu sehat di sana. Karena bagiku kesehatan adalah yang utama.


"Baiklah, saatnya bersih-bersih."


Rumah yang kutempati ini belum sempat dibersihkan. Jadi kuambil sapu untuk membersihkannya. Di sini Cloud tidak menempatkan seorang pelayan. Jadi ya aku harus membersihkannya sendiri. Tak apa, hitung-hitung berolahraga.


Tiga jam kemudian...

__ADS_1


Setelah menyapu dan mengepel lantai rumah, aku segera mandi dan berdandan secantik mungkin. Anggap saja jika sekarang aku telah benar-benar menjadi seorang istri. Menunggu suami pulang bekerja.


"Astaga! Sebentar lagi jam makan siang!"


Segera kusiapkan bahan-bahan untuk kumasak. Dan karena waktunya sudah mepet, aku memasak makanan yang bisa cepat tersaji. Sayangnya di sini tidak ada tempe. Rasanya kurang lengkap sekali jika tidak ada tempe sebagai lauk untuk makan.


"Ya sudah, kugoreng ikan saja."


Aku memasak ikan segar hari ini. Sayurnya tumis capcai dan juga membuat sambal mentah. Aku harap Cloud menyukai masakanku yang ala kadarnya. Kalau dia tidak suka, tidak akan kuberi jatah pelukan.


Duh, ancaman calon emak-emak begini amat, ya?


Ara membuat suatu ancaman untuk pangerannya jika sampai tidak menyukai masakannya ini. Ia pun tertawa sendiri memikirkannya.


Saat ini ia mengenakan daster putih sebatas lutut dengan dua tali yang mengait pada bahunya. Sehingga terlihatlah aura kecantikan berpadu dengan aura keibuan pada dirinya.


Ia terus memasak dengan semangatnya. Seorang diri di dapur membuatnya bebas bergerak dan berekspresi. Hingga ia pun bernyanyi sebagai pengisi rasa sepi di siang ini. Tanpa menyadari jika Cloud sudah datang dan memperhatikan apa yang sedang dilakukannya.


"Suaramu lembut sekali, Ara." Cloud datang dengan membawa sekeranjang buah.


"Cloud?!" Ara pun terkejut.


"Aku pulang lebih cepat. Aku rindu." Dia segera memeluk Ara.


"Jadi kau tidak rindu padaku?" tanya Cloud yang mulai manja.


"Bukan begitu, Sayang." Ara menekan intonasi bicaranya.


"Lalu?" Cloud melihat Ara sibuk menyajikan makanan ke atas meja.


"Pekerjaanmu kan banyak. Apa tidak apa-apa ditinggal secepat ini?" tanya Ara sambil menata meja makan.


Cloud diam. Dia lalu menarik Ara ke dalam dekapannya. Seketika sang gadis pun terkejut.


"Ara, bagiku kaulah yang terpenting. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang amat jarang ini. Aku sudah menyelesaikan pekerjaan awal. Lagipula sebentar lagi jam makan siang istana. Jadi aku cukup mempunyai banyak waktu bersamamu."


"Cloud ...." Ara tersipu.


"Cium aku, Sayang," pinta Cloud sambil menatap dalam gadisnya.


Ara terdiam. Ia tidak bisa mengelak karena kedua tangan Cloud kini melingkar di pinggangnya.


"Baiklah, aku saja yang memulai kalau kau tidak mau." Cloud mulai mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


Hasrat sang pangeran yang begitu rindu tidak dapat lagi ditunda. Ia segera meraih bibir sang gadis yang terpoles lipstik merah muda. Dikecupnya bibir itu, ditekan-tekannya dengan lembut lalu menariknya perlahan. Ara pun terbawa dengan suasana.


Tangan sang gadis mulai menyusuri bahu lalu melingkar di leher pangerannya. Kelembutan yang Cloud berikan mampu membuat Ara menyerah tiada berdaya. Sang gadis akhirnya membalas ciuman pangerannya.


Cloud ....


Detak jantung keduanya berpacu cepat saat ciuman itu semakin lama semakin menghanyutkan. Cloud pun meremas pinggul gadisnya.


Sudah, Cloud ....


Ara mencoba melawan tapi tak bisa, tenaganya seperti terhisap oleh Cloud. Tangan sang pangeran pun mulai menyusuri punggung hingga ke tengkuk lehernya. Ia terus mencium Ara dan mengajaknya beradu. Ara pun tak kuasa saat lidah sang pangeran mulai menari-nari di bibirnya.


"Hah, hah, hah."


Napas Ara mulai tak beraturan. Dadanya naik-turun seperti kekurangan pasokan oksigen. Cloud pun memberi waktu sejenak untuk gadisnya.


"Cloud, aku ...." Wajah Ara memerah.


"Kau menikmatinya?" tanya Cloud dengan tatapan begitu lembut.


"Tubuhku terasa aneh, Cloud. Kita sudahi saja, ya." Ara tak sanggup untuk melanjutkannya.


"Aku rasa tidak baik jika ditahan. Kita lepaskan saja, Sayang."


"Cloud!"


Sang pangeran menggendong Ara lalu menarik satu kursi yang ada di depan meja makan. Ia mendudukkan Ara di atas pangkuannya.


"Cloud, ini?"


"Beri aku cintamu. Kita lakukan lagi apa yang terjadi di taman waktu itu." Cloud mencengkram pinggul sang gadis dengan kedua tangannya.


"Cloud." Ara tidak bisa bergerak.


"Cium aku," pinta sang pangeran dengan tatapan berbeda.


"Cloud, kau tahu ini akan berbahaya jika aku sampai kehilangan kendali." Ara memperingatkan.


"Aku merasa hal itu bukanlah masalah besar untukku." Cloud mulai menyingkapkan rambut gadisnya ke belakang telinga.


"Tap-tapi, mmmh!"


Belum sempat Ara meneruskan perkataan, Cloud segera menarik tengkuk lehernya sehingga bibirnya berpadu kembali. Cloud mengecup bibir Ara dengan sapuan yang begitu lembut, sehingga menggetarkan seluruh saraf di tubuhnya. Ara pun terbawa suasana, ia terhanyut dalam kelembutan sang pangeran.

__ADS_1


__ADS_2