
Beberapa saat kemudian...
Jam makan siang pun telah tiba. Kedua pangeran Asia ini tampak menemani sang ayah makan bersama tabib dan istrinya di surau yang berada di dekat danau, tak jauh dari halaman belakang rumahnya. Ara pun tidak mau ketinggalan. Di mana ada makanan, di situ ada dirinya. Ia amat senang jika ada momen-momen seperti ini.
"Wah, ada tempe dan sambal ijo?!" Ara terkejut melihat jamuan makan siang yang disediakan oleh tabib dan keluarga.
"Putri, kau menyukainya?" tanya istri tabib.
"Hm, ya. Aku sangat suka sekali tempe dan sambal ijo." Ara tersenyum semringah.
"Tapi di sini namanya bukan tempe, Putri." Istri tabib memberi tahu.
Seketika itu juga Ara terdiam dan seluruh mata mengarah padanya. "Em, maaf. Aku menyebutnya sebagai tempe. Maaf jika berbeda. Hem, ya." Bicara gadis itu kaku dalam sekejap.
Zu mulai menyadari sesuatu terhadap gadisnya. Ia seperti harus mengetahui lebih jauh tentang Ara. Terlebih perkataan Fu selalu terngiang-ngiang di benaknya.
Apa benar dugaanku?
Sambil memperhatikan Ara makan, Zu terus berpikir. Mencari cara agar mengetahui siapa sebenarnya calon istrinya itu.
Lain Zu, lain pula Shu. Pangeran muda ini tampak memerhatikan cara Ara makan yang seperti orang kelaparan. Dan entah mengapa, ada sesuatu rasa di hatinya yang sulit dijelaskan. Ara begitu tampil apa adanya dan tanpa malu, meskipun kini gadis itu duduk di samping Shu sekalipun.
Gadis ini memaksaku untuk terus memperhatikannya. Ah, sial! Jangan sampai aku tertarik padanya. Dia punya kakakku. Shu menggerutu sendiri.
Makan siang ini akhirnya berjalan dengan lancar. Dan seluruh tempe serta sambal ijo yang disajikan, Ara bawa pulang ke istana. Tampak raja yang menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat calon menantunya itu. Sedang Zu tersipu malu sendiri, wajahnya memerah karena tingkah kocak sang gadis.
Perjalanan kembali ke istana...
Setelah mendapatkan ramuan dan bibit tanaman obat berkhasiat, rombongan kerajaan Asia kembali menuju istana. Mereka tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi karena hari sudah semakin sore. Dan benar saja, saat sampai di sepertiga perjalanan, waktu sudah memasuki sore hari.
"Ara."
"Hm?"
"Kau makan terus sedari tadi. Tidak ingin mengobrol denganku, kah?" tanya Zu sambil melirik gadisnya yang masih asik makan.
"Pangeran, maaf. Tempe goreng ini enak sekali." Ara nyengir tak karuan.
"Sayang, kau ini sebenarnya hamil atau tidak, sih?" Zu bertanya lagi.
"Hah? Apa?!" Ara kaget.
__ADS_1
"Aku tidak percaya jika kau masih ... perawan." Zu mengalihkan pandangan.
"Pangeran—"
"Jika belum membuktikannya sendiri, aku tidak bisa mempercayai hal itu." Zu mulai melancarkan aksinya.
"Errr..."
Tampak Ara yang kaku saat mendengar perkataan Zu. Ia merasa tersudutkan oleh ucapan sang pangeran.
"Kau ingin membuktikannya?" tanya Ara yang ragu.
"Ya." Zu menjawab singkat.
"Tapi, Pangeran. Aku takut hamil." Ara merendahkan nada suaranya.
Zu pun segera berbalik menghadap gadisnya. Ia rangkul tubuh gadis itu lalu disandarkan ke dadanya.
"Jika kau hamil, aku siap bertanggung jawab. Sekalipun kau sudah mengandung, aku siap menjadi ayah sambung atas bayimu. Masihkah kau ragu padaku?" Zu mencium kening Ara.
"Pangeran, kau nakal." Ara mencubit dada Zu.
"Pangeran!" Seketika Ara melepaskan diri dari Zu. "Kau ini benar-benar nakal, ya!" Ara menggerutu kesal.
"Aku tidak keberatan jika kau ingin memegangnya." Zu tersenyum lebar.
Ish, dia ini. Seperti Rain saja. Apa Rain sedang masuk ke dalam tubuhnya, ya? Sang gadis bertanya sendiri dalam hati.
Ara merasa sifat Zu berubah akhir-akhir ini. Ia risih dan juga penasaran. Rasa penasarannya itu hampir mendominasi rasa takutnya sendiri, sehingga Ara harus membatasi dirinya. Khawatir jika akan terhanyut dalam suasana.
Dulu aku belum tahu apa-apa. Tapi semenjak dekat dengan Rain, aku jadi mengetahuinya. Dan kini aku semakin penasaran saja. Ya ampun, aku harus bagaimana? Ara bingung sendiri.
"Sesampainya di istana, aku tunggu di sungai belakang kediamanku. Jangan terlambat!" Zu mencolek hidung gadisnya.
Ara masih terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Sedang Zu berharap penuh misinya akan berjalan lancar hari ini. Ia tidak lagi peduli dengan siapa dirinya. Cinta Ara begitu membuatnya tergila-gila, mabuk dalam angan dan keinginan yang besar untuk segera memiliki.
Sementara di Angkasa...
Rain dan Cloud tengah bersiap menyambut kedatangan raja dan ratu Negeri Bunga. Keduanya menunggu di teras ruang tamu istana. Dan tak lama, raja dan ratu Negeri Bunga itu datang bersama para rombongan. Sky sendiri melihatnya dari teras lantai tiga istana, karena ia tidak bisa meninggalkan sang istri yang tengah diobati tabib. Walaupun banyak pelayan yang telah menunggui Moon di dalam ruangan.
Semoga ada kabar baik untuk negeri ini.
__ADS_1
Pikiran Sky terpecah. Ia masih harus sibuk menjalankan tugas sebagai seorang raja dan juga merawat istrinya yang sedang sakit. Dan tak lama, tabib yang mengobati Moon pun keluar dari ruangan.
"Yang Mulia." Tabib itu menundukkan kepala.
"Bagaimana Paman, apa ada perkembangan yang lebih baik?" tanya Sky segera, setelah menyadari tabib itu.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Sepertinya ratu bukan terkena penyakit medis." Tabib menuturkan.
"Maksudnya?" Sky bingung.
"Ratu Moon dalam kondisi yang tidak bisa dijelaskan melalui medis, Yang Mulia."
Apa?!
Seketika Sky merasa pusing dengan kabar yang didengarnya. Untuk kesekian kalinya penyakit Moon tidak dapat terdeteksi secara medis.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Paman?" tanya Sky kemudian.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Ada baiknya jika ratu mencoba mengkonsumsi buah surga dan meminum ramuan daunnya. Mungkin penyakit yang diderita ratu bisa lebih ringan."
"Lebih ringan? Apa maksudnya istri saya terkena semacam sihir?" tanya Sky serius.
"Saya belum bisa memastikan. Tapi jika dilihat dari gejala dan yang dirasakan ratu, sepertinya ini memang semacam sihir."
"Apa?!!"
Sky terkejut, benar-benar terkejut. Ia tidak menyangka jika istrinya benar-benar terkena sihir. Padahal selama ini belum pernah terjadi hal semacam itu di istana.
"Apakah tidak ada alternatif lain selain mengkonsumsi buah surga dan daunnya?" tanya Sky yang diambang batas kesabaran.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Sepertinya tidak ada." Tabib itu menundukkan kepala.
"Astaga ...." Sky memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Kalau begitu saya permisi." Tabib itupun segera undur diri.
Apa ini balasan untuk istriku? Kenapa dia sampai terkena sihir? Dan siapa yang mengirimkan penyakit lewat sihir untuk istriku?
Ya Tuhan ... dosa apa yang telah istriku perbuat sampai dia harus merasakan kesakitan seperti ini? Apakah dia benar-benar melakukan sesuatu berkaitan dengan hilangnya gadis itu dari istana?
Sky bertanya-tanya sendiri. Ia bingung harus mengambil jalan keluar dari masalah yang melanda. Moon kesakitan di setiap hari menjelang petang, dan baru pulih saat matahari terbit. Sang raja dilema, benar-benar dilema menghadapi permasalahan yang ada.
__ADS_1